
MENUJU ABRAHAM
"Hannah....., semua sudah siap disini, istana bawah sudah dalam pengawasan diatas sini"
"Hmmmm, kau ....mau pergi lakukan hal penting...?", Hannah menangkap raut wajahku
"Bolehkan......?, ada yang harus ku urus di barat Edges"
"Barat.....?", Hannah agak terkejut
"Aku ingin bertemu Abraham, sebenarnya Liyana memintaku bertemu dengannya"
"Maksudmu....., Liyana ibuku?"
"Hmmm"
"Dia memintamu menemui Abraham?", Hannah agak mengerutkan dahinya
"Kami punya banyak hal yang harus dibicarakan, Kau tahu sendiri, Ayah tak pernah memberiku petunjuk. Abraham tetua yang seumur dengan The First, pasti dia banyak tahu"
"Oooooh , aku mengerti......", Hannah sangat cepat memahamiku, seperti biasanya
"Kapan kau mulai bersiap ke sana?"
"Malam ini"
***********
Perjalanan ke barat Edges dilakukan dengan lebih sedikit pasukan, tapi mereka lebih terlatih
Formasi burung segitiga dengan aku diatas, mereka menjadi tamengku bila ada serangan dari bawah
Pasukan ini, adalah yang tersisa dari pasukan pengawal raja milikku. Pasukan elit dari pasukan bersayap sebelum ku menjadi raja. Sebagian dari mereka tewas melindungiku. Aku turut bersedih, atas kehilangan mereka. Tapi....aku tak bisa berbuat banyak
Penyisiran Wei long terhadap jalanan kota, membuat mereka berkumpul lagi melindungiku. Saat ini mereka kubagi menjadi dua kelompok. Satu, bersamaku saat ini dan yang kedua melindungi Hannah dan anak-anakku
Kunjungan ke barat Edges harus lebih siap, mengingat disini adalah kampung dimana Hannah bersembunyi dari rongrongan Spain. Mereka semua membantunya, mereka sangat menghormati pemilik The First. Dan mereka pasti sudah mengenal kakekku itu
Kesetiaan kampung sembilan dan sebelas yang pernah Hannah ceritakan sepintas, membuatku percaya mereka semua adalah orang orang hebat yang menolak untuk bergabung dengan dewan penyangga. Aku yakin itu
Tepat diatas kampung sembilan, ada pilar kecil yang menyala. Pasukan mulai merubah formasi segitiga, agar saat pendaratan tetap bisa melindungiku
Kami mendarat dengan sunyi, tepat dirumah dimana, aku dan Hannah dinikahkan. Kenangan itu seperti baru terjadi kemarin. Hannah yang tak kuingat, dan dia yang tak bisa mengenaliku. Kami jatuh cinta lagi, untuk yang kedua kali
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, kedatanganku di ketahui oleh ketua kampung sembilan. Penampilan tua yang tak pernah berubah
"Yang Mulia Raja......selamat datang", sambutan formal ketua kampung sembilan dan seluruh penduduk kampung sembilan
Mereka berbaris rapi didepanku, bahkan wanita dan anak-anak. Pemandangan yang sangat menakjubkan seluruh kampung yang muda yang tua, membungkuk memberi salam padaku seperti berkomando militer
"Tak usah sungkan, ketua kampung, anda dan seluruh penduduk mengenal saya sangat baik, ketika saya lupa dan menjadi Andro, suami Hannah", aku melonggarkan rahang tertawa selebar mungkin, membuat suasana cair
"Silahkan yang mulia, silahkan masuk....", ketua kampung menyuruhku masuk ke rumah tamu, rumah Hannah dan anak-anak sebelum pergi ke Kingdoms
Aku melihat takjub, ke dalam rumah yang masih tersusun rapi dan nampak selalu dirawat. Aku melihat semua perabot yang Hannah gunakan disini. Mereka memperlakukannya istimewa, bukan main-main
Hannah diperlakukan spesial disini.
"Saya mendengar di inti Rocks sedikit ada masalah....", tanya ketua kampung sembilan sambil meletakan cangkir minuman berisi rempah diatas meja.
"Sudah tidak masalah lagi sekarang", memang sekarang suasana di Kingdoms sudah dapat dikendalikan
"Saya mengerti", jawaban datar ketua kampung sembilan
"Mungkin sebentar lagi, ketua kampung sebelas dan Abraham akan datang. Saya rasa Yang Mulia juga menantikan mereka", ketua kampung sembilan sangat pandai menilai watak. Aku ingat dulu dia tak setegang ini, saat mengusulkan pernikahanku dengan Hannah.
Aku tak bisa menyembunyikan maksudku, aku sangat tahu, inner dari kampung sembilan dan kampung sebelas. Mereka sangat diatas rata-rata
"Tentu Yang Mulia, ada Hannah yang selalu menjaga tetap dalam kondisi terbaiknya, untuk seluruh negeri", mulai serius tak ada senyum
"Kami tak bisa menerima dewan penyangga yang bersembunyi, kami tak ingin urus masalah kerajaan", sepertinya kedatanganku membuat mereka resah
"Saya tak punya niat menanyakan itu pada anda, dan saya yakin anda tahu, bagaimana posisi saya saat ini", aku tak bisa lagi berbasa-basi
"Jadi kedatangan Yang Mulia bukan untuk urusan dewan penyangga?", Ketua sembilan memang sangat ahli membuat prasangka
"Bukan, tentu saja bukan. Saya tak akan menempatkan anda pada situasi yang tak menyenangkan. Anda telah banyak membantu Hannah"
"Hannah.....!!!, jangan permasalahkan itu. Sekalipun kita ada beda pendapat, Hannah dan anak-anaknya tetap penduduk kampung sembilan", posisi duduknya mulai santai tak lagi tegang
"Jadi, Yang Mulia kesini untuk sesuatu yang sangat penting...., saya pikir", kali ini pertanyaan terlontar diantara seruputan cangkir
"Aku ingin menitipkan sesuatu dari Liyana"
"Liyana, Ibunya Hannah? Aku yakin itu pasti sesuatu yang istimewa. Liyana jarang berinisiatif"
"Mungkin.....Mungkin saja, saya tak tahu pasti"
__ADS_1
Di luar, cuaca agak gelap, "Mungkin sebentar lagi hujan", aku berkata refleks
"Tak masalah", cuaca jadi tidak terlalu lembab
"Hmmmmm", harusnya Abraham sudah sampai
"Akan hujan besar, dia harus memberi pengamanan dulu untuk pilar diatas", jawab ketua kampung santai
"Pengamananan? Untuk pilar?", aku tak tahu maksudnya
"Pilar di Edges adalah bangunan lama. Tak seperti bangunan pilar baru, di kampung sembilan atau seperti pilar-pilar baru yang anda baru buat"
"Aku pikir semua bangunan pilar memang merujuk yang ada di kampung sembilan ini", aku bertanya sedikit berpura-pura kaget
"Pasti ayahmu tak memberitahu, sejarah pilar pertama di Rocks", Ketua kampung sembilan mengisi kekosongan waktu menunggu Abraham, dia bercerita tentang awal mula ada bangunan pilar.Ceritanya kurang lebih sama dengan ayah, hanya sebab-sebab mengapa adanya berbagai peristiwa, diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda
"Pilar kampung sebelas merupakan pilar pertama. Pilar yang merupakan hasil pemikiran tajam para ilmuwan, agar atmosfir kita masih mempunyai kadar udara yang sama dengan bumi", Ketua kampung sembilan mencoba bercerita
"Para ilmuwan sepakat kita harus mempunyai suatu bangunan perisai, yang dapat memanfaatkan energi petir", Ketua kampung sembilan meneruskan
"Petir, penyaring udara kita. Aku tahu itu, itu diajarkan di sekolah", aku memutus ceritanya
"Tapi kau pasti tak tahu, mengumpulkan petir dan dimanfaatkan energi listriknya bukan hal mudah saat itu"
"Kekuatan manusia telah berubah menjadi ke arah inner, kekuatan dengan teknologi dari luar sudah mulai jarang, tapi pilar cahaya menyatukan keduanya". Sampai disini ceritanya dengan ayahku sama, tak berbeda
"Pilar pertama digagas oleh The First, dan dia yang mencari cara agar seluruh Rocks, mendapat pilar seperti diatas untuk menjamin kebersihan udara di Rocks agar tetap ditinggali oleh ras manusia", disini mulai berbeda
Ayahku berkata, The First bukanlah dibuat oleh kakekku begitu pula gagasan tentang pilar. Tekonologinya berasal dari kerja keras suku penyangga hijau. Dan teknologi dalam pedang The First ditemukan oleh gabungan ilmuwan dari suku penyangga hitam, kuning, coklat dan merah.
Menurut kakekku, pedang The First adalah mahakarya terindah dari bersatunya para suku.
Agar tak ada klaim mana suku yang paling berprestasi maka kakekku membuat seolah semua ide ide itu berasal darinya
Semua dimanipulasi agar seolah kakek sendirian yang memikirkan dan membuat segalanya
"Tapi,......kami suku putih, tentu tahu bukan seperti itu ceritanya, ha ha ha ha......", gelak tawa panjang ketua kampung sembilan membuatku terpana
Dia tahu cerita yang sebenarnya.....
"Membuat yang terhebat dan terpintar memimpin akan membuat krisis mental diantara suku lain, kami suku putih tentu saja punya cara lain. Kami memilih kakekmu untuk maju, dan kami akan mendukungnya sampai sekarang"
"Maksud ketua sembilan bagaimana, hal terakhir yang kau ungkapkan tak pernah kudengar", mungkin inilah sebab perlawanan luar biasa dari suku penyangga hijau
__ADS_1
"Naiknya ayahmu menjadi raja, adalah buah pemikiran bersama kami, dewan suku putih"