
APA INI?
tolong vote dan likenya :)
***
Minggu,
Andrian terduduk menunggu persalinan istrinya. Beberapa saat lalu, Bila mengalami kecelakaan kecil yang membuat kandunganya terancam bahaya.
Istri dan kedua anaknya kini sedang dipertaruhkan nyawanya, Andrian sangat depresi. Jika tuhan mengijinkan, tolong selamatkan Bila dan anak anaknya, biarlah nyawanya menjadi gantinya selama istri dan kedua anaknya bisa hidup.
Alex yang menemaninya tak bisa menyembunyikan raut khawatir dari wajahnya. Di sebahnya, perempuan yang Andrian tak tahu siapa dia.
"Jika terjadi sesuatu dengan adikku, Jangan berpikir kau bisa hidup dengan baik." Kata Alex.
Andrian menangkupkan kedua tanganya di atas lutut, membukanya dan menekannya pada wajah yang kusut. "Aku tahu, Jika istri dan kedua anakku tidak selamat, maka akupun tidak akan bisa hidup." Ucapnya.
Tak lama dokter keluar, menghembuskan nafasnya menatap Andrian. Ia tahu kalau Andrian adalah suaminya, dokter inilah yang menangani kandungan Bila.
"Aku sudah pernah katakan kalau kandunganya lemah, jadi aku minta maaf." Katanya.
Dia adalah seorang wanita paruh baya yang cerdas dan berpikiran terbuka. Andrian terkesiap. Apa maksudnya ini?
Ia melangkah di hadapan dokter wanita itu, mengambil kerah seragamnya lalu ia angkat tinggi tinggi diatas lantai.
"Apa maksudmu?" Tanya Andrian dengan hidung yang kembang kempis dan mata yang melotot merah.
"Apa kataku? Istrimu sudah mati! Kedua anakmu mati! Kau hidup seorang diri sekarang!" Andrian mengencangkan genggamannya pada dokter itu, melemparkanya ke sudut ruangan. Hampir tak jauh dari Alex.
Lalu sang dokter berdiri, wajahnya tak ada rasa sedih ataupun kecewa karena gagal. Ia menyeringai ke arah Andrian.
"Istrimu MATI!" Saat bersamaan kalimat itu selesai, ia tertawa terbahak bahak.
Disusul dengan Alex dan wanita di sebelahnya. "Istrimu mati! Kau akan sendiri!" Kata Alex setelah tawanya mereda, tapi sesaat kemudian ia tertawa kembali.
Semua orang yang ada disitu menertawakan Andrian yang sedang sangat kacau. "Apa ini?" Bisiknya.
Dari arah kanannya, Zian datang dengan perempuan seumurannya, berlari dengan kencang dan hampir menabrak orang yang dilewatinya.
"Ada apa kakak?" Sekilas, tidak ada suara yang memenuhi telinga Andrian. Hanya ada suara Zian yang bertanya.
Tapi sebelum Andrian menjawab pertanyaan Zian, Alex menjawabnya dengan kalimat yang sama, "Istrinya mati dan Kedua anaknya juga mati!" Tawa yang Andrian pikir sudah berakhir kini berlanjut.
Bahkan Zian sudah tertawa terbahak bahak kepadanya.
__ADS_1
Andrian memegang kepalanya, "Ada apa ini?" Tanyanya lirih.
"TIDAKK!" Teriak Andrian.
"ADA APA DENGAN SEMUA ORANG!" Andrian berputar putar ke seluruh ruangan, semua orang mengikutinya dengan tawa yang menggelegar.
"APAAAA IINNIIII!!"
.
.
.
"APAAAA IINNIIII!!"
Andrian terkejut dengan suaranya sendiri, tubuhnya sudah terduduk saat ia sepenuhnya sadar kalau tadi hanya mimpi.
Jantungnya berdebar debar dengan kilasan rasa sakit yang ia rasakan dari mimpi. Andrian mengembuskan nafasnya lega, "Untung saja hanya mimpi." Pikir Andrian..
"Tapi kenapa aku bermimpi seperti itu? Dengan Bila? Itu lebih tidak mungkin." Andrian berbicara sendiri seakan dia adalah dua orang yang berbeda.
"Ya, aku mungkin sangat membenci dia makanya aku bermimpi dia mati." Ucapnya lagi.
Andrian tidak bisa berpikir. Dadanya masih sakit dengan mimpi tadi.
Jauh dilubuk hati seorang Andrian, ia selalu berharap kejadian seperti itu tidak akan terjadi. Anak dan istrinya adalah harta terbersarnya dimasa depan, jadi bagaimana mungkin mereka meninggalkan Andrian?
Andrian berdiri dan membawa tubuhnya ke kamar mandi. Ia ingin mandi, tubuh dan raganya lelah sekali. Ia butuh relax yang panjang.
***
"Kakak, kau ingin pergi ke Gym?" Zian bertanya dengan menyandarkan kakinya pada sandaran kursi. Menimang apakah kakaknya ini mau di ajak ke Gym.
Zian kadang bingung dengan kakaknya, Andrian tidak pernah terlihat olahraga yang berat, paling paling lari keliling komplek saja jarang. Tapi yang benar saja, Andrian punya otot yang bisa dibilang besar. Sangat proporsial, membuat Zian iri.
"Tidak," Kata Andrian. Ia tidak ingin membuang waktunya hanya untuk hal hal melelahkan seperti itu. Tidak ke Gym saja badannya sudah bagus. Andrian tidak butuh yang seperti itu.
"Tapi kalau kakak mau, disana banyak gadis gadis seksi," Zian tahu kalau kakaknya tidak akan tergoda oleh hal hal seperti itu, tapi kemarin saat Andrian bilang akan pergi kencan buta, Zian mulai berpikir kalau Andrian sudah memikirkan tentang kepuasan duniawi.
Andrian tertawa, "Jika banyak? Kenapa tidak kau pilih satu?"
Zian diam. Bukanya karena ia tak pernah mendapatkan wanita di tempat itu, dulu bahkan dia lebih pengalaman dibanding Andrian. Semua Club malam di Distrik itu hampir sudah ia kunjungi semua.
Tapi saat ini Zian tidak ingin bermain main lagi. Hatinya sudah tetap untuk sang pujaan hatinya.
__ADS_1
Andrian yang melihat Zian terdiam mulai mengerutkan dahinya. Alisnya bermain turun naik memperhatikan Zian. "Kenapa diam?" Tanyanya.
Zian menggehal nafasnya panjang. "Aku sedang jatuh cinta kak," Jawabnya yang membuat Andrian tak mengerti.
"Maksudmu?" Tanya Andrian. Kenapa adiknya ini tiba tiba berkata seperti itu. Itu bukan topik yang di bahas terakhir kali. Zian mengehala nafas sekali lagi.
"Aku sedang cerita. Aku jatuh cinta dengan guruku," Setelah Zian menyelesaikan kalimatnya, Andrian melotot tak percaya.
"Apa! Gurumu? K-kau! Dasar sialan, jangan main main!" Andrian tak percaya. Bagaimana bisa Zian ini suka dengan gurunya sendiri. Apa kata orang nanti.
Zian yang tak mengharapkan respon seperti itu dari Andrian merasa kesal. Dia tidak butuh di cerca saat ini. Yang ia butuh adalah saran yang tepat untuk membuat gurunya merasakan cintanya yang dalam.
"Apa salahnya, aku mencintainya tulus, dia orang yang baik dan perhatian. Dia cantik, berwawasan luas pasti, karena dia seorang guru. Tak ada yang salah kalau aku memilihnya." Ucap Zian dengan menantang ke arah Andrian.
Andrian tidak peduli. Ia hanya mengedikkan bahu dan mulai memikirkan mimpinya yang sangat aneh. Perasaan sedih masih berlabuh dihatinya saat ia teringat mimpi itu.
Andrian berpikir, di mimpi itu, Bila mati, tapi Andrian sendiri yang terlihat sangat tertindas. Apa mungkin itu adalah suatu hukuman?
Tidak mungkin. Apa kesalahanya sampai rasa sakit hatinya menjadi hukuman terberat?
"Dia sangat cantik dan ramah. Kalau kakak melihatnya, eh! Jangan! Jangan. Nanti kalau kakak tertarik kepadanya, aku tidak punya kesempatan lagi."
"Kesempatan kepala bodohmu! Kau pikir seleramu sama denganku?"
"Kakak meragukan seleraku?" Tanya Zian kesal. Pilihanya adalah yang terbaik. Dari pada kakaknya yang tidak pernah jatuh cinta, Zian sungguh merasa diatas.
"Ya," Jawab Andrian cuek.
Zian akan mengucapkan sesuatu saat bel apartemen berbunyi. Dengan cepat, dia membukakan pintu. Seorang wanita tertampil disitu.
Zian seperti pernah melihat wanita itu, tapi dimana? Setelah dipikir pikir Zian tidak menemukan ingatan sama sekali.
"Apa ini apartemen Andrian?" Tanya orang itu. Zian terbengong.
"Ya," Jawabnya.
Lalu wanita itu masuk tanpa persejutuan.
Saat wanita itu sampai di depan Andrian, Andrian langsung berdiri dan bercuap, "Cepat sekali kau dat--" Kalimatnya terpotong.
PLAKKK!!
Tamparan Andrian dapatkan dipipinya.
"Apapun yang kau lakukan sebelumnya, aku masih mentolerirmu. Tapi kali ini kau sudah melewati batas! Kau membuatku di pecat dari tempat kerja! Kau tak pantas ikut campur dengan urusanku! PAHAM?!"
__ADS_1