
KEMBALINYA SAHABAT-SAHABATKU
Aku dan Hannah mundur pelan, memberikan mereka ruang, di kamar yang cukup besar ini
Pedang bermata hitam yang sangat biasa, dan pedang biru yang sangat indah
Kedua pedang itu, terbang rendah diantara Edward dan Rossy yang berdiri dan saling siaga. Mata mereka menuju pada pedang
Keduanya mengarahkan telapak tangan lurus ke depan ke arah pedang pedang itu. Aku dibuat takjub, seakan mereka sudah sering melakukan hal itu.
"Cara memperebutkan senjata, mereka belajar dari mana?, Hannah.....Hannah....", istriku fokus melihat Edward dan Rossy saling beradu kekuatan
"Hannah......?"
"I ii iyya, mereka belajar dari Abraham tentu saja"
"Abraham mengajari mereka cara seperti itu?"
"Iya, mereka sering melakukannya, mereka sering bermain seperti itu! Apa ada yang salah?"
"I i itu, cara dua pemimpin perang memperebutkan senjata, jika perang tak kunjung usai"!
"Benarkah?, cara kapan itu?"
"Cara bumi, sebelum pecah, saat inner sudah menjadi kekuatan utama"
"Oooh", Hannah tak mengerti ketakutanku
Abraham memang sudah menyadari besarnya kekuatan anak-anakku.
Sekarang dari kedua tangan mereka keluar cahaya, lalu cahaya itu mengenai kedua pedang. Seketika kedua pedang menjadi berputar dengan kecepatan yang terus bertambah
Kedua anakku, kini melayang. Kaki mereka ke arah belakang, seperti tidur telungkup, tapi tangan mereka ke depan. Kekuatan pedangnya juga hebat, sehingga beraksi seperti bermagnet . Rambut Edward dan Rossy berdiri terbang
Lalu, mereka berdua juga terbang berputar, searah dengan putaran kedua pedang tersebut
"Hannah....! Apakah kau merasakannya, kekuatan mereka sampai ke tempat kita berdiri"
"Tenang Andy, mereka juga diajari untuk membuat batasan agar kekuatan mereka tak mencelakai orang", jawab Hannah santai
Benar saja, satu tangan ke arah pedang, satu tangan membuat perimeter di sekitar mereka terbang
Aku jadi berpikir keras, sudah sejauh mana, Abraham mengajari anak-anakku?
Kini cahaya mereka menjadi keunguan, perlahan mereka berdua berdiri diposisi semula. Tangan nya pun sudah berada di sisi badan mereka
Sekarang giliran si pedang menentukan masternya. Putaran yang dilakukan oleh dua pedang itu, sangat cepat, sampai tak terlihat lagi bentuk pedangnya, hanya warna kilatan cahaya
Lalu pedang itu terlempar ke arah Rossy dan Edward.
Pedang Abraham menjadi milik Edward, pedang biru ketua kampung sembilan menjadi milik Rossy.
Rossy senang sekali.
"Mengapa aku tak dipilih oleh si biru?", Edward menggumam lirih
Hannah mendekat ke Edward yang nampak bersedih. Dia mendekat sambil memanggil The First, lalu dia juga meminjam pedang biru dari Rossy
"Pinjam dulu sayang?", Hannah berkata lembut pada Rossy
"Edward, pedang selalu tahu siapa tuannya, mereka adalah pengamat yang baik. Mereka mengenali tuannya, dengan melihat kekuatannya"
Edward mengangguk mengerti, sambil meneteskan air mata
"Buat sebagian orang yang kekuatan innernya dibawah ibu, The First sangatlah berat"
Edward mengangguk lagi
"Coba kau pegang lagi!"
"Apakah the First berat?"
"Sangat ringan bu"
__ADS_1
"Sekarang giliran ibu, coba kau bawa kesini pedang pemberian kakekmu"
Edward menyerahkan pedangnya dengan kedua tangannya yang masih lembut, tangan yang masih murni
"Wouw, ini berat sekali" Hannah kaget
"Pantas saja Rossy marah....", gumam lirih Hannah terdengar olehku
"Pedang biru dan pedang Abraham, menurutmu berat mana?"
"Pedang kakek bu", jawab Edward pelan
"Rossy, menurutmu pedang mana yang paling berat?"
"Pedang kakek bu!", jawaban yang sama
"Sayangku, Rossy....The First dan pedang biru, mana yang lebih berat?"
"Pedang ibu sangat ringan!", gadis mungilku menjawab sambil mengayunkan badannya ke kanan dan ke kiri, sangat manja
Aku bisa melihat Hannah sama kagetnya dengan diriku. Tapi kami berdua berusaha tak memperlihatkannya
Kini, bahkan aku pun takut untuk bertelepati lokal dengan Hannah. Dengan jawaban ringan untuk The First, sudah pasti, semua jenis telepatiku dengan Hannah dapat dirusak oleh mereka berdua
"Oke, sudah siang, saatnya kalian makan.....", Hannah berdiri dengan gontai. Bibir merahnya pura-pura tersenyum dan mata indahnya melirik tajam padaku
"Letakkan pedang kalian pada kotak pemberian kakek...!"
Mereka berdua menurut, Edward masih berjalan pelan, lalu melihat bolak-balik ke arah pedang Abraham, dia masih tak terima
Aku ikut menyiapkan makan siang mereka.
Perjalanan ke barat Edges cukup lama. Sehingga aku harus menginap, dan baru pulang menjelang pagi hari
"Ayah...tadi pagi sudah makan bersama kakek?", Rossy bertanya dengan sangat manis
"Sudah.....sudah"
"Hmmmmm, ayah penasaran, adakah teman kalian yang pernah menganggap kalian kembar?"
"Tak pernah ada yah"
"Wajah kami bukan kembar identik, mungkin sewaktu kecil agak mirip....., tapi sekarang sangat berbeda"
Suasana menjadi cair, Edward bisa lagi tersenyum. Pertanyaan tentang "kembar", selalu jadi solusi untuk mencerahkan suasana
Akhirnya kami bisa makan siang dengan normal
"Sayang, aku harus ke kantor dulu, John sudah menungguku", Hannah pasrah dikecup keningnya
*************
"Andy,.....aku punya kejutan untukmu", John langsung keluar ruangan begitu aku tiba di kantor
Ada apa dengan John?
Tok tok tok, pintu di ketuk
"Masuk"
""Hai Andy...."
"Sam!!!!"
"Macbirth"
Dua sahabatku kembali
"Aku pikir kalian sudah terkena......."
"Panjang ceritanya Andy, kalau mau dengar, ijinkan aku duduk di kantormu dulu"
"Ha ha ha ha ha"
__ADS_1
Kami tertawa bersama lagi
"Jadi, apa ceritanya......"
"Kami berdua menghilang dan pindah tempat di kafe tua di kota Nein"
"Lalu....."
"Aku pernah membaca profil Hannah, jadi aku yakin, kafe Mimmi adalah kafe yang ada dalam profil Hannah"
"Lalu....."
"Ya, sudah......"
"Ha ha ha ha ha", Macbirth riang sekali, aku kebingungan
"Mimmi itu.....", Macbirth mulai bercerita
"Saat ku beritahu, kami teman Hannah, dia tak langsung percaya"
"Tapi saat ku katakan, Hannah super kuat, dan sangat pintar, lalu kuberi sedikit potongan memoriku......,dia langsung memberi pelayanan yang istimewa"
"Kami tidur di kamar Hannah, di lantai tiga paling atas. Kosong hanya kasur.....katanya isi kamar sudah dipindahkan ke rumah Dokter Brenda", jelas Sam
"Iya, Brenda, istri Brian"
"Aku baru tahu.....", Macbirth kaget
"Kemana saja kau selama ini Macbirth, kau tak tahu, istri Brian kerabat dekat Hannah?!", Sam menggeleng-gelengkan kepalanya, sengaja agar Macbirth kesal
"Kau....ini...jangan melebihkan masalah. Aku ini pernah sakit parah, hilang keseimbangan....., aku pasti banyak ketinggalan berita, wajar saja...", Macbirth terpancing
"Sudahlah Sam.....", aku tak mau suasana tegang ini berlarut
"Mari kita minum.....", John sudah menyeduh racikan rempah yang aromanya tak asing
"Tadi sebelum kemari, aku berpapasan dengan Hannah, dia memberiku racikan teh dari barat Edges", terang John
"Kau tahu dia hanya memberiku segini", John memperlihatkan mangkuk kecil, wadah minum dari keramik yang sangat mungil
"Ha ha ha ha ha", giliranku yang tertawa terbahak-bahak.
"Aku tak menyangka Hannah sangat pelit", Sam menggumam
"Mungkin karena racikan rempah ini spesial buat Hannah", aku menjelaskan
"Coba kalian cicipi, aku tak akan meminta, di rumah maksudku di kamar, Hannah pasti menyiapkan untukku"
John ahli menyiapkan racikan teh, walaupun gayanya tak anggun seperti ketua kampung sebelas, tapi urutannya sama
"Ini silahkan....."
Mereka bertiga meminumnya sangat cepat, tanpa di hisap dulu aromanya, lalu dinikmati..
"Ini luar biasa......"
"Aku tahu mengapa Hannah sangat pelit"
"Sepertinya, rasa seperti ini..... sangat langka"
"Mungkin aku harus menukarkan benda berhargaku ke Hannah, agar bisa mendapatkan lagi racikannya", John mulai tak waras
"Aku ambil sedikit, untuk Meridian, mungkin dia tahu cara membuatnya", giliran Sam punya ide
"Kalian benar-benar menyukainya....?"
"Tentu saja, Andy......"
"Tentu, kau tidak suka?", Macbirth mulai berasumsi sendiri
"Bukan, bukan begitu...., aku akan memintanya sendiri ke Abraham nanti kalau aku ke barat Edges"
"Untuk kita...? Bukan Hannah?", Sam memelukku
__ADS_1
"Ha ha ha ha", gurauan mereka membuat ku tertawa
Aku akan sering ke barat Edges, aku butuh bimbingan mereka