
Andrian Anggra Saputra.
***
Andrian mengambil flaahdisk yang berikan oleh Gita.
Ia bingung sebenarnya, Tapi dari pada bertanya macam macam, lebih baik kalau cari tahu sendiri saja.
Tian kembali dengan sebuah paket ditanganya. Berbentuk segi empat. Andrian pikir itu sebuah benda elektronik atau apa, bukan urusanya.
Setelah di buka, itu bukan sebuah elektronik, tapi baju bayi yang sangat banyak.
"Sayang, dimana aku harus menaruhnya?" Tian memandang Gita.
Gita menggeleng. "Mana aku tahu, ini kan apartemenmu." Jawab Gita.
Gita tak terlalu pemalu seperti saat ia masih suka membantu ibunya. Kini ia lebih terbuka. Itu membuat Andrian sadar kalau Tian memperlakukanya sangat baik.
"Kau.. H-hamil?" Andrian memicingkan matanya ke Gita lalu Tian. Apa benar kalau Tian menghamili Gita dulu makanya mereka direstui?
Tian bilang rencanya itu kan ke Andrian dan Zian?
Oh, shit. Maka apa apaan situasi ini. Tian, sahabatnya sudah berubah menjadi baji***n.
Dan Gita yang dia tahu sebagai anak baik baik ternyata mau diperalat seperti itu?.
Tian dan Gita tertawa. Mereka tertawa sampai air mata keluar begitu saja.
Tian duduk disebelah Gita saat sudah menyimpan baju baju bayi itu.
Merangkul Gita, Tian tersenyum ke arah Andrian, "Aku bukan orang bre****k seperti itu, kamu sendiri yang bilang kalau itu tidak baik. Jadi aku tak mungkin melakukan itu....."
Jika bersama orang lain, mereka tidak menggunakan Gue-Lo. Mungkin mereka sadar kalau mereka sudah dewasa.
Kecuali Zian, anak itu adalah pengecualian.
Ucapan Tian berhenti sampai situ, lalu Gita yang melanjutkan.
".... Kau tahu sendiri Tian itu gila, dia membeli baju bayi untuk anak kami dimasa depan. Ia bahkan sudah menyediakan box bayi di kamarnya,"
Gita menggeleng.
Andrian maklum, belakangan ini Tian memang agak gila. Memang gila.
Entah dimana otak encernya saat SMA.
"Otak udang," Gumam Andrian.
"Apa?!" Tanya Tian.
"Tidak," Andrian menyeruput kembali kopi yang masih setengah.
"Oh iya.. Ini undangan, kasih ke Tante sama Om ya, ada buat Zian juga,"
Tian memberikan undangan berwarna silver dengan tulisan Tian & Gita di depanya.
Andrian mengangkat bahunya, membolak balik kartu undangan dengan pandangan menilai. "Ayah sama ibu tidam bisa datang, hari ini mereka berangkat ke Jepang buat bisnis plus bulan madu. Mungkin balik bulan depan,"
"Hah/Hah," Seru Tian dan Gita kompak.
"Om sama Tante mau bulan madu? Aduhh sayang, Kita kalah saing ni,"
__ADS_1
Pasangan tua itu, tak ingat umur sama sekali. Anak nya sudah dewasa masih saja kelakuan seperti remaja.
Andrian sendiri tak menyangka kalau itu orang tuanya.
"Tapi kok Tante sama Om bulan madu lagi ya, bukanya mereka susah tua?" Tian bergumam.
"Entahlah, biarkan saja selama mereka bahagia,"
****
"Aku akan minta kakakku untuk membeli sekolahan ini dan memecat tikua tikus ini tanpa hormat!!"
Semua orang menatap padanya. Tapi Zian sama sekali tidak takut.
Dengan membanting buku terakhir yang ada di tanganya, Zian berucap, "Saya pamit dulu bu,"
Dewi hanya bisa diam melihat anak itu. Betapa beraninya.
Di meja ke tiga sebelum puntu keluar, seorang guru memarahinya.
"Memangnya siapa kakakmu? Kamu hanya murid, beraninya tidak sopan dengan guru. Dimana karaktermu, kamu pikir siapa kamu?"
Orang itu mendekat, melipatkan tanganya di depan dada. Orang ini adalah guru PPKN yang Zian tahu.
Dia mengajar Zian saat kelas sepuluh. Kalau menurut Zian, orang ini sangatlah jauh dari mata pelajaraan yang dia ajarkan.
Seorang guru haruslah punya dasar mengajar dan adil ke semua siswa. Memotivasi anak untuk lebih taat.
Tapi orang ini tidak seperti itu. Dia selalu seenaknya sendiri tanpa tahu kalau yang dia lakukan salah.
Jika dia menyukai mangga, entah itu matang atau tidak, akan ia makan.
Tapi jika dia tak menyukai jeruk, walaupun jeruk itu manis, sangat mahal, ataupun berkualitas tinggi sekalipun, tak akan pernah ia makan.
"Sopan? Jadilah orang yang bisa menghargai orang lain. Maka anda bisa mengecap saya sopan atau tidak....."
Zian mengucapkan itu dengan keras, berharap semua orang juga mendengar
".... Anda bahkan tidak bisa menjadi menjadi guru yang baik. Bagaimana bisa anda menjadi pengadil yang benar? Kau! Tidak bisa mengadiliku!"
Zian melanjutkan.
Zian munurunkan pundaknya, melipat kakinya dan meletakan tangan kanannya di di pinggang.
"Apa guru tak punya rasa sopan? Saat orang lain menyapa anda, harusnya anda menjawab kan? Pelajaran itu ada pada materi PPKN anak SD....,"
".... Jadi bagaimana anda, guru PPKN tingkat SMA tidak tahu hal remeh semacam itu?"
Nafas Zian memburu.
Zian mendekat ke arah guru itu, menatap matanya yang sering kali melotot ke sembarang orang itu.
"Anda bertanya siapa kakak saya sampai saya berani? Catat nama ini baik baik. Andrian Anggra Saputra, adalah kakak saya,"
Orang itu mematung. Andrian memang penyuntik dana terbesar ke dua sekolah ini. Jadi namanya sudah terkenal di kalangan guru guru.
Tapi Zian tak suka jika orang menatapnya sebagai adik Andrian, jadi hanya teman temanya yang tahu, tidak dengan guru guru.
Setelah ini Zian bisa saja meminta Andrian untuk memecat guru itu dan membeli sekolah ini.
Namun ia perlu pertimbangan yang matang, ia tadi hanya ingin menggertak sekelompok guru itu. Tidak ada niatan pamer.
__ADS_1
Kakaknya tidak akan mau memecat guru guru seenaknya tanpa alasan. Dia bukan orang yang suka menyalah gunakan kekuasaan.
Lagi, jika Zian meminta kakaknya untuk membeli sekolah itu pasti kakaknya akan bilang.
"Untuk apa? Agar kamu bisa menindas orang sesukamu karna itu sekolahku? Lagi pula apa keuntungan buatku?"
Seperti itulah. Kakaknya bukan orang yang mudah untuk diajak kerjasama.
Zian melangkah menyusuri lorong kelas. Tasnya masih si kelas.
Kunci kelas biasanya di pegang oleh satpam. Tapi kelas Andrian adalah kelas yang paling rajin anaknya.
Sebelum satpam membuka pintu kelasnya, sudah ada yang menunggungu di pintu kelas.
Makanya kunci cadangan di berikan pada anak yang berangkat paling awal.
Zian kadang bingung. Sepagi apa anak itu berangkat. Karena jika Zian berangkat pasti pak satpam sudah membuka semua kelas.
***
Andrian melepas sepatunya, menarik celana menjadi celana pendek. Jas yang ia pakai sudah tidak tahu dimana, Kemejanya tak bisa dikatakan kemeja, terlalu kusut.
Sekarang ia disini sendiri, Zian sudah tidak ada disini.
Memang benar jika Zian disini sangat merepotkan. Harus mengantarkanya ke sekolah, dan pembawa kebisingan di apartemen yang sunyi ini.
Bagaimanapun, tak bisa dipungkiri kalau Andrian merasa kehilangan. Bukan hanya tak ada yang membersihkan apartemenya, Apartemen ini rasanya sangat sunyi.
Kesunyian membuat Andrian tambah stress. Membuat pikiran pikiran yang tak ingin dipikirkanya mulai bermunculan di permukaan otaknya.
Setidaknya kalau ada Zian disini pasti perhatian Andrian akan ke arah Zian yang selalu membuatnya kesal. Mengalihkan pikiran negatif yang selalu muncul.
Hari ini sangat banyak yang terjadi. Mulai dari bertemu kembali anak jalanan, bertemu Bila, bahkan bertengkar dimuka umum.
Huh!
Hidup Andrian berat, jika kalian pikir jadi Andrian itu gampang, maka kalian salah.
Beban pekerjaan yang menumpuk dan masalah masalah hidupnya tak akan pernah berhenti.
Hatinya selalu merasa gelisah. Kedamaian hanya sebuah kata tanpa ia pernah tau seperti apa rasanya
Andrian adalah seorang yang agak ambisius. Semua terjadi sedari kecil saat Ayahnya masih belum dipecat dari pekerjaan sebelumnya.
Saat itu Andrian masihlah anak dari orang yang berkecukupan. Tidak ada kata mewah di tanganya, uang sakunya saat SD hanya tiga ribu saat kelas satu dan dua. Lima ribu saat ia sudah duduk dibangku kelas tiga sampai enam.
Setahun sekali adalah dimana semua kerabat akan dikumpulkan menjadi satu.
Paman pamanya adalah orang yang biasa, sama berkecukupanya seperti keluarga Andrian.
Namun mereka bersikap seolah mereka ada di atas Ayahnya.
Seolah Ayahnya tidak dianggap semua kerabat, selalu ada kerenggangan yang terjadi entah karena apa.
Andrian sadar sesuatu seperti itu saat umurnya menginjak kelas tujuh SMP. Ayah dan Ibunya memang tidak pernah mengatakan apa apa.
Tapi kau akan sependapat dengan itu jika kau melihatnya sendiri.
Kekesalan Andrian menumpuk dari saat ia masih kecil. Ia tutupi semuanya dengat kata 'Tidak apa apa'.
Tidak apa apa memang. Tapi Andrian tentu punya perasaan yang akan merasa terluka.
__ADS_1
Kebencianya selalu menguar sepanjang waktu. Namun ia sembunyikan di dalam hatinya.
Andrian bertekat di dalam hatinya kalau ia akan membuktikan bahwa keluarganya pantas di atas semuanya. Tanpa siapun yang berani menganggap keluarganya masih bisa diinjak injak.