Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Hari Baru Sebagai Andro


__ADS_3

HARI BARU SEBAGAI ANDRO


"Andy, aku akan memasukanmu ke kantor administrasi, kau terdaftar atas rekomendasi Spain", ayah memberitahuku pagi ini.


Spain, punya banyak koneksi untuk bisa memasukanku ke kantor di Kingdoms.


Dia sepupu jauh Millard, kepala pelayan rumah tangga. Memasukan dataku ke rekrutmen, tak jadi masalah. Ayah tak bisa banyak berbuat, karena yang dia lakukan selalu jadi perhatian dewan kota di seluruh negeri.


Hari ini, hari pertamaku kerja. Millard membuatku seperti barang jualan yang akan dipilih. Ada tiga tim di administrasi, Alfred, Iyork dan Reina. Rekrutan baru ada tiga, hanya aku yang berhalf shield.


Saat memilih untuk dimasukan ke tim, aku yakin aku akan jadi pilihan terakhir. Tubuhku seperti orang kelaparan, tak akan ada yang menyangka siapa aku.


Saat aku ditawarkan oleh Millard, Spain datang berkunjung ke kantor ayah, menggunakan telepati dia menyapaku, "Selamat datang kembali ke Kingdoms". Dulu kupikir dia penghianat, tapi sekarang dia yang membantuku. Spain adalah orang yang tahu segalanya tentang aku.


Kantor administrasi berubah fungsi jadi pusat data analisa intelejen, karena peristiwa di Hotel Kingdom. Millard tak tahu siapa aku, dia menerimaku karena Spain yang minta. Seperti membeli kucing dalam karung. Bahkan rekomendasiku tak bisa dibuka Millard. Millard mempertaruhkan namanya, demi Spain.


Scan retinaku terkunci dengan kode, pemilik kodenya adalah Spain. Hanya Spain yang bisa buka identitas asliku.


Masuk tim tiga, bersama Miss Reina. Aku ditempatkan bersama Hannah, gadis berambut grey. Hannah mendapat tugas mengawasiku karena dia yang termuda dan karyawan terbaru sebelum aku datang.


Semua model analisa data disini adalah aku penggagasnya, tak perlu berlama-lama menguasainya. Tak perlu juga banyak bertanya. Hannah sudah punya setumpuk tablet untuk dikerjakan, merepotkan bila terlalu banyak bertanya.


Saat mendekat ke mejaku, Hannah selalu menyapa dengan suara merdunya. Aku sampai tak bisa menatap wajahnya. Dari hari pertama bekerja, kecantikan Hannah sudah menghabiskan imajinasiku.


Menurutku, Hannah cantik sekali, gadis tercantik yang pertama ku temui setelah pulang dari Kiehl. Aku heran, di kantor sebesar ini tak ada yang menatap Hannah seperti aku menatapnya. Ga ada yang terganggu dengan merdu suaranya. Dia bergerak di sekitarku, mengawasiku, memberi banyak pekerjaan, hanya untuk mempercepat denyut nadiku.


Aku tak sanggup menatap lama wajahnya, aku pikir aku akan meledak.


Setelah makan bersama dengan tim, aku jadi tahu, ternyata mereka antusias dengan hasil kerjaku. Kupikir cuma Hannah yang peduli denganku.


Makan ikan bakar bersama Hannah adalah hal yang paling kutunggu tiap akhir bulan. Dia akan bergerak lincah kesana kemari mempersiapkan bumbu dan peralatan makan. Puas sekali mata ini, melihat keindahan yang setelah ratusan tahun baru kutemukan.


Hari ini, Hannah nampak loyo, padahal aku sudah banyak membereskan pekerjaan, agar bisa makan ikan bakar lagi.

__ADS_1


"Ups, maaf Andro", Hannah menabrakku, aku mencium wangi rambutnya. Wanginya membuat aku ingin memeluknya.


Jam lima sore. Saatnya pulang dan makan ikan bakar. Hannah melangkah pulang tanpa menyapaku, aku yakin dia lupa.


"Ayo kita makan ikan bakar", jawabnya ketika ku ingin makan ikan bakar.


Hari ini Hannah tak terlalu lincah seperti biasanya, jalannya sangat lambat.


BRUUK, Hannah pingsan.


Kutidurkan dia di kamarnya, rumah gudang ini penuh dengan barang lama, tapi lumayan rapi untuk rumah dengan barang sebanyak ini. Aku duduk di sofa di tengah rumah. Gadis sendirian di kota besar, tinggal di gudang....nampaknya ada yang lebih menyedihkan selain diriku.


Sofanya nyaman, meski lusuh. Rumah ini punya aroma bunga perasa, wangi sekali.


"Andro!", Hannah bangun, dia masih demam. Aku gendong dia masuk ke kamar lagi. Dia mengelak tapi tak kuasa menahan cengkramanku.


Dia gadis tercantik yang pernah kutemui, tak hanya cantik, bahkan dengan kondisi fisikku yang sekarang dia bisa menerimaku, tak memandang kasihan atau jijik padaku yang kurus kering.


Warna rambut Hannah tak berubah, dia berambut putih sepertiku!!, Inikah yang menyebabkan aku melihat dia sangat cantik, dia satu suku denganku. Suku penyangga miskin seperti Hannah, tidak mungkin, pasti salah. Aku yakin semua suku penyangga putih punya akses yang lebih.


Hannah sangat pintar, bahkan lebih pintar dibandingkan dengan yang identitas retinanya suku penyangga murni. Apakah Hannah penyusup? Dia bekerja dibawah ayahku, tak mungkin, siapa dia?


Sudah pagi, aku menginap di rumah gudang Hannah. Aku ingin sekali menanyakan tentang Hannah pada ayah atau Millard tapi tak bisa. Identitasku bisa ketahuan.


Kebun bunga yang Hannah tanam indah, Sepertinya si orange mulai layu, Hannah mungkin tak sempat menyiram karena sibuk.


Aku bisa lihat Hannah dari jendela kaca gudang, dia sudah bangun, rambutnya kusut disisir agar terurai, saat dia berjalan mendekat ke arahku, matanya yang besar menyedot habis sepiku, dunia ini seperti menciut hanya didekatnya.


Aku tak boleh ketahuan memandang Hannah terlalu lama. Dia melangkah keluar dengan anggunnya, kaget melihatku masih disini. Suara dia menyapaku, seperti nyanyian merdu. Menenangkan, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta.


Setelah makan ikan bakar, aku tak sabar untuk bertanya padanya, kesediaannya menjadi pusat perhatianku. Aku tak peduli dengan latar belakangnya.


Hannah tak dekat dengan lelaki manapun, dia menjaga dirinya dengan sangat baik. Aku rasa dia pasti menerimaku.

__ADS_1


Hari pertama setelah aku meminta dia menjadi pacarku. Di kantor, Hannah memperlakukanku seperti tak ada apapun yang terjadi. Makan siang di ruang makan, aku duduk di samping Hannah.


"Miss Hannah, kau sudah sehat, kemarin kau tidur seharian", aku menyapa Hannah dengan kalimat panjang, membuat yang lain tertarik bertanya.


" Hannah, kamu sakit?", Miss Reina kaget


"Hanya kecapekan, Miss Reina"


"Pingsan dan demam", jawabku mengklarifikasi.


"Kau pingsan dimana Hannah?, giliran Tang Wei yang bertanya


"Di.....", belum sempat Hannah menjawab, aku yang meneruskan, "Di depan rumahnya".


" Kalian ....", Jasmin curiga


"Iya, kami pacaran sejak kemarin, aku menginap di rumah Hannah" , selesaikan saja jawaban Hannah sekarang.


"Benar Hannah?", Miss Reina minta klarifikasi dari Hannah.


" Hmmm, belum yakin....", Hannah masih ragu padaku.


"Sepertinya kalian masih banyak yang harus dibicarakan, kita duluan, dah selesai kok makannya" , Tang Wei pergi setelah menepuk bahu Andro.


"Miss Hannah, kau tidak menginginkanku ya?", andaikan tubuhku sudah seperti semula, pasti Hannah mau menerimaku.


"Bukan begitu, Andro, hatiku.....selalu memikirkan pria lain, maaf...", tentu saja tak ada pria lain dalam hidupnya, tak ada siapapun , aku tak melihatnya, Hannah hanya beralasan menghindariku.


"Katakan saja terus terang Miss Hannah, tak usah membuatku jadi beban", aku pergi meninggalkan Hannah dimeja makan sendirian.


Ternyata Hannah, sama dengan wanita yang lain, hanya fisik dan akses, aku punya semua itu. Sekalipun aku punya, gadis seperti Hannah tak layak mendapatkanku.


Setelah makan siang hari itu, pikiran dan hatiku pada Hannah tak sama lagi

__ADS_1


__ADS_2