HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 22


__ADS_3

Remaja Mungil


"Siapa laki laki tadi. Sepertinya sangat dekat denganmu?"


Dewi melirik ke arah Zian. Matanya mulai mengantuk efek obat dengan sedikit menguap Dewi menjawab, "Kakakku," Zian menyergit. Kakaknya? Bukan pacarnya? Senyuman muncul di wajah Zian. Lalu membenarkan selimut agar menutupi kaki Dewi.


"Tidurlah, aku disini." Katanya. Dewi tak membuka mata, hembusan nafasnya melambat dan teratur. Zian pikir Dewi sudah tertidur, tapi beberapa detik kemudian mulutnya bergerak.


"Justru kalau kau disini aku tidak bisa tidur." Jawabnya. Matanya sudah terbuka dengan alis yang mengkerut.


Zian terkekeh, "Baik, aku pergi. Kalau kau butuh bantuanku telepon aku!" Perintah Zian. Dewi menjawab "Tidak akan. Sebaiknya kau pergi sekarang."


Zian mengambil ponsel Dewi yang berada disampingnya. Membuka ponsel tanpa pengaman dan menyimpan nomernya sendiri. "Aku sudah menyimpan nomerku. Kalau ada apa apa hubungi aku." Dewi tak menjawab hanya memejamkan mata pura pura tertidur.


Zian pergi, menutup pintu dengan hati hati tak ingin meembangunkan orang yang sedang terlelap itu.


****


"Hanya satu?" Andrian bertanya pada Alex. Hari ini harusnya adalah jadwal kerja sama dengan berbagai perusahaan. Terhitung ada lima perusahaan yang bergabung termasuk perusahaan Andrian sendiri.


"Ya, hanya satu." Alex menanggapi. Dengan memberikan laporan yang Andrian minta beberapa saat lalu.


Andrian mengambil laporan itu dan menandatanginya dengan perasaan kesal. "Hanya satu... Apa yang sebenarnya mereka lakukan! Batalkan kerjasama dengan tiga perusahaan lainya!" Andrian memerintah.


Alex membungkukan badanya empat puluh lima derajat. Lalu menenggelamkan dirinya pada pintu keluar.


Di mejanya, Alex segera menghubungi semua perusahaan yang Andrian bicarakan tadi. Memutuskan hubungan kerja sama yang baru saja direncanakan.


Beberapa saat kemudian panggilan dari perusahaan yang diputuskan. Alex menghela nafasnya, berusaha berbicara dengan lugas tanpa jejak emosi.


"Halo selamat siang, Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Alex.

__ADS_1


"Apa maksudnya dengan penutusan kontrak secara sepihak?!" Bentak orang itu pada Alex. Alex sedikit menjauhkan sedikit wajahnya, namun ekspresinya masih sama.


"Mohon maaf, keputusan sudah dibuat. Saya sebagai sekretaris tentu tahu jadwal hari ini seharusnya menjadi pertemuan kerjasama dengan lima perusahaan. Tapi tiga perusahaan tidak datang saat acara penting itu. Itu berarti perusahaan memandang rendah atas kerjasama itu. Tn. Andrian sendiri yang memerintah saya untuk memutuskan kerjasama dengan perusahaan yang tidak datang." Ucap Alex dengan jelas.


"Omong kosong! Biarkan aku bicara kepada pemilik perusahaan. Jangan mentang mentang memegang satu perusahaan bisa merasa paling tinggi!" Orang itu sepertinya tidak bisa diajak biacara baik baik. Alex hanya bisa menahan emosinya. Meladeni orang seperti ini hanya akan membuatnya tampak bodoh.


"Owner perusahaan ini tidak lain dan tidak bukan adalah CEO perusahaan ini. Tn. Andrian," Jawab Alex rendah. Ia tidak mendengar apa apa dari orang itu beberapa saat. Hingga sebuah suara terdengar, "Hanya sebuah Lalat dalam bisnis. Tidak akan berpengaruh apa apa terhadapku." Lalu telepon itu mati.


Alex tidak memperdulikanya. Ia melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi. Ini hampir jam makan siang, ia harus bersiap siap dan membelikan Andrian makanan.


Semua karyawan berbondong bondong keluar dari ruang kerja mereka. Melangkah ke kantin dan makan disana. Alex pergi ke sebuah rumah makan di dekat kantor.


Karena berjalanan terburu buru ia menabrak seorang remaja yang membawa makanan. Semua makanan yang ia bawa tumpah mengenai bajunya. Alex tidak memperhatikan jalan, jadi ia sangat menyesal dengan itu. Membantu perempuan itu membersihkan makanan yang tumpah menggunakan tissue.


"Maaf, aku tidak sengaja. Aku terburu buru tadi. Jadi tidak melihatmu." Ucapnya dengan tangan yang masih memegang tissue kotor. Wanita itu masih mengelap bajunya menggunakn tissue kemudian tersenyum.


"Tidak apa apa," Katanya. "Tapi kau harus mengganti makananku dan teman temanku." Tambahnya.


Remaja itu mendongak untuk melihat Alex. Setelah matanya sempurna menatap wajah Alex, ia tak mengedipkan matanya. Bibir mungilnya melongo berbentuk bundar yang sempurna. 'Tampan' Itu yang pertama kali dia pikirkan.


"Ya?" Tanya remaja itu.


"Ku pikir bajumu perlu diganti. Dan aku akan mengganti makananmu. Apa yang kau pesan?" Tanya Alex.


Remaja itu tersenyum sangat manis. "Ah, tidak apa-apa." Ia menyembunyikan rambutnya di balik telinganya dan merah. "Menurutku akan lebih baik jika kau membayar biaya Laundrynya saja." Ucapnya.


Alex tak keberatan, lalu mengambil sejumlah uang untuk remaja itu yang dirasanya cukup untuk mengganti itu.


"Apa ini?" Tanya remaja itu. Alex menggembuskan nafas, "Untuk mengganti makananmu dan temanmu, juga untuk biaya laundry yang kau bicarakan."


Remaja itu menyergit sedetik. Lalu ia mengambil dua lembar uang seratus ribuan yang Alex berikan untuknya. "Ini untuk mengganti makananku dan teman temanku. Mungkin juga untuk ongkosku pulang." Katanya.

__ADS_1


"Untuk laundry... Aku tidak tahu berapa harganya, aku tak bisa memastikan, jadi lebih baik aku menyimpan nomermu untum meminta uang yang pas." Katanya.


Alex tak berkata apa apa. Ia memberikan ponselnya kepada remaja itu. Remaja itu memencet beberapa digit angka pada ponsel Alex. Lalu mengembalikanya pada Alex. "Sudah. Aku akan minta uang padamu setelah aku tahu berapa biaya laundry." Lalu remaja itu pergi meninggalkan Alex yang masih berdiri menatap punggungnya.


Senyum puas menghiasi bibir mungil remaja itu. Berpikir pria itu tampan, namun sangat naif. Bisa bisanya percaya padanya yang hanya ingin meminta nomer ponselnya.


Di belakang, Alex mengagumi sifat remaja itu. Remaja itu tidak mengambil semua uang yang Alex berikan. Tidak seperti orang lain yang akan serakah dengan kesempatan yang mereka dapatkan. Si naif Alex, Ck.. Ck..


Alex kembali dengan membawa makanan untuk Andrian. Di depan ruangan Andrian, Alex bertemu dengan Zian.


"Ini makanan buat kak Andri?" Tanya Zian melihat makanan di tangan Alex.


"Iya," Jawab Alex.


Zian tersenyum, "Biar aku saja kak, aku juga mau masuk," Jadilah Alex menyerahkan makanan ke Zian.


***


Zian membuka pintu ruangan Andrian dengan pelan. Disana kakaknya sedang melihat ponselnya dengan teliti. Biasanya yang akan dilihat Andrian adalah komputer dan berkas berkas. Sangat jarang melihat Andrian membuka ponselnya saat dikantor.


"Kau datang?" Tanya Andrian kepada Zian. Ia masih sibuk melihat ponselnya.


"Iya, Ibu sama Ayah belum pulang, bosen dirumah jadi aku mampir kesini." Jelas Zian. Yang di tanggapi "Oh.." Oleh Andrian.


"Kakak sedang apa sih? Tumben buka ponsel serius amat?" Zian mulai penasaran dengan yang dilihat kakaknya. Dia melangkah mendekati Andrian lalu berdiri di belakang Andrian.


"Siapa?" Zian bertanya kepada Andrian siapa foto yang di ponsel Andrian. Itu adalah seorang perempuan hang cantik dan sangat banyak. Menggeser satu per satu dengan wajah memindai dan menilai.


"Wanita? Kenapa banyak sekali? Apa untuk model produk kakak?" Tanya Zian.


"Bukan, ini untuk kencan butaku nanti sore."

__ADS_1


"Kencan buta?!"


Saya tidak paham dunia perkantoran, jadi kalau salah saya minta maaf.


__ADS_2