
HADIAH DARI BARAT EDGES
Pulang dari kampung sembilan, aku tak bisa banyak berpikir. Karena begitu banyak informasi yang masuk dikepalaku, rasanya otak ini tak mau lagi mengalirkan ide-ide.
Informasi dari Jack, Liyana dan Millard sudah sangat membuatku terkejut. Ditambah lagi informasi baru dari Abraham.
Dalam perjalanan terbang menuju ke Kingdoms, aku melihat pasukanku dari berbagai suku penyangga dengan setia mengikutiku. Mereka tak terpengaruh oleh bujukan sesama sukunya sendiri. Bahkan mereka rela mati untuk tetap ikut bersamaku. Mengapa?
Mereka melepas semua identitasnya, hanya untuk mendampingiku. Aku tak bisa banyak berpikir dalam perjalanan terbang, menghilangkan fokusku melawan angin.
Pasukan bersayap mengantarku pulang dengan selamat
Sampai di gedung militer, John dan Wei long menyambutku, "Bagaimana Andy.....kau mendapatkan hal yang kau inginkan?", John bertanya datar sambil menemaniku berjalan di lorong menuju kantor
"Sebagai raja, aku mendapatkan info lebih.....dari yang kubayangkan. Tapi
sebagai manusia biasa..., aku butuh waktu untuk ini semua", aku berkata lirih. John memandangku sekilas, "Aku percaya padamu kawan", dia menepuk punggungku.
"John, kau tunggulah dikantor, aku ingin bertemu istri dan anak-anakku dulu, Abraham dan penduduk kampung banyak menitipkan hadiah untuk mereka", aku berlalu dari hadapan John.
Wajahku sepertinya nampak murung, sehingga John bisa berkata sambil menepuk punggungku seperti itu. Sebelum ku ketuk pintu kamarku. Nafas panjang, dan berlatih tersenyum hangat sepertinya bisa menghilangkan wajah murungku
Aku ketuk sebentar, lalu aku masuk ke kamar, "Ayah....?!", Rossy selalu heboh. Dia menghambur memelukku dengan sedikit terbang.
Edward yang sudah besar tak mau ketinggalan dia memelukku sambil memeluk Rossy juga, "Iiiihhh Edward, sebelah sana peluk ayahnya.....jangan peluk aku juga!!", Rossy kesal sekali dengan tingkah Edward
"Tubuhku sudah besar Rossy, gak cukup di sana", Edward mencari-cari alasan.
"Sudah...., buka saja hadiah ini, dari kakek kakek di kampung sembilan"
"Waaaaah", Rossy kegirangan
Hannah yang sedari tadi melihat aku diperebutkan anak-anak mulai mendekatiku, "Kau lelah Andy...?", dia membantuku melepas setelan jas ku.
Dia sepertinya sudah tak terlalu marah lagi, kepergianku sebentar, agaknya membuat Hannah melunak. "Tentu saja,.....aku sangat lelah", kali ini bukan aku yang pasrah dipeluk, tapi Hannah yang kupaksa agar mau dipeluk olehku
Dia membiarkan keningnya bertemu dengan keningku, dari jarak sedekat ini, Hannah nampak seperti bidadari. Dia sudah tersenyum lagi
"Ayaaaaaah!!!!!", teriakan Rossy membuatku tak bisa lagi menikmati kecantikan Hannah
"Iya...Rossy!!"
"Ini...berat sekali"
"Pedang Abraham.....", tiba-tiba Hannah menggumam lirih
"Apa maksudmu Hannah!", balik aku yang kebingungan
"Itu yang dipegang Rossy, pedang Abraham", jawab Hannah sambil menunjuk pedang yang dseret oleh Rossy
"Apa! Pedang Abraham.....! Mereka bilang hadiah baru untuk anak-anakku"
"Itu pedang Abraham...Dia jarang menggunakannya, seringnya dia gunakan untuk menyimpan memori"
Aku tak habis pikir, mengapa mereka memberikan ini pada anak-anakku?
"Ayah.....lihat ini, pedangnya lebih berat!"
__ADS_1
Edward juga memegang pedang dengan gagang berwarna biru, permata hitam ditengahnya
"Itu punya ketua kampung sembilan...., Andy apa yang sebenarnya kalian bicarakan sampai Abraham dan Ketua kampung sembilan, mewariskan pedang mereka pada anak-anak kita?"
Hannah panik
"Aku juga bingung Hannah", aku harus mencerna ini semua dalam satu waktu
"Apa mereka punya pedang yang lain?", aku bertanya pada Hannah yang sama terkulai nya melihat pedang-pedang indah ini ada di tangan anak-anak kami
"Punya! Iya mereka punya, mendiang istrinya.....pedang indah satu lagi, kepunyaan mendiang istrinya, tapi.....dia punya anak? Mengapa tak diwariskan pada anaknya saja....!"
Pedang itu pasti seberat The First, tapi aku bisa membawa dua kotak kayu itu dengan ringan, seolah isinya hanya makanan kecil. Aku amati dua kotak kayu tempat pedang-pedang tadi disimpan.
Ada semacam logam mengkilat mengelilingi kotak nya. Ini pasti.....penyimpan inner. Teknologi yang sangat maju
Hannah mendekat, "Kau sedang mengamati apa? Kotak penyimpan kayu itu, pasti diselubungi logam yang mampu menyimpan energi inner kan?"
"Kau tahu...?"
"Iya aku tahu, logam itu selalu dipakai pasukan elit yang suka berlatih di atas pilar. Kata Abraham, logam itu menyimpan inner, yang memperingan teleportasi. Jadi, semua pedang pasukan elit, di selubungi logam itu"
"Kau kenal pasukan elit?"
"Hanya pemimpinnya saja, tapi tak pernah kenal wajahnya, selalu ber half shield"
"Namanya, apa kau tahu?"
"Tidak, Abraham tak pernah memanggil namanya. Dia hanya memanggil, Nak!"
"Kau bertemu mereka di kampung sebelas?"
"Ohhhh, aku tak bertemu mereka, hanya....Abraham bercerita...,itu saja"
"Ibu......, ini ada satu lagi kotak, tulisannya untuk Hannah!", Rossy berjalan ke arah Hannah
"Untukku?"
"Mereka menyayangimu"
Hannah membuka pelan, kotak kubus kayu itu, kuno sekali
"Aahhhhh, ini racikan rempah khas dari kampung sembilan.....Wanginya membuatku rindu ingin kesana"
"Setelah ini selesai, aku berjanji akan membawamu dan anak-anak kesana", Hannah mengangguk senang
"Ayah.....coba angkat pedangku!", pinta Edward
Pedang biru ketua kampung sembilan, pastinya ringan, aku pemegang My Love, pedang nomor dua di Rocks Collapse
"Astaga.....Edward, pedangmu berat sekali!"
"Ayah, jangan pura-pura, ini tak terlalu berat", kata Edward kesal
"Hannah, cobalah", istriku meletakkan kotak kubus berisi racikan rempah diatas meja, lalu bergegas mendekatiku
"Apa benar-benar berat?, Hannah bertanya lirih padaku
__ADS_1
Aku mengangguk mantap
Hannah adalah pemegang The First, semua pedang di Rocks Collapse takluk pada Hannah. Dia bisa membuat pedang apapun menurut
"Ya Tuhan Andy......, ini berat!", Hannah sama terkejutnya denganku
"Sayangku Edward", Hannah kini berjongkok menghadap ke wajah anak lelakiku
"Katakan sayang, waktu di gua bawah sana, kau bisa memanggil My Love dan The First bersamaan bukan?"
"Iya ibu...", jawab Edward sambil memainkan pedang biru milik ketua kampung sembilan
"Kedua pedang ibu dan ayah, apakah mereka berat?"
"Tidak bu, kedua pedang itu bahkan lebih ringan dari satu pedang biru ini"
Jawaban yang membuat aku dan Hannah membisu
"Hannah, apa mereka sering berlatih pedang bersama Abraham?"
"Bukan berlatih, bermain pedang, aku melihatnya begitu. Mereka tak nampak berlatih seingatku, mereka hanya bermain bersama Abraham menggunakan pedang mainan"
"Pedang mainan?!"
"Kau juga melihatnya, pedang yang dipakai untuk menerangi rumah gudang.."
"Untuk bermain.....listriknya sangat banyak....!"
"Iya aku tahu, tapi aku tak menyadari potensi anak-anak kita, aku......"
Aku memeluk Hannah yang nampaknya shock dengan kemampuan Edward, "Andy......kekuatan ku dulu saat anak-anak, tak sehebat Edward. Kau bisa bayangkan bagaimana nanti Edward?"
"Hushh.....tak usah dipikirkan, jalani saja"
"Kalau kau lelaki biasa, aku mungkin akan santai. Tapi kau raja negeri ini, Edward pasti akan menggantikanmu...!"
"Lalu...kenapa ? Bukannya kekuatan Edward hal yang sangat membantu!?"
"Aku hanya takut saja, aku tak ingin banyak orang iri padanya. Iri itu sumber masalah!", raut wajah Hannah berubah sinis
"Semua kekacauan negeri ini, diawali dengan irinya mereka pada keluarga kerajaan bukan?", pendapat Hannah didasari informasi awam
"Bukan kah begitu?", andaikan ku bisa menceritakan semua yang Jack, Liyana, Millard dan Abraham, serta para ketua kampung katakan padaku, dada ini tak akan terlalu sesak
"Iya,......karena iri. Mereka memberontak karena iri", Hannah masih terdiam
"Ibu....", Rossy memanggil
"Iya sayang"
"Aku tak mau pedang ini", Rossy membuat pedang Abraham melayang
"Aku mau yang ini!", teriak Edward
"Di kotak nya kan ga ada tulisan ini buat siapa?", Rossy membalas teriakan Edward
"Ok, kita akan menentukan pedang biru ini buat siapa sesuai seperti yang ada dalam buku petunjuk pemilihan pedang", Edward menantang Rossy
__ADS_1
"Ok, aku setuju, biar pedang-pedang ini yang menentukan siapa tuannya!"
Aku dan Hannah terpaku, siapa yang mengajari mereka bicara layaknya dua jendral perang?