HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 28


__ADS_3

Kartu Nama


***


Andrian kembali ke mejanya, sudah ada beberapa makanan yang memenuhi meja, itu adalah makanan yang Andrian pesan.


Di depannya, anak itu meletakan tanganya yang dilipat di atas meja. Sangat rapi seperti anak yang berada di sekolah.


"Oh, makanan sudah siap, kenapa kau tak makan?" Tanya Andrian mengambil beberapa makanan yang bergizi dan menggesernya ke depan anak itu.


Anak itu tersenyum sampai matanya menyipit. Kalau dia disuruh berhenti untuk tersenyum, maka anak itu tidak akan mau. Kenapa? Karena sebagian besar bahagianya yang benar benar dia rasakan adalah saat dia bersama Andrian.


Sekali lagi kenapa? Anak itu pernah bahagia. Itu pasti, sebagai manusia, tidak ada orang orang tak pernah bahagia sekalipun. Seperti misalnya saat anak itu bisa menyetor lebih, seperti saat anak itu bermain, ia bahagia.


Tapi bukan bahagia seperti itu yang anak itu maksud. Katakanlah, bahwa anak itu serakah tak pernah merasa cukup dengan bahagia yang ia punya. Itu benar, siapa orang yang tak pernah serakah memangnya di dunia ini?


Bahkan saat kau bilang kau tak serakah, pasti ada kalanya kau melakukan itu tanpa disengaja. Itu mutlak. Sifat mutlak yang pasti dimilki manusia.


Bersama dengan Andrian, bahagia yang ia rasakan berbeda dari bahagia yang berakibat buruk pada akhirnya.


Saat bermain, ia bahagia. Tapi itu bisa berakibat buruk pada hidupnya yang lain. Coba bayangkan, bagaiamana ia menyetor uang jika ia hanya bermain?


Tidak semudah itu, bahagia yang pernah ia dapatkan akan berimbas ke sesuatu yang lebih buruk dari pada yang ia dapatkan dari pada bahagia itu sendiri.


Sudahlah, lagi pula kalian tidak akan mengerti apa yang coba anak itu sampaikan.


"Aku menunggumu," Ucapnya menjawab pertanyaan Andrian beberapa saat lalu. Andrian tersenyum balik. Mereka mulai memakanya, lebih tepatnya Andrian hanya menyeruput minumannya melihat anak itu yang makan dengan lahap.


Matanya menelisik ke tubuh anak itu, tak ada luka. Hanya di kakinya dan itu juga luka kecil, tak ada yang perlu Andrian khawatirkan.


"Ngomong ngomong..." Kalimat yang hampir Andrian dengar terhenti karena keraguan yang bisa Andrian lihat dari matanya yang menatap keliling.


"Ya?" Kata Andrian. Ia hanya ingin memancing anak itu agar mengatakan apa yang ia mau atau apa yang ia pikirkan.


Anak itu memutar matanya, bukan jenis memutar mata saat kau malas, lebih ke saat kau gerogi dengan sesuatu yang akan kau utarakan. Itu menurutku, enatah apa yang anak itu pikirkan.

__ADS_1


"Em, aku belum tahu namamu," Ketika anak itu berujar, sebuah ledakan tawa menghiasi meja mereka berdua. Andrian tertawa kelepasan. Kenapa anak ini lucu sekali.


Di umur tujuh tahun, apa yang kalian lakukan? Jika kalian hanya bermain dan mendengarkan dongeng secara cermat, maka kalian patut merasa malu dengan anak ini.


Bagaimana bisa, anak sekecil ini bertingkah seperti orang dewasa? Mencari uang, berbicara lugas tanpa tergagap, ataupun tidak berbicara apa yang mereka lihat di sepanjang hidupnya (berisik dan cerewet).


Lebih! Anak itu lebih dari anak anak seusianya. Sangat kontras dengan tampangnya yang imut dan cantik.


"Kau belum tahu namaku?" Tanya Andrian gemas. Anak itu mengangguk. Andrian meletakan sendok yang dipegangnya.


"Namaku Andrian." Ucapnya.


Anak itu tersenyum, memainkan jarinya pada sendok dan garpu yang ia pegang. Lalu mengangkat alisnya dengan masih memperhatikan wajah Andrian.


"Hm,?" Andrian ikut mengakat alisnya tak paham. Apa anak itu masih bingung dengan panggilan apa ia berikan pada Andrian?


Saat Andrian mengatakan sesuatu, itu bertabrakan dengan anak itu yang mengucapkan sesuatu juga.


"Kau bisa memanggilku paman," / "Kau tak tanya siapa namaku?"


"I-iya paman." Anak itu terlihat malu. Hari jarinya menelilingi hidungnya yang tak gatal. Sesekali melihat ke arah Andrian. Kenapa hanya berbicara seperti itu harus malu? Pikir Andrian.


"Jadi siapa namamu?" Andrian bertanya. Anak itu mengangkat wajahnya menghadap Andrian.


"Namaku?" Tanyanya. Tentu anak itu senang. Tidak ada yang menanyakan namanya selama ini. Memangnya apa gunanya mengenal dia? Dia hanya anak jalanan. Jadi tidak ada orang yang benar benar menganalnya atau menanyakan hal hal seperti itu.


Selain teman temanya yang memanggilnya nama, semua orang yang pernah dia temui hanya memanggilnya bocah ataupun anak jalan.


Hanya soal nama, sangat sepele. Tapi bisa membuat hati anak itu menghangat. Jadi dengan semangat dia memperkenalkan namanya.


"Namaku Nayla," Ucapnya. Andrian bisa melihat matanya berbinar saat itu. Ada apa? Pikir Andrian. Maksudnya, ada apa sampai anak itu bahagia meletup letup seperti itu?


"Paman." Ingat Andrian.


"Namaku Nayla paman." Ulang anak itu.

__ADS_1


Oke, jadi mari kita ganti kata 'Anak itu' menjadi 'Nayla'.


Nayla masih tersenyum lebar sampai gusinya terlihat dari tempat Andrian. Kalian tau? Tawa itu menular. Kini Andrian ikut tersenyum.


Siapapun yang melihat pasti sepakat mengatakan kalau itu momen bahagia. Andrian yang tersenyum tulus dan Nayla yang tertawa bahagia.


Mereka makan dengan tenang. Tak ada yang bersuara, hanya beberapa kali saling mengintip dan tersenyum.


Andrian tidak pernah berhadapan dengan anak kecil sebelumnya. Tapi di hadapkan dengan Nayla, Oops sorry, sepertinya Nayla bukan jenis anak kecil karena tingkahnya yang dewasa. Haha bercanda.


Andrian sangat senang akhirnya bisa akrab dengan anak kecil. Dulu dia berpikir. Ia mungkin tidak akan punya keturunan mengingat betapa bencinya ia dengan anak kecil. Tapi sekarang ia bisa akrab dengan Nayla dan Denis.


Ngomong ngomong soal Denis. Andrian tidak bisa sepenuhnya akrab dengannya. Bila pasti akan tak akan bisa melepaskan Denis begitu saja untuk akrab dengannya. Agrh! Andrian sangat tidak suka dengan Bila. Tapi ia suka dengan dengan kecupan lembutnya. Eh?


Selsai makan mereka duduk bersantai untuk meringatkan perut yang kekenyangan. Hanya Nayla, Andrian tidak makan banyak, ia sedang tidak lapar sebenarnya.


Nayla sudah cukup beristirahat. Jadi ia ingin pulang karena sudah lama ia keluar dengan Andrian. Ia turun dari kursi yang sedikit besar untuknya. Berdiri dan melangkah ke arah Andrian.


"Mau pulang?" Tanya Andrian. Nayla mengangguk. "Baiklah, biar aku antarkan." Jawab Andrian, tapi Nayla menggeleng. "Tidak usah paman, cukup bawa aku ke lampu merah biasa, nanti aku pulang dengan teman temanku.


Andrian menyergit, "Tidak apa, ayo ku antarkan." Kata Andrian.


Nayla menggeleng lagi, "Tidak, aku akan pulang dengan temanku." Jawabnya tegas. Andrian menghela nafas dan mengangguk. "Oke."


Sesuai permintaan anak itu Andrian menurunkan anak itu di parkiran, dekat lampu merah yang disebutkan anak itu.


Nayla mengucapkan terimakasih dan membuka pintu mobil.


"Terimakasih paman." Ucapnya dengan senyum tiga jari. Andrian mengangguk, tanpa menjawab.


Setelah Andrian pergi, Nayla mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dia melihat benda seperti yang saat dia melihat mobil yang menyerempet motor. Saat itu pengemudi mobil sangat terburu buru jadi dia memberikan kartu seperti yang Nayla pegang. Katanya, hubungi penemudi mobil itu dengan kartu yang di berikan.


Nayla tidak bisa membaca, tapi ia mengetahui angka. Ya, dia selalu berurusan dengan uang walaupun hanya beberapa ribu, jadi ia pasti tahu angka. Ada sebuah nomor disana. Itu pasti nomor telepon Andrian.


Nayla menyimpan benda itu agar suatu saat ia perlu, ia bisa menghubungi Andrian dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2