
Time Zone
***
"Paman?" Denis bergumam saat melihat orang yang menurutnya tidak asing.
"Jangan lari lari Denis, Bibi lelah sekali." Bila di belakangnya menepuk pelan pundaknya dan terengah-engah.
"Bibi, bukanya itu paman yang waktu itu?" Denis menunjuk kearah Andrian. Andrian memunggungi Bila, jadi Bila tidak tahu siapa yang dimaksud Denis.
"Mana? Tidak ada." Bila menarik tangab Denis, "Ayo kita main lagi. Kau bilang ingin bermain lempar bola basket."
Andrian melihat Denis dan Bila yang sudah pergi. Kini wajahnya dapat ditunjukan. "Lihatlah, aku tidak bisa menangkap boneka itu. Bisa kau dapatkan boneka itu?" Lamunanya hilang saat wanita disampingnya menyeret badanya untuk memainkan mainan anak kecil.
"Aku tidak mau," Ucap Andrian. Wanita itu kesal. "Tidak mau bagaimana? Kita sedang kencan jadi kau harus romantis." Balas wanita itu.
Andrian hanya berdecak kecil, memutar matanya dan berkata, "Ya, aku memang tidak romantis jadi kita batalkan saja kencan membosankan ini." Lalu Andrian meninggalkan wanita itu yang sedang kesal. Ia lebih memilih mengikuti Denis dan Bila.
Berputar putar dengan kakinya yang di balut sepatu jutaan, Andrian tak mendapatkan bayangan dua orang itu.
Sampai kakinya membawanya melangkah ke dua orang yang sedang asik bermain. Andrian tersenyum.
"Ayo! Kita main capit boneka. Bibi akan mendapatkan boneka yang banyak untukmu." Kata Bila dengan semangat. Denis menggangguk dan tersenyum.
Beberapa menit kemudian, tak ada tanda tanda boneka itu akan didapat. Bila mendengus, Denis tertawa menenangkan Bila. "Tak apa Bibi. Itu memang susah, lebih baik kita bermain yang lain saja." Denis menarik tangan Bila yang lesu.
"Biarkan aku mendapatkanya untukmu."
__ADS_1
Denis dan Bila kompak melihat kearah Andrian yang dibelakangnya. Denis tersenyum, "Aku tahu yang tadi itu Paman." Katanya. Andrian melihat ke arah Bila.
Tanpa memandang ke arah Andrian, Bila membawa tangan Denis pergi.
"Ayo Denis kita main yang lain." Katanya dengan lembut, namun sangar sarkas. Andrian menahan tangan Denis, mendorongnya ke kaca mainan dan bertanya, "Apa yang kau mau? Panda? Jerapah?"
Denis meletakan jari telunjuknya di dagunya. Membuat pose berpikir lalu menunjuk sebuah boneka kelinci berwarna pink. "Aku mau yang itu paman." Tunjuknya.
Andrian terkekeh. "Kelinci merah muda? Itu mainan anak perempuan, bocah. Kau ingin main itu?" Andrian mengusap rambut Denis. "Tidak," Jawabnya. "Aku akan memberikan itu pada Arin. Dia itu temanku yang paling manis."
Andrian tertawa lagi. "Temanmu? Jadi kau memberikanya boneka dan berkata bahwa kau yang mendapatkanya?" Tanya Andrian. "Tentu saja ya," Andrian tidak berhenti tertawa ulah anak ini.
Bila yang berdiri tak jauh dari situ mendengar percakapan itu dengan raut tak peduli. Untuk apa orang ini muncul?
Hanya saja Bila tidak berharap kalau hanya dengan bermain capit boneka itu, Andrian dan Denis menjadi akrab. Boneka yang didapatkan sangat banyak. Ada tujuh boneka dengan berbagai macam.
Kini, Andrian yang entah datangnya dari mana ikut dengan acara jalan jalan Bila dan Denis. Bahkan Denis sudah nyaman pada gendongan Andrian dan asyik berceloteh.
"Aku mau ice cream," Denis mengacungkan tanganya pada penjual ice cream. Denis itu sangat digaja oleh Alex. Beberapa makanan sebenarnya harus dihindarinya, begitupun dengan ice cream. Melihat Andrian yang membawa Denis ke tempat itu, Bila mengencangkan volume suaranya untuk menghentikan mereka.
"Tidak!" Denis dan Andrian berhenti ditempat. Lalu berbalik menghadap Bila yang menempelkan alisnya pada kelopak matanya. "Kenapa bibi?" Tanya Denis memiringkan kepalanya.
"Kau tidak ingat kalau ayahmu melarangmu memakan ice? Nanti ayahmu marah kalau tahu." Denis mengkerut. Ia takut ayahnya akan marah, tapi ia juga menginginkan ice cream.
Andrian menyadari Denis yang sangat ingin memakan ice cream. "Kau sangat suka makan ice cream?" Tanya Andrian pada Denis yang berada dalam gendonganya. "Ya, benar benar suka. Tapi aku jarang memakanya, ayah akan menghukumku nanti." Ucap Denis memelas.
Andrian menghembuskan nafasnya, anak yang sangat baik, betapa penurutnya dirimu. "Baiklah, tidak akan ada yang marah kalau tidak ada yang tahu dan memberitahukan. Jadi sekarang kau bisa makan ice cream." Ucap Andrian menenangkan Denis.
__ADS_1
Mata Denis berbinar sesaat. Lalu manik matanya jatuh pada Bila. "Tidak ada yang memberitahukan?" Tanya Denis menatap sendu wajah Andrian. Andrian paham, lalu tersenyum ke arah Denis.
"Hm, tidak ada yang memberitahukanya, termasuk bibimu." Kata Andrian. Denis tersenyum bahagia. "Benarkah Bibi? Kau tak akan memberitahukannya pada ayah?" Sebenarnya Bila tidak setuju pada Andrian, tapi melihat kegembiraan Denis, ia tak bisa tidak menyetujui apa yang dikatan anak itu. Bila tersenyum sebagai jawaban. "Yeay!" Denis bersorak.
Ice cream yang Denis beli hampir tandas dalam sekali suapan. Bila mengehela nafas, "Harusnya kau tak ajarkan berbohong pada Denis." Ucap Bila. Andrian menarik perhatianya ke wanita yang dihadapanya.
"Apa?" Tanyanya. "Denis, harusnya kau tak ajarkan dia berbohong." Jelas Bila.
Andrian cuek. "Beberapa kali Denis memakan ice cream?" Tanya Andrian tak menyambung.
"Hanya saat perayaan perayaan tertentu." Jawab Bila. Andrian tersenyum kecut, "Karna itu, hanya sesekali. Sekali kali, biarkanlah anak mendapatkan apa yang dia inginkan. Lebih baik menurutinya sekali dari pada dia melanggarnya berkali kali. Jika ia di kekang, maka semakin penasaranya ia terhadap sesuatu." Kata Andrian.
"Tapi Alex melakukan itu untuk Denis sendiri." Bila menggerakan tanganya di bawah meja.
"Aku tahu, tapi Denis terlalu kecil untuk mengetahui maksud Alex. Berikan pemahaman secara bertahap dan jangan membuat anak jengkel terhadap peraturan peraturan yang menurutnya tak masuk akal." Balas Andrian memiringkan mulutnya.
Tidak hanya mereka berdua ada disitu, Denis juga mendengar apa yang mereka ucapakan dengan jelas. Tapi karena ice cream dimangkuknya sudah hampir mencair, membuatnya tak memperdulikan percakapan dua orang dewasa.
Bila tak bisa berkata, semua pendapatnya tertutup pada tenggorokanya yang kering. Orang ini bukan tempatnya untuk menjadi lawan saing perdebatan. Lebih baik menyudahi percakapan ini dari pada membuat keributan pada tempat publik seperti tempo lalu.
"Aku ingin lagi," Denis memberikan mangkuk yang kosong pada Andrian, menunjukan pada Andrian bahwa ice creamnya sudah habis dan ia masih ingin memakanya.
Andrian menyingkirkan mangkuk itu, membelai pipi Denis dengan lembut, "kau harus memakan sesuatu sesuai porsi, tidak baik memakan sesuatu secara berlebihan. Kau mau badanmu berubah menjadi gendut seperti sumo? Kau mau?" Tanya Andrian mengintimidasi anak kecil.
Denis bergidik ngeri, "Aku tidak mau! Aku mau mempunyai otot yang besar dan disukai Arin. Kalau aku gendut, Arin tidak suka aku!" Denis menggeleng dengan keras. "Bagus," Gumam Andrian.
"Nah, kalau kau tak mau jadi gendut, maka jangan banyak memakan makanan seperti ini. Kau ingin perutmu kotak kotak kan?" Tanya Andrian. Denis mengangguk. "Maka kau harus memakan makanan seperti sayuran, buah, dan daging agar kau punya otot yang besar. Mengerti?" Andrian mengusap kepala Denis.
__ADS_1
"Ya, guru juga bilang seperti itu, jangan jangan paman ini seorang guru..." Denis terkekeh. "...Mulai sekarang aku akan memakan sayuran yang banyak agar jadi kuat. Dan makan bayam agar ototku tumbuh." Denis menepuk dadanya bangga. "Great!" Bisik Andrian nyaris bergumam tak terdengar.
Bila melongo. Andrian memang penghasut nomor satu. Pantas saja perusahaanya sangat sukses. Ternyata bakat yang ia punya juga bukan main main. Andrian menatap Bila yang melongo. Menggerakan Alisnya naik turun menggoda.