HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 15


__ADS_3

Chalista Dewi Andriani


***


Zian kini sedang galau. Dia adalah siswa kelas sebelas, umurnya baru menginjak 16 tahun. Saat ini KTP nya bahkan belum ada.


Baru baru ini sekolahnya kedatangan guru baru. Namanya Chalista Dewi Andriani, semua orang memanggilnya bu Dewi .


Namanya mirip seperti kakaknya, namun tentu saja jauh berbeda. Andri yang ini adalah orang yang sangat ramah.


Bulu matanya panjang nan lentik, pakaianya rapi dan sopan. Tapi dibalik itu, Zian tahu itu adalah pinggang langsing dengan bokong chubby yang sangat baik tertutupi.


Senyumnya bagai dewi yang turun ke bumi. Dia memang Dewi.. dewinya Zian.


Jika berbicara alisnya akan naik turun seolah menggoda.


Menjadi seorang guru musik sangat cocok untuk kepribadiannya yang anggun. Jika dimainkanya gitar. Akan Zian kata kalau gitar itu tak seindah guru nya.


Gitar tidak lebih bisa bernyanyi merdu ketimbang guru nya yang menyanyikan senandung cinta.


Saat guru itu mengajari Zian cara mamainkan gitar. Jari jari kecil itu menggenggam jari Zian yang lebih besar. Menuntun ke permainan gitar yang sangat ringan di dengarkan.


Wajahnya hanya satu inchi dari wajah Zian. Membuat jantungnya dipompa habis habisan.


Kala matanya melirik Zian dengan pandangan menyemangati, Zian merasakan hangat di hatinya.


Otaknya bertabur bunga mawar merah muda setiap guru itu berbicara.


Tidak berhenti berbuat salah, Zian harap guru nya akan membenarkan setiap jari jari yang salah tempat itu ke posisi yang benar. Agar semua perhatian gurunya hanya kepadanya.


Dengan sangat sabar guru itu tidak akan mengeluh atau memarahi Zian yang tidak becus memainkan gitar.


Tapi itu dilakukanya ke semua murid. Zian tersenyum kecut.


Guru itu sangat ramah, murah senyum, baik, dan perhatian. Tapi kepada semua orang. Bukan hanya hanya dirinya. Hatinya berbunyi kian keras, kalau petir berbunyi menakutkan semua orang, maka retakan hatinya akan menakutinya lebih dari pada petir itu.


"Sekarang untuk tugas mingguan, saya harap kalian bisa tampil sesuai kelompok masing masing. Bukan hanya penampilan yang dinilai, saya akan menilai kerja sama kalian. Untuk jadi yang terbaik, kalian perlu kerja sama yang baik. Jangan sampai karena merasa jadi yang terbaik, maka kalian menyuruh nyuruh seenaknya. Jangan jadi tyrant untuk masing-masing kelompok, jadilah kelompok yang kompak, itu yang terpenting,"


Dewi mengarahkan pandanganya ke seluruh ruangan. Semua anak tampak paham, tapi yang menjadikan nya bingung adalah anak yang duduk di deretan ke tiga di pojok.


Anak itu tersenyum sedari tadi, matanya fokus padanya, namun sepertinya otaknya berada di tempat lain.


Jika ia perhatikan, anak itu sangat aneh. Pelajaran musik adalah jadwal yang paling akhir. Dan setiap pelajaran selesai, anak itu selalu jadi yang palibg akhir keluar. Menghampirinya dan menawarkan bantuan.


Jika hanya sekali, mungkin saja hanya kebetulan. Tapi ini setiap hari, Dewi pikir mungkin saja anak ini sedang mengambil hatinya, tipe tipe anak gila nilai dan selalu menjaga citra yabg baik di hadapan guru.

__ADS_1


"Paham?" Tanya Dewi ke seluruh siswa karena tidak ada pertanyaan yang dia dengar.


"Paham bu," Semua siswa berteriak, terkecuali siswa pojok itu.


"Jadi anak-anak, kita akhiri pertemuan ini. Sampai jumpa pada kelas selanjutnya. Silahkan keluar terlebih dahulu,"


Setelah itu semua siswa mengucapkan salam kepadanya, keluar beriringan tanpa suara.


Dewi mengemasi buku buku yang dibawanya, sampai sepasang lengan mengambil buku yang sudah ditatanya di meja.


"Saya bantu bu,"


Zian mengangkat buku itu dengan kedua tanganya, ia memang manja tapi bukan berarti ia lembek.


"Oh boleh..,"


Bila tersenyum memandang Zian. Selalu seperti ini, ada apa dengan bocah ini.


Mereka berdua berjalan ke ruang guru.


Setiap kelas mempunyai sepetak tanah kecil di depannya untuk dijadikan taman, sangat indah jika di pandang.


Saat sampai diruang guru, Semua guru sedang bersiap pulang, tak ada satupun yang menyapa Dewi.


Zian merasa tak terima. Bukan hanya merusak reputasi guru yang seharusnya jadi panutan, tapi juga sangat tak pantas Dewi diperlakukan seperti itu.


Beberapa langkah dari mereka berdiri adalah meja Dewi. Tapi merasa cukup dengan bantuan dari murid didiknya, Dewi rasa sudah cukup sampai sini saja.


"Terimakasih ya sudah mau membantu saya,"


Tanganya meraih buku buku yang masih dalam gendongan Zian. Namun tangan Zian tak mau melepaskan secara sengaja, ia bahkan menatap Dewi dengan pandangan datar.


Dewi tak tahu apa yang salah, tapi tanganya melarikan diri secara tidak sadar. Bersembunyi di balik celana bahan yang ia pakai, disisi tubuhnya.


Zian kembali melanjutkan langkahnya, diletakannya buku buku itu dimeja. Dewi sendiri sudah duduk di kursi kebesaranya sebagai guru.


Tanpa ragu sedikitpun, Zian menjawab ucapan terimakasih Dewi yang terlambat, sedikit keras untuk menyindir semua guru yang ada diruangan itu.


"Sama sama bu, saya juga sangat senang membantu ibu. Ibu sangat baik dan ramah kepada semua orang. Tidak ada guru sebaik anda dimata saya,"


Guru guru yang ada di ruangan itu melirik Zian. Mereka pastilah tahu kalau Zian sedang menyindir mereka. Terlebih Zian ini termasuk murid bandel walau tak masih dalam batas wajar.


Tapi sindiran hanya sindiran, bahkan mereka tidak peduli dengan itu. Setelah melongok sesaat, tak ada respon yang berarti bagi Zian.


Ini membuat Zian geram. Kalau saja ini adalah sekolahanya ia akan memecat seluruh guru di depanya.

__ADS_1


Zian mengahadap ke arah Dewi, dengan lantang mulai menyuarakan suaranya lagi.


"Aku akan minta kakakku untuk membeli sekolahan ini dan memecat tikua tikus ini tanpa hormat!!"


****


Andrian mesenyap kopi dengan mendengarkan apa yang Tian katakan. Hari ini, Tian menjadi tempat ceritanya.


Sejak Andrian sampai, Tian tak berhenti bicara sedetikpun. Apapun yang ia katakan seolah sangat menarik. Itu benar, tapi bagi dirinya sendiri.


Kuping Andrian rasanya pengang mendengarkan ucapan tak berbobotnya Tian.


Bahkan Gita yang menjadi tunangannya sepertinya tak sanggup untuk lebih lama mendengar ini.


"Oke cukup Tian, kau tak perlu menceritakan apa saja yang kau alami disini. Itu sangat menyebalkan,"


Tian menepuk pundak Gita, dengan bisikan kecil ia bersuara tanpa Andrian ketahui apa yang dia ucapkan.


"Tapi kau suka aku kan?"


Bisik Tian ditelinga Gita. Mendapat godaan seperti itu, ia merasa malu. Pipinya memerah menandakan kalau ia tersipu.


"Kau ini, jangan seperti itu. Apa kau tak malu ada Andrian?"


Gita melirik Andrian yang menatap sengit keduanya dengan menyeruput kopi. Matanya memicing tak suka.


"Jangan bermesraan di depanku, aku tak suka itu,"


Tian dan Gita hanya tertawa. Andrian ini sangat tidak berperasaan. Ia kesini untuk meminta saran, tapi sikapnya bukanlah seseorang yang membutuhkan bantuan.


Ketukan pintu meredakan tawa sepasang kekasih itu. Tian beranjak untuk membuka pintu, seorang kurir membawa barang yang ia pesan dari sebuah situs.


Sementara Tian tidak ada, Gita memusatkan perhatianya ke Andrian.


Mengambil sebuah benda dari lemari TV di depannya.


"Andrian," Gita memanggil.


Andrian menoleh. Dari nada, Andrian tahu kalau ada yang ingin Gita sampaikan kepadanya.


Gita meletakan benda itu di depanya.


"Cepatlah ambil, jangan sampai Tian melihatny,."


****

__ADS_1


__ADS_2