
Telur..
***
Bila sedikit meneteskan air mata mengingat itu. Di titik ini, Alex merasa kalau Tian berada di puncak orang yang membuat adiknya menderita. Entah disengaja atau tidak, Alex tentu akan selalu mengingat ini. Siapa saja yang membuat adiknya menderita.
Bila melanjutkan.
.
.
.
Flash back on
Bila sangat berantakan saat itu. Ia pergi ke salah satu club malam tempat dulu sering ia datangi saat menjadi pendamping rekan ayahnya.
Tian. Nama yang menjadi ukiran cinta dalam hatinya sekian lama. Tidak pernah bisa ia raih. Seperti hewan yang selalu ingin memeluk bulan, tak akan ada harapan. Maka saat ini, detik ini juga, Bila menyerah mengejar Tian.
Seberapa tinggi kepercayaan diri seseorang, seberapa tinggi kuantitas kesabaran seseorang, waktu selalu bisa mengubahnya. Bahkan dalam hal sekecil apapun.
Minuman di depan Bila hanya tinggal gelas saja. Sebagian, sudah masuk ke perutnya yang membuat kepalanya pusing dan mabuk. Belum cukup, belum cukup untuk memangkas rasa sakit yang ia alami. Kini ia mengambil minuman dari botolnya. Apa dengan ini kutukan yang di rasakannya hilang.
Bibirnya menyentuh tutup botol. Begitu pula botolnya lepas dari tangan dan pandangan Bila. Adit telah mengambilnya dan menaruhnya di meja yang jauh dari Bila.
"Hikss.. Aku tidak tahu kalau jatuh cinta sesakit ini.." Kata Bila dengan air mata yang terus mengalir. Kalau air mata itu tidak asin, berbahagialah Bila mendapatkan mata air untuk kehidupannya. Konyol.
"Husttt.. Tenang saja. Di luar sana masih banyak orang yang lebih baik dari Tian. Kau hanya perlu waktu untuk menemukannya.." Kata Adit berusaha menghibur. Tidak. Ini bukan hiburan. Kalian tahu kan kalau Bila merupakan primadona baik di kelas maupun di sekolah? Tentu banyak sekali yang mengagumi Bila. Satu hal, jangan menyebar luaskan rumor yang bertebaran dari masa lalu. Minus rumor, Bila bukanlah perempuan yang wajib di tolak. Dia sangat sempurna. Kalau saja Adit tidak mengenal Bila dari kecil dan menganggapnya saudara, pastilah Adit menyukai Bila. Bagaimanapun, sekarang dia sudah punya seseorang yang paling dia cintai. Natasya.
Adit memeluk Bila untuk menenangkannya. Sesekali tangan Bila menggapai gelas minuman dan akan di rebut oleh Adit, diminumnya. Bila terlalu mabuk. Bahkan ia hampir pingsan. Akal sehat sudah tidak ada.
Adit walaupun minum sangat banyak, ia sudah terbiasa mabuk, jadi berjalanpun, ia masih bisa. Tangannya ia gunakan untuk memapah Bila. Walaupun Bila ramping, ia sangat berat. Membuat Adit yang mabuk tak kuat.
Adit meletakkan Bila di sebuah kursi. Haus menyerang tenggorokannya, jadi Adit mengambil minuman yang di bawa pelayan.
"It--" Kata pelayan dengan wajah yang cemas.
__ADS_1
"Nanti ku bayar." Ucap Adit jengkel, merasa di larang oleh seorang pelayan.
Pelayan itu mengubah wajahnya menjadi tidak peduli, lalu pergi meninggalkan Adit yang sibuk memikirkan bagaimana cara membawa Bila.
Adit berpikir, Di rumah Bila, mungkin saja nanti ayahnya akan memarahi Bila karena keadaanya yang mabuk, namun yang lebih buruk, bagaimana kalau ia di apa apakan. Ayah Bila itu tidak waras. Siapa tahu dengan mabuknya Bila, Bila di jual secara keseluruhan oleh ayahnya? Maka list untuk membawa Bila ke rumahnya di coret.
Bagaimana jika membawa Bila pulang? Ayah Ibunya sedang tidak di rumah. Namun, mengingat tetangga sekitar rumah Adit yang sangat kepo dan senang bergosip, list itupun ia hapus. Lagi pula, bagaiamana Jika Tian melihatnya? Apa tanggapan Tian tentang Bila?
Adit mulai kehilangan kewasarannya. Matanya panas dan tubuhnya juga panas. Ia tak bisa melawan tubuhnya itu. Apa yang terjadi?
Seorang pelayan menghampirinya dan menepuk bahu. "Tuan, anda butuh kamar?" Tanyanya.
"Ya, tolong." Ucap Adit yang sangat ingin membaringkan tubuhnya yag panas. Tapi Adit juga kasihan dengan Bila yang tak sadarkan diri di meja. Samar samar ia bisa melihat kalau seseorang mulai mendekati Bila. Jadi ia menyuruh pelayan juga memindahkan ke kamar yang dia pesan, Badannya tidak kuat jika harus mengangkat Bila sendirian. Tapi rasa panas di tubuhnya kian menjalar. Adit baru pernah merasakan seperti ini. Ia tidak tahu. Ia hanya merasa heran.
***
Keesokan paginya, Bila terbangun dengan perasaan aneh. Melihat ke atas, itu bukan atap kamarnya. Yang ini berwarna putih. Apa ini Rumah Sakit? Tapi saat matanya mengedar, itu bukanlah Rumah Sakit.
Menggerakan badannya, pegal sekali.. Apa yang terjadi? Saat duduk, barulah ia menyadari semuanya. Tulang belakangnya serasa patah dan remuk. Tenggorokannya tercekat. Tidak ingin mengetahui kebenaran saat melihat ada Adit di sebelahnya telanjang tanpa busana.
Bila juga baru menyadari kalau dia dalam keadaan telanjang. Pada saat itu, kepalanya seperti di getok palu beribu kilo. Nafasnya tersendat dan matanya tidak bisa menurunkan air mata lagi.
Bila menangis tanpa suara dan tanpa air mata. Ia merangkak berdiri dengan menahan semua rasa perih. Sungguh perasaan menyiksa. Ia pikir, dari dulu apa yang orang lain katakan, ia selalu jaga agar tak menyamai rumor tentangnya. Tapi hari ini, detik ini, semua rumor tentangnya memang benar. Betapa kotornya kamu Bila..
Ia memunguti baju bajunya dan memakai dengan asal. Tak lupa memberihkan sisa sisa kejadian. Ia percaya, Aditpun pasti tak akan ingat seperti dirinya, jadi saat ia terbangun tanpa apapun, Maka tak terjadi apapun. Biaralah dia yang menanggungnya.
Bila membuka pintu rumahnya, tidak ada orang. Ayahnya mungkin tak ada disini. Ia merasa lega. Lalu memberihkan dirinya dari kekacauan.
Beberapa hari setelah kejadian, benar saja, Adit tidak mengingat apapun. Pernah tanya apa yang terjadi saat itu, tapi Bila mengatakan kalau tidak ada, hanya Adit yang sangat mabuk.
Ayahnya juga tak kelihatan lagi selama itu. Ia pikir, ayahnya kabur. Itu lebih baik menurut Bila, ia tak akan pernah di pukuli ataupun di bentak benatak tanpa tahu salahnya.
Tapi nasib selalu membanting dirinya ke polosok paling hitam. Ternyata, ayahnya meninggalkan utang yabg harus dia bayar. Itulah mengapa saat itu, Bila harus berhenti sekolah.
"Kau ingin berhenti?" Tanya pak Ansor.
"Ya," Jawab Bila.
__ADS_1
Pak Ansor menghela nafas. Bila adalah anak yang pintar. Kalau sekolah ini kehilangan satu murid seperti ini, rasanya sayang sekali.
"Kenapa? Apa mungkin kau mau pindah?" Pak Ansor memicingkan matanya.
"Maaf, tidak pak.. Saya hanya tidak mampu lagi," Ucap Bila.
"Bukannya kau mendapatkan bea siswa?"
"Ada beberapa faktor lainya.." Ada jeda beberapa saat, "Saya memang tidak bisa sekolah lagi." Ucap Bila.
Saat itu, Bila bekerja untuk melunasi utang utang ayahnya yang tidak akan habis jika di bayar dengan gaji Bila.
Bulan ke bulan, terbongkarlah bahwa Bila hamil. Ya, hamil. Kenyataan yang membuat Bila hampir saja membuang nyawanya. Hidupnya sudah menggantung. Ia tak punya pijakan lagi. Ya tuhan, jika memang kau mengijinkan, lebih baik akhiri saja jalanku sampai disini.
Terbesit pemikiran, bahwa ia harus menggugurkan kandunganya, tapi mustahil. Dosanya, bagaiamana dengan itu? Haruskah di melipat gandakan dosa berzinanya dengan tindakan tak manusiawi seperti itu? Tidak..
Bila menjalani kehidupan berat seorang diri. Membayar utang, bekerja, membiayai kehidupannya, dan menghadapi cercaan orang akibat hamil di luar nikah. Nasib buruk apa lagi yang haru Bila tanggung? Seberat apa lagi penyiksaanya?
Dua bulan. Dua bulang cukup untuknya bertemu Alex. Saat itu, Alex masih belum bercerai. Dia di bawa ke apartemen Alex.
Bila menceritakan semua kejadian kepada Alex. Semua, kecuali siapa ayah anak yang di kandungnya.
Tapi sayang. Saat kandungan berumur 5 bulan, ia harus rela kehilangan anaknya karena keguguran. Itu adalah salah satu penderiataan Bila yang terberat.
Memang benar, bahwa Bila tidak menginnginkannya. Tapi, Semakin kesini, Bila mampu menerima dan mencintai anaknya.
.
.
.
Flaah back off
***
Nah sekarang udah jelaskan semua cerita keseluruhan, dari sisi Bila maupun Andrian. Jadi menurut kalian? Siapa yang salah?
__ADS_1