HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 25


__ADS_3

Antar dan Antar


***


"Tidak usah mengantar," Ucap Bila pada Andrian yang ingin mengantarkan mereka. "Hanya mengantar, Denis pasti lelah karena bermain. Ayolah.." Andrian merengek seperti anak kecil. Menurutnya Denis itu anak yang lucu, ia tak bisa berpisah dengan bocah itu, ia merasa nyaman dengan Denis. Dan Bila sangat menjengkelkan selalu membatasi ruang akrab Andrian dan Denis.


"Aku sudah pesan taksi, kau pulang saja dulu." Bila tak ingin lebih lama lagi bersama Andrian. Bisa bisa habis hatinya untuk menjadi tameng penghinaan Andrian.


"Batalkan!" Perintah Andrian. Bila berdecih lalu tersenyum miring, "Cih, siapa kau mengaturku?" Katanya.


Andrian menurunkan bahunya, tak ingin drama ini menjadi besar. Ia sudah cukup muak dengan keegoisan Bila dari tadi. Melihat ke Denis, ia sudah tertidur karena kelelahan.


Andrian bergerak maju untuk memeluk Denis. "Apa yang kau lakukan?" Bila mundur dua langkah, tiba tiba Andrian mendekat. "Apa? Aku hanya ingin memeluk Denis, bukan memelukmu dasar bodoh!" Maki Andrian.


Bila tersinggung, jadi saat Andrian mendekat lagi, ia tak menghindar. Andrian memeluk Denis yang ada dalam gendongan Bila. Tanganya melingkari Denis membuat Bila tak nyaman. Sedikit, ia menjauhkan wajahnya dari wajah Andrian yang menempel pada kepala Denis.


Andrian tahu kalau Bila merasa tak nyaman, lalu ia memundurkan kepalanya secara spontan, tak akan berpikir kalau pipinya sampai menyentuh bibir Bila.


Mereka berdua membeku. Andrian tetap pada posisinya dan Bila melebarkan matanya. Dengan ambang kesadaran yang normal, Bila menyentak tanganya untuk mendorong Andrian tepat saat taksi tiba.


Ia masuk ke dalam taksi dengan jantung berpacu cepat. Mengelap bibirnya yang masih menyisakan perasaan bergesek dengan jenggot tipis.


Sedangkan Andrian, ia melongo melihat Bila pergi. Sudut matanya terangkat begitu juga dengan bibirnya. Tanganya mengelus pipinya yang mendapat kejutan.


****


"Kenapa menatapku seperti itu?" Alex menyeruput kopinya dan bertanya pada remaja yang kini duduk dihadapanya.


Remaja itu, yang bernama Karin, tertangkap basah mengamati orang yang dihadapanya, pipinya bersemu. Dulu saat kecil, ia bermimpi akan ada pengeran yang menjemputnya, pangeran itu tampan, tinggi, berkharisma, dan keren.


Sekarang yang dihadapanya adalah lelaki idaman yang sedari dulu dibayangkanya. Entah bagaimana, ia merasa sangat mengagumi lelaki ini.


"Kau tampan," Alex tersedak kopinya sendiri. Ia memang popular, ia akui. Tapi tidak ada seorangpun gadis yang berani berkata seperti itu dihadapanya. Alex dikenal sebagai lelaki dingin dan tak berperasaan, tapi itu tidak menjadikan wanita tak menginginkanya. Mereka hanya takut untuk ditolak Alex.


"Seorang remaja perempuan tidaklah etis memuji seorang pria seperti itu." Kata Alex dengan datar. "Ah, ya..." Remaja itu berdehem, lalu meminta maaf. "Ngomong ngomong namaku Karin," Setelah berkata seperti itu, dia tersenyum penuh binar ke arah Alex. Berharap Alex juga mengenalkan dirinya.

__ADS_1


Alex yang melihat senyum tulus remaja itu membuat hatinya merasa hangat. Tapi yang ditunggu tidak ada kepastianya, Alex tidak mengenalkan dirinya balik. Lalu Remaja itu bersuara kembali "Bagaiman denganmu? Siapa namamu?" Tanyanya.


Alex menatap datar. "Alex," Jawabnya. Remaja itu tersenyum kembali.


"Berapa umurmu?"


"28,"


"Apa pekerjaanmu?"


"Skretaris,"


"Kau sudah menikah?"


"Hm, Aku sudah cerai,"


"Jadi kau punya anak?"


"Sudah,"


Alex menatap remaja itu datar. Yang ditatap hanya mengenakan wajah ingin tahunya tanpa terpengaruh. Alex menghembuskan nafasnya.


"Kau tahu artinya wanita menanyakan hal seperti itu kepada pria?" Tanya Alex. Kemudia remaja itu tertawa. "Apa tidak boleh? Aku hanya bertanya." Ucapnya.


Ditanya tentang hal seperti itu oleh seorang gadis remaja membuatnya canggung. Tapi ia menutupinya dengan raut datar.


"Tidak sopan menanyakan hal seperti itu pada pria yang baru kau kenal." Alex menilik ke arah luar cafe. Banyak mobil yang berjalan beraturan. Air mukanya datar, tapi Karin tahu kalau dia sedang memikirkan sesuatu.


Karin tersentak sedikit, "Ah, maaf."


"Aku hanya ingin tahu tentangmu. Kita bisa berteman," Lanjutnya dengan senyum cerahnya yang tak pernah memudar.


Karin adalah seorang mahasiswa baru yang berumur delapan belas tahun.


Ia hanya tinggal seorang diri, ibunya meninggal saat usianya sekitar dua belas tahun. Ayahnya meninggal saat ia kelas sebelas SMA.

__ADS_1


Ia tak mempunyai saudara di kota ini. Terpaksa ia harus bekerja sampingan untuk menghidupi dirinya dan belajar dengan keras sehingga bisa mendapatkan beasiswa. Kadang beberapa bulan sekali, kakeknya akan mengirimkan sejumlah uang.


Ia sangat mandiri, uang yang dikirimkan kakeknya tentu tidak bisa mencukupi kehidupanya, tapi ia tak pernah meminta lebih. Ia lebih suka bekerja untuk mencukupi kebutuhanya.


"Bagaimana dengan biaya laundry yang kau bicarakan?" Alex mengalihkan topik pembicaraan dengan masalah yang kemarin belum selesai.


Karin meletakan jari telunjuknya pada dagu. Mulai berpikir dengan memanyunkan bibir ranumnya. Di dalam hatinya, Karin tertawa. Lelaki ini pasti tidak pernah berurusan dengan yang namanya pakaian.


Sebenarnya Karin berbohong dengan melaundry pakaiannya, kebenaranya, ia hanya mencucinya sendiri. Ia selalu menghemat uang untuk di tabung, tak pantas jika apa yang ia bisa lakukan sendiri sedangakan uang yang ada di dompetnya tidak mendukung hal hal boros seperti itu.


"Biaya melaundry, dengan ongkosku kesini, dan untuk ongkosku pulang, tidak banyak. Karena kau sudah mentraktirku hari ini, jadi aku tak akan memintamu ganti rugi lagi."


Dimasa depan, Karin berpikir untuk membuat trik licik seperti ini lagi untuk bertemu dengan lelaki setengah dewa ini.


"Tidak apa, katakan saja berapa yang harus kubayarkan. Itu pasti mahal untuk ukuran mahasiswa sepertimu. Lagi pula jika tidak, uangnya bisa untukmu membeli keperluanmu yang lain," Ucap Alex dengan perhatian, tapi dengan tampang datar seperti itu dan nada yang sarkas membuat perkataanya ambigu.


"Kau pikir aku tidak sanggup membayarnya?" Sebenarnya iya, Karin tidak punya uang yang banyak untuk melakukan hal hal seperti itu, tadi kesini saja ia naik bus. Tapi juga tak mau pria ini mengganggap ia hanya memanfaatkan pria ini.


"Aku tidak bermaksud seperti itu," Ucap Alex. "Ah, senang mendengar kau tak bermaksud menyinggungku," Ucap Karin dengan senyum yang tulus dan lebar. Lagi lagi, Alex menghangat dengan melihat senyuman itu.


Karin berdiri dengan bibir yang mayun.


"Sepertinya aku harus pulang, selamat tinggal," Ucapnya, lalu menghilang di balik pintu. Tapi Alex masih dapat melihatnya dari dalam Cafe.


Karin berdiri seoalah ia sedang mencari taksi. Seharusnya kini ia berjalan ke halte bus, tapi karena ia tahu pria itu bisa melihatnya dari dalam, ia tak melakukan itu.


Kakinya pegal berdiri seperti itu. Ia pikir ia harus segera pulang, tapi egonya tak menjinkanya. Ia melihat ke dalam Cafe apakah pria itu sudah pulang atau belum. Sedikit demi sedikit ia memutar kepalanya ke belakang melihat apkah pria masih disana.


Di dalam Cafe tempat pria itu duduk sudah kosong, berarti lelaki itu sudah pergi. Karin menghela nafas lega. Akhirnya ia bisa pulang. Untung saja tidak sampai berpuluh puluh menit, jika iya, kakinya pasti sangat pegal dan mencurigakan.


Saat kepalanya berputar lagi untuk pergi, ia dikagetkan oleh mobil mewah yang berhenti di depannya. Mobil itu berwarna hitam dan mengkilap. Jelas itu mobil yang sangat mahal untuk ukuran orang kalangan bawah sepertinya.


Kaca mobil turun dan nampaklah wajah Alex yang tampan, "Masuk, biar aku antarkan,"


***

__ADS_1


Setiap orang punya jalannya masing-masing. kalau tidak tahu apa yang harus dilakukan, cukup lihat apa yang orang lain lakukan.


__ADS_2