HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 13


__ADS_3

perjalanan hidup seorang penarik receh


***


Orang orang bisa berubah kerena Allah membolak-balikan hatinya.


***


"Ayah, mungkin selama ini aku anak pungut." Zian menundukan kepalanya, tangannya meremat ujung baju yang dikenakan.


Tentu saja anak pungut, mana yang lebih tepat saat ibumu sendiri sedang berceloteh ria ke pada kakakmu sementara dirimu tidak dianggap keberadaanya sama sekali.


Zian bukanya iri kok!


Kalian pasti tahu ketidaksetaraan hak antara saudara kandung. Sangat mematahkan hati saudara lainya. Itu kini dirasakannya.


Ayahnya yang sedang minum kopi hanya mendengarkan tanpa ingin menjawab sedikitpun.


Sekali lagi Zian merengut. "Ayah dengar tidak?" Sedikit berteriak, Zian seolah melepaskan sebuah pertanyaan yang dari dulu ingin ia tanyakan.


Ayahnya diam lalu dengan menghela nafas mulai memfokuskan pandangannya kepada putra bungsunya yang paling manja.


"Kamu ini ga usah ngawur, kamu ga ngerasa disayang selama ini?


Lihat yang ibumu lakukan terhadap Andrian, kamu sama sekali ga familliar dengan sikapnya selama ini kepadamu?"


Zian mulai berfikir.


Memang iya, Zianpun sama diperlakukan seperti itu. Tapi itu jika tidak ada Andrian.


Itu jika ia sendirian, sendiri menjadi putra ibu satu satunya. Selama Andrian ada didekat ibu, maka tak ada lagi nama Zian di pikirannya. Tragis.


"Iya... Tapi kalau ada kak Andrian pasti Ibu ga pernah peduliin aku."


Seolah menyandrang gelar aktor terbaik, Zian mulai menitikan air mata kepalsuan dan aura menyedihkan.


Ayahnya yang sudah kerap kali melihat tingkah laku sang anak mulai jengah.


Ditepuknya kepala anak bungsunya dwngan lembut, lalu di sentilnya kening anak itu.


Jangan berpikir ayahnya itu seorang selalu mengalah, dalam beberapa waktu ia akan menjadi sangat jahil.


"Itu karena ibumu sudah lama tidak bertemu kakakmu. Kamu tahu sendiri gimana jarangnya Andrian pulang. Jangan seperti anak kecil ok!"


"Iya... Tap--" Belum selesai kata katanya terucap, sang ayah menimbrungnya.


"Sudahlah kamu anak kecil jangan terlalu membawa perasaan."


Kembali dengan kopi di depannya, ayahnya tak lagi memfokuskan pandangannya ke Zian.


Zian sendiri melihat itu menjadi kesal. Tidak ada yang peduli terhadapnya. Semua tentang Andrian, bahkan cerita ini tentang Andrian bukan tentangnya.

__ADS_1


Zian berdiri dengan kaki dihentak hetakan. Kakakinya yang tak lernah diam itu, satu kaki memblokir satu kaki lainya. Keseimbangan dirinya menghilang, dengan mata melotot hati Zian mulai berdetak keras, takut terjatuh.


Zian hampir saja menanamkan bokongnya ke lantai kalau saja sang ayah tidak menarik tanganya.


Ayahnya sangat trampil, itu baru ayahnya yang dia kenal.


Hatinya lega, tanganya ia gunakan untuk mengusap dahi dan dada. Dengan senyuman ia berterimakasih kepada ayahnya.


Tapi baru saja kata terimakasih terlontar, ia yang baru saja melangkahkan kakinya malah terjatuh tersandung kursi dengan wajah yang terlebih dahulu mendarat.


Poor Zian.


Semua orang yang disitu menatapnya. Hanya sang ayah yang sangat mengasinhani kesialan anaknya yang manja atas dua kesialan yang menimpanya.


***


Andrian mengendarai mobilnya menuju ke apaartemenya. Buka Andrian tidak betah dirumah, namun ia bukan anak remaja yang hanya berdiam diri dirumah.


Ada banyak hal diluar sana yang membutuhkan mata untuk membongkar pikiran Andrian pada suatu hal.


Seperti pengamen kecil yang dulu pernah ia temui. Anak itu masih sama, dengan takdir yang sama.


Ketika kaki kecil itu melangkah ke samping mobilnya Andrian menurunkan kaca mobil.


Dengan tampang tegas, kacamata, serta penampilan yang mewah itu membuat si bocah kecil tercengang.


Pikirnya kehadiranya membuat jijik orang mulia itu, namun saat mulut kecil penuh noda putih itu mengucapkan kata maaf dan melangkahkan kakinya, suara bariton orang itu mengintrupsinya.


Saat ia berbalik yang ia dapati adalah uang seratus ribu menggantung diantara jari tangan orang itu.


Menggantungnya dibalik pintu mobil. Tepat mengarah kepadanya.


Kepalang takut, anak itu tak tahu harus bagaimana. Ia kira orang itu marah karena jijik kepadanya tapi sekarang orang itu memberinya uang yang sangat besar untuknya?


"Ambil" Kata Andrian datar.


Maksud hatinya adalah memberikan uang dengan ramah, namun sepertinya wajahnya seperti tembok. Tak pernah menunjukan airnya. Rata kalau secara spesifiknya. Juga kokoh


"Untukku?" Anak itu berujar dengan wajah tertunduk sesekali melirik ke Andrian.


Andrian yang melihat sikap malu malu itu mulai melunak, dengan pasti ia menarik sudut sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyum yang tulus.


Mobil lain sudah akan bergerak mengingat lampu sudah hampir hujau.


Jadi saat Andrian menarik kembali uang itu, anak yang hidapannya mulai mendongak tak mengerti.


"Kau pergi ke situ." Ucap Andrian sembari menunjuk tempat yang sepertinya tempat parkir.


Anak itu mengangguk mengerti. Lalu mulai melangkah menjauh dari jalan karena lampu mulai menunjukan hijaunya.


Tampa ba bi bu, Andrian menancap gas ke arah parkiran yang tadi ia tunjukan.

__ADS_1


Anak itu sudah ada disana, menggenggam cup berisi recehan dan botol berisi pasir sebagai alat musik untuknya bernyanyi.


Saat Andrian membuka pintu mobil, Anak itu melangkahkan kaki menuju Andrian berdiri.


Andrian menyerahkan uang yang tadi belum sempat diterima.


Namun satu yang mengganggu pikiran Andrian. Anak ini tentu tak sendiri, ada pelaku pendorong di balik anak ini.


Jika Andrian hanya menyerahkan sebatas uang, mungkin anak itu tak akan merasakan uang itu.


Jadi dengan sedikit rasa empati Andrian berencana membawa anak itu makan sebelum menanyakan sesuatu kepadanya.


"Jika aku memberikan uang kepadamu kemana uang itu akan pergi?" Tanya Andrian berjongkok di depan anak itu.


Pikiran anak itu mulai berubah. Orang ini bukan hanya mulia dari apa yang dia lihat, namun juga mulai dari hatinya.


Sangat baik.


"Nanti paman Asep yang akan mengambilnya." Jawabnya sedikit tersenyum.


Di depannya keindahan yang selama ini tak pernah ia temui. Seakan wajah Andrian diselimuti dengan sinar sinar yang mengelilinginya, Anak itu sangat suka menatap wajah Andrian.


Melihat Andrian yang sedang berpikir anak yang sedang tersenyum melontarkan sebuah kalimat.


"Apa kau adalah malaikat?" Tanyanya. Jangan salahkan ia, ia masihlah anak kecil. Seperti yang pernah ia ingat, malaikat itu berhati baik. Jadi yang di depannya adalah malaikat, benar.


Bahkan pakaianya saja sangat bagus.


Andrian menatap anak itu. Senyum kecut menghiasi bibirnya.


"Mungkin iya," Katanya.


Namun ia sendiri tak percaya pada yang ia percayai tentang itu.


Anak itu tersenyum dan bertepuk tangan. "Aku tahu itu. Aku tak pernah salah." Katanya.


"Sekarang karena aku telah memberikanmu uang, kau harus menjaganya dengan baik. Jika itu uangmu, tak ada yang bisa mengambilnya termasuk paman Asep yang kau katakan. Masuklah ke mobil, kita cari makan dulu, kau pasti belum makan."


Andrian hendak membukakan anak itu pintu saat bibir kecilnya bergumam.


"Tapi paman Asep akan mengambilnya paksa." Mata itu tampak murung saat mengatakannya.


"Maka kamu harus menyembunyikannya, mengerti?" Andrian mengusap rambut anak itu.


Terasa lengket dan kasar. Andrian tak memperdulikanya, ia bisa mencuci tanganya nanti.


Setelah mengangguk anak itu menaiki mobil Andrian. Melihat semua itu dengan binar kekaguman.


Belum pernah ia menaiki mobil sehebat dan semewah ini.


Mobil yang dikendarai mereka melaju membelah jalanan. Meberikan Arti perjalanan hidup yang berbeda walau mereka dalam tempat yang sama.

__ADS_1


***


__ADS_2