HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 14


__ADS_3

keputusan Ego.


***


"Sepuluh persen dari kehidupan ini adalah apa yang terjadi pada dirimu. Dan sembilan puluh persenya adalah tentang bagaimana caramu bereaksi terhadapnya."


-Charles R. Swindoll-


***


Sampai di sebuah rumah makan Andrian bisa melihat bahwa anak itu sangat gembira.


Apa yang bisa dilakukan anak kecil saat ia gembira? Senyum pastinya.


Senyum selalu terpatri di wajah anak itu, bahkan Andrian tak mengerti sama sekali.


Mereka disini hanya untuk makan kenapa sampai bahagia sekali?


Kalian tidak tahu, Andrian juga tidak tahu.


Hidup ditengah lingkaran jalanan membuat suatu seperti itu sangat langka bagi anak itu.


Biasanya, jatah makanya hanya nasi uduk. Sekali saat pagi, dan sekali saat sore.


Itupun jika setoran mereka melebihi batas yang ditentukan. Jika mereka menyetorkan kurang dari batas yang ditentukan, maka hanya ada satu nasi uduk untuk setiap dua anak.


Mereka masih kecil, lagipun, tinggal ditempat seperti itu dan lingkungan yang sangat kacau membuat mereka sendiri tak tahu dan tak mau tahu arti berbagi.


Satu anak yang lebih berkuasa akan memonopoli makananya sendiri, satu anak lagi hanya bisa menekan perut mereka sendiri dengan meratapi kesenjangan sosial itu.


Salah siapa itu? Itu bukan salah mereka, jika saja mereka hidup berkecukupan tentunya akan lebih membuat mereka tahu apa itu arti berbagi.


Pelayan mendatangi meja Andrian, mengantarkan buku menu. Anak itu masih tersenyum. Gigi giginya mulai mengering.


Kala Andrian menanyakan apa yang akan dipesan, ia bahkan tidak tahu apa yang mau dia pesan. Semua makanan disini enak. Apapun itu pasti akan dia makan kok.


"Pilih yang kamu suka," Andrian menyerahkan menu ke arah anak itu.


Tulisan yang ada disitu bukanlah bahasa Inggris yang pastinya tidak diketahui anak kecil, tapi anak itu juga tidak bisa membaca walaupun itu bahasa Indonesia. Jadi apa nama makanan itu anak itu tidak tahu.


Gambar yang terlihat nampak sangat menarik, anak itu bukan tipe pemilih. Apapun yang ada, akan ia makan. Apalagi makanan enak seperti dalam gambar.


"Aku tidak tahu," Ujar anak itu malu, sedikit melirik ke arah Andrian, takut menyinggung orang baik itu.


"Hmm?" Andrian menaikan Alisnya heran. Melihat anak itu melihat semua menu dengan binar, Andrian memanggil pelayan untuk menyiapkan makanan yang dipesannya. Dan menyerahkan buku menunya.


Setelah pelayan itu pergi, Andrian menghadap ke anak itu, karena mata anak itu bergulir ke seluruh penjuru ruangan, maka Andrian harus meminta perhatianya terlebih dahulu.


"Hei.." Ucap Andrian.


Mendengar suara dari orang didepanya, anak itu mengalihkan perhatian ke Andrian.


Dengan wajah bingung anak itu berhasil menatap mata Andrian tepat di maniknya.


"Apa kau tak bisa membaca?" Tanya Andrian, kini sifat cueknya entah kemana, rasa ingin tahu lebih besar dari apapun. Mengingkirkan semua kesombongan.


Melihat anak itu menunduk Andrian bisa menyadari kalau tebakanya benar.


"Bagaimana aku bisa membaca saat hari hariku adalah di lampu merah." Jawab anak itu.


Andrian merasa tersentil jauh dilubuk hatinya. Tak ada kisah semenyedihkan ini yang pernah ia dengar.


Anak jalanan, bukan anak yang salah pergaulan. Tapi anak yang terlantar, jauh dari keadilan dan ekstensi pemerintah.


***


Tak bisa dipungkiri kalau Andrian memang masih bisa merasakan hangat dihatinya jika ia melakukan kebajikan.


Andrian sangat lega, entah karena apa. Segelintir perasaan mengalir dari hati kejiwanya.


Mata Andrian terlempar pada pemandangan di dalam minimarket.


Anderian masih dimobil, namun pandanganya menuju kedalam minimarket.


Sosok Bila dengan anak bernama Denis. Mereka sedang memilih beberapa kebutuhan instant. Satu tangan saling mengait, namun satu tangan lainya kosong.


Khayalan mulai memenuhi pikiranya, jika disana mereka adalah bertiga.


Ada dia - Andrian. Bersama Bila dengan menggandeng satu tangganya. Sedangkan tangan lainya menggandeng seorang anak kecil.


Berjalanan penuh keceriaan dengan pandangan saling melirik. Berunding apa yang akan di beli.


Anak kecil itu bukanlah Denis yang sekarang sedang merengek meminta eskrim ke Bila.

__ADS_1


Anak itu, Anak mereka, mungkin. Andrian tersenyum hangat. Anak kita? anak Andrian dan Bila. Andrian tertawa seperti orang gila dimobilnya. Tak ada yang tahu, karna kaca mobilnya yang gelap, jadi tak perlu malu.


Namun pikiran itu segera ditepis kala Andrian mengingat sangat tidak mungkin semua itu terjadi.


Andrian geram sendiri rasanya kalau memikirkan perang dingin yang terjadi diantara mereka.


Untuk menebus semua kesalahanya, Andrian akan bersikap baik mulai sekarang. Yah, Bila tak punya salah apa apa kepadanya. Sangat tidak etis jika Andrian selalu mencari gara gara.


Yang Andrian pikirkan sekarang adalah berteman lagi denganya.


Bila yang baru saja keluar dengan kantong belanjaan di satu sisinya melihat dengan jelas, kalau Andrian sedang berjalan menujunya.


Denis masih mengerucutkan bibirnya tak mendapat eskrim yang dia minta. Hanya satu cup, apa salahnya.


Denis yang melihat Andrian melangkahkan kakinya menuju mereka lalu berjongkok di hadapanya menyergitkan dahi.


"Hey, namamu Denis?" Tanya Andrian mengusap kepalanya.


Selama ini hanya ayahnya, ibunya, dan bibinya yang mengusap kepalanya, hari ini ada orang yang baru sekali dilihatnya mengusap kepalanya.


Ia adalah paman yang waktu itu kerumah. Denis tak akan lupa karena setelah itu Denis mendengar bibinya menangis di sebelahnya dengan memeluknya.


Saat itu Denis tak beranjak dari tidurnya sama sekali. Bibinya pasti perlu waktu sendiri untuk menenangkan pikiranya, Denis tak mau kalau dia mengganggu dan bibinya pasti akan bilang kalau dia baik baik saja.


Apa paman ini yang membuat bibinya menangis?


Tapi saat dia mengusap kepalanya. Itu terasa agak nyaman jadi Denis tak terlalu mempermasalahkannya.


"Hmm" Jawabnya.


Bila yang melihat itu langsung menarik tangan Denis menjauh dari Andrian.


"Jangan dekat dekat orang tak dikenal Denis!"


Tak kurang kurang, ia bahkan menyembunyikan Denis dibelakangnya, beranjak pergi.


Andrian panik melihat mereka akan pergi. Dengan cepat ia tarik tangan Bila, membenturkan kepalanya pada dada bidangnya.


"Tunggu! Aku hanya ingin minta maaf." Andrian menatap Bila dengan perasaan menyesal kentara dimatanya.


Mata teduh itu menatap ke arah Bila, sedikit kikuk Bila melepaskan tanganya dari genggaman Andrian dan mundur beberapa langkah sampai dirasanya cukup jauh antara jarak mereka berdua.


"Aku hanya ingin minta maaf." Sekali lagi nadanya tampak memohon. Seperti kucing yang minta ditolong.


Lalu berdiri di depan bibi tersayangnya. Tanganya ia renggangkan untuk melindungi sang bibi.


"Paman punya salah apa sama bibi? Paman udah sakitin bibi?"


Denis mendelik tajam pada Andrian. Tak bisa di biarkan! Bibinya adalah orang baik dan tersayangnya, tak ada yang boleh menyakitinya!


Matanya tajam menusuk ke mata Andrian. Seperti anak anjing yang menggonggong.


Andrian yang dihadapkan anak galak tapi manis itu tak memperdulikanya, pandanganya hanya terarah pada Bila, tak ada yang lain.


Bila menurunkan tangan Denis yang masih merentang.


"Denis benar, memangnya apa salahmu?"


Bila menyampirkan tas dipundaknya yang melorot. Jika Andrian perhatikan, tas itu adalah tas yang sama saat di depan cafe saat itu.


Andrian tergagap, bukan hanya ia merasa dipojokkan, tapi juga merasa sangat bersalah kepadanya.


"Tolonglah lupakan, aku kesini hanya ingin minta maaf. Akan sangat baik saat kita kembali berteman seperti dulu."


Andrian menghela nafas, bukan saat yang tepat untuk ia marah. Hanya akan mempersulit masalah dan menjadikanya berbelit belit.


"Lupakan? Aku bahkan tidak ingat saat kau memakiku, kau bilang aku apa? Hmm, kalau tidak salah ja**ng kan? Aku minta maaf karena telah mengotori mulut manismu hanya untuk mengataiku, orang biasa ini."


Bibirnya mengatakan itu dengan jelas, bergerak gerak seirama menjadikan itu seperti tarian.


Bila tak akan mudah diluluhkan saat ini. Dan ini yang membuat Andrian kesal, wanita itu rumit.


Ada yang bilang bahwa kau harus mengerti wanita. Tapi wanita itu sendiri yang tidak mau dimengerti, siapa yang salah? Tentu saja kami para lelaki.


"Tolong Bila, jangan mempersulit masalah. Jangan berbelit belit. Aku kesini untuk minta maaf, jadi kau terima atau tidak!"


Nafas Andrian mulai memburu. Berbicara seperti ini harus menguras kesabaran yang cukup dalam dan Andrian tak punya kesabaran sedalam itu.


Bila mulai terpancing emosinya. Betapa tak punya malunya orang di depannya ini. Jangan bilang kalau ia tak pernah betul betul merasa bersalah.


Apa seperti itu cara meminta maaf? Seperti menuntut orabg untuk melakukan sesuatu yang tak disukainya.


"Kau ini sebenarnya niat minta maaf tidak?! Tak ada kata maaf yang dilontarkan dengan marah....."

__ADS_1


"......oh ya, kau pikir dengan minta maaf semua bisa selesai? Kenapa sangat mudah, berbuat salah, minta maaf, lalu selesai. Apa kau tak pernah merasa bersalah!!!"


Andrian tak mau merasa rendah dengan dibentak seperti ini. Tidak ada yang berani berteriak seperti ini sebelumnya.


"Aku bahkan menyampingkan egoku untuk minta maaf. Tak pernah aku seperti ini sebelumnya. Hanya kau!!


Satu satunya wanita yang harus untukku memohon. Tapi bahkan kau tak menghargai!!"


Mata Andrian memerah, begitupun dengan Bila. Denis yang tak pernah mendengar orang bertengkar mulai takut. Mengkerut dibelakang Bila.


Ayah dan ibunya tak pernah bertengkar seperti ini. Walau mereka tak romantis, mereka tak pernah terlibat dalam percecokan.


Saat berpisahpun, tak ada masalah. Semua seperti biasa saat ayahnya mengatakan kalau mereka berpisah.


Tak ada raut kesedihan di dalam keduanya, mereka juga tak kelihatan marah satu sama lain


Jadi dihadapkan masalah orang dewasa seperti ini membuat Denis takut.


"Itulah!! Kau! Tuan Muda Andrian. Tak akan membiarkan orang lebih tinggi darimu. Semua orang harus tunduk kepadamu, tak ada yang tidak! Bahkan jika kau salah sekalipun, merekalah yang harus minta maaf. Kau dan egomu, tidak akan tahu seperti apa perasaan kami, kaum bawah!!"


Bila tak akan seperti ini jika ia tak di dului. Ia tak mengerti jalan pikiran orang ini. Jika tak ingin meminta maaf, jangan minta maaf.


Ia tak pernah menuntut orang itu untuk minta maaf. Hanya jangan pernah datang untuk mencampuri urusan orang lain.


"Aku tidak!! Yang kau katakan bukan aku! Aku datang kesini dengan damai. Tapi kau! Yang membuat semuanya menjadi rumit dan memperbesar masalah. Hanya maafkan dan lupakan! Apa salahnya dengan itu!?"


Andrian berdiri di depan Bila, sangat dekat. Bahkan nafasnya menerpa hidung dan wajah Bila sesekali.


Orang orang yang berada disekitar mulai memperhatikanya. Namun tak ada yang berani untuk secara terang terangan menonton.


Ponsel mereka juga aman, tak ada yang memotret atau mevideo kejadian itu.


"Baik. Kalau kau bilang maafkan dan lupakan, aku setuju. Aku memaafkan mu Tuan Andrian. Jadi mari kita lupakan semua itu dan jangan pernah saling muncul, jika itu kebetulan. Anggap saja kalau kita tidak saling kenal!"


Dengan itu, Bila pergi menuntun tangan Denis, namun tangan Denis tak bergerak, badannya kaku.


Bila menatap Denis yang tampak ketakutan. Ia sangat kasihan dengan Denis. Anak kecil mana yang mau ditengah tengah percecokan ini.


Bila berjongkok di depan Denis mengusap rambut halusnya dengan lembut. Menutupi telinga yang dingin dan menangkup pipi gembil itu.


"Maaf ya, sudah membuatmu ketakutan. Bibi minta maaf. Ayo kita pergi."


Bila menggenggam tangan Denis dengan lembut. Denis pasti sangat ketakutan. Kalau saja tidak ada mahluk ini maka hari mereka tidak akan sial seperti ini.


Di mobil wajah Denis masih ketakutan. Bila belum menyalakan mesin. Ditatapnya Denis dengan sendu.


"Denis.." Panggilnya.


Denia terkejut lalu menetralkan wajahnya seakan tak pernah melihat apapun. Anak berusia 5 tahun ini sangat dewasa.


" Ya bibi?" Jawabnya.


"Denis tak akan bilang kepada ayah kan?"


Jika Alex tahu, ia pasti sangat marah. Alex sudah mewanti wanti untuk jangan dekat dekat dengan Andrian. Alex pikir Andrian adalah mantan Bila yang menyimpan dendam.


"Iya, Denis tidak dengar apapun."


Senyum menghiasi pipi gembilnya. Membuatnya seperti bakpao putih yang lembut.


"Anak pintar.."


Bila mencubit pipi bakpao itu dengan gemas. Kalau anaknya hidup, mungkin akan selucu itu.


****


Andrian kesal setengah mati. Bukan itu maksudnya.


Ia hanya minta maafkan dan lupakan kesalahanya, lalu mereka berteman lagi seperti dulu. Seperti tak ada masalah lagi.


Tapi Bila mengganggap lain ucapanya, yang membuatnya ingin mencekik orang.


"Arghhhh!!"


Ditendangnya mobilnya sendiri hingga bunyi sirine menggema di seluruh sisi kawasan itu.


Orang lain mungkin akan mengganggapnya orang gila. Masa bodo dengan itu.


Andrian hanya akan pulang dan menenangkan pikiranya saat ini.


***


maaf banyak typo. kadang saya nulis hanya untuk mencurahkan emosi. jika ada kesalahan penulisan, bahasa, dan cerita yang tidak sesuai saya minta maaf.

__ADS_1


__ADS_2