HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 35


__ADS_3

Flash back


***


"Kakak..."


Alex tercengang melihat Bila yang menangis. Selama dia tinggal bersama Bila, dia tak pernah melihatnya menangis sedikitpun. Walau saat ayahnya meninggal sekalipun.


"Ada apa..?" Tanya Alex dengan memegang kepala Bila, lebih menenggelamkan ke dadanya. Melihat adik satu satunya menangis dengan keadaan yang seperti itu membuat hatinya ikut tersayat.


"Katakan.. Apa yang terjadi.." Ucap Alex dengan menahan geram. Siapa yang membuat adiknya menangis? Sehebat apa orang yang membuat adiknya menangis dengan sangat menyedihkan. Alex tidak tahu, yang dia lihat, Bila seperti telah memendam rasa sakit yang bertubi tubi. Saat ia mengeluarkanya, itu bukan hanya tangisan sesak yang meluncur hangat.. Matanya memancarakan semuanya, sangat lelah. Alex memahami dan tak bisa tidak merasakan sakit hati.


"Hikss.. Hwaaa.. Hwee.." Tangis Bila yang memekakan telinga. Tapi Alex tak memikirkan itu sekarang, yang ia pikirkan hanya bagaimana Bila mau mencurahkan apa yang dia pikirkan untuk meringankan secuil, hanya secuil, perasaan sakit hatinya.


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu apa salahku pada mereka. Aku tidak pernah menyakiti mereka. Aku bukan orang yang pantas menerima ini.. Jika pun pantas, bukan dia yang harusnya menyalin karma ke diriku. Aku tidak salah apapun kepadanya. Kenapa dia melakukan ini padaku? Aku tidak minta terlahir seperti ini. Apa aku memang menjijikan? Itu semua terjadi bukan karena mau ku.." Kata Bila tanpa terbata walaupun ia sedang menangis. Ia mengatakan dengan lancar dan sangat cepat. Entah apa yang dikatanya, Alex hanya mampu menangkap maksudnya.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi. Apa ada yang aku tidak tahu darimu? Selain saat kau hamil tentunya.." Kata Alex dengan hati hati.


Bila menekan air matanya..


.


.


.


Flash back


Bila memelankan laju sepedanya saat dua orang anak menyerbunya, mengelilinginya. "Hmm?" Gumam Bila memiringkan kepalanya.


Seorang anak laki laki menyentil keningnya dengan pelan, lalu tersenyum sambil mengatakan, "Hei, katakan. Apa ayahmu itu selingkuh?" Tanyanya.


Bila tidak mengetahui apa yang dia katakan. Lalu seseorang yang samping anak itu, menggembuskan nafas. "Berhenti Andi, jangan katakan. Kau tahu kalau dia masih kecil, ia pasti tidak tahu." Ucapnya yang membuat Bila semakin bingung.


[Dia adalah Adit.]


"Kau pikir kita bukan anak kecil?" Tanya anak yang menyentil kening Bila lagi. Bila tidak tahu apa yang dikatakan mereka. Dia ingin pergi.


"Permisi, aku mau pulang kakak kakak.." Ucapnya dengan tersenyum. Bila kecil adalah anak yang aktif dan ceria. Dia sangat cantik dengan kulit putihnya yang bersih.

__ADS_1


"Jangan dulu.. Kita main saja," Ucap anak laki laki tadi. Anak lainya hanya diam tak bersuara.


"Ah, tapi aku harus pulang." Kata Bila.


Anak itu mulai cemberut. Dengan gerik yang bercanda, dia menoel noel dan menggoyangkan sepedanya. "Ternyata kau sombong ya.. Pantas keluargamu tak harmonis, ternyata tak lebih dari sekumpulan orang orang sombong." Katanya.


Bila tak tahu apa yang terjadi, jadi ia hanya diam. Saat anak itu mulai tertawa dan menendang nendang kecil sepedanya, Bila mulai merasa kesal dan marah.


"Jangan menganggu dia," Kata seseorang dari arah belakang. Bila menengoknya dan orang itu adalah seorang anak seumuran dengan dia, dengan paras yang tampan. Bila tersenyum kepada orang yang di kenalnya itu.


"Aku tidak mengganggunya, aku bermain dengannya." Kata Andi.


Si anak pemberani dengan menekan sedikit dada Andi berbicara, "kalau bermain main, tak seharusnya kau menakut nakuti dia seperti itu.." Kata anak itu. Lagi.


"Aku bilang aku hanya ingin mengajaknya main!" Bentak Andi menendang sepedanya pergi. Lalu di belakangnya, diikuti oleh anak laki laki yang sepertinya baik.


"Kalau kau di takut takuti seperti itu lagi.. Billang saja ke orang tuamu. Biar mereka yang menasehatinya.." Kata anak itu kepada Bila.


Bila tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Aku Bila," Katanya.


Si anak tadi menjabat tangan itu lalu memperkenalkan dirinya, "Tian," Katanya. Bila tersenyum, "Aku sudah tahu, kau tak perlu mengatakannya. Aku hanya ingin mengenalkan namaku yang pastinya kau tak tahu." Kata Bila kecil.


Tian kecil tersenyum samar dan pergi. Meninggalkan Bila yang melihat ke arahnya dengan pandangan kagum.


Mereka juga akhirnya akrab dengan Adit, anak yang sedikit membelanya saat itu. Anak lain yang bersama anak nakal waktu itu.


Mereka bertiga sangat dekat saat SD. Sampai SMP pun, mereka satu sekolah.


Namun ada yang berbeda saat masa SMP. Ayah dan ibu Bila bercerai, mereka yang memiliki dua orang anak akhirnya menginginkan satu dari dua itu. Maka di dapatkanlah Alex dengan ibunya, dan Bila dengan ayahnya.


Alex dan ibunya pergi meninggalkan rumah itu. Bila awalnya hanya sedih akibat perceraian dan perpisahan, tapi seiring waktu, ia semakin menderita dengan gagalnya sang ayah dalam usahanya.


Ayahnya, yang pada dasarnya kasar mulai melampiaskan kekesalannya kepada Bila.


Pada waktu itu, ada seorang pria rekan kerjanya menawarkan untuk menjual Bila dan ayah Bila setuju. Gian, nama ayah Bila menyetujuinya dengan gampang.


Tentu saja menjual yang dimaksud bukan dalam konteks itu.. Yang mereka maksud adalah membiarkan Bila mengumbar kecantikanya pada kolega yang akan mereka jalin kerja sama. Untuk menemani minum atau menemaninya ke suatu tempat. Dalam kesepakatan, tidak ada kontak fisik yang menjurus ke pelecehan.


Tapi apa pada akhirnya? Walau Bila tidak pernah melakukan yang salah, lingkungan akan menilai dari apa yang mereka lihat. Kabar bahwa Bila adalah seorang yang menjual diri tersebar sampai ke telinga Tian dan Adit. Terlebih lagi, Tian tahu kalau Bila menyukainya. Yang membuat Tian sedikit menghindar. Bukan sedikit, tapi lebih banyak.

__ADS_1


Adit, selaku teman yang tak terimbas apa apa sebenarnya bingung. Bagaimana harus menanggapi semua itu. Hubungan mereka bertiga merenggang. sampai SMA, mereka tidak pernah terlihat seperti dekat atau mengenal.


Tapi Bila tak menyerah untuk mendapatkan Tian. Ia pikir, ia bukan orang seperti itu, dan Tian pantas tahu kalau dia 'bersih'.


Adit tidak tahu mengapa, ia merasa kasihan dengan Bila yang sudah sangat sering di tolak Tian.


Berganti kududukan, akhirnya Andrianlah yang menduduki kursi kosong di tengah pertemanan Adit dan Tian.


Pada saat itu, Bila pindah dari rumahnya yang dulu, tidak berdekatan lagi dengan Tian. Maka saat Andrian ke rumah Tian, tak ada tanda tanda dengan bertemu Bila baik secara kebetulan ataupun di sengaja.


Bila, Adit, Tian tidak ada hubunganya sama sekali saat SMA. walau Adit masih sering mengobrol dengan Bila, tapi itu antara mereka berdua, Tian tidaklah tahu.


Bila merasa bahwa usahanya merebut hati Tian sangatlah tidak berhasil. Ia mencurahkan perasaanya ke Adit. Adit tentu saja merasa sangat iba ke Bila. Karna ia belum yakin dengan kabar kabar miring beberapa tahun belakang.


"Aku punya ide.." Kata Adit di sebrang telepon.


Binar kegembiraan jelas pada mata Bila yang memegang ponsel. "Apa itu?" Tanya Bila yang memiringkan kepalanya di atas kasur. Walaupun kasur ini tak seempuk dulu, setidaknya ia bisa beristrihat di situ.


Oh ya, satu lagi. Saat pindah rumah, Bila bekerja sampingan untuk menghidupi biaya hidupnya dan ayahnya. Untuk sekolah, ia mendapatkan beasiswa saat masuk. Dan itu sangat meringankan. Walau belum termasuk buku.


"Aku tidak yakin kau menyetujuinya.."


.


.


.


Flashback end


***


"Baik, baik.. Kita lanjutkan di apartemen. Denis sedang di rumah ibunya, jadi kau tenang saja.." Kata Alex memutuskan cerita Bila dan melepaskan pelukanya membuka pintu mobil untuk Bila.


.


.


.

__ADS_1


***


hi.. jangan lupa like, vote, dan komennya.. ❤


__ADS_2