
PENYAMARANKU YANG PERTAMA
Selesai melakukan penutupan perisai kubah elektrik, aku turun lagi ke hutan dekat pasar. Sekarang aku sangat lelah, kakiku bahkan tak bisa berdiri tegak. Aku duduk sebentar di bawah pohon. Menikmati pemandangan hutan. Aku terbang di angkasa hanya 30 menit, mungkin terlalu lama, sampai badanku lunglai begini.
Aku masih punya cemilan, jamur putih kering di saku depanku.
Tinggal yang berwarna ungu, kriuk-kriuk, enak sekali, masih ada minuman dipinggangku. Nyaman sekali disini. "Hannah!!", Ling ling mengagetkanku dari belakang.
" Hai, anak-anakku kalian sudah bangun, sudah sarapan?, enak tidak sandwich nya?", aku gantian berlagak seperti bu guru TK.
"Berhentilah bertingkah seperti itu Hannah, menggelikan sekali", gumam Sandy geli melihat tingkahku.
Kami bertiga duduk di bawah pohon besar ini. "Hannah kamu masih makan jamur kering itu", celetuk Ling ling memecah kesunyian.
"Masih, enak, buatan ibuku, sayang sekali kau tak bisa makan" , jawabku cepat.
"Itu beracun Hannah, aku heran kenapa ibumu malah rutin memberikan itu padamu?", giliran Sandy yang protes.
"Karena ibuku hebat, dia tahu, tubuhku unik dan bereaksi berbeda terhadap jamur putih yang kalian anggap racun. Tubuhku malah menganggapnya sebagai penambah energi", jawabku berapi-api.
"Kau memang beda Hannah, jangan-jangan kau alien?!, goda Sandy membuat kami tertawa lagi bersama.
"Alien kok cantik gini ya.....!, sambungku menambah ramai.
"Kalo Hannah alien, kita berdua juga alien, Sandy", sambung Ling ling terpingkal pingkal.
Lalu Sandy berdiri, menari-nari ala jaman bumi. Membuat kami semakin bersemangat.
Pagi itu ceria sekali, setelah malam yang begitu melelahkan.
__ADS_1
Kami kembali ke Rumah Sakit pukul 08.30 pagi. Shift pagi sudah siap meggantikan kami. UGD masih penuh, tapi tak seheboh tadi malam. Pasien- pasien yang terbaring disini, sudah tenang, tak bertingkah.
Aku ingin mandi di Rumah Sakit, karena di asrama pasti penuh pagi begini. Di kamar mandi kantor terlihatt sepi, tak ada orang yang masuk. Airnya pasti ditambah air jeruk hutan, sedikit pedih dimataku.
Tak ada handuk panjang di tasku, aku hanya menyeka tubuhku yang basah dengan handuk kecil.
Suara pintu kamar mandi dibuka, Kreek krekkkk. Ya Tuhan, apa aku lupa mengunci pintu kamar mandi.
Tiba-tiba berdiri didepanku Spain, dia memandang seluruh tubuhku, dan membalikkan badanku. Dia menyentuh tulang belikat sampai bawah, tempat keluar sayap. Dia mendorongku ke dinding, "Kau bersayap Hannah!, sebenarnya siapa kau, sayapmu besar sekali", wajahnya menyeringai sekitar sepuluh senti di depan wajahku.
Aku tampar wajahnya, PPLAAAK, "Keluar kamu!, KELUAR!! , dasar Spain gila. Jenderal busuk.
Aku cepat-cepat memakai pakaian. Aku periksa pintu kamar mandi, ternyata kuncinya tak berfungsi. Sial, aku ceroboh. Spain memang tak melakukan apa-apa padaku, tapi tetap saja dia tak sopan!.
Aku berjalan keluar rumah sakit lewat pintu belakang dengan membawa tas ransel besar. Aku lihat banyak dokter lalu lalang disini. Tapi aku tak melihat para tentara yang dibawa pesawat tempur tadi malam. Dibawa kemana mereka?
Aku capek sekali, ingin segera tidur di asrama. Asrama ada di belakang rumah sakit. Di seberang lapangan belakang. Ketika aku sampai di lapangan belakang ada tiga buah tenda besar di sini. Aku lihat dalam tenda itu para tentara yang dibawa tadi malam. Di sebelah timur lapangan ada dua helikopter membawa peralatan medis.
"Bagaimana keadaan pasien disini, apa semuanya masih bisa di tolong?", suara seseorang yang sangat akrab di telingaku. Pak Andy! ,aku mendekat ke arah suara itu.
Iya benar, itu Pak Andy. Aku melihatnya dari kejauhan, dia telihat sibuk sekali, pasti belum istirahat dari tadi. "Hannah!, teriak Pak Andi dari jauh, membuat perhatian orang-orang tertuju padaku.
Pak Andy, mendekat lalu memelukku, "Kau sehat Hannah?", inilah reaksi Pak Andy bila menemuiku, awalnya aku yang memulai memeluk ketika bertemu, tapi mengapa jadi kebiasaan begini.
Dengan lembut ku dorong Pak Andy lepas dari tubuhku. Aku tak enak banyak yang melihat.
Pak Andy membawaku ke ruangan dalam tenda, yang disebut kantor olehnya. Disini hanya ada meja dan beberapa peralatan militer yang aku tak tau fungsinya.
Pak Andy tak sendirian di kantor ini, ada lima orang yang duduk memandangi layar monitor yang penuh variabel.
__ADS_1
Aku lihat Spain juga ada disini, "Pak Andy, maaf Hannah seharusnya tidak berada disini", dia orang sipil.
"Spain, aku tahu siapa Hannah, dia satu-satunya orang sipil yang bisa membawa The First, mungkin dia bisa membantu kita", Pak Andy menjawab pertanyaan Spain dengan santai.
"Duduklah disini Hannah, tak usah kau hiraukan Spain, dia memang selalu waspada terhadap siapapun" ,aku mengangguk lemah.
"Kau sudah sarapan?, hari ini tim dapur memasak telur orak arik dan roti panggang? kau mau", Pak Andy selalu mesra padaku, terkadang aku berpikir dia menganggapku seperti anak kecil.
"Tadi sudah makan sandwich, terima kasih", jawabku memang masih kenyang.
"Hannah, lihatlah kemari!", teriak Spain didepan layar monitor. Pak Andy pun ikut membalikkan badan.
Aku mendekat ke layar monitor, Pak Andy mengikutiku dari belakang. "Lihatlah ini Hannah, kalau diperbolehkan oleh Pak Andy, kami akan membawamu kesini, diatas langit kota Tepian, ada lubang di kubah elektrik. Tentara-tentara ini memakai lapisan gel untuk menghindari parasit yang ada di hutan. Tapi mereka malah terkena parasit yang langsung masuk dari perisai, kubah elektrik yang berlubang ini". Spain menjelaskan kondisi langit Tepian
"Pedangmu bisa menutup ini, menutup kubah elektrik yang terbuka, kalau kau bisa menahan kekuatannya", Spain bicara sambil menyindirku.
Aku sudah menutupnya berjam-jam yang lalu, mengapa di layar monitor ini masih mengira kubah elektrik masih bocor. Aku menggumam dalam hati.
"Pak Andy, tadi sewaktu aku di pasar, langit gelap berbintang, kata orang di pasar, kubah elektrik berlubang. Tapi sekarang langit sudah seperti biasa, apa masih berlubang kubah elektrik kita". Kupancing Pak And berpikir, agar memperhatikan perubahan langit saat ini.
Pak Andy, nampak terkesiap dengan pertanyaanku. "Spain, langitnya normal!!!, tadi pagi memang gelap, kemudian mendung, tapi sekarang cerah. Coba kau lihat lagi dengan jelas Spain di layar monitor".
Spain juga nampak terkejut, kemudian dia mengamati layar monitor lagi. "Kau benar Pak Andy, lubangnya tertutup pelan-pelan, sampai alat pendeteksi kita mengira itu adalah perubahan cuaca", Spain mengiyakan.
"Pak Andy, aku lelah sekali, bisakah aku ke kamar asramaku", aku sedikit memelas pada Pak Andy.
"Oh iya Hannah, maafkan aku mengganggu waktu istirahatmu, nanti aku mampir ke asramamu", Pak Andy yang berkonsentrasi pada layar monitor akhirnya membolehkanku pergi.
Ternyata cahaya yang ada kubah elektrik tak langsung sampai ke Rock Collapse. Butuh waktu berjam-jam.
__ADS_1
Di dalam asrama ramai sekali, untunglah kamarku di ujung, jauh dari hiruk pikuk pagi hari . Aku sekamar dengan Ling ling, dia sudah tertidur pulas. Segera kukeluarkan isi tas ranselku. Baju seragamku sobek, besok aku harus minta lagi baju seragam.
Hari ini, aku lelah sekali, tapi tak selemah tentara yang tertempel parasit langsung dari langit. Ternyata parasit yang menempel di hutan barat sudah menyesuaikan diri dengan kondisi Rock Collapse, jadi tidak terlalu ganas. Parasit asli lebih ganas dan mematikan diam-diam.