
kehangatan rumah
***
Jangan terlalu berpatok pada masa depan. Masa depan itu semu, ibarat roda keberuntungan, setiap spin bukan kita yang menentukan.
***
Saat pintu dibuka, Andrian bisa mendengar suara riuh dari keluarganya. Disana, di depan televisi dia melihat sepasang keluarga bahagia nampak heboh dengan sinetron yang sangat lengendaris.
Rasa lelahnya hilang melihat senyuman sang ibu, melihat tawa sang ayah, kecuali Zian. Setiap hari ia melihat, apa yang ia rindukan?
Anak itu juga yang sudah membuatnya khawatir beberapa saat lalu.
Flashback on
Andrian pulang keapartemen tidak menemukan Zian sama sekali. Itu sudah sore harusnya ia sudah pulang. Dikantor Andrian pun tak kelihatan batang hidungnya.
Beberapa kali Andrian menelpon Zian tapi sama sekali tidak diangkat. Pikirnya, mungkin ia sedang main atau apalah.
Tapi rasa khawatirnya membuncah saat tetangganya bilang kalau Zian sempat menaiki mobil dengan pria ber jas yang menjemputnya.
Andrian kira Zian diculik. Zian bilang, ia akan pulang besok kan? Jadi tak mungkin kalau pergi kerumah sekarang.
Tapi rasa paniknya menjadi kesal saat Zian mengirimi pesan.
'Aku udah dirumah, aku tidak mau sampai waktu istirahatku kepotong. Besok aku istirahat penuh deh, Hehe. Kakak kesini aja, ibu katanya kangen ditemenin nonton TV.'
Yah, mungkin memang harusnya ia pulang seperti yang ia katakan beberapa saat lalu ketika menolak ajakan tuan Surya.
Flashback off
Ibu adalah orang yang pertama kali melihatnya, lalu disusul oleh ayahnya tanpa disusul adiknya. Sicebol itu tidak merasa bersalah sama sekali rupanya, bahkan untuk menyambut kakaknya saja tidak.
"Akhirnya tahu jalan juga kamu."
Kelakar ayahnya yang diangguki oleh ibunya.
"Sini nak, ibu kangen banget sama kamu. Ibu ga tahu kalo kamu mau pulang. Kalo tahu harusnya ibu masak rendang, kan yah?"
Ibunya yang sudah berumur itu masih tampak cantik tanpa polesan yang berarti. Mata hitamnya mulai menyipit, tapi tak membuat parasnya layu akan usia.
Ayahnya yang dulu gagah, ayah yang dulu ia nantikan kepulangan kerjanya, yang dulu selalu membawa oleh oleh sekarang rambutnya hampir setengahnya beruban.
Andrian tersenyum masam, ia harap orang tuanya akan berumur panjang, ia harap orang tuanya akan selalu bahagia.
Sicebol mulai melongok dari sofanya, mengerucutkan bibir. Ia pikir itu lucu, tapi menurut Andrian yang sedang kesal padanya itu seperti anak monyet yang meminta pisang.
"Ibu kok kayak gitu, aku juga disini dari tadi siang loh, engga ada rencana buat rendang?" Remot yang sedari tadi ia pegang ia masukan ke bibirnya.
"Ya enggak gitu dong, Andrian ini kan udah lama ga pulang, kamu ga boleh gitu ah."
__ADS_1
Ibu menggiringnya ke sofa yang tadi mereka duduki, Zian yang melihat kakaknya mendekat mulai memicingkan matanya cemburu.
"Kamu ini kalau pergi bilang dulu, udah tahu kalo kakak pulang sore, kamu tidak izin pergi dulu. Kamu ini memang biang kerok."
Zian tampak menyesal, ia akan mintaaaf tapi ibunya malah mengiyakan ucapan Andrian yang membuatnyaakin merasa bersalah.
"Iya Zian, kamu ini udah besar. Jangan buat orang khawatir lagi, kalo misalnya kamu diculik siapa yang repot?."
Merasa disudutkan, Zian menundudukan wajahnya. Ia tidak berpikir sang kakak akan khawatir, karna ia bilang akan pulang besok.
Entah itu sekarang atau besok tidak ada bedanya bukan? Toh itu hanya masalah hari. Hanya beda satu hari pula.
"Maaf kak.." Ucap Zian lirih. Yang dijawab gumaman oleh Andrian "Hmm,"
"Sudah, sekarang hampir larut malam, sebaiknya kita tidur, besok masih banyak waktu jadi kita lanjutkan perbincangan besok."
Ibu Andrian mendorong kedua putranya naik ke kamar, sementara dirinya sudah dalam rangkulan suami yang kini menggerling manja kepadanya.
"Jangan seperti itu," Ucapnya malu dan mendorong wajah suaminya ke samping.
****
Andrian mengelilingi sofa lalu menarim benda yang cari di bawah sofa kamarnya, sebuah kotak yang berisi handuk kecil.
Kalian ingat saat pentas seni Agustusan tujuh tahun lalu?
Usai pentas, Bila membawa handuk bersih yang di beli dengan uang kelas. Ia membagikan kepada semua orang saat itu.
"Nih Dri, usapin keringet kamu, nanti handuknya bisa dibawa balik. Kalo beli tissue pasti pada buat mainan, jadi banyak yang ga kebagian deh."
Seperti itu.
Walaupun Andrian tahu, kalau bukan hanya dirinya yang mendapat handuk dari Bila, namun tetap saja, itu dari tangan Bila.
Tak disangkanya masalah masa SMA remaja labil bisa sampai berujung sekarang awal mulanya saja Andrian tidak ingat atau memang tidak ada?
Andrian kini sadar, perang ini terjadi bukan kesalahan pihak ketiga, atau pihak lain. Itu mungkin karena ia merasa cintanya tidak terbalaskan dan merasa dendam.
Di letakkanya handuk itu dalam kotak. Lalu dengan hati hati memasukannya ke lemari paling bawah.
Ia mulai membuka baju dan celana, berpikir untuk mandi adalah yang ia pikirkan saat ini. Walaupun hari sudah larut, tapi Andrian tidak bisa tidur tanpa mandi terlebih dahulu.
Namun baru ia akan memasuki kamar mandi, pintu kamarnya di ketuk.
Dilihatnya Zian sedang berdiri di hadapannya dengan mata melotot.
"Kenapa kesini?" Tanya Andrian malas.
Zian yang masi melotot melihat kakaknya mulai sadar. "Kau mau mandi di jam segini?"
Zian masih melotot menunggu jawaban Andrian. Andrian masih berwajah datar menunggu jawaban dari Zian.
__ADS_1
Zian mengedipkan matanya, mentralkan matanya yang baru saja melotot. Perih.
"Kamarku kotor tak pernah dibersihkan. Kata ibu aku disuruh tidur disini."
Zian akhirnya mengalah. Tak penting juga kalau berkompetensi hal yang tak berguna.
"Ck. Tidak diapartemen, dirumah, kenapa nasibku sama. Ditumpangi bocah pengganggu sepertimu." Gumam Andrian.
Zian memasuki kamar kakaknya, sekali lagi matanya melotot tak terima. Kamar kakaknya itu sangat bersih. Padahal kamar ini sudah lama tak terpakai.
Sedangkan Zian? Baru saja beberapa hari tapi kamarnya seperti tak dihuni beberpa bulan.
Ibunya pasti tak pernah membiarkan pembantu membersihkan kamarnya. Betapa tak adilnya.
"Ck! Jadi sulung memang yang paling TOP." Zian mencibir.
Andrian dengar, namun ia tak menanggapi. Baginya selama keuntungan dipihaknya apapun tidak masalah.
Zian yang saat ini sudah diatas kasur melihat kakaknya yang masih berdiri disamping ranjang.
"Tidak jadi mandi?" Ucapnya dengan nada sinis yang kentara.
Andrian memutar mata, lalu dengan malas melangkah ke kamar mandi.
"Kalau males mandi, ga usah sok sok an mandi deh, dari pada nanti kena flu." Zian tertawa dengan nada yang tidak mengenakkan hati. Siapa saja paati tak tahan untuk menginjak wajahnya.
Andrian yang sudah berdiri di depan kamar mandi berbalik badan menatap adik 'tersayangnya'.
"Jangan bilang kau belum mandi?" Tanya Andrian memicing. Ia sebenarnya hanya menebak, tahu kalau adiknya sangat santai terhadap hal hal seperti itu.
Namun tak disangkanya wajah Zian yang berbah seperti anak yang ketahuan mencuri.
"Kau belum mandi?" Andrian mulai melotot kesal ke adiknya.
Tidak ada yang boleh menginjakkan badannya ke kasurnya tanpa mandi.
Zian yang ditatap seperti mulai bergerak gelisah. "Udah kok" Jawabnya dengan suara mengecil.
Andrian menarik tangan adiknya. Menyeretnya ke arah kamar mandi.
"Mandi dulu! Kakak ga mau sekamar sama kamu yang ga mandi."
Zian sangat enggan jika harus mandi malam hari. Ia tidak mau kulitnya nanti menjadi kerput.
Jadi dengan sekuat tenaga ia menarik tanganya. Jika kakaknya mandi, itu silahkan. Tapi jika ia harus mandi, maaf saja Zian tidak mau.
Jadilah aksi tarik menarik antara dua orang kakak beradik. Jika orang lain melihatnya, mungkin akan terlihat seperti hubungan akur penuh canda.
Sampai pintu kamar dibuka, sang ibu berdehem.
"Udah malam jangan ribut."
__ADS_1
***