HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 26


__ADS_3

Hijau pembawa sial


***


Karin melirik sisi kanannya untuk melihat Alex yang menyetir. Dengan raut wajah yang santai saat menyetir membuat wajah tampannya berkali lipat dari biasanya.


Jika Karin ditanya siapa lelaki paling tampan sedunia, itu adalah Alex. Jika Karin ditanya posisi apa lelaki dikatakan tampan, maka itu adalah Alex yang sedang menyetir. Kalian tak akan tahu betapa tampannya Alex saat ini.


Mengatur nafas saat tahu kalau remaja disampingnya selalu menatapnya, Alex merasa canggung. Tidak ada perasaan tidak nyaman jujur, perasaan canggung kini kebih dominan. Membuatnya merasa terlempar ke dunia lain.


Menurut Karin, Alex adalah orang yang mulia. Ia bukan lelaki yang mementingkan ego, ia juga lelaki yang bisa mengendalikan emosi. Karin ragu apa Alex pernah marah?


"Kau selalu pergi ke tempat makan yang kemarin?" Karin bertanya dengan mata yang tak bisa lepas dari Alex.


"Ya," Jawab Alex. "Kemarin sepertinya kau membawa dua makanan, apa itu untukmu atau kau punya teman makan lain?" Teman makan yang Karin maksud adalah teman spesial.


"Tidak, itu untuk bosku." Jawab Alex.


"Great! Kalau begitu lain kali kita bisa makan bersama." Ini adalah semacam undangan bagi orang lain. Tapi Alex yang polos dan mulia tidak tahu.


Jadi dengan jelas ia mengatakan, "Aku tidak tahu, biasanya aku makan dikantor dan membawakan bosku makanan. Maaf," Katanya.


Karin kecewa, kenapa orang ini selalu kaku. Lagi pula, ia tak mungkin bisa selalu makan di tempat itu, bisa bisa uangnya rontok. Mungkin jika orang itu mau membayarkanya itu tak masalah.


"Dimana rumahmu?" Tanya Alex. Karin tersadar dari lamunanya, mengarahkan jalan menuju apartemen kecilnya. Semakin dekat, semakin Alex tak bisa membuang rasa canggungnya dari remaja yang selalu menatapnya itu.


"Bagaimana biasanya kau pulang?" Tanya Alex membuka pembicaraan, mengalihkan rasa canggungnya. Karin terdiam sesaat, "Taksi," Jawabnya. "Kenapa?" Karin bertanya.


"Jalanan ini sangat sepi, tidak ada kendaraan umum." Ucap Alex. Karin tersenyum penuh semangat. Giginya menggigit bibirnya untuk menhentikanya tersenyum. Ternyata orang ini tidak sekaku itu. Bahkan dalam keadaan tidak sadar, ia menghawatirkan Karin.


"Tidak, biasanya jalanan ramai." Jalanan ini memang tidak ada kendaraan umum jadi ia akan berjalan kaki karena apartemenya cukup dekat.

__ADS_1


Alex menghentikan mobilnya, mereka telah sampai. "Terima kasih telah mengantarku, kau sangat baik." Ucap Karin. Alex mengangguk sebagai jawaban.


Karin mengacungkan jarinya keatas dan bersuara "Ah!" Ia telah mengingat sesuatu. Karin menyuruh Alex menunggunya dalam beberapa menit, "Tunggu, jangan pergi dulu, dalam beberapa menit aku akan kembali." Katanya.


Alex yang tak diberi kesempatan untuk menjawab terpaksa harus menunggu remaja itu kembali. Dalam satu menit, remaja itu kembali dengan satu tangan di belakangnya.


Badannya membungkuk karena kelelahan, ia habis berlari. Karin mengelap keringatnya dengan tangan lalu memberikan sebuket bunga pada Alex. "Ini!" Ucapnya.


Alex tercengang. Bunga? Apa apaan ini. Siapa yang memberikan bunga untuk siapa? Bukan kah harusnya lelaki yang memberikan bunga pada wanita? Kenapa disini ia menjadi seorang wanita?


"Kenapa? Ambillah," Ucap Karin lagi.


Alex tidak mengambil mengambil bunga itu, ia berucap, "Tidak, aku tidak suka bunga." Karin menjadi kecewa. Ini adalah bunga yang diberikan oleh senior yang suka kepadanya, karena tidak enak, ia akhirnya menerimanya. Dan sekarang ia ingin bunga itu untuk lelaki idamannya. Tapi ia malah menolak.


Karin tak putus asa, ia memasukan bunga itu ke dalam mobil Alex. "Karena kau berkata seperti itu, kau bisa membuangnya atau terserah karena aku sudah memberikannya padamu." Ucapnya. Lalu ia berbalik dan pergi, tak melihat ke belakang lagi.


Alex mengehala nafas, lalu membawa mobilnya menjauh.


***


Membungkus badanya dengan celana jeans dan hodie, menenggelamkan kepalanya ke tudung hodie lalu mengenakan masker. Dia melihat pantulan dirinya di cermin, sempurna!


Mobil yang ia bawa melaju dengan lambat dan menyusuri setiap jengkal jalanan kota.


Jika ditanya apa yang paling di benci seorang Andrian? Jawabanya adalah anak kecil. Andrian sangat membenci anak kecil yang berada di sekitarnya, mereka sangat berisik dan tak tahu aturan.


Tapi pengecualian untuk dua orang anak, yang pertama yaitu Denis, dia tidak berisik sama sekali. Dia sangat menggemaskan juga lucu, tidak ada alasan Andrian untuk membencinya.


Dan yang kedua, dia adalah anak jalanan yang pernah ia temui. Entah kenapa, setiap Andrian melihatnya, ia merasa empati kepada anak itu. Anak yang manis itu harus menjalani hidup seperti ini. Itu mengikis dalam jiwa sosial yang Andrian punya.


Mobil Andrian berhenti pada tempat parkir terakhir kali mereka bertemu. Dia diam berada disitu untuk melihat jalanan, barang kali anak itu sedang bekerja.

__ADS_1


Terakhir kali, saat Andrian mengajak anak itu makan, dia tak bisa mengulik kehidupanya lebih dalam. Setiap Andrian menanyakan lebih, atau sekedar mengetahui tempat tinggal anak itu, anak itu selalu mengalihkan pembicaraan. Membuat Andrian merasa tak tenang.


Oh, apakah Andrian belum memberitahukanya kepada kalian? Anak jalanan ini adalah anak perempuan berumur sekitar tujuh tahun. Sangat muda bukan? Ya, sangat muda untuk disia siakan sejauh ini.


Anak ini sangat pintar dan sopan untuk ukuran anak yang tak pernah mengenal sosok orang tua dan sekolah.


Sebenarnya ia adalah anak yang sangat cantik. Tetapi pakaian dan kehidupan yang tak layak membuatnya terlihat sangat dekil. Wajar jika orang orang merasa tak nyaman dengan yang namanya anak jalanan.


Sekali lagi Andrian terangkan. Anak jalanan bukanlah anak yang salah pergaulan. Andrian tidak pernah menatap jijik anak itu. Yang paling ia benci adalah orang yang mengadili sesama. Mengecap orang dari apa yang mereka lihat tanpa tahu kebenarannya. Ia sangat membenci orang seperti itu.


Ayolah Andrian, tanpa kamu sadari, kamulah orang yang paling kamu benci. Coba telisik dari dalam dirimu sendiri. Apakah kamu termasuk jenis orang yang seperti itu?


Andrian masih di dalam mobil saat ia bosan menunggu anak itu. Jam segini, biasanya sudah ada beberapa anak. Tapi hari ini sangat sepi.


Satu jam, tidak ada tanda tanda anak itu datang. Andrian mulai terusik dan melihat jam tanganya, ia sangat sibuk. Pertemuan pertemuan dan pekerjaan yang ia punya sangat menumpuk. Ia tidak bisa hanya menunggu seperti ini saja. Andrian bertekat, jila dalam lima belas menit Andrian tidak bertemu dengan anak itu, maka ia akan pergi.


Meremat gagang setir, Andrian masih berharap kalau ia bisa bertemu anak itu.


Andrian menatap jalanan dengan cermat, lalu ia melihat sekumpulan anak yang sedang berkumpul. Andrian tidak tahu apa ada anak itu di dalamnya, jadi ia memperhatikannya dengan seksama.


Benar saja, ada anak itu disana, mulai berpencar dengan anak anak lainya. Kaki kecilnya melangkah menunggu lampu merah di tepi jalan. Saat lampu merah menyala, ia dengan cepat menyusuri mobil mobil untuk mengamen. Andrian kesal, beberapa orang mengusirnya dengan kasar, tidak memiliki rasa kasihan dengan badan kecil nan ringkih itu.


Andrian mulai keluar dari mobilnya, berjalanan kecil ke sisi mobil agar anak itu bisa melihatnya.


Anak itu berjalanan di tengah jalanan, Andrian hanya memperhatikanya, tak berniat memanggil ataupun menjemput. Biarkan anak itu sendiri yang melihatnya.


Mata anak itu memutar ke segala arah. Sampai manik matanya melihat ke Andrian yang sedang tersenyum ke arahnya, ia tersenyum cerah, "Malaikat," Gumamnya.


Ia berniat akan menghampiri orang baik itu, berlari menerobos mobil mobil yang berhenti.


Andrian melihat anak itu sangat senang, membuatnya ikut senang. Anak itu berlari, Andrian masih tersenyum. Sampai Andrian melihat lampu jalanan yang sudah berwarna hijau, senyumnya pudar.

__ADS_1


Anak itu tidak memperhatikan lampu yang sudah hijau, jadi ia tetap berlari.


"AWASSS!!!!" Teriak Andrian.


__ADS_2