HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 36


__ADS_3

masa lalu


***


"Lanjutkan," Ucap Alex saat mereka sudah berbesih dan berkumpul di depan TV. Alex mengusap pundak yang sedikit menyusut. Apa ia telah gagal menjadi seorang kakak? Apa perannya sebagai kakak kalau menjaga adiknya saja ia tidak bisa?


Bila mendongak untuk menatap kakaknya. Mata sayu dan penuh keraguan terpancar dari matanya.


.


.


.


Flash back on


"Aku tidak yakin kau menyetujuinya.." Kata Adit di sebrang sana. Ia menilik ke layar ponselnya yang hitam. Suara Bila tak terdengar disana. "Halo?" Panggil Adit.


"Emm, apa rencanya?" Tanya bisa yang tidak menjawab panggilan Adit.


Adit memainkan jam tangan yang berada di tangan kanannya. Itu adalah pemberian dari Nastasya. Pacarnya. Jam kesayanganya yang tidak pernah ia pakai. Takut rusak. Begitu pula pemberinya. Walaupun Adit terkenal play boy.. Tapi sebenarnya tidak. Ia hanya mencintai Natasya.


"Agustus nanti, kelas sekolah kita mengadakan pentas seni." Gumam Adit yang masih di dengar oleh Bila. Bila menyergit. "Bagaimana kau tahu?" Tanya Bila.


"Apa yang aku tidak tahu.." Jawab Adit. Membuat lelucon ditengah keseriusan yang ada.


"Jadi?" Tanya Bila. "Jadi?" Ulang Adit.


Bila menghembuskan nafasnya. "Maksudku, jadi apa rencanamu?" Kesal Bila yang membuat Adit tertawa.


"Yah, kelas kita mungkin akan menampilkan drama. Aku tahu, kau pasti mendapat peran utama wanita. Bagaimana kalau aku memerankan lawan mainmu?" Tanya Adit.


Bila tertawa samar. "Kau ini percaya diri sekali. Memang yang lain mau kau jadi pemeran utama pria? Lagi pula, belum tentu aku menjadi pemeran utama wanita kan?" Tanya Bila.


"Tidak, aku yakin seratus persen. Kau akan menjadi pemain utama wanita. Dan, semau apa mereka memilih lawan mainmu, jika kau merekomendasikan aku.. Maka itu adalah aku." Kata Adit.


"Ya,... Tunggu! Apa rencanamu? Apa hubunganya dengan ini?" Tanya Bila.


Adit tersenyum. "Aku tak tahu aku salah atau tidak, aku hanya takut kalau Tian sebenarnya suka padamu tapi dia menyangkalnya.. Dan jika aku memasukan ilustrasi seakan akan kita dekat.. Siapa yang tahu kalau Tian akan cemburu atau tidak. Jika memang cemburu, itu bonus untukmu. Jika tidak, itu bukan berarti kau tak punya kesempatan." Kata Adit.

__ADS_1


Bila tersenyum. Merasa bahwa rencana Adit ini sangat bagus. Seperti yang ia lihat di TV. Tian pasti cemburu. Percayanya.


"Baiklah. Aku minta bantuanmu Adit, semoga dengan begini, aku bisa membuktikan kalau Tian menyukaiku, ia hanya menyangkal hatinya saja." Ucap Bila yang di iyakan Adit.


Telepon masih belum terputus. Ia ingin memutuskannya saat suara Adit terdengar, "Yah, kau tahu? Sepertinya Andrian menyukaimu." Ucap Adit sebelum memutuskan panggilan.


Bila terdiam. Memang, beberapa saat Andrian seperti salah tingkah di depannya. Tapi itu tidak membuktikan bahawa Andrian suka padanya kan? Lagi pula, jika memang Andrian suka padanya, sudah dari dulu Andrian menyatakan. Bahkan Bila yang notabenenya adalah perempuan sangat terang terangan kepada Tian. Jadi tidak mungkin kalau Andrian menyukainya. pikir Bila.


Karena permasalahan yang menggunung dipikiranya, akhirnya dia terlelap dengan keadaan terkelungkup.


Waktu yang di tentukan akhirnya tiba. Adit benar benar menjadi lawan main Bila. Meninggalkan Tian yang menjadi anak badung sedangkan Andrian yang menjadi kakek kakek.


Sungguh, saat itu Bila tertawa karena yang ekspresi Andrian yang lucu saat tak terima Adit menjadi lawan mainnya.


Rencana yang di buat dia dan Adit berjalan dengan lancar. Yang tak lancar? Adalah respon Tian yang begitu biasa. Tak ada tanda tanda kalau dia cemburu atau apa... Sungguh tidak ada. Malah, jika Bila lebih memperhatikan orang lain, ada seseorang yang bukan targetnya.. Cemburu dengan aktingnya. Andrian.


Hari minggu. Adit dan Bila berjalan jalan ke taman. Mereka membeli ice cream dan beberapa makanan ringan. Menyelami kenangan demi kenangan berdua. Tanpa Tian.


Ada insiden kecil disini. Adit yang sangat merindukan pacarnya malah mencium Bila dengan spontan dan tanpa sadar. Kalian pasti tahu apa yang terjadi disini, karna kalian sudah membaca sudut pandang Andrian. Tapi bukan itu yang sebenarnya. Bila tahu betul kalau Adit tidak sadar melalakukan itu. Ia hanya menganggap Bila pacarnya, Natasya. Dan waktu itu, Bila memegang kepala Adit adalah untuk mendorongnya, bukan yang lain.


Flash back off


.


.


***


"Ya, dia yang dulunya tetangga kita." Kata Bila yang membuat Alex mengangguk. Untuk Tian, Ia ingat dengan Tian karena orang tua mereka bersahabat. Jadi Tian sudah tidak asing dengannya.


Bila melanjutkan ceritanya.


.


.


.


Flash back on

__ADS_1


Rencana mereka berdua, Adit dan Bila bukan sampai disitu saja, mereka masih melanjutkanya sampai mereka mereka apa yang ingin mereka lihat. Tian yang cemburu.


Dari mengobrol di kelas, ke kantin bersama, dan yang lainya, sudah mereka lakukan untuk melancarkan misi.


Hari itu, Tian memegang tangannya dan mariknya dengan kasar, menuju ke perpustakaan. Bila sangat senang karena dia pikir Tian marah padanya, cemburu.


"Aku tahu kalau kamu sebenernya suka sama aku. Kamu bilang kamu suka orang lain, tapi pikirkan, mungkin kamu juga sebenarnya suka aku. Jika kamu ingin menyatakan perasaan dan menjalin hubungan, aku setuju." Kata Bila dengan raut bahagianya. Sangat percaya diri.


Tian mendengus, melepas genggaman tanganya dan mengelapnya di sisi celana. Membersihkannya.


"Bil! Gue udah bilang gue ga suka sama lo.. gue ada seseorang yang gue suka! Dan itu bukan lo!" Tian sedikit membentak, namun dalam volume yang kecil mengingat mereka ada di perpustakaan.


"Aku tahu Yan.. tapi apa kamu ga pernah sedikit aja suka sama aku? Aku suka sama kamu dari dulu tapi kamu ga pernah sedikitpun buat ngeliat aku?" Tanya Bila sedikit mengiba, ia sangat mencintai Tian. Tian adalah cinta pertamanya dari saat masih kecil.


Bila tak akan menutup nutupi perasaan cintanya. Ia akan dengan lantang menyuarakan cintanya pada Tian. Ia hanya ingin memperjuangkan perasaanya. Walau harus menjadi bodoh sekalipun.


"Bukanya lo itu lagi deket sama Adit ya? Bahkan lo rela jadi simpenanya Adit walaupun lo tahu kalo Adit itu udah punya pacar." Tanya Tian dengan nada yang mengejek. Apa dengan rencana itu, dimata Tian, ia seperti perempuan murahan? Bagaimana bisa? Bukan itu tujuannya.


"Itu cuma biar kamu cemburu! Aku ngerespon dia cuma karna aku mau kamu cemburu!" Kata Bila dengan menekankan setiap katanya mulai merasa sesam didada. Suaranya sedikit bergetar jika orang memperhatikannya.


"Lo keterlaluan Bil.. lu ga suka sama Adit tapi lu tetep deket sama dia walapun lu tahu dia punya pacar? Lu ga mikirin perasaan pacarnya Adit? Lo ga pernah mikirin perasaan orang. Itu yang ga gue suka dari lo!


Dan perlu lo tahu.. lo udah nyakitin hati seseorang yang udah bener bener cinta sama lo!"


Benar, memang Adit sudah punya pacar.. Tapi apa salahnya hanya dengan berakting. Ia hanya ingin membuat Tian cemburu. Pikir Bila. Semakin sesak dan semakin sesak dadanya. Terus menerus memutar kata semakin, karena memang selalu menyorok lebih dalam di jiwanya.


Untuk kalimat yang terakhir, Bila tahu siapa yang di bicarakan Tian. Bila menurunkan matanya untuk menenangkan hatinya. Lalu matanya menangkap bayangan sosok Andrian yang menguping.


Andrian.. Biar aku ajarkan bagaimana menjadi pria sejati. Setelah ini, jadilah seseorang yang tangguh tanpa harus mengandalkan orang lain. Lakukan dengan berani apa yang ingin kau lakukan. Ini, ku berikan motivasi..


"Maksud kamu Andri? Aku tahu kok dia suka sama aku. Tapi dia terlalu pengecut bahkan cuma buat ngungkapin perasaan dia." Ucap Bila semakin kencang agar si penguntit mendengarnya.


"Gila lo Bil.. lo emang ga punya hati!"


Setelah itu, Tian pergi meninggalkan Bila yang meluncurkan liquidnya. Menangis bersenggama dengan buku berjajar rapi.


Flashback off


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2