
SINAR PARA LELUHUR
Sinar yang mengarah tepat diantara alisku sangat dingin. Membuat aku ingin tidur. Mengapa pedang ini nampaknya tahu aku sangat tegang. Aku jadi rileks setelah disinari dingin. Aku mengantuk.
Dimana ini seperti hutan. Ada banyak lelaki dan wanita berambut putih disini.
"Andro Sammy kemarilah nak!"
Suara lelaki memanggil dua bocah, salah satu bocah itu wajahnya sangat familiar.
"Lihat nak, pedang buatan ayah. Ini pedang yang akan menjadi pusaran kekuatan perisai elektrik kita"
"Bagus sekali ayah. Ini permata hitam apa yah?"
"Logam mineral asli dari core bumi, ini susah sekali dibentuk. butuh puluhan orang untuk menyempurnakan kekuatannya"
"Untuk menebas apa yah pedang sebesar ini!!" ,tanya anak yang wajahnya asing.
"Bukan menebas Sammy, ini untuk menyegel kekuatan perisai elektrik, agar bisa dipakai selamanya. Kau tahu kan planet kita sangat rapuh. Kita hanya mengandalkan perisai untuk menghalangi benda benda angkasa yang tiap detik menabrak. Kita terus berputar mengelilingi planet Kiehl, seolah kita bagian dari satelit, padahal kita yang asing di sistem tata surya ini."
"Pedang ini punya kekuatan besar untuk memusatkan energi petir agar menjaga kekuatan perisai".
"Iya bener Andro, hanya yang punya kekuatan sebesar pedang ini yang dapat mengangkatnya".
"Ayah ini berat sekali!!!".
Andro dan Sammy bergantian mengangkat pedang itu. Ayahnya hanya ketawa senang melihat tingkah menggemaskan anak anaknya.
"Hannah, Hannah!! Bangun! Ayo sarapan!"
" Samantha! Kau disini lagi!" Aku masih mengucek mataku, tapi Gadis ini sudah berganti baju dan berdandan rapi.
"Sam memintaku membangunkanmu agar segera bersiap, katanya Spain akan menemuimu!"
"Aku ke kamar mandi dulu!"
"Ayo sarapan bersamaku!" ,ajak Samantha.
Di meja makan dalam kamar hotel, Samantha sedikit bicara.
"Aku juga belum sarapan, Sammy menyuruhku menemanimu".
"Makasih Samantha"
__ADS_1
Dia hanya tersenyum.
"Air mandinya hangat, dicampur air jeruk hutan. Pengering rambut ada di dalam lemari baju", Samantha mengingatkanku.
"Makasih Samantha".
************************************************
Mandi air hangat meyegarkan sekali, rambutku sangat putih hari ini. Aku tak bisa menutupinya lagi. Cup rambut rajut kainku kotor. Tak tahulah apa yang akan terjadi. Setelah kering rambutku nampak sangat putih, alis dan bulu mataku.
Aku akan menggelung rambutku, agar tak terlalu mencuri perhatian. Baju yang dibeli Samantha semuanya kaos dan celana untuk berlari, dia bahkan membelikanku sepatu kets.
Tok tok tok pintu diketuk, aku tebak pasti Sam. Saat kubuka
"Pak Andy...., aku senang sekali. aku kira akan mati dikurung disini" .Aku langsung memeluknya.
"Kau baik baik sajakan Hannah, Jadilah dirimu saja kali ini di depan Spain. Semoga Jenderal besar sepertinya akan mempertimbangkan gadis kecil sepertimu". Pak Andy bicara dengan setengah berbisik.
Pak Andy menatapku lama dan membelai rambutku. Aku bahkan mematung tak bisa bicara.
"Aku pergi dulu ya....! Ingat mintalah kepada Sammy apapun yang kau butuhkan!"
Lalu Pak Andy pergi terburu buru tanpa mengucapkan salam. Saat Pak Andy datang, tentara yang lain tak ada di depan kamarku. Saat Pak Andy tiba tiba pergi, rombongan tentara yang menjagaku muncul dari lorong bersama Sammy.
Tak lama setelah Andy pergi , pintuku diketuk lagi. Kali ini benar Sam.
"Hannah, Spain memanggilmu. Aku antar kau kesana. Bawa pedangmu...."
Aku pergi dikawal oleh enam tentara. Memalukan sekali, seperti tahanan. Sepanjang jalan orang orang memandangiku. Untunglah lift tak terlalu jauh. Aku melihat Sam, menekan screen Military. Aku akan dibawa kemana...?
Aku masuk ke gedung yang sangat megah. Didalam gedung ada patung pedang raksasa. Bentuknya mirip dengan pedangku. Bahkan tulisannya sama The First.
Aku terpaku di depan patung itu. Sam menepuk bahuku.
" Ayo Hannah, Spain menunggumu di ruang latihan. Tenanglah aku akan melindungimu"
Aku sampai di ruang latihan hanya aula kosong, tapi di dindingnya penuh dengan bermacam senjata. Spain sudah menunggu ku, tanpa baju. Tubuhnya dibalut kasa bahkan pergelangan tangannya. Tapi dia masih bisa mengayun ayunkan pedang.
Setelah melihatku, matanya nanar marah, merah. Dia berteriak , "AAAAARGGGHHHH", sepertinya dia sangat kesal padaku.
"Kau gadis berambut putih, angkat pedangmu lawan aku" ,aku diam, berpikir Jenderal Besar ini, sudah gila. Kenapa tak sekalian saja bunuh aku. Aku tak bisa menggunakan pedang.
Spain berlari secepat kilat, lalu mengarahkan pedangnya tepat diatas kepalaku. Tiba tiba ayunan pedang Spain terhenti. Kupikir aku sudah mati. Lima buah pedang kecil menahan pedang Spain. Pedang kecil itu dilempar Sam dari jauh.
__ADS_1
"Jendral, mohon pertimbangkan lagi. Kita telah mencari pedang ini selama ratusan tahun. Sekarang dia memilih gadis pelayan kafe. Lebih baik kita melatih gadis ini agar berguna di masa depan". Sam berlari lalu mengatakan itu.
Spain meluluh, dia lepas pedangnya.
"Berapa umur mu Hannah"
"Dua puluh"
"Oke, aku pribadi yang akan mengajari mu bermain pedang. Kau harus menjaga pedangmu baik-baik"
Spain melempar pedang kayu untukku.
Aku membiarkan pedang kayu terjatuh di sebelahku. Spain ini agak gila menurutku. Sam mendekat, kemudian berbisik padaku, "Hannah, aku ada disini. Tenanglah aku akan membantumu"
"Hannah Jacklyn! Kau harus merasa terhormat karena aku sendiri yang akan mengajarimu", teriak Spain.
"Ambil pedang mu, luruskan kedepan genggam dengan kedua tanganmu" , lalu dia mendekat padaku dia melihat caraku menggenggam. Dari belakang dia memelukku lalu mengatur posisi tanganku agar mirip dengannya.
Sam sudah bersiap akan melindungiku, jika Spain macam macam. Untunglah Jenderal ini hanya melihatku sebagai muridnya bukan lawannya. Saat Spain memeluk dari belakang aku mencium aroma tubuhnya, wangi sekali...seperti seseorang dulu, tapi aku lupa siapa!
Aku tak suka dekat dengan Spain karena aroma tubuhnya membuat aku mabuk. Spain mengajariku seperti orang gila, dia bahkan mengatur apa yang harus kumakan. Aku dipaksa jadi vegetarian. Kata Spain vegetarian membuat tubuhku menjadi lebih ringan untuk bergerak.
************************************************
Sudah dua minggu, aku bosan sekali. Samantha telah membeli dua puluh baju dan pakaian dalam untukku. Aku masih tidak di perbolehkan menelpon siapapun.
Masuk minggu ketiga, Spain mengajariku memegang pedang sambil berlari. Susah sekali.....Memegang pedang sambil berlari lalu menebas lawan dengan dua tangan. Lalu berlari lagi menebas lawan dengan satu tangan. Tangan yang lelah membuat pedang kayu sering terlepas dari genggaman.
Minggu ketiga melelahkan sekali, aku bahkan sering melewatkan makan malam, karena langsung tertidur. Samantha sering mengunjungiku memeriksa keadaanku. Kata Samantha berat badanku turun drastis.
Minggu keempat Spain membuatku gila. Dia menempatkan alat tes pendengaran ke telingaku. Aku disuruh berlarian sambil mengerjakan tes yang kudengar di telingaku. Gila!!! aku mau muntah, Spain gila. Aku kesal sekali. Dia hanya memerintahku ini dan itu. Di minggu keempat ini dia juga menyuruhku memanjat tebing sambil mengerjakan tes bahasa. Tanpa pengaman. Hanya tali.
Selesai latihan, nafasku bergemuruh, kesal luar biasa. Spain mendekatiku, lalu memandangku tajam, berbicara sinis, "Bagaimana Hannah, kau kesal, mau marah padaku! aku jauh diatasmu, aku bisa membunuhmu kapan saja!".
Spain selalu berusaha membuatku marah. Aku selalu diberi pedang kayu yang berat. Rasanya The First lebih ringan.
Sudah satu bulan aku disini. Aku ingin pulang, lebih baik masukan saja aku ke kesatuan militer, daripada begini. Tak jelas.
"Sam, kalau aku masuk militer, apakah Spain akan berhenti membuatku seperti ini?", tanyaku ingin tahu.
"Aku tak tahu Hannah, akan kucoba diskusikan hal ini dengan Andy. Kau bertahanlah Hannah. Kami akan mencari jalan keluar", Sam menjawab dengan hati-hati.
Badanku lebih kuat, aku bisa mendengar dan melihat lebih jelas. Rasanya latihan keras Spain mulai memberi efek pada indraku.
__ADS_1