
zian
***
5 tahun kemudian..
"Ayolah tuan, satu kali saja, setelah itu kau akan tahu apa aku bisa memuaskanku atau tidak." Seorang pela**r tak bermuka dengan entengnya menjual diri pada pemuda tinggi dan tampan. Meraba yang lain dengan tangan mungil mulus nan lentik itu, sungguh tak tahu malu. Tanpa menggubris pela**r itu Andrian atau yang sering di panggil Andri, nama pemuda yang tengah jengah menolak ajakan itu berdiri. Menyingkirkan tangan wanita yang kini ikut berdiri di sampingnya. Apa wanita ini tak punya harga diri sama sekali?
"Kau wanita iblis. Jangan pernah sekali-kali kau menyentuhku." Ucapnya dingin dan berlalu tanpa menoleh lagi.
"Yaampun, dia menyeramkan sekali." Gumam wanita malam itu.
Andri melangkah menuju keluar. Ia sudah tidak betah di tempat berisik seperti ini. Awalnya ia kesini hanya untuk mengiyakan ajakan seorang kolega demi sopan santun, jika tidak ia tak akan pernah sudi pergi ke tempat seperti ini. Ia benci tempat semacam ini. Langkahnya berhenti tatkala pandanganya melihat seorang remaja yang tengah berkumpul dengan teman temannya, tak lupa dengan alkohol yang sekarang ia pegang. Tertawa saat teman perempuannya mencium pipinya di depan teman temannya, mungkin untuk menunjukan bahwa ia seorang yang punya pacar. Rahang tegasnya mengeras, dengan pasti ia mendatangi kerumunan itu.
"Zian!" Teriaknya menggelegar.
Remaja bernama Zian itu menoleh dengan dengan perasaan waswas. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat dilihatnya sang kakak tengah menatap tajam kepadanya. Alkohol di tanganya sudah jatuh di sofa membanjiri rok mini sang perempuan. Mulutnya terbuka dengan mata melotot.
"Kakak?" Ia sontak berdiri, mendekat dengan perlahan "Kenapa disini?" Tanyanya memegang tangan Andrian dan menggiringnya ke keluar, ia takut akan dimarahi dan di permalukan di depan teman temannya dan semua orang. Apa jadinya nanti image coolnya.
Belum sampai keluar, Andrian melihat sosok yang familliar. Matanya tertuju pada sosok yang kini berdiam diri dengan wajah tanpa ekspresi di tengah orang orang mabuk.
Sampai di luar, tangan Andrian menyentak sang adik. Di pegangnya erat pergelangan Zian lalu menyeretnya ke mobilnya. Mobil range rover yang terparkir apik mendominasi mobil mobil yang lain.
Sang adik, Zian adalah remaja yang baru saja masuk ke jenjang SMA. Dengan semua kasih sayang yang di berikan oleh orang orang terdekatnya, ayah, ibu, maupun sang kakak sendiri membuatnya menjadi anak yang manja. Suka menghamburkan uang dan bermain. Sudah cukup Andrian menasehatinya secara halus. Sekarang? Jangan harap itu akan berlaku lagi.
"Ayolah kakak, aku sudah besar. Teman teman ku yang lain juga bebas di usia sekarang. Kenapa aku tidak boleh?" Bibirnya merengut, pipinya juga tampak merah akibat alkohol yang beberapa menit lalu ia minum. Andrian tetap diam tidak mengatakan apapun namun ekspresinya tampak marah matanya yang tajam tampak menyeramkan. Kalau saja yang di hadapannya ini adalah bawahannya pastinya mereka tak akan bisa bekutik sedikitpun. Tapi yang didepannya kini adalah adiknya, si anak manja yang selalu dimanjakannya.
Dulu, sewaktu kecil Andrian merasa kasihan kepada adiknya karena harus hidup berat, ia tidak pernah memiliki mainan yang di idam idamkan seorang anak kecil, ia tidak pernah berlibur ke tempat yang bagus seperti teman temannya, ataupun sekedar makan yang enak seperti kekuarga lain. Makanya saat dia sudah mampu, sebisa mungkin apapun keinginan sang adik akan langsung ia turuti, tak akan pernah tahu kalau adiknya kini menjadi bocah badung yang nakal.
"Diam!" Bentak Andrian yang kini fokus pada kemudinya setelah memasangkan seltbelt untuknya dan orang disampingnya.
"Huh! Kakak ini seperti tidak pernah muda saja--" kalimatnya terhenti. Sedetik kemudian perasaan menyesal merayap ke hati Zian. Ia ingat pada saat kakaknya harus bekerja paruh waktu untuk meringankan beban ayah sewaktu SMA. Harusnya ia tak pernah berkata seperti itu.
"Maaf.." bisiknya.
__ADS_1
Andrian hanya melirik tanpa berniat menyahuti.
Perjalanan terasa canggung karana tak ada yang bersuara sedikitpun. Zian memandang keluar kaca sedangkan Andrian tetap fokus pada kemudinya.
Tak ingin lebih lama dalam situasi ini. Andrian mempercepat mobilnya. Zian yang melamun menyergitkan dahi. Ia setengah mabuk jadi bukanya ketakutan, malah senang karna seakan akan sedang di arena balap.
Mobil yang mereka kendarai sampai di sebuah apartemen mewah. Andrian membuka pintu untuk dirinya dan memutar membuka pintu untuk Zian yang setengah mabuk.
Tetap sama, Andrian menyeret Zian ke dalam apartemen, membawanya masuk ke kamarnya dan melemparnya ke kasur.
Pusing mendera kepala Zian, belum sempat ia beranjak dari keterkejutanya sebuah selimut membungkus badannya. Kakaknya ini sangat aneh.
Tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Kak, lepasin.. " rengerknya
"Tidur!" Tegas Andrian.
"Mana bisa aku tidur kalau seperti ini. Lagi, aku belum membersihkan tubuh"
"Biasanya juga kau tak pernah mandi." Setelah berkata seperti itu Andrian pergi. Saat membuka pintu, tiba tiba suara Zian mengintrupsi.
"Tidur Zian.."
Mendengar suara kakaknya yang melembut ia merasa lega.
Andrian menutup kembali pintu yang sudah ia buka. Langkah kakinya memutar menuju ke balkon kamarnya.
Sudah lima tahun, perasaan familliar merasuk kembali ke hatinya. Bukan perasaan indah yang penuh bunga bunga. Tapi rasa sakit hati yang mendalam. Jika direnungkan lagi. Sebernarnya tidak ada yang salah dalam kasus sakit hatinya. Semua orang pasti akan melewati fase itu. Tapi kenapa rasanya sangat membekas?
Aliran darah yang mengalir pada jantungnya seakan berubah menjadi duri duri yang membuat nafasnya sesak. Untuk pertama kalinya ia menyadari. Kalau ada satu jenis penyakit yang tidak bisa di tangani dokter.
Melihat ke dalam kamar, Zian terlelap begitu nyenyak. Tak peduli walau bukan kamarnya, selama itu adalah kasur yang nyaman, dimanapun, kapanpun, ia akan selalu tertidur cepat.
Sudah lama Andrian mengidap insomnia. Dimulai dari saat saat ia meneruskan perusahaan sang ayah yang dimana ia harus ekstra kerja keras untuk membangunnya menjadi perusahaan besar seperti sekarang. Juga.. untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu, bahwa ia bukan lagi remaja yang pengecut seperti masa lalu.
__ADS_1
****
Pagi hari, rutinitas seperti biasa. Sarapan dengan segelas kopi dan roti. Berangkat ke kantor tak kurang dari jam tujuh, sebagai seorang pemimpin ia harus menjadi tauladan bagi karyawanya. Bukan cuma membuat peraturan tapi juga untuk mematuhinya.
Tapi pagi ini ada yang berbeda, Andrian harus mengantarkan Zian terlebih dahulu.
"Aku kan tak bawa mobil.."
"Pakai taksi"
"Ayolah kak.. hanya mengantarkanku apa susahnya. Lagian baru jam enam kan?" Sedikit tergesa gesa Zian menalikan sepatunya dengan acak. Baju yang ia pakai adalah seragam yang ia tinggalkan di sini supaya tak perlu repot kalau kalau dia menginap disini. Dan tentang buku? Jangan tanya. Ia selalu meninggalkan buku bukunya di loker. Entah ada pekerjaan rumah atau tidak.
" 5 menit kakak tunggu." Ujar Andrian dengan menatap jam tangan.
"Dimana sepatu yang satunya?" Andrian memutar malas matanya.
"Kakak.. dimana sepatu sebelah kiri?"
"Mana aku tahu?" Jawabnya.
"Itu kan sepatu punya kakak." Zian menampar lantai yang ia duduki.
"Bukanya kau yang selalu memakainya, kau pakai minggu lalu. Dimana kau meletakkanya?" Tanpa banyak bergerak Andrian mengambil sepatu yang ada di belakang rak sepatu. Lalu melemparkanya ke arah Zian.
"Kalau dari tadi kan lebih cepat." Gumam Zian.
Andrian pergi meninggalkan Zian yang mendengus tak suka "cepat selesaikan. Atau akan ku tinggal kau disini"
***
Tak jauh dari sekolah Zian, tepatnya tiga blok ke samping kanan ada Tk yang harus di lalui Andrian jika harus ke kantor. Bocah bocah Tk yang berlalu lalang menunggu kelas dimulai menjadi objek pandangan Andrian. Ini masih jam setengah tujuh jadi tak apa jika ia berkendara santai.
Matanya menenukan seseorang yang tengah mengantarkan seorang anak laki laki. Sosok yang sama saat di bar kemarin. Ada apa dengan dunia? Dari yang orang orang bilang bahwa manusia memiliki tujuh kembaran dalam satu dunia. Apakah Andrian baru saja melihat keajaiban itu? Karna tak mungkin sosok itu akan berada di kota yang sama dengannya kan?
Kekacauan yang menjadi pikiran dari kemarin malam sepertinya muncul lagi.
__ADS_1
Terbukti dari Andrian yang mulai mempercepat laju kendaraannya. Nafasnya mulai memburu.
Note : saat ayah Andrian di pecat lalu pindah kota, Zian masih kelas 3 SD. Dua tahun kemudian Andrian sudah kuliah dam perusahaan ayahnya sudah mulai berkembang, yang berarti Zian saat itu kelas 5 SD dan Andrian berumur 18 tahun. Jika dihitung dengan saat ini yaitu 5 tahun kemudian maka Andrian berumur 23 tahun dan Zian kelas 10 atau 1 SMA.