HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 21


__ADS_3

Menelan makanan, Bisakah seperti di novel?


***


Zian memandang orang itu dengan dalam. Dia sudah ada disana saat Zian masuk, jadi orang ini sudah ada disini sejak dari tadi.


Zian bisa melihat kalau Dewi melakukan apa yang ia perintah, mengganti celananya ke kamar dengan langkah gontai. Yang Zian pikirkan saat ini, laki laki ini sudah ada disini sejak tadi, Dewi memakai pakaian itu di depan orang itu, bahkan tidak berdandan sama sekali. Berarti hubungan mereka berdua sudah sangat dekat. Zian merasa kesal.


Tapi Dewi bilang ia tidak memiliki pacar ataupun tunangan. Orang ini menggunakan pakaian yang rapi, ia pasti tamu.


Dewi turun dari tangga dengan lemas, tersenyum pada anak anak. Kakinya akan berputar ke dapur untuk membuat minuman, tapi laki laki itu menangkap tubuhnya, mendudukan Bila pada sofa dan berkata, "Kau masih lemas, lebih baik duduk saja, biarkan aku yang membuat minuman." Lalu mengusak rambut Dewi yang dijawab dengan senyuman.


Zian terbakar api cemburu. Siapa laki laki ini sebenarnya. Bahkan jika teman, perlakukanya tidak akan semanis ini. Mengusak rambut dengan tersenyum? Cih, Zian merasa orang itu sangat kekanak kanakan.


Lelaki itu segera memasuki dapur, membuat beberapa minuman teh dan es jeruk. Zian yang dari awal tak menyukai kehadiran lelaki itu tidak bisa untuk tidak menatap tajam kemanapun lelelaki itu pergi.


"Kami disini mau menjenguk ibu. Juga mulai minggu depan bu Dewi yang akan jadi wali kelas kami, jadi.. Mohon bantuanya," Selesai berpidato ketua kelas tersenyum menanyakan keadaan Dewi. Hanya beberapa tanggapan lalu lelaki tadi meletakan minuman di depan mereka.


Tidak seperti murid lain yang langsung menyerbu minuman seakan itu adalah air terakhir. Zian mengepalkan tanganya erat saat lelaki itu duduk sisamping Dewi. Benar, jika tidak ada tempat kosong kini. Tapi yang Zian lihat, Dewi seakan nyaman berdekatan denganya membuat bulu bulu Zian membara.


Ada panggilan masuk ke ponsel lalaki itu. Mungkin dari kantornya atau apa. Tapi setelah itu, lelaki itu berpamitan kepada seluruh orang, dan membuat Zian tambah kesal. Pasalnya saat pergi, lelaki itu memeluk Dewi dengan mengscup pucuk kepalanya saat di ambang pintu.


Yang lain tak melihat, hanya Zian yang melihat karna matanya selalu tertuju pada mereka. Dewi bahkan sampai mengantar lelaki itu memasuki mobil. Siapa lelaki itu sampai sangat dekat dengan Dewi?


Setelah Dewi kembali, mereka mengobrol dengan sangat nyaman. Hanya Zian yang memperhatikan dengan mata yang selalu tertuju pada Dewi.

__ADS_1


Hampir beberapa puluh menit kami disini, jadi anak anak berpamitan dan


Memberi buah buahan serta makanan ringan yang sudah dibeli. Seharusnya pada awal masuk, tapi karena mereka lupa, jadi beberapa makanan itu hanya berada di bagasi tanpa di singgung sedikitpun sampai akhir pertemuan.


Satu persatu dari mereka pamit, menyalami Dewi dan pergi melalui pintu. Lagi lagi ada orang yang tertinggal. Itu Zian, dengan tampang bosnya duduk di sofanya dengan kaki yang terangkat.


"Tidak keluar?" Tanya Dewi ramah. Tak bermaksud mengusir secara kasar, tapi ia juga butuh istirahat dan tidur. Keberadaan orang ini hanya mengganggunya dan membuatnya semakin sakit.


"Tidak," Jawab Zian dengan mengeja semua hurufnya secara menekan. Dewi tahu, anak ini pasti membawa mobil sendiri. "Pulang saja, aku butuh istirahat," Ucapnya dengan lemas. Harusnya sekarang ia sudah meminum obat dan tidur. Tapi setelah menghabiskan energinya untuk tetap duduk dan mengobrol dengan anak anak membuat energinya seakan terkuras habis.


Tubuhnya menyandar pada sofa dan meringkuk. Zian yang melihat itu mendekat secara perlahan. Ia tahu kalau gurunya sangat memaksakan diri dari tadi. Tapi ia masih kesal.


Tanganya dia taruh pada dahi Dewi. Masih panas, walau tidak terlalu panas untuk ukuran demam yang parah, namun itu cukup membuatnya merasa tidak nyaman.


Zian khawatir dengan keadaan Dewi. Ia menguncang sedikit badan wanita itu. "Dimana kamu menyimpan obatmu?" Zian bertanya dengan sabar. Orang di depanya ini stengah sadar, jadi menunggu reaksinya akan sedikit lama.


Setelah jeda beberapa detik, Dewi menjawabnya. "Di kamar." Katanya. Tidak ingat apa yang dikatakanya, sebenarnya Dewi hanya berbicara tanpa berpikir. Tidak memikirkan apapun atau sekedar mengingat kalau ini adalah muridnya.


Zian melangkah menuju sebuah pintu, Zian yakin itu adalah kamarnya. Di nakas samping tempat tidur, ada sekantung plastik obat. Zian mengambil obat itu, namun dia meletakkan kembali seolah teringat sesuatu. Kakinya melangkah sangat cepat ke ruang tamu yang sebelumnya.


Dewi sudah mendingan, yang ia butuhkan adalah istirahat. Dan saat tadi banyak siswa datang kerumahnya, ia duduk tegak seperti biasanya, dan itu membuatnya pusing. Setelah bersandar untuk meringankan sakit kepalanya, itu lebih baik dari pada tadi.


Zian berjalanan ke arah Dewi yang membuka matanya. Dalam sekejap, wanita itu sudah ada dalam gendonganya. "Kau gila? Turunkan aku!" Bentak Dewi. Ia adalah wanita berumur dua puluh dua tahun dengan gelar guru. Tapi bisa bisanya ada dalam gendongan remaja berumur enambelas tahun yang bahkan muridnya sendiri.


Zian hanya terkekeh melihat Dewi yang marah. Ia kira Dewi tak bisa membentak orang, ternyata bisa. Itu hanya kepadanya, tak akan ada yang lain.

__ADS_1


Menurunkan dengan hati hati di ranjang, Zian masih terkekeh melihat wajah masam yang Dewi buat. Ada sedikit rona merah dipipinya, tapi tertutup dengan pucat di wajahnya yang kian bertambah. "Tak apa apa ok? anggap aku ini doktermu dan kau adalah pasienku." Ucap Zian.


Zian berbalik mengambil minum dan melongok ke semua penjuru dapur untuk menemukan makanan. Tapi tidak ada satupun, sampai matanya melihat sebuah bungkusan di depan penanak nasi berwarna putih. Zian membuka plastiknya, ada sebuah bubur disitu. Ini pasti pemberian laki laki itu.


Dewi menggerakan kepalanya ke arah pintu, melihat Zian yang membawa air putih dan bubur. Lalu meletakan gelas dinakas, memberikan mangkuk bubur Dewi. "Makan dulu, nanti minum obatnya," Dewi melirik ke Zian yang masih berdiam diri disitu dengan mata yang memperhatikanya selalu.


"Kau tidak pulang?" Tanyanya. Zian menggelengkan kepalnya dan menunjuk bubur dimangkuk, "Makan, selagi masih hangat." Dewi tak mau pusing tentang anak ini, ia memakan buburnya. Lagi pula, dengan adanya anak ini, ia menjadi sedikit terbantu. Hanya sedikit.


Zian pikir Dewi tidak mau makan. Biasanya orang yang sedang sakit tidak mau makan, dan rencananya akan dia ikuti yang ada di novel novel. Yakni memberikanya lewat mulut. Zian terkikik membuat Dewi melihat kearahnya dengan bingung. Jangan jangan anak ini gila.


Setelah bubur yang ada dimangkuk tandas, Zian menyodorkan minuman untuknya. Dengan cermat membuka obat obatan yang akan diminum. Meletakanya ditanganya.


Air yang tinggal setengah itu Dewi minum bersamaan dengan obat yang ia ambil dari tangan Zian. Zian merasakan tangan Dewi yang menyentuhnya sangat panas, namun sangat lembut secara bersamaan. Memberikan setitik perasaan berbunga menggelitik matanya. Saat tegukan terakhir, Zian masih diam tak bergerak.


Dewi menidurkan badanya di ranjang dan menarik selimut sampai ke lehernya. "Kau pulang saja. Ibumu pasti mencarimu," Ucap Dewi.


Zian tak melakukan appun tetap menatap Dewi yang terpejam. Karena tak mendapat jawaban, Dewi membuka matanya lagi.


Zian masih disitu dengan mata yang menatapnya. Tak lama bibirnya bersuara, "Ibuku sedang berbulan madu dengan ayahku." Jawabnya. Dewi merasa konyol, anak ini mengada ada saja.


Zian menyergit melihat ekspresi Dewi. "Aku serius," Lanjutnya.


"Ya, Ya, sekarang kau pulang saja, aku mau tidur." Ucapnya. Zian masih tak bergerak.


"Siapa laki laki tadi. Sepertinya sangat dekat denganmu?"

__ADS_1


__ADS_2