HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 31


__ADS_3

Adegan penyelamatan.


***


Zian menyampingkan wajahnya dan berucap, "Aku dengar kakak membicarakan sesuatu seperti anak dan hamil." Mata Zian melotot dengan dramatis, lalu melanjutkan, "Jangan jangan kakak pernah menghamili wanita tadi?!"


Andrian memandang Andrian dengan tajam. Jangankan menghamili, menyentuhnya saja Andrian tidak pernah. Hanya satu kali Andrian merasakan bibir itu, itupun tidak sengaja dan hanya di pipi.


Andrian melemparkan bantal sofa yang didekatnya ke arah Zian. "Jaga mulutmu!" Kata Andrian dengan marah.


"Lagian dia bukan perempuan seperti itu." Andrian melanjutkan. Zian tertawa, lalu mengambil bantal sofa yang dilempar Andrian dan duduk di sebelah Andrian. "Aku kan hanya menebak, lagian privasi orang siapa yang tahu?" Kata Zian.


Andrian melambaikan tanganya tanda ia sudah menyerah. Tak mau membicarakan hal hal seperti itu lagi. "Sudahlah. Jangan bicara lagi, kau hanya membuatku pusing." Andrian menutupi telinganya dengan kedua tanganya.


Zian melihat itu tak tinggal diam, dia menarik tangan kakaknya dan tersenyum, "Kakak tidak bisa marah denganku. Kakak sayang padaku kan?" Tanya Zian menggoda. Ia mengeluskan kepalanya ke tangan Andrian. Sifat manjanya yang sudah lama hilang kini kembali.


Andrian menyingkirkan kepala Zian yang seperti kucing menggosok goskan kepalanya ke majikanya. Setidaknya kucing penurut dan mudah diatur. Sedangkan Zian? Kalian tahu sendiri.


"Dasar kolot! Kau bayi kolot! Lepaskan!" Geram Andrian menyingkirkan kepala Zian. Zian tidak mau menyerah, dia semakin mendekatkan kepelanya ke tangan Andrian.


"Bilang kakak sayang aku, dan aku adalah adik yang sangat manis." Ucap Zian yang membuat Andrian mual.


Dulu, Andrian yang menidurkan Zian dengan mengelus elus kepalanya saat Zian berumur sekitar sebelas tahun. Anak lain tidak perlu seperti itu saat umur sebelas tahun, tapi Zian manja kalian ingat? Waktu itu Ayah mereka sakit dan Ibu harus mengurusnya di Rumah Sakit.


Ibu tidak membolehkan Zian untuk tidur di Rumah Sakit. Jadi Andrian yang mengurus Zian saat malam hari. Andrian yang akan membuatkan makan malam untuk Zian.


Andrian sungguh menyayangi Zian. Zian adalah adiknya satu satunya jadi Zian sudah seperti anak Andrian walaupun itu tidak mungkin.


"Ayo kakak bilang kalo kakak sayang aku!" Zian menggoyang goyangkan lengan Andrian yang masih membisu.


"Diam! Kau ini sudah besar, jangan seperti anak kecil. Kau tak malu dengan teman temanmu?" Tanya Andrian.


"Kenapa malu? Mereka tidak tahu kan?" Zian berucap, "Aku benar kan?" Tanya Zian dengan menggerak gerakan alisnya.


Andrian menggeleng dengan tingkah adiknya. Dasar memang anak manja, seperti apapun, manjanya tidak akan hilang.


"Katamu kau jatuh cinta, tapi melihat tingkahmu seperti ini, kurasa kau hanya main main." Ucap Andrian.

__ADS_1


Zian menyentak tangan Andrian dan duduk tegak. "Aku tidak! Aku sungguh cinta dengannya." Kata Zian. Ia sungguh tidak main main dengan Dewi. Kalau umurnya sudah cukup, Zian ingin sekali meminang Dewi. Tak perlu memikirkan apa yang orang lain pikirkan, selama kau bahagia kau hanya perlu menjalaninya.


Zian tahu, perbedaan umur mereka terbilang jauh, tapi apalah arti umur kalau cinta sudah tumbuh.


"Benarkah? Laki laki yang tidak bisa menjaga wibawanya tidak akan memiliki wanita dewasa dihidupnya."


"Bagimana bisa? Aku dewasa, aku bahkan pernah terlibat cek cok dengan guru untuk membelanya." Zian membusungkan dadanya seolah ia adalah pejantan tangguh yang sangat jantan. Woekk:v


"Entah hanya aku atau yang lain, saat kau bilang seperti itu, kau tampak seperti bayi yang memberontak sekumpulan prajurit. Bukan karena kuat kau menang. Tapi mereka tahu kalau kau lemah dan menggemaskan." Ucap Andrian diakhiri dengan acakan rambut di kepala Zian yang membuat wajahnya memerah marah.


"Siapa yang bilang aku bayi? Kakak jangan seenaknya ngejudge orang sembarangan. Kakak tidak tahu dalamku bagimana!" Teriak Zian yang berhasil terpancing emosinya.


"Aku tahu, aku yang menyandingmu dari kecil, katakan bagian mana yang aku tidak tahu dari dirimu?" Tanya Andrian yang ingin melihat adiknya marah.


"Tapi aku sudah besar!" Kata Zian dengan marah. Wajahnya ditekuk sampai memerah dengan alis menukik dan bibir yang mengerucut.


"Ya, ya, aku tahu dasar bocah!" Kata Andrian yang tak mau beradu mulut dengan anak ini.


"Aku sudah besar!" Teriak Zian. Dia tidak mau selamanya di cap bocah oleh orang seperti Andrian. Ia lebih berpengalaman dari Andrian tahu.


"Ya! Kau menang. Sekarang bersihkan meja itu." Perintah Andrian sembarang.


"Ya tuan!" Teriak Zian dengan sarkas.


***


"Aku sudah bilang aku tidak mau!" Seorang gadis mendorong pemuda mabuk dengan keras. Tapi pemuda itu tidak bergerak sedikitpun. Dengan keras kepala, pemuda itu terus menuju sang gadia ingin mencumbunya.


Jalanan sepi dan gelap. Mudah sekali untuk melakukan kejahatan disini. Karin yang ingin pulang ke apartemennya dicegat oleh seorang pemuda yang mabuk.


Meminta tolong juga percumah. Rata rata orang disini bekerja sampai malam dan tidak ada orang yang berada di kawasan sepi seperti itu.


Alex yang habis pergi ke Bar menyusuri jalan pulang. Tapi saat menyusuri jalan, ia melihat seorang pemuda yang bersama seorang gadis.


Alex tak mau ikut campur, ia sudah sering melihat transaksi seperti itu, tak heran baginya.


Tapi saat ia berlalu dan hanya melihatnya dari spion, ia melihat wajah sang gadis yang membuatnya memberhentikan mobilnya.

__ADS_1


Alex tahu gadis itu, ia adalah Karin. Remaja yang waktu itu ia temui. Untuk apa wanita itu bertemu dengan seorang pemuda ditempat sepi seperti itu?


Alex masih memperhatikanya, lama kelamaan, ia bisa memahami kalau itu bukan pertemuan, tapi pencegatan. Pemuda itu memaksa Karin untuk bercumbu.


Membuka pintu, Alex berlari kearah dua orang itu. Tapi sebelum itu, Karin menendang titik vital pemuda itu yang membuatnya terguling di atas tanah. "Sial! Apa apaan ini!" Teriaknya.


"Dasar cabul! Aku ingin membunuhmu!" Kutuk Karin yang memungut tasnya.


Alex melihat Karin, kini penuh amarah. Wajahnya memerah dan matanya melotot. "Jangan kira aku tidak bisa melawan, aku sudah memperingatkanmu tadi!" Kata Karin dengan menggerakkan tasnya kanan kiri dengan bangga.


"Cih! Dasar pengecut!" Karin menambahi.


Alex masih dibelakang Karin tanpa bersuara. Ia melihat Karin yang menendang pemuda itu sampai pemuda itu tersungkur. Entahlah, Alex hanya merasa remaja ini keren.


Karin memutar tubuhnya ingin melanjutkan perjalan, tapi tubuhnya mematung saat dilihatnya Alex, laki laki idaman Karin sedang menatap dirinya dengan terbengong.


"Ah!" Teriak Karin bahagia. "Laki laki ini mencegatku tadi, aku sangat takut," Ucap Karin lalu menghapiri Alex dan memegang lenganya seolah ia sangat takut.


"Hah?" Alex bingung. Tadi Karin tampak sangat keren dengan adegan yang memukau, kenapa sekarang ia seperti kucing yang ketakutan?


"Dia ingin mencegatku, pukul dia untukku." Ucap Karin lagi.


Alex tidak mampu berkata kata, ia hanya mampu menenangkan Karin dengan mengusap usap pundaknya.


Karin merasakan elusan dipundaknya tidak bisa merasa tidak senang. Bulu kuduknya meremang.


Ia melihat ke samping, ada mobil Alex disana tanpa pintu yang tertutup.


Karin menjerit, "Bagimana bisa kau biarkan mobilnya terbuka, mobil bagus ini sangat banyak peminatnya, kalau ada yang mencuri bagaima?" Histeris Karin.


"Oh aku tadi terburu buru," Alex menjawab. Karin memalingkan wajahnya ke arah Alex.


"Jangan jangan kau teruburu buru karena melihatku? Kau khawatir?" Tanya Karin menyelidik.


Alex speachless. Ia tergagap saat mengatakan, "Aku hanya ingin menolong."


Karin tertawa senang. Lalu kakinya melangkah ke arah Alex dan memenjarakan pundak Alex di tanganya walaupun tak sampai.

__ADS_1


"Kalau begitu, antarkan aku pulang ya?" Kata Karin.


__ADS_2