HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 39


__ADS_3

Ketika Kaisar Rui Xuan membutakan mata Mu Ye dengan besi panas yang menyala, dia tidak tahu seperti apa wajah dan udaranya. Sehingga saat takdir mengolahnya, menjadikannya perunggu perak di hati selir buta, ia hanya mampu berdoa dengan tangan bertumpu rendah, berharap cinta dari Selir Buta dapat dipulihkan. Tanpa memberikan belok konspirasi yang menguntungkannya.


***


"Apa yang.." Suara Andrian tercekat. Apa masalahnya sampai Alex mengundurkan diri?


"Aku keluar, aku mungkin bukan orang yang akan memukulmu saat ini. Tapi perlu kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu membuat adikku menderita. Kau pikir kau siapa berani menyetir kehidupan adikku. Apa yang salah dengan dia bekerja, ia tak bekerja dengan salah." Ucap Alex lalu pergi begitu saja.


Andrian tercengang. Apa maksudnya? Apa ini tentang dia yang membuat Bila di pecat?


Ayolah, Andrian bermaksud baik sebenarnya. Ia hanya ingin membuat Bila bekerja padanya dan tak akan pernah menyangka kalau akan seperti ini.


Dalam kurun waktu yang singkat, ia kehilangan dua orang peran dalam kehidupannya. Mustahil kalau Andrian tak terusik.


Andrian, dulu ia pernah berpikir kalau orang yang tak berperasaan adalah seorang dengan hidup tanpa jiwa. Ia mampu mengulik itu semua saat kebahagiaan memang ada pada dirinya. Kini, Andrian menjadi salah satu dari orang tersebut.


Kalau semua materi bisa mengukur kebahagiaan, Andrian mungkin jadi orang terbahagia saat ini.


Kalau kekuasaan bisa sangat membahagiakan, maka Andrian adalah orang dengan senyum yang tak pernah luntur.


Kalau cover adalah sebuah ruang yang membahagiakan, maka Andrian akan ada dalam kubangan lumpur penuh air mata kegembiraan.


Andrian sadar, bertambah dewasa tidak mempengaruhi otak dan hatinya juga dewasa. Saat ini, yang di butuhkanya adalah ketulusan yang memujur lurus. Tanpa kesalah pahaman seperti yang baru saja terjadi.


Bagaimanapun, Andrian sering menemukan orang sepertinya, yang kadang tak pernah bisa memunculkan rasa hangat walau ia peduli. Ia tertawa akan kebodohan itu, dan tak pernah berpikir kalau dirinya pun sama.


Ia menyesal tidak pernah mengatakan apapun dengan lugas dan selalu membalikkan batinnya ke polosok paling curam.


Semua kata diawali dengan Andai saja.


Andai saja Andrian mampu menjadi orang yang berterus terang dan tak berbelit belit, apa semua bisa menjadi seperti ini?


Andai saja waktu itu Andrian tidak ada dalam perpustakaan apa semua yang terjadi bisa membuat Andrian kecewa?


Andai saja ia tak pernah bertingkah bodoh dan terus memendam perasaannya, apakah semua yang terjadi bisa berjalan runtut tanpa ada yang terluka?

__ADS_1


Ya, benar. Dalam teori ini hanya Andrian yang terluka. Jadi biarkan saja tetap seperti ini.


Mungkin semuanya bisa di rubah dan di perbaiki mulai saat ini. Menjadi orang baru dan berempati lebih tinggi. Andrian yakin, jika ia berusaha, maka cinta monyet dulunya akan berkembang dengan konteks yang lebih kompleks. Semoga saja.


***


Bila melihat Alex yang berdiri di ambang pintu. Tidak biasanya Alex pulang saat jam seperti ini.


"Ada apa?" Tanya Bila menggali sudut pandangnya.


Tak mau terlihat bermasalah, Alex melengkungkan sedikit bibirnya keatas yang mana malah membuat Bila menjadi aneh.


Orang ini tidak tersenyum saat sebuah lucon melintas, atau sekedar tersenyum untuk beramah tamah. Apa yang aneh?


"Tidak, hari ini memang sedang pulang cepat saja." Jawab Alex.


Pikir Alex, tak apa jika beberapa bulan ia tetap tinggal di rumah. Ia bisa menjemput anaknya sendiri tanpa terlambat. Dan saja, tabunganya tidak sesedikit itu jika hanya untuk bertahan hidup beberapa bulan.


Bila mengangguk tanpa melanjutkan. Matanya lekat menonton televisi yang memunculkan berita berita yang semakin tak bermutu.


"Apa?" Tanya Bila membuat Alex mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia gugup namun tidak terlihat gugup.


"Aku akan menjemput Denis." Kata Alex cepat. Tak mau sampai kecanggungan yang di dasari perasaan tak terbuka membuka emosi batinnya.


Bila sedikit tertawa mengejek. "Masih satu jam. Lagian, aku akan menjemputnya, kau tenang saja." Jawab Bila.


"Apa yang ku bilang. Aku bilang satu jam lagi. Aku hanya bersiap siap." Kata Alex.


Bila melihat aneh kepada Alex. Hari ini Alex sangat aneh, ada apa dengannya?


"Ya sudah, aku bersiap dulu lalu menjemput Denis." Kata Bila. Ia berdiri dengan kaki kanan melangkah lebih dulu meninggalkan Alex yang hanya bisa mengiyakan.


Kini Alex mulai berpikir, bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan secepat mungkin. Ia menopangkan wajahnya pada tangan.


Bila yang keluar dari kamarnya melihat Alex yang melaun. Ia tak menegur Alex sedikitpun, pikirnya, mungkin Alex ada masalah yang menganggu pikiranya. Jadi dengan pelan ia berjalan keluar dan menutup pintu dengan lirih.

__ADS_1


"Mau menjemput Denis?" Tanya seorang wanita yang sedikit lebih tua dari Bila dan menaiki lift yang sama dengan Bila.


Dia adalah tetangga Alex. Namanya Shifa, anaknya juga sekolah di sekolah yang sama dengan Denis. Jadi mereka saling kenal.


Dulu, Shifa mengira kalau Bila adalah ibu sambung dari Denis. Tapi setelah dipikir pikir, wajah Denis dan Bila hampir mirip sehingga Shifa berpikir Bila adalah ibu biologis Denis.


Baru beberapa saat kemudian Ia tahu kalau sebenarnya Bila adalah adik dari Alex dan membuatnya merasa konyol karena menebak sesuatu yang tak pantas.


Shifa sendiri sangat jarang bertemu Alex, jadi ia tidak memperhatikan kalau Bila juga mirip dengan Alex.


"Ah, ya.. Anda juga?" Tanya Bila ramah. Bila sebenarnya masih seperti dulu, sangat ramah. Namun sikap sikap seperti itu juga harus pada orang yang tepat. Tak semua orang pantas di ramahi.


"Aku juga sama. Kita bisa menjemput bersama," Kata Shifa dengan senyum yang mengembara.


Bila segera menggelengkan kepalanya brutal. Bukan apa apa dia menolak ajakan itu, Bila tidak memakai mobil, jadi ia akan naik taksi atau bis.


Sedangkan shifa itu termasuk orang orang kelas atas yang memiliki mobil bagus dan pamor yang tinggi. Ia hanya tak mau merepotkan. Lagi pula, tidak ada yang tahu kalau itu hanya sebatas ajakan atau memang ajakan yang sebenarnya? "Tidak usah, saya bisa naik taksi saja." Ucap Bila.


Shifa tersenyum samar. "Ayolah, lagipula aku tak setiap saat disini, jadi mumpung disini, ayo menjadi akrab." Kata Shifa. Ia memang tak selalu di apartemen ini. Ia hanya di sini saat suaminya pergi keluar negri atau ia sedang bertengkar dengan suami.


Karena jadwal terbang suaminya yang lumayan padat, jadi hampir setengah bulan dari satu bulan dia di sini.


Bila tersenyum. Sebagai kesopanan, ia tak boleh menolak tawaran bantuan seseorang yang ikhlas. "Baiklah," Kata Bila.


Mereka berdua menjemput anak anak bersama. Di dalam mobil, Bila tak bersuara sedikitpun. Yang Bila tahu, shifa memang ramah. Iapun tak pernah terlibat masalah dengannya. Mereka saling kenal dan saling menyapa, tapi dengan satu mobil seperti ini, baru kali ini rasanya. Jadi itu sangat canggung. Terlebih lagi Shifa adalah orang kaya.


"Apa kau masih bekerja di Cafe?" Tanya Shifa yang melihat Bila berdiam dari tadi.


"Tidak, saya tidak bekerja disana lagi." Kata Bila.


Shifa menyergit. "Mulai saat ini, jangan memakai bahasa formal. Kita temankan?" Tanya Shifa.


"Tapi Anda lebih tua dari saya." Ucap Bila.


"Aku memang lebih tua darimu, tapi tidak ada hubungannya dengan bahasa formal dan biasa kan?" Tanyanya dengan terkekeh. Lalu melanjutkan, "Em, mungkin kamu bisa memanggilku kak Shifa."

__ADS_1


__ADS_2