
SAKIT KEPALA YANG LUAR BIASA
Aku terbangun di kamar sendirian, dengan perban di kepala dan dadaku. Sepertinya aku terbentur cukup keras tadi. Kepala ku agak pusing.
Ada suara bel, pintu kamar tak terkunci. Kamar disini seperti penjara di kunci otomatis dari luar.
Di layar tertera makan malam, tadi pagi latihan di medan tempur berbatu, aku pingsan cukup lama.
Di ruang makan, aku berkumpul bersama tim ku. Kali ini ada yang menyapaku dengan benar. Kami bahkan sedikit berbincang.
"Bagaimana Andy, kepalamu masih pusing?", tanya Pak Joseph, "Masih sedikit", jawabku sambil memegang keningku yang pusing.
"Pusing Andy?", giliran Nathan yang bertanya.
"Iya"
"Hati-hati jangan keseringan tertembak, nanti kau jadi linglung, lihat Noah, dia sering tak ingat namanya, keluarganya pun lupa. Senjata itu mengandung zat yang bisa membuatmu lupa". Nathan menjelaskan padaku bahayanya sering tertembak.
" Sekali lagi tertembak, Noah akan seperti patung berjalan, tanpa nyawa tanpa ingatan. Kau tahu siapa yang dia lupakan pertama kali, adalah yang paling ingin kau temui ketika kau sekarat", Kris mencoba bercerita keadaannya padaku.
"Aku sudah tiga kali dikirim kesini, dan aku ditampar puluhan kali oleh istriku ketika kemarin pulang. Karena aku mengira masih bujang, padahal anakku sudah dua, ha ha ha ha", mata Kris berkaca-kaca menceritakan ini.
"Kau tahu, ketika kau sekarat, yang ada di pelupuk matamu, hanyalah keceriaan keluargamu yang kau tinggalkan di Rocks. Selalu tertawa riang mereka yang ada di ingatan terakhirku. Dan ingatan itulah yang pertama menghilang ketika kau terlalu sering tertembak di medan perang simulasi tadi", Kris tak makan hanya bicara itu.
"Sudahlah Kris, setidaknya kau punya keluarga tempatmu kembali ketika kau pulang ke Rocks. Kau bisa diingatkan lagi. Aku, Nathan dan Noah tak punya pengingat, kami selalu seperti orang baru ketika kembali". Pak Joseph menambah kengerianku pada senjata ini.
Aku diam mendengarkan mereka bicara, mungkin bukan latihan fisiknya saja yang mengerikan tapi juga kehilangan ingatan akan kehidupan di Rocks, sebelum di kirim ke Kiehl.
Setiap malam, selalu ingatan akan Hannah yang menghiasi malam-malamku. Aku ingat aroma tubuh Hannah saat terakhir kali memeluknya di tenda darurat Rumah Sakit Tepian, selalu wangi rambut yang sama.
Ada kalanya aku mengingat Jayana, bertanya tanya tentang keadaannya sekarang. Tapi itu ingatan yang menyedihkan, keputusanku yang salah membuat Jayana menderita. Aku tak ingin sering mengingatnya.
__ADS_1
Keceriaan Hannah dan kesalnya dia ketika kugoda, masih menjadi obat lelahku tiap malam.
************************************************
Sudah tiga bulan aku di Kiehl. Sepertinya aku sudah hafal bebatuan di medan simulasi tempur. Luka di awal latihan tak pernah lagi terjadi padaku. Simulasi perang hanya tiga bulan sekali. Jarang, tapi efeknya untuk selamanya, seperti ingatan Noah.
Kali ini aku merasa percaya diri, aku akan lulus di tes medan perang kali ini.
Noah satu tim bersamaku, aku dipercaya oleh yang lain untuk menjaga Noah.
Bunyi peluit panjang, game dimulai. Aku dan Noah duluan berlari, aku tak bisa berkomunikasi dengan Noah, tapi dia mengerti aba-abaku. Aku berhasil melewati tiga rintangan, sejauh ini tak ada masalah.
Nathan, Kris dan Joseph masih di rintangan kedua, mereka menunggu serangan peluru dari berbagai arah mereda. Ada jeda sebentar, Joseph berlari ke arahku. Kemudian tembakan beruntun datang lagi.
Jeda lagi, Kris dan Nathan, datang bersamaan. Kami sukses berada dirintangan ketiga.
Menuju ke rintangan ke empat, tak ada batuan besar, di depan sana, hanya kerikil kecil. Tapi itulah yang membahayakan, gerak kami jadi ketahuan karena lapang tempurnya lebih terbuka.
Saat tembakan beruntun reda, aku berlari secepat mungkin, di tengah lapangan kerikil kami ditembaki, aku dan Noah tiarap, melindungi diri, aku berpikir, mungkin mesin dengan sensor gerak yang menjalankan rentetan tembakan tadi. Ketika aku dan Noah diam tak bergeming, telungkup, tembakan itu berhenti.
"Noah. kau masih bersamaku?", tanyaku pada Noah, yang berada di sampingku. Dia hanya melirik, lalu tersenyum.
Sepertinya tembakan tak berhenti, sudah tiga menit. Bertempur di area terbuka, memang butuh kesabaran. Karena kamu sangat terlihat.
Aku lihat Noah mulai gelisah, dia selalu menengok ke kanan kiri, "Noah, lihat aku, bersabarlah, tunggu sebentar lagi, hanya lima menit lagi, kau bisa kan", dia hanya menatap ku tajam.
"AAAAAARGGGGG", Noah tak kuat diam, dia memutuskan berdiri dan dor dor dor, "Noah jangan lagi........…", aku berdiri melindungi Noah yang sudah terkapar. Puluhan senjata bius menghujam tubuhku. Rasanya hanya pedih diawal.
Aku lihat Hannah menuruni tangga, rambutnya terurai, senyumnya membentuk lengkungan bibir indah, yang sulit dilupakan. Hannah aku merindukanmu.
************************************************
__ADS_1
"Hai Andy, kau sudah bangun", Noah kau selamat, kau mengingatku. Syukurlah kau selamat.
"Ahhh kepalaku sakit sekali!", kenapa kepalaku sakit seperti ada yang memukuli dari dalam otakku.
"Andy, Andy! Kau kenapa, sakit sekali kah!, maafkan aku Andy, kau harus mengalami sakit kepala seperti ini, Maafkan aku Andy", Noah menangis, aku......aku tak tahan melihat dia seperti itu.
"Pergi kamu....PERGIIIIII !!!!!, aku benci sekali melihat wajah cengengnya. Ahhhhhhh sakit sekali kepalaku, "Dokteeeeeer, bisakah kau memberikan obat untuk kepalaku, sakit sekali dok!", seorang dokter mendampingiku, memegangi tangan ku agar tak memukuli kepalaku, "Tenanglah Pak, sebentar lagi sakit mu reda", ada sakit seperti tertusuk jarum di punggungku, semuanya menjadi tak ada suara, aku lihat mereka semua memegangiku, banyak sekali yang memegangiku, aku tak dapat mendengar suara, mulut mereka hanya komat kamit panik, tak bersuara, ada suara berdengung keras sekali......ahhhhh sakit sekali telingaku......."BBUUUUUUK"!
" Hai Andy, kau sudah sadar, kepalamu masih sakit Andy", ada Noah di depanku, syukurlah dia mengingatku, dia selamat.
"Noah , aku haus sekali, bisakah kau memberiku air?", Noah bergegas mengambil air, seorang berpakaian putih mendekatiku, "Anda sudah siuman, bagaimana rasanya, apa ada yang terasa sakit?", dokter ini ramah sekali.
"Hanya haus dokter", dia memeriksa mataku, "Anda kuat sekali pak, sewaktu anda terbangun pertama, ada tujuh orang yang memegangi, ok semuanya normal, anda hanya butuh istirahat", dokter ini pergi, mengecek keadaan yang lain.
"Andy, apakah kau lapar?"
"Aku hanya haus Noah, mungkin sebentar lagi aku akan lapar"
"Joseph, Kris dan Nathan, akan mengunjungimu sebentar lagi", Noah mengatakan itu sambil tersenyum.
"Kau menjagaku terus Noah, terimakasih, apa kau sudah makan?", dia menggelengkan kepalanya.
"Sana kau pergi makanlah, aku baik-baik saja, lihat banyak dokter dan perawat disini"
"Baiklah", Noah pergi sepertinya dia yang lapar.
Bangsal ini, penuh pasien yang tertidur, hanya aku yang terbangun. Mengapa dokter tadi mengatakan, aku dipegangi banyak orang ketika bangun pertama kali?, apakah aku mengamuk? Membuat onar? Aku tak ingat apa-apa. Yang pasti sekarang tubuhku segar sekali, tak ada yang terasa sakit.
Ada sekotak makanan di atas meja sebelah ranjangku, ini pasti makanan rumah sakit untukku. Masih hangat, bubur sop rusa, makanan ini enak sekali, sayang ini cuma bubur dan kuah. Kalau ada dagingnya pasti lebih enak. Tiba-tiba ada perasaan sedih menyerang dadaku, aroma bubur ini membuatku ingin menangis, mengapa?
Perasaan apakah ini, mengapa aroma bubur ini menyentuhku? Apakah aku kehilangan ingatan yang penting seperti yang lain karena tembakan itu? Kuat, aku harus kuat, setidaknya aku masih mengingat kejadian di medan simulasi tempur itu, aku masih ingat Noah, dan semua yang disini. Aku masih mengingat Jayana yang sakit, aku masih mengingat Ayah, ibu dan semua yang di Rocks, aku masih mengingat semuanya, aku tak lupa. Senang sekali rasanya aku masih mengingat semuanya.
__ADS_1