
kau bukan alasan aku hidup, jadi apa ada perbedaan saat kau tak suka kepadaku?
*****
"Hai.." Merapatkan bibir diantara dua rahang, mata Andrina menatap Bila dengan manik jakun yang naik dan turun.
Sementara Bila, baginya pertemuan dengan Andrian ini bukanlah sesuatu yang diinginkannya. Beberapa tahun ia hidup bukan untuk dicaci apa lagi untuk dihina habis habisan. Jangan harap dia akan berbaik hati pada orang seperti itu.
"Maaf tuan, saya sedang buru buru. Jika tak ada hal yang penting saya mohon jangan halangi saya."
Mendengar kata sopan namun sakarstik itu telinga Andrian memerah. Bukan, bukan berarti ia kedinginan walau malam ini angin menghembus bersanding dingin. Ia hanya marah, juga bingung. Apa yang dirinya mau sebenarnya dari sosok ini?
Beberapa menit lalu keinginan untuk bertemu dan bertatap muka sangat besar presentasenya. Namun kini melihat wajah itu saja dadanya merombak marah tanpa ada alasan.
"Alex bilang Denis adalah anaknya bukan? Lalu kenapa saat ku bilang dia anakmu kau malah diam saja, membiarkan aku mengoceh dan lalu Alex yang memberitahukannya...." Andrian menatap nyalang wanita dihadapannya. Jika membunuh itu dilegalkan ingin rasanya Amdrian membunuh sosok ini agar tak pernah mampir dan membabi buta pikirannya.
"....Jika bukan anakmu, bukannya artinya kau tak pernah hamil? Kalau saja kau katakan yang sebenarnya pada sekolah kau tak akan dikeluarkan kamu tahu!"
"Untuk apa?" Sabilia atau yang sering dipanggil Bila itu menaikan tas slempangnya yang merosot. Biji matanya tak menyiratkan efek takut ataupun marah. Benar benar jauh berbeda dari sosok yang pernah Andrian temui di SMA.
"Untuk apa?" Tanya Andrian menopangkan tangan kirinya ke pinggang. Hanya sebentar, tak lama itu tanganya turun untuk meremat tinju menahan amarah.
"Benar. Untuk apa kau tanyakan itu padaku. Bukan urusanmu."
Muka Andrian kini sepenuhnya merah, semerah sebuah tomat matang. Kesabarannya dipermainkan! Nafasnya mulai memburu seiring memerahnya mata dan leher. Jangan bilang Andrian sudah dewasa jika ia tak bisa mengendalikan emosi. Secara bertahap kesabaranya meningkat.
Seperti tak mengerti kondisi, Bila tertawa ringan dengan tangan cantik yang menutupi mulutnya, sekali lagi menempatkan tas slempang yang merosot ke pundaknya.
"Kau pikir siapa dirimu? Andrian, ini urusanku, ini hidupku. Aku menghormatimu karna kau teman sekelasku dulu, karna kau itu baik, dulu."
Menyingkirkan helaian rambut dari wajahnya. Lalu melanjutkan "Dan kau juga seorang CEO tempat kakakku bekerja. Kau memang sangat sukses Andrian, dan pantas di hargai. Lalu kau disini untuk apa? Kau ingin sekali lagi menjelaskan bahwa aku adalah ****** seperti yang kau katakan dan tak pantas untuk memiliki hak yag sejajar denganmu?...."
__ADS_1
"Aku pikir kita tidak punya masalah sebelumnya, jadi apa masalahmu denganku sebenarnya? Ayo katakan. Jika aku salah perlu aku bersujud?"
"Congrat's Andrian. Aku bangga padamu yang sudah menjadi dominan yang berkuasa sepenuhnya"
Setelah mengatakan itu Bila pergi, membawa kaki berbalut jeans dan sepatu sneakers itu pergi.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah berikutnya tubuh itu berputar seiring tarikan pada tangannya. Andrian memegangi pundak kecil itu lalu dalam persekian detik bibirnya mengecup bibir sang lawan. Hanya beberapa detik, namun sangat mengubah kondisi latar yang mereka berdua perankan.
Sebuah tamparan Andrian dapatkan pada pipi kanannya, Dilihatnya Bila dengan nafas yang naik turun. Lalu Andrian tersenyum simpul.
"Kau memang ****** Bila" Ucapnya lembut.
Tanpa mengatakan apa apa lagi Bila pergi disertai dengan pandangan yang kabur. Marah, kecewa, perasaan terlukai dan terhina membuat Bila meremat kasar dada kirinya. Sakit, itu yang ia rasakan. Liquid bening itu runtuh hanya dalam sekejap mata. Bulu mata panjang dan indah itu bergetar bersama bibir di wajah itu. Menimbulkan perasaan menyayat hati bagi yang melihat.
Sialnya malam ini tak turun hujan yang bisa menyembunyikan bulir air matanya, malam ini sangat cerah dan bagus, bintang bintang hampir terlihat di disini, tak seperti biasanya yang tertup asap dan debu polusi. Sangat berbanding terbalik dengan suasana yang dirasaan Bila. Sudah lama ia tak merasakan sesak seperti ini sejak tinggal dengan kakaknya, dan keponakan manis kesayangannya.
Ya tuhan apa yang kulakukan di kehidupan sebelumnya sebenarnya, mengapa di kehidupan ini aku tak pernah merasa bahagia yang layak?
Tanpa menanggapi apapun Bila tetap melangkah ke sembarang arah. Harusnya ia tak seperti ini, harusnya dia tidak menjadi orang gila seperti ini. Tapi hatinya lelah dengan cercaan semua orang. Dan ucapan orang tadi sudah menyulut memorinya. Memberikan kilas balik yang menggetarkan hatinya.
Kakinya berhenti di jembatan kecil yang sepi. Air matanya sudah tak mengalir. Namun sakit masih saja di rasanya. Ia memandangi arus sungai yang lumayan deras.
Konyol, tentu bukan itu yang dipikirannya. Ia tak akan bunuh diri, ia sadar mereka semua yang pernah menghinanya tak pernah ikut andil dalam misi bertahan hidup seorang Bila, jadi mereka tak akan pernah bisa memepengaruhi Bila dan menyentil sudut terkecil dihatinya.
Ia masih punya kakak dan keponakan yang ia sayangi. Bagaimana ia bisa mati begitu saja?
Ponselnya berbunyi dari saku baju yang dikenakannya, tertulis nama Alex disitu. Buru buru Bila mengelap matanya dan menetralkan suaranya seperti biasa di hadapan kakak datarnya itu.
"Halo kak?" Tanyanya riang. Tak terdengar jejak kesedihan yang nenguras air mata.
"Kau dimana? Tak biasanya kau terlambat, Denis sudah menanyakanmu dari tadi." Disana, walaupun suaranya terdengar biasa, Bila tahu kalau kakaknya itu sedang merasa khawatir.
__ADS_1
Ia terkekeh kecil, "malam ini agak sedikit telat, ada kerjaan yang harus diselesaikan hari ini, jadi kakak tak usah khawatir. Bilang kepada Denis untuk jangan menungguku, kalau aku pulang aku akan bawa pizza kesukaanya." Jawabnya tersenyum mengingat keponakannya.
"Oh, yasudah. Nanti aku jemput, cukup telfon saja saat kau sudah selesai."
Dengan rusuh Bila menggerak gerakkan tanganya walau ia tahu kalau Alex tak akan melihat disana. "Tidak, tidak, tidak usah, aku pulang sendiri saja, aku bukan anak kecil yang perlu di jemput." Ucapnya cepat seperti Nicky minaj yang menyanyikan sebuah rap.
Alex tertawa, adiknya yang rusuh saat panik itu salah satu hal yang bisa membuat si datar itu tertawa, kau tak akan tahu betapa lucunya adiknya saat ia panik. Dan sialnya, itu sangat lucu bagi Alex.
"Ok, ok. Aku tak akan jemput, ok." Alex masih saja tertawa disana.
Kadang Bila heran dengan kakaknya yang jarang tertawa tapi malah tertawa dengan hal hal yang orang lain tak anggap lucu. Benar benar humor receh.
"Oh iya, kalau bisa pulanglah cepat, malam ini Dimas dan mamanya akan menginap, jadi supaya tak ada gosip dari tetangga kau cepatlah pulang." Bisik Alex pada Bila, mungkin ia takut kalau orang disana akan mendengar apa yang ia katakan.
"Menghindari gosip yang menyebar atau untuk memadamkan suasana canggung yang ada?" Goda Bila.
"Ah kau ini.." Alex tampak malas dengan godaan sang adik.
"Oh iya kak, sudah dulu telfonya."
"Ah! Aku lupa kau sedang sibuk makanya tak bisa pulang cepat. Ya sudah, lakukan pekerjaan dengan cepat lalu segeralah pulang." Peringat dari sang kakak.
"Hmm" Bila menjawab dengan deheman. Ditutupnya layar ponselnya lalu meletakkan tas slempangnya.
Sebelum pulang Bila menyempatkan untuk membeli pizza. Tak hanya satu yang ia beli, mengingat bukan hanya tiga orang yang ada.
Di dompetnya hanya tersisa satu lipat uang seratus ribuan. Tapi ia tak risau karna ia tahu kalau kakaknya akan menggatinya walau dia tak pernah memintanya, ia ikhlas. Toh jika uangnya habis apa yang perlu ia beli? Semua kebutuhan saja ia numpang di rumah kakaknya.
****
maaf kalau banyak typo ya :)
__ADS_1