Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Kingdoms Sepi


__ADS_3

KINGDOMS SEPI


"Maksud kamu apa Hannah?"


"Ini hanya pertempuran keinginan, tak serius!tak ada korban!"


"Korban sangat banyak......di gedung utama"


"Oooh, .... kupikir ini hanya pertempuran adu intrik saja"


"Mereka menantikan momen ini...."


"Mereka? Dewan?"


"Iya, tak ada yang benar-benar tunduk pada suku penyangga putih"


"Bukankah..... suku putih yang utama?!"


"Suku putih.....tak pernah jadi terhebat, kita hanya kebetulan tahu caranya menyatukan semua"


"Jadi.....kita harus bagaimana Andi?"


Aku sedikit lemas mendengarnya, menjadi suku putih ternyata tak seistimewa yang dikatakan banyak orang.


Kami semua sudah naik ke permukaan, menaikkan 120 orang ke atas kolam kecil sangat merepotkan. Tapi karyawan yang ikut bersama kami, kelelahan. Mereka ingin mencari keluarga mereka


Keinginan mereka untuk bertemu keluarga sangat kuat, setelah mengetahui aku dan Edward dapat masuk ke gedung dapur dengan bebas


"Kita tinggal di rumah gudang saja...", pinta Edward


Aku melirik ke arah Andy, lalu dia menganggukan kepala.


Rumah di dalam sangat rapi. Andi membawa kunci rumah yang berhiaskan gantungan sayap dikalungkan dilehernya.


Rumah masih rapi. Bahkan semua bajuku yang tertinggal masih harum dan bersih


"Andy.....pakaian pakaian ini masih bersih tak mau debu.."


"Aku merawatnya.....kehilanganmu, sangat mengganggu, aku harus sering ke rumah ini mengobati rinduku"


Jika tak ada Edward, ucapan semanis itu pasti diikuti dengan pelukan hangat.


"Andy kau harus memegang pimpinan lagi, jangan dibiarkan kacau negeri kita"


"Tentu saja Hannah, tentu saja!"


Hanya ada satu kasur di rumah gudang. Andi memilih tidur di sofa.


Sebelum tidur malam, Andy mengajukan pertanyaan yang mengganggu konsentrasiku


"Hannah, Rossy.....bagaimana?"


"Spain menjaganya, semoga mereka baik-baik aja"


********


Kelompok dewan penyangga tersebar ke seluruh kota di Rock Collapse. Kingdoms dibiarkan kosong, sebagai simbol hilangnya keluarga kerajaan Andromeda

__ADS_1


Jalanan sepi, tak ada aktivitas, sebagian besar penduduk mengungsi.


Tak ada yang perlu ditakuti disini. Hanya gedung kantor utama, tempat raja berkantor yang berbau gosong dan bercipratan darah


Tapi kami bertiga tetap waspada, kami sembunyi mengendap berjalan menuju istana kingdom


Saat ini, My King dan seluruh teman Andy terpencar. Menurut Andy ada kemungkinan mereka membelot mengikuti dewan. Andy hilang kepercayaan pada siapapun


Sampai di Istana Kingdoms, Andy mengeluarkan sayap kecil, lalu terbang pelan ke jendela sebuah kamar. Di depan kaca jendela dia mengetukan kode lalu jendela terbuka


Dia masuk duluan, lalu membuka jendela lebar-lebar agar aku dan Edward bisa masuk


"Ini kamar ayah....?"


"Iya"


"Kenapa tak pakai jalan depan untuk masuk?"


"Karena biasanya banyak tamu yang menunggu?"


"Kalau masuk lewat pintu samping atau pintu belakang?"


"Paling aman lewat sini Edward, tak ada yang tahu", Andy harus belajar bersabar dicecar rasa ingin tahu Edward. Walaupun badannya sudah sangat tinggi, tapi dia masih anak-anak


"Kita ke istana dalam, tempat aku bersembunyi dulu, mungkin teman-temanku ada disana"


Andy berjalan di depan, dia menekan kode di sebuah dinding yang kosong. Dindingnya rata catnya serupa, tapi dia tahu dimana harus menekankan jarinya.


Dinding kamar Andy terbuka, ada sebuah aula besar. Banyak kursi-kursi, mungkin ini tempat pertemuan. Aku dan Edward diam tak bicara, mengikuti langkah Andy.


Di tengah barisan kursi itu, Andy berjalan dengan pola tertentu. Kemudian berhenti disebelah kiri podium. Dia berhenti sambil melihat ke bawah sebuah ubin, bercorak berlian.


Aku otomatis langsung berjalan disamping Edward. Andy tak perlu langsung memintaku


"Kita akan berjalan berdempetan begini yah...?"


"Bukan berjalan, tapi turun dengan lift"


Andy menekan kakinya pada berlian di ubin itu, lalu lantai yang kami pijak bergerak dan turun ke bawah, seperti lift


"Andi ini sangat tak aman. Lift ini tak punya pegangan, kita bisa jatuh"


"Tunggulah Hannah"


"Sepersekian detik kemudian, dari seluruh sisi ubin yang bergerak ke bawah seperti lift ini, keluar besi melengkung dan bersatu diatasnya, ternyata lift ini aman.


Aku diam, malas bicara pada Andy. Andy melirik dan mengulum senyumnya ke arahku


Edward menyentuh besi yang membuat kami seperti didalam sangkar.


Lift berhenti tepat disebuah pintu. Diantara pintu yang lain.


"Ini istana dalam, tempat keluargaku bersembunyi"


Pintu dibuka dengan didorong. Nampaknya Andy kesusahan mendorongnya. Aku membantu, aku tahu aku lebih kuat


Edward melangkah mundur ke sisi lift.

__ADS_1


"Kenapa macet pintunya?"


"Karena bertahun tahun tak dibuka"


"Ayo bergerak bersamaan Hannah!"


"SATU DUA TIGA!!"


Pintu bergerak terdorong ke arah dalam. setelah beberapa langkah pintu ini seperti bergerak sendiri dan berhenti di sisi ruangan yang lain


Istana bawah yang Andy maksud adalah seperti rumah. Tak sangat rapi, banyak benda dimana mana


"Andy, ini istana ini seperti sering dikunjungi?"


"Iya pintu masuknya bukan hanya dari istana utama. Teman-temanku masuk lewat pintu lain"


Andy bergegas menuju ruangan lain. Aku dan Edward duduk melepas lelah di sebuah sofa abu-abu kehijauan panjang


Kami tak bicara, sampai terdengar suara Andy tertawa bahagia di salah satu sisi ruangan


Ternyata Andy berjalan bersama rombongan orang. Laki laki perempuan dan anak-anak.


"ini Hannah dan Edward", kami mengangguk pada rombongan orang itu


"Hannah, perkenalkan ini keluargaku. Ini keluarga kakak dari ibumu. Liyana


Aku dan Edward langsung bergerak mendekat dan memberi salam


"Ini Hans, Wei long,John dan Meridian"


Mereka menepuk-nepuk punggung Andy. Mereka sangat dekat dengan Andy


"Mari silahkan duduk...." Andy mempersilahkan mereka semua duduk. Ada yang tidak mendapat tempat duduk. Mereka dengan mudahnya berinisiatif duduk di karpet yang sangat indah


"Sudah berapa lama memasuki istanaku?"


"Sekitar dua hari Andy, maaf tante asal masuk ke sini" Jawab seorang ibu yang kelihatannya lebih tua dari ibuku. Senyumnya mirip dengan ibu


"Tak apa tante"


"Aku datang pertama", sahut lelaki berambut hitam, teman Andy, John. Membuat perhatian semua teralih pada John


"Aku tak terpikir tempat lain. Kantor militer kacau. Kami diminta berpihak pada salah satu dewan. Pimpinanku Spain, dia tak ada. Pasukan ku kacau. Aku melarikan diri, bersama adik dan orangtuaku"


"Semua akan diperbaiki, kita akan hidup damai lagi", jawaban Andy menenangkan semuanya


"Yang Mulia", suara lelaki yang sangat kukenal


Dia berpakaian putih, seperti pasien rumah sakit. Tubuhnya kecil dan kulitnya sangat pucat


Andy berdiri, dan mencari suara yang tak asing baginya. Suara lelaki yang juga kukenal


Dia duduk di sudut, dibelakang. Semua mencari sumber suara itu


"Pak Jayana sudah bangun, aku bertemu di luar gedung rumah sakit", Hans mencoba bergerak diantara kerumunan orang mendekati sosok yang dia katakan sebagai Jayana


Dia memapah Jayana mendekati Andy. Andy langsung memeluknya."Jayana....terimakasih kau sudah bangun!". Andy memeluk kerinduan seperti sahabat lama yang jarang bertemu. Andy memeluknya erat sekali

__ADS_1


Jayana pasti bangun dari vegetatifnya tanpa ditemani dokter. Dia berjalan keluar gedung dengan pakaian pasien. Oh Jayana.....


__ADS_2