HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 23


__ADS_3

Kencan buta


***


"Kencan buta?" Zian bertanya dengan alis miring.


Lalu tawa menggelegar ke seluruh ruangan. "Kencan buta?" Zian tertawa terbahak bahak. Membuat Andrian menyergitkan dahinya. Andrian tak suka di tertawakan seperti itu oleh remaja SMA berusia enambelas tahun.


"Kenapa tiba tiba? Melihat kak Tian menikah kakak jadi pengin nikah?" Zian mengejek dengan tawa yang masih tidak bisa diredakan.


"Kenapa?" Tanya Andrian. Zian ini tidak tahu sopan santun kepada orang yang lebih tua ternyata. Membuat Andrian malu saja.


"Kenapa? Kemarin kakak bilang kalau umur kakak masih muda, masih dua puluh tiga tahun dan sekarang kakak ingin kencan buta?" Zian suka sekali ekspresi Andrian saat ini.


"Aku belum ingin menikah bukan berarti aku tidak memperdulikan masalah percintaan." Ucap Andrian.


"Banyak wanita yang mau sama kakak, tinggal pilih. Selesai. Apa masalahnya selama ini sampai aku tidak pernah melihat kakak menggandeng wanita sebelumnya?" Tanya Zian yang sekarang duduk di meja kerja Andrian.


"Kau ini masih kecil. Tahu apa kau masalah cinta. Kalau cinta benar benar ada, seharusnya orang yang jatuh cinta bahagia, bukanya malah tersakiti." Andrian melihat ke arah Zian.


Zian tertawa, mengetuk ngetuk meja Andrian dan berkata, "Konsekuensi cinta. Kau tidak akan tahu bagaimana kisahmu berlanjut. Tapi kau akan merasakan suatu yang kau sebut cinta yang bahagia apabila kau menjalaninya tanpa memandang ego dan yang lainya. Cinta itu tentang pengorbanan dan rasa sakit. Jika cinta itu sendiri hanya berputar pada poros kebahagiaan. Kau tidak akan tahu betapa berartinya cinta dan arti ketulusan cinta." Selesai berkata, Zian memandang Andrian dan mentap dalam.


"Aku tahu aku masih kecil. Tapi jika kau mengukur seseorang dengan tingkatan pengalaman, seharusnya aku sangat senior darimu yang tak pernah memiliki pengalaman dalam bidang ini sedikitpun. Kakak tahu? Kau selalu memandang sisi negatif sesuatu sebelum kau menyelaminya, berpikir apa yang kau dapatkan. Apa yang kau dapat itu lebih besar dari apa yang kau korbankan. Kau selalu melakukan sesuatu berdasarkan persentase keuntungan yang kau dapat, Sampai sampai kau tidak tahu cara melakukanya dengan tulus tanpa menginginkan sebuah imbalan."


Andrian termenung. Zian benar, sangat benar. Andrian terlalu pilih pilih tindakan. Semua yang ia lakukan akan direncanakan dengan matang. Maka, saat ia mendapati sesuatu tidak sesuai rencana, ia akan merasa terusik sampai ke poros hatinya.


"Aku tidak tahu," Balas Andrian. Menyingkirkan berkas yang ada di mejanya ke laci.


"Bukan karena kau tak tahu, tapi kau sama sekali tak ingin mengetahuinya." Jawab Zian. "Sekarang, jika kau mencintai sesorang, dan seseorang itu akan menikah apa yang kau lakukan?" Tanya Zian.


"Apa? Dia yang mau menikah, jika dia tak mau denganku itu tidak masalah." Andrian memutar matanya.


"Bingo! Kau selalu seperti ini. Maka itulah, sampai sekarang kau tidak tahu rasanya mencintai. Kau akan mundur jika kau merasa tak mendapatkan dalam sekali raupan. Kau menyerah, bahkan sebelum kau berjuang." Lanjut Zian.


"Kau salah! Aku sudah berjuang tapi perjuanganku tidak akan dihargai." Andrian menunjuk dadanya sendiri.

__ADS_1


"Aku salah? Mana bagian yang salah. Kakak pikir kakak sudah Berjuang?"


"No....." Zian menggelengkan kepalanya dan menggoyangkan jari telunjuknya. "Kakak berusaha, tapi secara sembunyi. Kau tidak mengungkapkanya secara langsung. Apa itu bisa dilihat? Tidak! Orang akan mengganggap kakak tidak melakukan apapun. Big no!"


Andrian mendesah, lalu menonyor kepala Zian dengan pelan. "Adik pembawa masalah, pergi kau dari sini." Ujar Andrian dengan tenang.


"Ap---" Zian tidak melanjutkanya. Emosinya ia kubur dalam dalam. Niatnya ia hanya ingin menasehati kakaknya tapi malah diusir.


"Persetan," Ucapnya. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


***


Alex mendudukan dirinya pada sofa ruang tamu. Ponsel dalam celananya berbunyi ada nomor tidak dikenal disana.


"Halo?" Alex tidak mendengar apapun. Hanya hembusan nafas yang seperti ditahan.


"Halo." Suaranya seperti perempuan. Dan Alex tidak tahu itu siapa.


"Maaf, ini siapa?" Tanya Alex setelah hening beberapa saat. Perempuan disana menjawab, "Aku yang tadi. Yang kau tumpahkan makananya tadi siang."


"Aku sudah melaundry bajuku dan sekarang aku minta uangnya padamu." Ucap remaja itu dengan cepat.


"Baiklah, berapa? Biar aku kirimkan padamu." Alex menggosok hidungnya yang gatal.


"Kirim? Aku tidak mau. Aku mau kau memberikanya secara langsung." Ucap anak itu. Alex sedikit bingung, ia sangat sibuk. Untuk menentukan pertemuan yang menurutnya tidak terlalu penting rasanya sangat sulit.


"Tapi aku sibuk." Kata Alex.


"Sibuk? Bagaimana kalau hari minggu saja. Aku yang memilih tempatnya." Remaja itu berbicara dengan bahagia.


"Baiklah. Tapi aku tidak janji." Alex menyetujui rencana itu. Lagi pula hari minggu ia tidak mempunyai rencana apapun.


"Baiklah hari minggu. Kau harus siapkan uang banyak untuk mengganti rugi." Ucap remaja itu tertawa.


"Ya," Jawab Alex serius. Mungkin pikir Alex ia memang harus menyiapkan uang yang lumayan banyak.

__ADS_1


****


Andrian menunggu di salah satu Restoran. Ia kini menunggu seorang gadis bernama Reina. Gadis yang ia pilih untuk kencan buta.


"Maaf terlambat," Seorang perempuan yang tinggi, putih, dengan rambut panjang menyapanya. Andrian tersenyum sedikit. "Tidak apa-apa."


"Apa kau sudah menunggu lama?" Tanya wanita itu. Andrian tidak menjawab, tetapi menggeleng. Lalu memanggil pelayan untuk memesan.


"Apa yang kau pesan?" Tanya Andrian.


"Apa saja." Kata wanita itu. Karena wanita itu bilang apa saja, maka Andrian memesankan nasi goreng, beef, dan beberapa makanan yang berbahan dasar daging.


Andrian mulai menyantap makanan yang ada dimeja. Ia belum makan setelah pulang bekerja, ia bahkan tidak bersiap dan langsung membuat janji.


Tapi wanita di depanya hanya meminum jus tanpa menyentuh makanan sedikutpun. Andrian bingung dengan dengan itu.


"Kau tak makan?" Tanya Andrian.


Wanita itu tersenyum dan berkata, "Aku sudah kenyang." Jawab wanita itu. Andrian menghela nafas, "Setidaknya makanlah sedikit, kau tampak sangat kurus sepertinya."


"Maaf, aku tidak makan daging. Itu tidak bagus untuk dietku. Biasanya aku makan salad buah ataupun sayuran," Jawab wanita itu masih dengan tersenyum.


Mulut Andrian terjatuh. Kalian dengar saat Andrian tanya apa yang dia pesan? Ia bilang apa saja kan? Tapi kenapa malah seperti ini. Andrian berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.


"Kalau begitu pesan salad saja." Ucap Andrian cuek. Ia menggeleng, "Tidak, aku tidak lapar." Ucap wanita itu.


Andrian kesal sekali dengan wanita ini. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau tidak lapar. Apa untungnya memperpanjang masalah. Andrian kesal, namun ia tetap memiliki wajah tenang di wajahnya. Karna ia lapar, ia tetap memakan apa yang ia pesan.


Acara selanjutnya adalah, mengajak wanita itu ke bioskop. Seperti apa yang di inginkan sang wanita. Mereka memilih film horor.


Andrian pikir ini akan menjadi kencan yang menarik karena ternyata keduanya sama sama suka film horor. Tatapi harapanya pupus saat wanita itu terus menempelinya seperti lintah karena takut. Astaga! Kenapa memilih horor kalau dia takut. Andrian sekali lagi kesal.


Andrian sangat bosan dengan acara kencan malam ini. Wanita itu meminta untuk pergi ke Time zone. Andrian merasa ini adalah kekenak kanankan sekali.


Sudut matanya berkliaran saat sang wanita bermain capit boneka. Ada seorang anak kecil berlari dengan wanita di belakangnya yang mengikuti.

__ADS_1


Andrian melengkungkan sudut matanya. Lalu anak itu melihat Andrian dan berhenti berlari. Andrian menghadap ke belakang agar Denis tak mengenalinya, terlebih memberitahukanya kepada Bila.


__ADS_2