
Indirect Kiss
***
Alex menatap Karin yang memasuki apartemennya. Remaja itu tidak mengajaknya masuk hanya untuk sekedar sopan santun. Sungguh remaja yang sopan. Ia memutar mobilnya saat Karin kembali dari apartemennya dengan terengah engah, sama seperti beberapa hari lalu, di tanganya ada sekuntum bunga mawar yang di pegang.
"Aku lupa bilang kau harus menunggu," Ucapnya. Ia menyerahkan bunga itu ke pada Alex. Kali ini Alex menerimanya, ia tidak akan menolaknya, karena percumah saja nanti juga pasti bunga itu akan ada di jok belakang mobilnya.
"Terimakasih," Ucap Alex mengangkat bunga itu.
Karin tersenyun senang karena Alex tak menolaknya. Ia merendahkan pundaknya lega. Tadinya ia pikir Alex akan menolaknya dan menjadikanya wanita menyedihkan yang di tolak cintanya.
"Kau mau mampir dulu?" Tanyanya.
"Tidak, aku pulang saja,"
"Tidak! Kau masuk dulu kedalam, aku buatkan kopi, cuacanya agak mendung nanti jika hujan jalanan sangat licin dan gelap."
Alex tak berdaya saat remaja ini menarik tanganya ke apartemennya. Ia tak bisa mengecewakan raut semangat yang membuat Alex tersenyum sedikit.
"Kau mau yang manis atau tanpa gula?"
Alex menatap wajahnya dengan senyum mengambang, "Yang manis,"
Karin tersenyum dengan ceria. Ia berlari ke dapur untuk membuatkan Alex kopi yang manis, "Okee, yang manis untukmu,"
Alex terkejut, ia memanggil Karin, "Hei, yang tanpa gula saja." Ucapnya membuat Karin menyergit heran. Tapi tetap membuatkannya, "Oh, oke."
__ADS_1
Sementara Karin membuat kopi, Alex memperhatikan ruangan dengan seksama. Apartemen ini memang terbilang kecil dan jelek, tapi Alex tak pernah menyangka kalau di dalamnya sangat rusak. Jendela yang tidak terpasang dengan benar, atap yang retak, dan beberapa lainya yang terkait permasalahan barang tua.
Tapi ruangan ini sangat bersih membuatnya nyaman. Wajar saja ini adalah ruangan gadis, jadi akan bersih selalu. Tidak seperti laki laki yang tak suka bersih bersih. Tapi Alex bukan orang yang mentolerir sesuatu yang kotor, ia tidak tahan.
"Kau lepas saja jasmu kalau tidak nyaman," Karin masuk dengan secangkir kopi yang ditaruh ke meja kecil di depan Alex. "Terimakasih," Jawabnya, yang di balas dengan anggukan kecil serta senyum manis untuk Alex.
"Tadi itu siapamu?" Alex menyanyakan yabg sebenarnya terjadi tadi. Sedangkan Karin memutar matanya, "Aku sudah bilangkan kalau aku di cegat," Katanya. Alex yang mengetahui perubahan emosi Karin diam sesaat, lalu melanjukan, "Jadi kau tidak kenal?"
Karin sangat kesal dengan pertanyaan konyol Alex. Tampan, namun kenapa seperti ini? "Kalau kenal kenapa?" Tanya Karin. Alex menurunkan arah pandanganya, "Itu masalahmu," Katanya yang membuat Karin dongkol setengah mati. Apa orang ini tak punya hati?
"Tidak, aku tidak kenal." Jawab Karin. Alex menyeruput kopinya dwngan santai.
"Di luar sedang hujan, dan hanya kita berdua disini." Ucap Karin lagi. Alex mengendurkan bahunya, "Iya, hujannya sangat deras." Ucapnya yang membuat Karin tersenyum, "Kita perlu menghangatkan diri?" "Tentu," Jawab Alex.
Karin menyunggingkan senyum kecilnya. Ia merapatkan tubuhnya dengan Alex, mulai dengan kepala yang dimiringkan untuk direbahkan di bahu Alex.
BRUKK!
Alex kembali dengan jas yang membubgkus dirinya. "Boleh aku pinjam selimut?" Tanya Alex. Karin yang kecewa pergi ke kamarnya untuk mengambil selimut yang di pesan Alex dan memberikannya.
Alex mengambil selimut itu, sementara Karin sudah duduk seperti semula. Bibir kecilnya mengerucut dengan gemas, lelaki idamannya sungguh tak peka. Sia sia saja selama ini ia melakukan pendekatan, lelaki itu bahkan tak bisa menangkap maksudnya.
Tapi wajah cantiknya kembali saat dirasakan selimut yang diambilnya sudah terlampir di bahunya, dan Alex yang melakukanya. Senyumnya mengumbar saat itu juga. Ternyata laki laki idamannya bisa rimantis juga.
Alex duduk disampingnya dan memainkan ponselnya. "Ngomong ngomong, kenapa kelasmu malam sekali?" Tanya Alex mengangkat wajahnya dari ponselnya.
" Aku bukan kuliah, aku kerja paruh waktu di toko dejat kampusku." Jawaban dari Karin membuat Alex terdiam. "Kau bekerja?" Tanya Alex yang membuat Karin tertawa, "Tentu saja, kalau aku tak bekerja bagaimana aku bisa hidup sampai sekarang?" Tanyanya.
__ADS_1
"Bagiaman dengan Keluargamu?" Tanya Alex. Karin terdiam, ia bergumam yang nyaris berbisik, "Hanya ada kakekku," Tapi Alex bisa mendengar dengan jelas. "Maaf," Kata Alex. Karin menghembuskan nafasnya pelan, "Sudahlah, jangan bahas tentang itu."
Alex menurut, ia tak mengusik tentang keluarga lagi, ia lebih memilih diam dari pada membuat kacau. Karin melirik ke arah Alex yang terdiam dengan menyeruput kopi yang tak kunjung habis.
"Apa kopinya tak enak?" Tanya Karin kepada Alex yang tak meminum kopinya dengan benar. Hanya menyeruputnya tanpa meminumnya. Alex gugup saat ditanya itu, Kopi ini sangat pahit. Memang benar jika ia yang meminta kopi tanpa kopi, tapi sepertinya Karin menambahkan kopi sangat banyak sampai rasanya ia hanya memakan kopi. "Ini enak," Dustanya.
Karin tak percaya, mana mungkin ada orang minum kopi seperti itu? Jadi Karin mengambil gelas kopinya dan meminumnya.
PEEFTTT!!!
Karin menyemburkan kopi buatannya ke lantai. "Apanya yang enak! Kenapa kau tidak bilang? Sepertinya aku terlalu banyak memasukan kopi." Katanya mengambil air putih dan menyodorkannya ke arah Alex, untuk menetralisir rasa kopi.
Alex tak menjawab, ia mengambil gelas dan meminumnya. Tenggorokanya bersih sekarang. "Maaf, sepertinya karna terburu buru aku salah memasukan takar." Ucap Karin dengan menyesal.
Alex tersenyum sebagai jawaban. Tapi matanya melebar saat Karin mengambil gelasnya dan meneguknya dari tempat yang sama. Dua kali, Yang pertama saat insiden kopi itu, Alex masih biasa saja karena Karin hanya mengonfirmasi rasa kopinya. Tapi kali ini, Alex merasa salah tingkah karena secara tidak langsung, mereka melakukan indirect kiss.
Karin paham dengan hal semacam ini, ia melakukan ini hanya untuk menggoda Alex. Meminum dari bekas yang sama dengannya, Tapi sepertinya Alex tak menyadari karena wajahnya tanpa ekspresi saat melihatnya meminum di gelas yang sama. Hanya saja matanya terus menatap ke arah Karin.
Karin mendesah kesal. Kenapa orang ini sangat kolot. Mungkin saat ia bercerai, permasahanya tak jauh dari emosinya yang selalu stabil tanpa emosi gang membuat orang jengkel.
Walaupun Karin sering melihat Alex tersenyum, Karin tahu kalau itu bukan senyum ramah biasa, tidak tulus, hanya untuk memancarkan kesan ramah.
Karin meletakan gelas itu di meja dengan keras. Kalau laki laki lain pasti sudah paham dengan kode yang Karin berikan. Sungguh laki laki idamannya sangat mulia, membuatnya ingin sekali memilikinya.
"Tak sopan mengambil gelas orang lain," Ucap Alex yang tak Karin pedulikan, ia lebih memilih menghidupakan TV. "Jangan pernah seperti itu lagi ke siapapun," Tambah Alex.
"Ya, ya.." Jawab Karin malas.
__ADS_1
Di luar masih hujan deras, tak mungkin untuk menyetir di tengah guyuran hujan karena jalanan sangat gelap dan licin. Karin menoleh ke arah Alex yang fokus pada layar TV.
"Hujan tidak akan mungkin reda, kau menginap disini saja," Ucap Karin yang membuat Alex memalingkan wajah terkejutnya ke arah Karin.