HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 40 (FINAL)


__ADS_3

Dua bulan berlalu....


Bila merasakan ada yang aneh dengan Alex, Alex adalah orang yang disiplin tentang bekerja. Tak pernah sekalipun ia terlambat, biasanya pagi pagi sekali ia sudah rapi dengan jas dan tasnya, menunggu sarapan siap jika Bila sedang senggang, jika tidak, ia akan makan di jalan.


Tapi kini tidak, Alex yang sekarang akan bangun saat ia mau, tidak pernah lagi mengenakan jas, dan pulang dengan lesu. Seberapa berat pekerjaanya, dia tak pernah terlihat lelah. Bila tahu, itu karena dia sangat menghargai pekerjaannya.


Jadi.. Ada apa dengan Alex?


***


"Pak, anda memiliki jadwal rapat siang ini,"


Andrian mendengus tak suka. Apaapaan! Mengapa sekertarisnya tidak mengenakan bra? Mungkin memakai, tapi Andrian tidak melihat itu!


Andrian hanya melihat setengah daging yang mencuat keluar, dan semakin terlihat kala wanita itu membungkuk memperlihatkan jadwal.


Seketika Andrian pusing. Ia ingin muntah saat daging itu berlarian kesana kemari, apa lagi dengan wajah Evita yang di buat buat, membuatnya ingin pingsan karena muak.


BRAKKK!!!


Andrian menggebrak meja kerjanya. Dokumen dan jadwal yang ada di atas meja berhamburan kebawah. Evita dengan menggenggam rok tipis sepertengahan paha itu. Peluh di pelipisnya mulai mengalir karena ketakutan. Ia takut akan di pecat seperti sekertaris sekertaris dulunya. Dirinya bahkan baru bekerja tiga hari. Akan tamat jika ia di pecat.


Semua wanita ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dengan memikat bosnya, dan Evitapun sama. Terlebih lagi, Andrian adalah pria lajang yang sangat mapan. Walaupun baru berumur 23 tahun, tapi ia sangat kaya. Siapapun akan melakukan apa saja agar terciprat harta itu. Lebih beruntungnya, bisa memiliki hati Andrian sepenuhnya.


"APA KAU TULI?!" Kata Andrian kasar. Kemarin, ia sudah memperingatkan wanita ini untuk jangan memakai pakaian ketat, dan memakai celana saja. Tapi sepertinya, wanita ini tidak mempan dengan nasihat dingin seperti sekertarisnya yang kemarin kemarin. Disaat seperti inilah, Andrian sangat butuh peran Alex. Sekertaris yang mampu bekerja dengan baik tanpa membuat Andrian naik darah.


"Ti-tidak pa-ak..." Kata Evita terbata.


"Tidak? Lalu bagian mana yang kurang jelas kalau ku katakan jangan seperti pel***r lainya yang mencoba menggodaku!" Andrian menaik turunkan dadanya tanda ia sangat marah.


"Bukan disini tempatnya jika kau ingin menjual diri!" Lanjut Andrian.


Kini Evita mulai menangis dengan suara yang tertahan. Ia menangisi dirinya yang sangat rendah, bahkan bosnya sendiri dengan terang terangan menolaknya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang pada mereka untuk carikan sekertaris lelaki, tapi sepertinya mereka juga tuli. Tidak ada yang bekerja dengan benar di perusahaan ini!" Gumam Andrian dengan melemparkan berkas berkas ke bawah.


Akhir akhir ini ia sangat kacau. Seperti dulu, ia selalu menyadari bahwa ia jatuh cinta pada detik detik telahir, pada saat semuanya telah pergi dan terlambat. Sekarang, saat dia ingin memulai awal yang baru dengan Bila, ia tak pernah mampu. Lebih parahnya, dia ditolak.


.


Flashback on


"Aku minta maaf. Aku salah. Aku menyadari pokok permasalahan kita adalah karena aku mencintaimu, dan karena gosip yang beredar waktu itu, saat melihatmu aku sangat kecewa. Jadi aku bertindak demikian. Maafkan aku," Ucap Andrian yang mendatangi Bila di depan sekolah Denis. Bila masih sama cantiknya saat mereka pertama kali bertemu di apartemen Alex waktu itu.


"Dan, waktu itu juga aku mengira kau istri Alex, makanya aku semakin marah. Tapi sekarang.. Aku ingin memulainya kembali. Jika kau tak mencintaiku, tak apa. Tapi berikan aku kesempatan untuk membuktikannya," Ucap Andrian lagi.


Bila tersenyum pahit. "Aku bahkan sudah memaafkanmu, tapi untuk memberimu kesempatan, maaf. Aku tidak ingin menjadi orang yang mudah dipermainkan. Aku tidak suka saat seseorang menjatuhkanku, lalu mengangkatku untuk menjatuhkanku lagi. Aku lelah hidup seperti itu. Jika kau tak menyukaiku, itu hakmu. Tapi jika kau menyukaiku, aku merasa tersanjung. Dan tak ada alasan untukku memberimu kesempatan. Lebih baik sekarang, anggap saja kita hanya seorang kenalan. Itu cukup." Bila mengatakan itu dengan pancaran luka di hatinya. Andrian tahu, kalau yang Andrian ucapkan dan lakukan sangat melukai Bila. Pada hakikatnya, tak ada seorang wanitapun yang mau di panggil ja**ng. Tak seorangpun.


"Aku mohon.." Andrian memegang lengan Bila dan memelas. Hal yang baru ia lakukan seumur hidup.


Dengan tenang, Bila melepaskan genggaman itu, "Kau bahkan yang membuatku di pecat,"


"Aku bisa membuatmu bekerja lagi di cafe itu, itu cafe milik seoarng teman. Niatku sebenarnya adalah untuk memperkerjakanmu di perusahaan, dan tak pernah menyangka kalau sebenarnya kau tak pernah menamatkan SMA." Kata Andrian dengan menggosokkan kedua telapak tangannya.


Flashback off


.


Andrian bahkan tak pernah mencoba menampakkan dirinya lagi di depan Bila maupun Alex. Ia merasa malu dengan kebodohannya. Ia sangat malu. Ia juga berpikir, mungkin saja Alex sudah bekerja di tempat yang lebih bagus mengingat Alex sangat pintar dan mudah di andalkan.


Lamunan Andrian melebur saat telinganya menangkap suara isak tangis yang di tahan oleh wanita di sampingnya.


Sementara Evita, di balik tangisnya, ia mulai berpikir bahwa Andriang gay dari gumaman Andrian beberapa saat lalu. Pantas Andrian tak pernah tergoda dengan wanita seksi. Ternyata ia seorang gay. Ia mulai merasa kecewa dengan gagasan itu. Benar benar sangat disayangkan.


"Berhenti menangis!" Bentak Andrian lalu melanjutkan, "Untuk saat ini, aku tidak akan memecatmu. Tapi jika kau kembali dengan gaya memuakkan itu, aku akan memecatmu dan memastikan namamu ada dalam black list setiap perusahaan." Andrian menekankam kalimat telahir sebagai bukti bahwa ia tak main main.


"Baik pak.." Kata Evita mengalah dan keluar dari ruangan itu. Dan akan dipastikan kalau kabar Andrian seorang gay akan mendarat pada telinga semua karyawan begitu Evita keluar. Dia adalah wanita ular yang sangat pandai berbicara. Semua spekuasinya akan di terbitkan menjadi berita yang penuh cabang dan cabai.

__ADS_1


***


Disisi lain, Bila sedang menemani Denis bermain di taman yang jauh dari aprtemen. Sebelumnya, Denis minta ice cream tapi Bila melarangnya dan lebih memilih membawa Denis kesini.


"Bibi.. Aku lapar." Kata Denis. "Baiklah, bibi akan membelikanmu makanan, kau tunggu disini." Denis mengangguk dan Bila segera berlari mencari makanan.


Sebelah taman itu adalah perusahaan yang lumayan besar. Bila selalu memimpikan menjadi wanita karier yang cerdas. Ia ingin menjadi seseorang yang benar benar berpengaruh di dunia perbisnisan. Tapi mimpi itu hilang saat kenyatan yang di bencinya lewat. Ia merasa sangat marah kepada dirinya dan nasibnya.


"Ini pesanannya," Bila mengambil dua bungkus makanan yang baru saja di belinya. Saat ia akan berbalik, ia melihat sosok yang tidak asing. Itu adalah Alex, yang baru saja keluar dari perusahaan itu. Lalu sosoknya mengambil sebuah barang, laptop, dan pergi ke cafe yang terletak di lantai bawah perusahaan itu.


"Alex.." Gumam Bila. Ia terduduk lesu di bangku terdekatnya. Ia tentu tahu dengan situasi ini selatang. Alex sedang mencari pekerjaan. Apa ia di pecat? Seketika itu.. Bila merasa sangat kecewa dan menyesal. Baginya, keberadaannya di samping Alex hanya membawa nasib buruk ke Alex. Alex tidak pernah bicara ke Bila dan menyembunyikannya. Ia tak ingin Bila menyalahkan dirinya. Bila termenung. Ia kembali ke tempat Denis dan mengajaknya pulang.


***


Pagi itu, Alex merasa bingung karena Bila belum bangun. Ia menaik kenop pintu Bila, "Kau belum bangun?" Saat pintu terbuka sepenuhnya, Alex tidak melihat sosok Bila dimanapun.


Alex menyergit dan menggeledah kamar Bila. Ia tidak menemukan pakaian Bila dan ada sebuah surat di tempat tidurnya. Mengatakan kalau Bila kembali ke kota asalnya, menetap dan menjernihkan pikirannya. Ia juga meminta Alex merahasiakan lokasinya kepada Andrian. Alex termenung, ia menelpon Bila berkali kali tapi nomer itu sudah tidak aktif.


Alex sangat khawatir, tapi ia juga tahu kalau Bila pasti sudah memikirkan hal yang matang. Yang ia ingin tahu sekarang hanyalah kabar Bila, tapi ia sama sekali tak bisa menghubunginya.


Beberapa hari kemudian, Andrian datang ke apartemen Alex dan menanyakan Bila.


"Dia tidak ada disini, dia pergi," Kata Alex. Dan Alex berani bersumpah kalau Andrian menangis saat itu. Ini pertama kalinya Alex melihatnya menangis, dan tak tahu apakah itu tulus atau tidak. Tapi Alex percaya kalau itu sangat tulus.


Kini, Alex menyadari. Kalau cinta adalah tentang pengorbanan, kendali ego, dan pemasang jarak. Kadang cinta mampu membuat orang tersiksa, dan mampu membuat orang bahagia. Cinta dari kedua orang yang mementingkan ego tidak akan berakhir indah. Cinta mereka tulus dan suci, tapi semua itu tidak berada pada tempatnya saat wadahnya sendiri tidak ada.


Alex akan mengingat ini baik baik dan menjadikannya pelajar hidup.


END


Yeayy.. akhirnya selesai. Kalo aku bikin yang novel lengkapnya dan ada season ini yang di refisi, terus ada lanjutannya juga, dengan perbaikan perbaikan pada kesalahan yang ada pada pada season satu ini mau ga? hehe..


Aku juga mau bilang terimakasih banyak buat para pembaca yang membaca cerita ini dari awal sampai akhir. Semoga kalian tetap dalam lindunganya, jangan pernah menyerah. Jika hidup tidak adil, ingatlah malam selalu berguna untuk bulan. Tanpa malam, bulan tidak bisa memancarkan kemegahannya. Keep smile Bro/Sis :)

__ADS_1


Hidupmu untuk dirimu sendiri.


__ADS_2