
TANPA HANNAH
Hampir setiap malam saat bertugas, aku memimpikan Hannah. Aku merindukan suaranya dan gerak-gerik tubuhnya.
Mengapa cuma aku yang terganggu dengan suaranya, dengan cara dia berjalan, dengan rambutnya yang terurai, aku terlalu merindukannya.
"Pak Andy?" ,tanya Jayana.
"Bapak kenapa, tiap hari selalu murung, hmmm udah berapa lama gak ketemu nyonya? , Jayana menggodaku.
Puas sekali Jayana melihat aku tersiksa.
Tempat paling aman di daratan bersalju, adalah gua ini, gua kecil, dalam hutan. Bertempur di daratan bersalju membuatku lebih kuat. Tapi anak buahku, mereka ngedrop. Suhu dingin membekukan otak dan ototnya.
Tapi kali ini sepertinya otak ku juga membeku.
"Siap lapor, Pak Andy! Sebagian besar jebakan dalam hutan sudah di pasang!".
" Semuanya aman?"
"Siap ,aman pak!
Kami semua lelah, memasang jebakan didaratan salju seluas ini. Hanya sedikit serangan, tak berarti. Aku berjaga di mulut gua, dikejauhan ruang dalam gua, tak terdengar lagi suara bisik- bisik bawahanku. Lelah kantuk sudah menguasai mereka. Hanya kami berlima yang berjaga di mulut gua.
"Hannah..?!" Hannah....?!"
Aku seperti melihat Hannah diluar sana. Aku pasti sudah gila, sedang apa Hannah kesini.
Aku keluar dari tempat persembunyianku. Jantungku berdetak kencang, otakku sudah gila, meski kewarasanku mengatakan tak mungkin Hannah disini, tapi jiwaku ingin memeluknya meski cuma mimpi.
Kaki berlari secepat mungkin, sebelum bayangan gadis yang mirip Hannah itu pergi. Perlahan tubuhku mendekati sesosok gadis yang tubuhnya mirip Hannah. Lalu menghilang, seperti asap.
"Pak, ada apa!, kenapa tiba-tiba berlari?"
__ADS_1
Bawahanku yang ikut berjaga bertanya dengan nafas tersengal.
" Tak ada apa-apa! Cepat masuk lagi kedalam gua!"
Ayah terlalu banyak mengutus militer untuk tugas yang sangat sederhana dengan sedikit serangan tak berarti. Kelompok militer lain di barat, bahkan sama sekali tak mendapat serangan.
Tugas diperbatasan selesai, keluarga Sammy berhasil dipukul mundur dengan mudah. Mungkin banyak jebakan yang kami pasang berhasil mengenai mereka. Mereka tercerai berai.
Kami menang.
Walaupun sudah kembali ke inti rock, tapi aku tak bisa menemui Hannah. Aku masih belum bisa mengendalikan diriku. Semua pembicaraan mengenai strategi yang membuat kami menang di beberapa penyerangan terasa tak menarik.
Menjelang dini hari status negeri ini darurat. Ternyata penyerangan di Edges adalah pengalihan. Perbatasan dibuat sibuk. Penyusup masuk lewat rombongan pemetik teh. Berbaur dengan pemetik teh yang bergerak menuju ke Kingdom. Penyerangan kali ini bukan di lakukan oleh suku putih keluarga Sammy, ada suku lain dari suku penyangga yang membantunya.
Seluruh keluarga Sammy telah dipindai darahnya, sehingga tak mungkin lolos melewati gerbang kota diseluruh negeri. Ada pengkhinat dalam pemerintahan.
Seluruh kota Kingdom panik siang ini. Penduduk kota melihat pemandangan menakutkan di langit Kingdom. Lift penghubung diatas diam tak bergerak.
Sesuatu yang diluar prediksi kami saat latihan terjadi. Pesawat yang membawa korban tak berfungsi ada yang mengganggu sistemnya. Fungsi mesinnya. Pesawat itu diam tak bergerak.
"Dengarkan aku!" , telepatik yang sudah turun temurun di keluargaku, akhirnya terpakai juga. Aku harus menggunakan kekuatan telepati untuk mengontak seluruh anak buahku.
"Semua mikrophone rusak ada yang menggunakan energi kuat menghancurkan alat komunikasi, dan mengendalikan pesawat"
"Sekarang kalian membuat formasi bersama, buat dinding pemisah dengan korban dalam pesawat. Keluar dari pesawat. Terbanglah dan angkat pesawat ini bersamaku".
"Ingat buat dinding elektrik sekuat mungkin menahan angin agar tak masuk pesawat". Anak buahku bekerja sesuai yang ku perintahkan.
Sukses!!
Kelelahan pasukan bersayapku belum berhenti. Setelah mengangkat pesawat penumpang raksasa, kami harus dihadapkan dengan sergapan keluarga Sammy di depan hotel Kingdom.
Keluarga Sammy akhirnya... mereka menampakan kekuatan aslinya.
__ADS_1
Kekuatan penyusup itu sanggup melemahkan penjagaan kota Kingdom. Semua ini rencana
sempurna dari penyerangan di perbatasan edge dan perisai, lalu sekarang ini. Pasti kuat sekali yang mendukung keluarga Sammy.
Di lobby hotel ada gadis ber half shield yang sangat ku rindukan, dia tertidur. Ku minta Jayana mengamankannya dengan pergi kesini bersama Miss Brenda.
"Maaf pak Andy, saya lalai nyonya dia di serang"....Jayana gemetar mengatakannya, ketakutan terlihat pada raut wajahnya.
"Bagaimana Hannah?'
" Dia baik pak!"
"Cukup itu Jayana, aku hanya butuh dia aman. Jayana... pergilah!!"
Terpaku di depan gadis yang dicintai, tanpa bisa membelai rambutnya, atau sekedar ngobrol melepas rindu. Menyiksa sekali. Aku berdiri dalam jarak yang cukup jauh memandangnya agar bulu sayapku tidak membuat sakit Hannah.
"Pak Andy, ada kilat yang masuk ke ruang loby, Yang Mulia, anda harus menutup lubangnya.
Aku sibuk mengatur pasukanku diluar hotel karena serangan si rambut hitam. Aku tak menyangka kilatnya menembus dinding hotel. Aku lari secepat kilat ke ruang loby.
Hannah, kau kenapa berlari begitu cepat. Kau mau apa.....anak yang terbang itu?
Ahhh Hannah memeluknya. Mengapa ada sayap cahaya keemasan yang besar dari tubuhnya.
"Hannah......Bangun.....kau tak apa kan?! Hannah bangun...!"
Suaraku dan Brenda, tak di gubris Hannah, tubuhnya tetap terkulai lemas, dan...pingsan.
"Aku menunggu di kamar rumah sakit bersama Brenda. Sudah tiga hari Hannah belum siuman. Brenda tak banyak bicara. Aku sering melihatnya berdiri di tepi ranjang kasur Hannah. "Cepat bangun Nak", banyak tugas yang harus kau selesaikan.."
Brenda yang biasanya keras dan tegas. Hari ini, sama sekali tak terlihat dia hanya murung dan menitikkan air mata.
Sepertinya dia juga tak tahu Hannah punya kekuatan sayap elektrik sedahsyat itu.
__ADS_1