Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Awal suku putih yang berbaur


__ADS_3

AWAL SUKU PUTIH YANG BERBAUR


Berdiri di samping Hannah yang tak sadar sudah tiga hari. Aku tak pernah menyadari Jack dan Liyana adalah suku putih yang berbaur. Mereka tak mau lagi menjadi bagian dari sisa kekacauan.


"Brenda, sudah saatnya kau masuk sekolah, jangan tidur terus....!"


"Mamah ntar dulu bangunnya, matanya masih ngantuk! jawabku kesal dibangunkan mamah.


Tak tahu hari itu adalah hari terakhir kami bertemu.


"Mamah kenapa pagi gini udah siap-siap pergi sih?"


"Ntar bisa jemput ga mah?" , tanyaku sambil makan kentang goreng dan meat ball kecil buatan mamah.


Rasa masakan mamah yang masih menempel di ujung-ujung saraf lidahku sampai kini, tak pernah lupa.


"Kayaknya ga bisa Brenda, Mamah sama Papah sibuk sekali di kantor."


"Kenapa mah....Keluarga Sammy nakal lagi yah...." , tanyaku sok tau.


" Dah dimakan dulu sarapannya, dihabisin tar mamah anter sampe sekolah, ga usah ikut jemputan".


"Horrrreeee!!!!!"


Kami naik lift penghubung, hari itu ramai sekali, mamah sampai menggendongku di lift, supaya tak tergencet.


Setelah keluar dari lift kota Dams. Kami akan masuk ke lift menara besar untuk menuju Kingdom.


Tapi kami tak pernah naik lift itu.


DUAAAAARRRRR!!!


Menara lift penghubung di serang petir berkali-kali. Mamah membawaku berlari, yang kupikir sejauh mungkin dari menara lift.


Penyerangan yang tak di duga membuat militer datang terlambat. Sudah banyak yang terkena petir. Keadaan kacau, bangunan hancur, banyak korban berjatuhan dimana-mana.


Hanya sepuluh menit, Kota Dams hancur.


Dari belakang semak tempat kami bersembunyi, aku melihat anak perempuan seumuran denganku menangis, kakinya gosong terluka kena petir. Dia berusaha meraih boneka yang terjatuh di dekatnya.Tapi dia tak bisa meraihnya. Aku hanya bisa melihat.


Ayah menelpon, "Mamah baik baik aja kan, Brenda gimana!?? , Ayah sibuk bertanya.


Aku lepas dari pegangan mamahku. Aku kasihan melihat bocah kecil itu.


Aku keluar dari semak hendak mendekatkan boneka itu padanya.


" BRENDAAAAA!!!!!!!!" , Mamah memelukku, hangat sekali, lalu mencium keningku. Air matanya menetes. Kemudian mamah diam, sayap kecilnya yang keemasan terbuka sebentar melindungiku anak yang tak patuh.

__ADS_1


Mamah diam dalam posisi memelukku, tak ada yang peduli, semua berlarian menyelamatkan diri.


Dalam hangat pelukan mamah kulihat pasukan hitam bersayap di angkasa mereka memukul mundur keluarga Sammy.


Mereka hanya sepuluh menit terlambat dan mamahku sudah tak ada.


Salah satu pasukan bersayap itu mendekat, kemudian mengambilku dari pelukan mamah.


"Ayaaaah!!!".


Aku menangis sejadi-jadinya. Menyesalkan kedatangan ayah yang terlambat dan aku yang tak patuh.. Mamah tak ada lagi.


Ayah tak sama lagi sejak kepergian mamah. Aku besar di asrama, jarang menemuinya sampai sekarang.


Mamah suku pengisi yang punya kekuatan elektrik. Sedangkan papah suku penyangga. Wajah papah tak menua. Hanya sedikit memudar rambut putihnya bercampur warna lain.


Hannah murni suku putih, semua kelebihannya hanya bisa dipunyai oleh suku penyangga. Tapi Hannah bisa makan semua pantangannya. Jack dan Liyana sengaja tak membuat Hannah bersekolah tinggi.


Mereka tahu Hannah istimewa.


Sayap emas sebesar itu tak mungkin dipunyai suku pengisi. Bahkan tak mungkin di punyai oleh suku penyangga lain, hanya suku putih.


Hannah tertidur seperti putri salju. Aku dan Andy menjaganya di kamar ini. Setiap pagi, pihak Kingdom terus menerus meminta ijin Andy, untuk memeriksa Hannah. Andy selalu menolak.


"Andy......mengapa semua orang di Kingdom meminta ijin dari kamu, untuk Hannah?"


"Saat di test kursus kemarin, Hannah dipanggil Nyonya Andy, oleh semua temanku".


"Aku tak keberatan Brenda, Hannah dipanggil Nyonya Andy, siapa yang berani melawanku...."


"Hannah juga tak masalah."


"Jangan- jangan bulu sayap itu...?


"Iya, itu milikku, entahlah jika bersama Hannah aku selalu bahagia, semua diluar kendaliku".


"Andy, kau benar-benar mencintai.....'


"Aku sangat mencintainya...." , bisik Andi lirih.


" Hannah bukan keponakanmu, Brenda, dia murni suku putih....Dia memakai warna bunga racikan yang sangat kuat menutupi warna asli rambutnya"


"Kau tahu Andy, aku tak bisa memberi tahu kamu apapun tentang Hannah. Dia seperti anakku". Brenda menatap langit kamar.


"Aku juga sama terkejutnya denganmu".


Hannah gelisah, seperti sedang mimpi buruk. Aku membelai rambutnya agar dia tenang. Hannah semakin gelisah. Andy menyingkirkan tanganku, dia memeluk Hannah yang terpejam. Andy sangat berbeda kepada Hannah.

__ADS_1


"Hannah, bangunlah, kau sudah terlalu lama bermimpi". Gumam Andy sambil menciumi rambut Hannah"


Aroma apa ini, menyegarkan sekali, harumnya membuat ku gila. Andy...


"Hannah, kau sudah bangun".


"Aku panggil dokter dan ambil peralatan dulu, mau cek kondisi vitalnya" Brenda berlari meninggalkan kamar.


"Hannah!!!!matamu merah. Kendalikan dirimu"


"HANNNNAH SADARLAH!".


Aku tak mau begini, walaupun aku sangat menginginkannya, tapi Hannah saat ini dikendalikan oleh yang bukan dirinya. Tubuhnya berubah terlalu cepat, hormonnya kacau.


Hannah menjadi terlalu bersemangat.


HANNAH MAAFKAN AKU.


Kilatan cahaya petir membuat Hannah melepas pelukannya. Aku berdiri menjauh. Duduk tertunduk lemas, Hannah menatapku lagi dengan matanya yang merah itu. Kemudian dia berdiri berlari secepat kilat mendorongku ke tembok. Hannah melancarkan aksinya lagi.


Ya Tuhan ini Hannah...Aku tak sanggup mencelakainya.


Aku harus pasrah, agar dia tidak terlalu memaksaku.


Hannah mulai mengendorkan cengkramannya.


Maaf Hannah...Aku bisa bergerak pelan memeluk ke belakang punggungnya dan dengan gerakan yang sering kutunjukan pada anak buahku, kuikat tangannya. Kududukan dia di kursi, ikat yang kencang, kupakaikan lagi semua yang tadi kulepas.


Mata Hannah masih merah. Menatapku


Brenda datang...


"Kenapa lama sekali !!" kalau Brenda lebih cepat aku tak harus membuat Hannah seperti tadi.


"Dokter jaganya ijin bentar, lagian cuma 15 menit".


Kau tau Brenda 15 menit itu lama sekali, aku ingin menjaga kehormatan Hannah. Tapi tak mungkin kalau Hannah bersikap seperti tadi. Aku harap Hannah lupa yang dia lakukan padaku tadi setelah sadar nanti.


"Tanda vitalnya normal. Matanya merah, hormonnya kacau" , Brenda menyuntikkan hormon tertentu pada Hannah. Kemudian Hannah tertidur lagi


Saat Hannah tertidur pulas, Brenda mendekatiku.


"Andy, kau. . . suku putih yang berkuasa??? ,tak ada yang berani menyentuh Hannah, karena kamu membiarkan dia dipanggil Nyonya Andy". Brenda berhati hati mengatur bahasanya.


Andy tersenyum tanpa memandangku, hanya Hannah yang mampu membuat Andy memfokuskan pandangan.


Setelah beradu kekuatan penuh hasrat tadi, aku tak bisa konsentrasi lagi mendengar Brenda bicara. Aku butuh waktu mengatur detak jantungku, yang berdegup keras sekali.

__ADS_1


"Brenda, aku ingin tidur sebentar". Duduk sambil memejamkan mata, biasanya ini manjur untuk mengusir penat. Tapi kali ini, wajah Hannah yang menggodaku tadi tak mau pergi. Sial, aku masih menginginkannya.


__ADS_2