
Altar Pernikahan.
***
Hari ini adalah hari dimana Tian dan Gita menikah. Pernikahan dilangsungkan di salah satu gedung keluarga Tian.
Dekorasi sangat bagus. Putih memang menjadi warna yang dominan sekarang, Tapi bunga mawar sangat banyak disana sini. Bunga putih hanya ada beberapa di sebagian tempat, selain bunga yang nanti akan dipegang Gita.
Mungkin Tian dan Gita ingin melambangkan perjuangan cinta yang penuh liku, alih alih menggambarkan cinta yang suci.
Tamu sudah mulai berdatangan. Kebanyakan adalah kolega Perusahaan, kerabat, dan teman temanya baik dari SD, SMP, SMA, semua ada.
Tian menggunakan jas berwana hitam, sedangkan Gita menggunakan gaun berwarna putih.
Pengiring mereka adalah anak dua anak perempuan dengan rambut bergelombang. Masing masing menggunakan gaun putih dengan keranjang bunga di tanganya.
Andrian masih disana. Melihat persiapan kedua calon mempelai di belakang altar.
Ibu Gita menangis merangkul anaknya, sesekali mengelap air matanya agar bulir itu tak sampai jatuh pada gaun paling penting bagi anaknya.
Make up nya luntur terbawa air mata yang menetes deras. Sungai itu tak bisa diam walau sedetikpun.
Di sebelahnya, suaminya menenangkan sang istri, menarik tangan sang istri yang masih melingari putrinya.
Bagaimanapun, pernikahan akan dilakukan sebentar lagi, dan keadaan istrinya sangat kacau. Jauh dari kata baik baik saja.
Andrian paham. Jika ia memiliki anak perempuan suatu hari nanti, mungkin ia akan seperti itu juga, walaupun tidak menangis seperti itu.
Seorang anak perempuan adalah berlian keluarga. Menjaganya butuh kekuatan ekstra. Jika kamu ingin menyimpanya untuk digantikan sejumlah uang tak tak hitung di suatu hari nanti, maka kamu harus merawat berlian itu dengan baik.
Berlian akan pecah saat kau meremasnya terlalu kencang. Tapi berlian itu akan akan aman saat kau mengusapnya dengan penuh kelembutan.
Berlian akan dicuri saat kau tidak bisa membuat berlian itu menyembunyikan kesempurnaanya.
Seperti anak perempuan. Kau harus mengajarinya dengan baik dan benar jika kau ingin kebahagiaan yang berlimpah dimasa tuamu.
Anak perempuan akan membangkang dan melepaskan diri dari pandanganmu saat kau mengekangnya terlalu dalam. Buatlah ia merasakan kenyamanan kasih sayang dan cinta orang tua.
Anak perempuan akan salah pergaulan saat kau tak mengajarinya menjaga diri dan kehormatanya. Ajari dia untuk Tidak menjadi liar dari segi pakaian maupun sikap.
Berpindah ke lain sisi, Andrian melihat keluarga Tian jauh lebih santai. Ayahnya duduk di sebelah kanan Tian dan Ibunya duduk di sebelah kiri Tian.
Ibunya merapikan jas Tian yang sama sekali tidak ada cela. Keluarga itu nampak bahagia. Ayahnya tersenyum saat melihat putranya sangat gugup.
Tanganya meremas celana yang ia pakai karena gugupnya.
Orang orang itu harus berpisah berpindah menapaki jalan yang haruanya mereka tempati. Berada dalam posisi dan peranya masing masing.
__ADS_1
Prosesi pernikahan dimulai. Semua orang tidak bisa memalingkan wajahnya dari jalan suka duka yang terlintas di tengah tengah aula.
Kini mereka melihat pintu altar di buka dengan menampilkan seorang pengantin wanita bergaun putih yang di gandeng ayahnya.
Anak pembawa bunga sangat pintar. Berusia sekitar empat tahun, seharusnya bukan tempatnya di sebuah acara yang sangat penting ini.
Namun kedua anak itu tampak sangat tidak masuk akal. Memandang penuh kegemasan menatap setiap orang yang di lewati dengan menaburkan bunga di setiap langkah mereka.
Melangkah hati hati sampai di depan mempelai pria.
Prosesi ini mengundang banyak kekaguman dan patah hati mengingat banyak sekali pemuja Tian baik kalangan teman, kolega, maupun bawahanya.
***
Andrian berbincang dengan sebagian orang orang pembisnis. Sebagian dari mereka adalah penipu ulung yang sangat pintar menghasilkan uang.
Sebuah lempar jawab pertanyaan tidak lebih sekedar hanya basa basi. Ada pula dari mereka yang menyisipkan suatu persekutuan yang tidak wajar.
Andrian menulikan telinganya dari para penjilat ini. Pelayan memberikanya satu gelas wine yabg tersiisa di nampannya. Dalam sekali teguk, wine itu tandas masuk ke sistem pencernaan Andrian.
Matanya mengamati seluruh ruangan. Selain kegembiraan sahabatnya, tak ada yang menarik bagi Andrian. Pandanganya jatuh pada gelas ditanganya lagi.
Sudut matanya menangkap sosok wanita menggandeng anak kecil dengan pria disampingnya.
Itu adalah Alex dan Bila. Yang digenggamnya adalah Denis. Anaknya Alex.
Kalau Andrian tak tahu sebelumnya mereka kakak beradik, pasti Andrian akan mengira kalau mereka adalah pasangan pasutri yang sangat harmonis. Dengan anak penyempurna hubungan itu.
Pundak Andrian serasa ditepuk. Tian tersenyum ke arah Andrian.
Ia sekarang sudah ditahap benar benar dewasa untuk dikatakan sebagai laki laki. Jadi Tian akan lebih memperhatikan sikapnya kepada siapapun.
"Kau belum mengucapkan selamat," Ingatnya.
Andrian tersenyum, Sahabatnya sudah menikah. Sangat cepat menurutnya, tapi ia juga senang.
"Selamat untuk pernikahanmu, Sekarang kau telah jadi suami. Jadilah suami yang bertanggung jawab," Ucap Andrian dengan hangat.
Tian tersenyum untuk ke kesekian kalinya. Ada jeda beberapa menit detik saat ia bertanya, "Kau tak ingin bertanya sesuatu kepadaku?"
Andrian melengos, mengahdap Tian.
"Maksudmu?" Tanya Andrian tak mengerti.
Tian memutar mutarkan gelas wine nya.
"Maksudku, seperti kenapa dia ada di sini," Tian menunjuk ke arah Bila.
__ADS_1
Andrian mentap Tian, mengambil wine dari seorang pelayan yang lewat.
"Kenapa dia ada disini? Bukanya kau agak tak suka kepadanya?" Tanya Andrian.
"Mamaku yang mengundangnya."
Andrian merenggangkan jarinya di sekitar gelas. Mengetuk ngetuk gelas itu dengan ibu jarinya.
"Kenapa Mamamu mengundangnya?"
Tian membuka mulutnya hampir satu setengah inchi saat seseorang merangkulnya juga Andrian.
"Yo!!!! Kemana aja dari tadi. Gue cariin lo berdua. Tadi gue kira kalian di culik."
Adit memiting kepala Tian dan Andrian.
Dengan kompak mereka melepaskan dirinya masing masing.
Adit yang merasa kelihalangan di kedua tanganya merayapkan tangan di balik saku jas yang ia kenakan. Tersenyum bodoh dengan rambut ikal yang lumayan panjang. Garis wajahnya yang memang bagus semakin tegas dengan bertambahnya usia.
"Kita sudah dewasa, sebaiknya ucapan kita juga harus dewasa. Aku sudah menikah, dan beban yang kupikul bukan lagi remaja atau lelaki lajang seperti kalian," Tian menyelipkan sebuah godaan alis yang menjengkelkan.
Mereka bertiga tertawa bersama sama.
"Oho, baiklah Tn. Tian yang terhormat. Selamat untuk pernikahanmu saat ini,"
Sekali lagi, mereka bertiga tertawa. Membuat semua orang memperhatikan mereka.
"Kau kesini dengan siapa?" Andrian meminum wine yang ketiga kalinya.
Menatap ke arah Adit dengan menyisir rambut yang tertata rapi. "Aku? Dengan Natasya. Tadi karena aku mencari kalian ke Gita, Natasya akhirnya mengobrol dengannya,"
Tian melihat ke arah Andrian. "Aku rasa hanya kau yang tidak punya pasangan,"
Mereka berdua tertawa. Wajah Andrian hanya datar, tak berniat melanjutkan topik ini.
"Jadi kau kesini dengan siapa?" Tanya Adit yang meredakan tawanya saat melihat orang yabg digoda tak merespon sama sekali.
"Siapa lagi kalau bukan adiknya tersayang. Mana mau dia menyewa wanita murahan untuk menemaninya walau satu malampun," Tian menjawab dengan mencolek lengan Andrian.
Mereka bertiga mengobrol dengan akrab. Sepertinya jarak maupun masalah masalah yang di lalui bukanlah bukti persahabatan mereka sudah berakhir.
Andrian ijin ke kamar mandi karena merasa suntuk dan terlalu banyak minum. Di toilet, Andrian membasuh wajahnya lebih segar. Menatap pantulan dirinya dicermin itu.
Ini dia sosok yang ia yakini tak akan pernah berpikir akan melukai orang lain dan lebih memilih menyimpan semua kenangan. Tapi rasanya ia tak sanggup. Setiap kali ia menimbun, selalu melibatkan dendam yang ia tutup dengan rapat.
Andrian meraupkan air ke wajahnya berkali kali. Melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Ia beranjak pergi dari toilet, menuju ke sahabat sahabatnya.
__ADS_1
Keluar dari toilet, Andrian dikejutkan oleh seseorang yang menghalangi jalan keluarnya. Dengan menggandeng Denis Bila tampak terkejut berpapasan dengan Andrian.
"Ayoo bibi, Aku mau buang air kecil. Aku tidak bisa sendiri jadi ayo temani aku,"