
Kamu pembohong!
***
Andrian terbangun mendengar dering ponselnya yang keras. Dengan malas ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Kakak jemput di rumah temen ya, nanti aku share lokasinya." Dengan seenaknya Zian menyuruh Andrian menjemputnya.
Andrian menjauhkan ponselnya lalu melihat jam yang tertera. Masih menunjukan pukul setengah lima. Excusme?
"Zian, kamu tahu sekarang jam berapa?" Tanya Andrian dengan suara parau.
"Jam setengah 5?" Jawabnya.
"Kau tahu jam setengah 5 masih pagi!" Bentak Andrian kesal. Bagaimana tidak kesal jika tidurnya diganggu hanya untuk masalah yang tak penting seperti ini.
"Justru itu.. aku masih punya waktu untuk sekolah. Kakak mau aku bolos sekolah iya?" Ancam Zian dengan nada merajuk.
Sedangkan Edi yang disampingnya menutup kuping dengan bantal. Ia ingin tidur, tapi si biang kerok ini sudah adu mulut di telepon di pagi hari.
Sungguh malang nasibnya menampung bocah ini. Selepas ini, jangan harap ia akan memberi izin Zian untuk menginap lagi. Jangankan menginap, berkunjungpun tak akan ia perbolehkan. Baginya Zian adalah hama pengganggu.
"Kenapa tidak pulang kerumah saja" Kaya Andrian disebrang telepon.
"Aku tidak mau. Lagian jarak dari rumah ke sekolah kan jauh. Lagian, tasku masih di apartemen kakak." Zian yang ngeyel membuat Andrian sakit kepala. Adiknya kah atau majikanya sebenarnya?.
"Yasudah pulang sendiri saja, lagian mobil kakak masih di kantor." Jawab Andrian malas.
Memang benar mobilnya masih dikantor. Waupun kaya, Andrian bukan orang yang suka memamerkan kekayaan dengan bergonta ganti mobil. Mobilnya banyak, namun masih tersimpan rapi di garasi rumah utamanya, rumah yang saat ini ditinggali ayah dan ibunya.
Rumah itu adalah rumah pertama yang di beli ayah saat bisnisnya berkembang. Saat itu rasanya satu keluarga sangat bahagia karena bisa mempunyai rumah lagi dan bukannya mengontrak.
Jadi rumah itu adalah saksi bisu dari kehidupan keluarganya yang berubah drastis.
__ADS_1
Sesekali Andrian akan menggati mobilnya saat ia berkunjung kerumahnya.
"Ya pake motor aja ga papa lah kak" jawaban dari Zian membangunkan Andrian dari lamunanya.
"Hmm, ok."
Disana Zian tersenyum bahagia, menjerit tertahan membuat Edi menggeram sekali lagi.
Andrian menyibak selimut yang membungkus dirinya. Dinginnya lantai membuat kakinya serasa mati rasa.
Mandi di saat masih pagi membuat dirinya berpikir ini seperti ia sedang melakukan mandi wajib. Seakan tidak pernah melalukan sebelumnya, Andrian terkikik geli sendiri, membuat tawanya bergema ke seluruh ruangan.
Jari jarinya menyusuri rambut yang mulai tumbuh panjang, ada sedikit keinginan untuk memanjangkan rambut itu, tapi apa akan pantas untuk penampilannya? Nanti jangan jangan ia akan mirip seperti caca handika, tapi ada kemungkinan ia lebih mirip harry styles kan? Atau virza?
Ahh mungkin ia akan mirip seperti Alie gatie.
Sekarang dimana jaket yang pernah ia beli? Udara sangat dingin jadi ia harus memakai jaket. Tapi dilemarinya hanya ada kaos empat buah, dan celana training dua buah, sebagian besar lainya adalah celana dalam, celana kantor, jaz, kemeja, dan dasi!
"Geez, apa apaan ini, dimana pakaian ku yang lain?" batin Andrian.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam saat ia sampai pada alamat yang dikirimkan Zian, begitu pula dengan ponselnya yang bergetar.
"Kakak sampai mana?" Tanya Zian di sebrang tepon.
"Di depan" jawab Andrian
"Depan mana? Jangan kelamaan deh kak nanti aku ga jadi sekolah."
"Kamu pikir sekolah ga pake duit?"
"Iya.. maksud aku nanti aku telat sekolahnya kak Andri..."
"Turun!"
__ADS_1
"Kalau ga mau turun ga mungkin aku minta kakak jemput pagi pagi. Kakak gimana sih"
"Turun ke gerbang! Kakak di gerbang!" Bentak Andria tak mau meladeni gurauan adiknya.
Kenapa sangat beda sifat adiknya dan dirinya?!.
Oho Andrian... Jangan lupa dulu saat kamu SMA seperti apa.
"He he he... Tumben nih kaya anak muda, biasanya rapi banget kaya mau kondangan" Zian memandangi kakaknya dengan tatapan kagum. Bagaimana tidak saat ini kakaknya menggunakan celana jeans, jaket jeans,
dan kaos putih polos. Rambutnya yang tak ia sisir karena terburu buru membuat kesan macho dan keren secara bersamaan.
Kalau saja ia mau membuka diri untuk mencari pasangan pasti hidupnya lebih sempurna lagi. Cowok mapan dan tampan, bersanding dengan cewek cantik dan seksi. Sangat serasi.
"Cepetan naik katanya mau sekolah"
"Masih jam enam juga.. nanti aku nebeng kakak aja, uangku mau aku kumpulin buat beli gitar." Katanya memegang pundak Andrian lalu dengan secepat kilat dan sekuat tenaga ia menaiki motor itu berharap kakaknya akan oleng, namun yang mengagumkan, tak sedikitpun Andrian bergerak bahkan saat ini ia sedang menguap. Sungguh otot baja.
Sampai di apartemen Andrian di depan Zian membuka pintu. Di pandanginya jari jari Andrian yang menekan sandi, menemukan sandi yang masih sama saat ia pergi dari disini. Mukanya melotot dengan gagap ia berkata
"Masih sama tapi kakak bilang udah diganti!"
"Kau ini bodoh ternyata, bukanya saat itu kita berangkat bersama? Seharusnya kau tahu kalo aku tak mengganti kata sandinya." Jawab Andrian.
Zian merasa sangat bodoh. Bisa bisanya ia lupa, waktu itu mereka berangkat bersama, bahkan Zian yang menutup pintu saat itu karna Andrian berjalan di depannya. Jadi tak mungkin Andrian menggantinya.
Kadang otak kecil ini memang tak berfungsi dengan baik. Kalau saja ia tak bodoh pasti tak perlu menumpang di tempat orang kan?
Zian masuk mngikuti Andrian. Melihat tempat sampah lebih baik dari ini ia merasa mual. Kenapa bisa berantakan seperti ini. Kemarin rasanya bersih.
Andrian mengalihkan tatapannya ke Zian yang terbengong di pintu masuk. Melihat Zian yang memandangi tempatnya dengan wajah bodoh andalannya.
Ia juga bingung, bukannya yang ia berantaki itu kamarnya saat mencari jaket? Lalu kenapa seluruh ruangan juga menjadi berantakan? Lalu ia mengingat saat mencari kunci motornya yang lupa ia letakkan.
__ADS_1
Jadi sebelum Zian bertanya Andrian berkata "Ohh, tadi kakak mencari kunci motor makanya jadi berantakan. Kalau ada waktu bersihkan ya" Lalu Andrian pergi menguhubungi Alex untuk menjemputnya mengingat mobilnya masih dikantor.
Di belakangnya Zian mengpalkan tangan. 'Kenapa gue harus pulang kesini' pikirnya.