HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 38


__ADS_3

Anak. Jadikan aku Ayahmu


***


Guruku selalu bercerita, "Suatu hari satu bintang sangatlah terang, lalu bintang itu tersenyum. Disisi lain, bintang lainya redup, tanpa penyesalan. Bintang terang menerangi apapun lebih dan lebih, sampai ia menabur dalam kegembiraan yang sama. Sang redup berpikir, suatu hari ia akan menjadi terang dengan sedikit bergerak. Lalu keajaiban terjadi. Bintang terang jatuh menjadi meteor, meninggalkan bintang redup yang menjadi penerang lebih terang dari apapun."


Guru terbaik adalah diri kita sendiri, kesalahan, dan alam yang semakin merintih.


***


Bila menceritakan semua ke Alex, semua. Kecuali bagian ayah dari anaknya. Bila selalu tidak pernah menjelaskan secara detil kepadanya.


Begitu pula Alex, dia tahu kalau setiap orang pasti punya privasi, dan bukan batasnya untuk melangkah maju untuk mengetahui semuanya.


Dia bukan kakak yang pandai menghibur. Jangankan menghibur, senyum saja bisa di hitung dengan jari adanya.


Bila yang menangis tidak ada dalam kamus Alex, seperti yang Alex katakan, Bila tidak pernah menangis, walaupun itu sangat menyakitkan. Kesabarannya tidak ada yang tahu batasnya. Tapi kali ini, semua memang ada batasnya.


"Itu hanya masa lalu, jika itu membuatmu sedih, keluarkan. Apa sesuatu memprovokasimu?" Tanya Alex mengelus belakang Bila.


"Kau tahu bosmu?" Tanya Bila retorik. Lalu melanjutkan, "Dia membuatku di pecat dari pekerjaanku. Kau tahu sendiri mencari pekerjaan untukku sangatlah susah. Aku hanya lulusan SMP, tidak punya ijazah SMA bahkan. Jika aku di pecat, apa yang harus kulakukan?" Bila mengusap air matanya perlahan dengan bibir bergetar. Air bening kecil di pelipisnya menurun, mengikuti air mata yang menetes indah.


Kini Alex tahu, ah! Bukan. Alex hanya tahu setengah. Kita yang tahu.


Kini kita tahu. Pagi, Bila mengunjungi apartemen Andrian. Siang, dimulai dari inilah Alex tahu, Andrian mengonfirmasi pendidikan Bila. Dan pada malam akhirnya, Alex menemukan Bila di jembatan. Ini sungguh klasik yang mana tak pernah membuat orang tertawa.


Kalau boleh jujur, aku hanya menulis untuk diriku sendiri dan tak pernah memperdulikan perasaan Andrian dan Bila. Bagaimana aku harus menjelaskan kepada kalian kalau aku ingin mempersatukan Bila dan Andrian segera?


Tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Jika aku memaksakan kehendak, lalu mereka bersatu dengan cara konyol yang mengotori mata, apakah itu bisa di bililang penyatuan yang romantis?


Jika aku tidak punya hati maka, ya. Tapi sebenarnya, aku punya hati. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Hanya aku. Bahkan untuk beberapa bagian, aku hanya mampu menebak tanpa tahu keseluruhan. Akan sangat besar peluang kalau mereka tidak akan bersama.


Tapi, seberapa besar peluang, tergantung dari perasaanku pada saat menulis. Labil. Aku memang labil. FYI, saat aku menulis ini, umurku adalah 17 tahun lebih 10 bulan. Apa aku lebih tua dari kalian?


Bila merendahkan dagunya menuju pahanya. Memejamkan mata disitu tanpa tidur. Ingin sekali ia menembus tempat gelap sampai ujung lorong untuk mengetahui ujung akhir dari padanya. Tanpa ada orang yang bisa mengusiknya. Menuju ke sebuah lautan keheningan, ia rasa akan sangat indah.


Alex memotong isak tangis Bila dengan helaan nafas kasar. Tangan di sisi tubuhnya turun dan mengepal. Kalau saja ia mempunyai sesuatu yang bisa di banggakan, apakah ada seseorang di luar sana bisa menjungkir balikkan keluarganya? Alex pikir ini semua bagian dari kesalahnnya yang tidak mampu membahagiakan keluarganya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu kalau Andrian bisa sebrengsek itu. Aku pikir ya, dia memang sangat kekanak kanakan dalam berpikir. Tapi merugikan orang lain secara langsung? Itu memang sangat luar biasa," Kata Bila tersenyum hambar.


"Aku akan menghajarnya," Ucap Alex melengkungkan bibirnya ke samping. Tanpa emosi atau kesedihan.


"Jangan," Bisik Bila. "Aku tidak mau menjadikan semuanya rumit. Cukup aku yang bermasalah di sini. Hanya aku dan kau tidak. Jadi jangan pernah terlibat jika kau tidak ingin membuatku merasa bersalah," Ucap Bila yang membuat Alex merangkulnya lebih dalam ke pelukannya.


***


Andrian meletakan ponselnya ke meja. Adit dan Tian mengahadapnya seolah dia adalah seorang tahanan dengan vonis hukuman mati.


"Dasar orang sibuk. Apa salahnya mengosongkan waktu hanya untuk bertemu," Kata Tian dengan mulut miring.


"Presiden lebih longgar dari pada dia." Timpal Adit yang di setejui oleh keduanya. Gita, dan Tian.


"Aku sudah bilang kalau Davian menikah. Kalian saja yang mengabari mendadak." Ucap Andrian tak mau kalah. Ini nasib baik, walaupun acara Davian malam, namun ia masih sempat ke Tempat Tian untuk berkumpul.


"Oh ya, bagaimana kalian? Apa aku sudah akan mempunyai ponakan?" Kata Adit dengan senyum sumringah. Semua yang melihat pasti tahu kalau dia sangat menyukai anak kecil.


"Ponakan.. Anakku tidak mau mempunyai paman sepertimu." Ucap Tian dengan anggukan Gita yang tertawa.


"Yang mereka mau paman sepertiku." Ucap Andrian. Tapi Gita malah terpinkal pingkal dan mengatakan, "Aku tidak mau anakku seperti banteng berjalan. Yang kalau melihat warna merah akan menghancurkannya," Ucapnya membuat semua orang tertawa.


Mereka berdua terpingkal pingkal lagi. "Itu pasti, tapi kami belum mendengar soal momongan. Tidak tahu kedepannya." Ucap Tian.


"Lain kali. Kalau mau sesuatu yang mengejutkan, jangan berharap lebih. Jangan mengchecknya setiap saat. Akan lebih baik saat kau mengetahuinya saat dia benar benar ada." Ucap Adit mengingatkan.


"Aku sangat benci anak kecil. Kalau anakmu berisik, mungkin aku akan menjadi yang pertama untuk menghukumnya." Ucap Andrian yang di hadiahi tatapan tajam oleh Tian.


"Ya, aku tidak bisa tidak menyakannya setiap saat. Aku masih muda, tapi aku tahu kalau aku mampu menjadi ayah yang baik. Jadi aku sangat tidak sabar. Mungkin lain kali aku akan lebih bersabar untuk menerima kejutan besar." Ucap Tian.


Andrian tidak menimpali apapun. Tentang anak, ia sangat buruk. Hanya ada dua anak yang mampu dekat dengannya. Sejauh ini hanya Denis dan Nayla.


Ngomong ngomong tentang Nayla dan Denis, Andrian jadi merindukan keduanya. Untuk Nayla, mungkin sedikit mudah bertemu dengannya, tapi untuk Denis? Melihat saja Andrian ragu boleh atau tidak.


Kalau Denis itu keponakannya, mungkin akan mudah. Tapi dia bukan keponakannya, bagaimana cara mengubah Denis menjadi ponakannya?


Mari kita berpikir.

__ADS_1


Ah! Jadikan Alex sebagai kakaknya mungkin akan bisa. Tapi.. Andrian tidak mau mempunyai adik seperti Bila. Sangat membosankan seperti dirinya.


"Kalian progam hamil?" Tanya Adit. Tian menggelengkan kepalanya dengan santai, begitu juga Gita. Mereka saling berpandangan dan tersenyum.


"Kita menunggu saja dari yang diatas, kalau memang takdir, pasti nanti ada. Kalau tidak, setidaknya kami sudah berusaha yang terbaik dan secara intensif," Kata Tian yang di barengi tawa oleh semua orang.


"Kau ini.." Kata Gita memukul lengan Tian.


Tian melihat ke arah ketiganya. Gita dan Tian sudah menikah, Adit sebentar lagi, dan dirinya tidak punya siapa siapa. Apa tidak apa apa? Maksudnya, apa tidak apa apa kalau dia tetap melajang sampai tua?


"Kalau anak kita lahir, aku ingin kita saling menjodohkan mereka. Ya, kalau mereka bukan laki laki semua," Kata Tian.


Adit : "Aku pikir selama anakmu perempuan boleh saja kita jodohkan, tapi kalau laki laki, pasti sifatnya sepertimu, tentu saja aku tidak mau." Kelakar Adit.


Andrian hanya tersenyum menimpali obrolan, saat obrolan semacam inilah dirinya hanya menjadi pajangan tanpa melakukan apapun.


***


Andrian berangkat seperti biasa, ia dapat melihat kamar yang biasa di pakai Zian sangat sepi. Tidak bisa dipungkiri, jika Zian tidak ada ia merasa sepi. Tapi jika Zian ada, ia selalu saja membuat Andrian jengkel.


Dia membawa mobilnya ke kantor dengan kecepatan sedang. Meneliti jalanan dengan pandangan tajam.


Sesampainya di kantor, Andrian tidak melihat Alex seperti biasa, apa mungkin dia terlambat? Karena tidak biasanya Alex terlambat.


Tanpa berpikir lagi, Andrian pergi ke ruangannya sendiri. Mengawasi dokumen dokumen dengan tenang tanpa gangguan.


.


.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk," Kata Andrian. Alex masuk dengan tampang yang biasa. Andrian melihat Alex datang dan tak bisa untuk tidak menghela nafas lega.


"Ku pikir kau tidak masuk, dokumen yang kemarin kau berikan, aku tidak bi--"


"Aku ingin mengundurkan diri," Potong Alex cepat.

__ADS_1


***


pengen bngt di kasih masukan sama kalian. Karna gw tahu kalo tulisan gw ga rapi dan menarik. jadi masukan dan kritikan kalian itu berguna bngt. tolong ya, soalnya sejauh aku nulis, cuma sedikit yang ngomentari.


__ADS_2