
Cake keberuntungan
***
"Ayoo bibi, Aku mau buang air kecil. Aku tidak bisa sendiri jadi ayo temani aku,"
Andrian menatap Denis yang menarik narik tangan Bila. Tanganya ia goyang goyangkan ke kanan dan kiri, Bibirnya mengerucut tak sabar. Namun Bila tak juga masuk. Matanya menatap gelisah ke Denis dengan raut yang bingung.
Ya, sudah seharusnya. Dia itu perempuan, Bagaimana bisa masuk ke toilet laki laki begitu saja. Yang ada ia akan diejek mesum. Denis yang masih kecil tak tahu dengan semua itu, jadi ia merasa jengkel bibinya tidak mau menemaninya.
"Ayolahh bibi," Rengek Denis.
Andrian masih berdiri disitu. Menatap kedua orang itu tanpa bergerak. Ada setitik keinginan di benak Bila untuk meminta bantuan kepada Andrian, Tapi ia sungkan. Melihat Andrian yang masih disitu membuat Bila jengkel.
"Bibi tidak bisa, kau kan laki laki, Bibi ini perempuan bagaimana bisa Bibi masuk ke toiket laki laki hm? Katakan,"
Bila melembutkan suaranya, memberi pemahaman kepada keponakan kesayanganya ini. Anak ini sangat merepotkan, Tapi Bila tetap menyayanginya.
Denis merengut kembali, "Apa salahnya sih? Yasudah kalau begitu paman saja yang menemaniku," Denis menghadap Andrian. Meminta untuk ditemani ke kamar mandi. Bila juga memandang ke Andrian.
Andrian yang ditatap dua pasang mata menjadi salah tingkah. Ia tak pernah berhadapan dengan anak kecil, Bagaimana nanti jika ia salah? Apa yang harus dilakukanya?
Andrian menunjuk dirinya sendiri dengan alis terangkat. "Aku?" Tanyanya.
"Iya paman, siapa lagi," Denis yang sudah tak tahan lagi menjadi sangat marah. Pipi gembilnya memerah dengan gemasnya. Anak umur lima tahun ini seperti bakpao kecil yang montok.
Andrian menggeleng. Tidak akan mau menjadi babybrother anak orang lain.
Bila menghela nafas satu kali. Pipi Denis sudah sangat merah, Bila tak suka itu. Denis pasti tak nyaman sekali menahannya. "Bisakan?" Bila menatap Andrian dengan raut memohon. Sebenarnya tidak, tapi dimata Andrian ekspresi itu seperti memohon jadi Andrian mengiyakan untuk menemani anak ini ke toilet.
Andrian menggandeng tangan anak ini, menggiringnya ke depan WC lalu melorotkan celananya. Saat Andrian menunggunya beberapa lama, tapi Denis tetap diam tak bergerak dengan mata berkedip kedip. "Kenapa?" Tanya Andrian.
Denis menghadap ke Andrian. Mengedipkan matanya beberapa kaki seperti orang cacingan.
"Aku mau buang air besar Paman..."
"Hah!"
***
Zian menyantap berbagai makanan yang disediakan. Cake yang sedang ia makan ini rasanya enak, tidak terlalu manis, cocok dilidahnya.
Kalau kalau Zian menjadi chef esok hari, Zian pasti akan membuat cake yang bisa dikonsumsi semua orang.
Misalnya pencinta keju akan buat cake penuh keju. Untuk pecinta kuliner akan dia buat cake dengan rasa rempah rempah dengan pedas maksimal. Untuk para penikmat kopi akan ia buat cake cofee latte. Untuk pecinta gorengan akan ia buat cake dengan bahan dasar minyak.
__ADS_1
Zian tak tahu kemana kakaknya pergi. Semenjak datang kesini Zian ditinggalkan seorang diri. Bahkan i
Zian belum bertemu Gita dan Tian.
Makanan yang nikmati membuatnya mendongak lurus dengan perasaan ceria.
Di sudut ruangan Zian melihat harta karun yang sangat antik. Guru cantiknya, Dewi, sedang berada disana dengan gaun hijau tua yang elegan.
Cake ini memang pembawa asmara, terlihat dari warnanya. Pink.
Zian melangkahkan kakinya menuju ke Dewi. Dengan jas rapi dan rambut yang dipomade, Zian merasa sangat dewasa dan tak gengsi bersanding dengan guru itu.
"Hai," Zian menarik perhatian Dewi.
Dewi menengok ke samping kirinya. Ada seorang pria tampan yang menyapanya, tapi ia tak merasa mengenalnya. Dewi melihat dengan teliti. Lalu ia teringat dengan muridnya. Itu memang dia, muridnya. Tapi, hai? Sapaan macam apa itu untuk Murid ke gurunya.
"Hai?" Tanya Dewi bingung.
"Hai. Kita tidak sedang di sekolah jadi tak perlu sopan," Zian tersenyum menawan. Jika dihadapanya ini adalah remaja, pasti mereka akan meleleh.
Tapi bukanya kalimat itu harusnya bukan ia yang mengucapkanya? Harusnya ia yang bilang tak perlu sopan. Kenapa 'Sopan' sekali muridnya yang satu ini.
Dewi menggeleng gelengkan kepalanya. Anak ini sangat aneh, dan unik...
Zian memperhatikan Dewi yang tak berdiri diam di sampingnya. Ia mengambil cake dan menyerahkanya ke Dewi. Cake itu punya rasa yang lembut dan nyaman di lidah. Zian sendiri sudah memakannya.
Zian senang sekali. Niat kondangan malah ketemu gebetan, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
"Tidak dengan suami?" Tanya Zian.
Zian melihat Dewi terbatuk langsung mengambilkan air untuknya. Kenapa wajah dewi sangat merah?
"Belum punya suami," Akunya malu.
Apa tadi? Belum punya suami? Jadi Ibu gurunya ini masih single? Ada kesempatan buat Zian? Wah.. Wah.. Kegembiraan Zian berlipat ganda.
Tapi bagaimana kalau ia sudah memiliki tunangan?
"Kalau tunangan?" Dewi menggeleng.
"Kalau pacar?" Dewi menggeleng lagi.
Lalu ia menghembuskan nafasnya gusar. "Kenapa tanya tanya terus? Mau ngejek saya kalau saya prawan tua?"
Tanyanya galak.
__ADS_1
Zian gelagapan. Bukan itu maksudnya, ia hanya terlewat senang kalau ia masih punya kesempatan dalam kesempitan ini. Ia menggeleng, " Bukan itu maksudku.."
"Oh," Balas Dewi. Kalau sudah ditanya soal begitu, ia jadi malas untuk melanjutkan obrolan. Ia memilih menjauh dari pada merasa malu. Zian yang tahu Dewi menjauhinya, mengikuti di belakangnya.
Tapi kerahnya ditarik oleh seseorang. Zian akan memarahi orang itu saat berbalik. Tian yang mengenakan jas hitam mengangkat alisnya, Adit disebelahnya tersenyum geli.
"Apa!" Bentak Tian yang tahu kalau Zian akan memerahi orang yang menarik kerahnya.
"Hehe, enggak." Zian menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau belum bertemu secara langsung dengan Tian dan belum mengucapkan selamat.
"Aduh, kamu udah besar, udah tinggi juga. Udah berani ya gangguin cewek," Adit sudah lama tidak bertemu dengan Zian. Jadi ia sangat pangling dengan perubahan adik temannya ini. Ia mengusap rambut Zian dan mengunyel ngunyel pipinya. Dulu saat kecil, pipi itu sangat chubby. Tapi sekarang pipinya sudah tidak enak buat dimainkan.
Zian melepaskan tangan Adit dari pipinya. "Ih, kak! Malu tau diliatin orang orang," Zian marah, tapi Adit dan Tian malah tertawa.
"Dasar adik durhaka, aku nikah malah kamu godain anak orang. Tidak mau mengucapkan selamat?" Tanyanya.
Zian tertawa dengan bahagia. Mereka berdua sudah ia anggap sebagai kakak seperti Andrian. Saat kecil mereka berdua sering kerumahnya dan bermain bersama.
"Selamat kak, atas pernikahanya,"
Zian merogoh sakunya seakan mengambil sesuatu didalamnya.
Bibirnya mencetak senyuman yang tak memudar. Alisnya mendatar hampir tak terlihat. Lalu ia menyerahkan genggaman tanganya ke Tian.
Tian yang diberikan sesuatu bingung, ia tak butuh kado sama sekali dari anak SMA ini. Kenapa dia repot repot. Karena menghargai, Tian menerima.
Zian menyosorkan tanganya. Ketika bertemu dengan tangan milik Tian, ia melebarkan tanganya dan menyalami tangan Tian sambil tertawa.
Tian yang merasa dibohongi merasa kesal. Anak ini kenapa jahil sekali.
"Kenapa aku harus memberi hadiah? Aku kan masih SMA, lagian kayak yang butuh hadiah saja," Ia tertawa terpingkal pingkal. Menepuk nepuk pundak Adit disampingnya yang ikut tertawa terbahak bahak.
Setelah merdakan tawa itu. Zian kembali menatap dua orang dewasa itu. "Oh ya, doain aku cepet nikah ya,"
"Nikah!?" Adit/Tian.
***
Disisi lain, Andrian keluar dari toiket dan menyerahkan Denis kepada Bila.
"Terimakasih," Ucapnya. Andrian hanya berdehem sekilas.
Bila membawa Denis pergi dari tempat itu. Andrian yang melihat mereka pergi mengikuti di belakang seperti ayah yang bertanggung jawab.
Bila mengentikan langkahnya. Berbalik dan berkata, "kenapa mengikuti?"
__ADS_1
***