
TERPAKSA BERTATAPAN
Aku tak mengerti Andro, sama halnya tak mengerti mengapa Pak Andy hanya pergi tanpa memberikan penjelasan padaku. Mengapa hal yang begini, membuat Andro tak pernah menyapaku lagi. Kekanak-kanakan!. Memang faktanya, hatiku tak bisa melupakan Pak Andy.
Bulan ini, perayaan putih, tidurnya My Queen. Kami harus memutihkan rambut, mencari produk pemutih rambut yang aman untuk rambut..
Di ruang makan, karyawan dari berbagai departemen berkumpul. Kami semua melihat produk pemutih rambut yang dijual, dari berbagai departemen ramai sekali, aku juga ingin membelinya.
"Kau mau beli apa Hannah?", tiba-tiba suara Andro ada beberapa senti di belakangku.
"Tak perlu bukan?, rambut aslimu sudah putih", Andro berbicara lirih di belakangku, di tengah kerumunan.
Mau apa lagi sih dia, aku balikan tubuhku, kami berhadapan, tubuh Andro yang lebih tinggi membuat kepalaku mendongak. Dibalik half shieldnya, aku masih melihat kemarahan, ditolak cinta.
Aku juga tak mau kalah, kubalik menatap wajahnya. Kerumunan bertambah padat, aku terdesak, dan hampir jatuh, Andro menangkapku memegangi punggungku.
Lagi, kejadian yang membuat aku harus berterima kasih, "Makasih", dia tak bergeming wajahnya datar tak menatapku.
Akhirnya aku keluar dari kerumunan, tak ada yang menyenangkan melihat barang semacam itu didampingi lelaki yang hanya nampaknya saja dewasa seperti Andro.
Perayaan putih membuat aktifitas ekonomi di seluruh Rocks menjadi naik, pertukaran akses menjadi meroket. Dan semua data akses yang masuk, kami lagi yang menganalisanya. Kesibukan kami sebanding dengan tingginya aktifitas ekonomi.
Rapat dengan My King, untuk perayaan putih, bukanlah hal sederhana. Yang Mulia sangat detail. Dia mengingat detail Rocks Collapse. Dia ingin tahu pergerakan ekonomi dari Edges sampai ke Inti Rocks.
Selesai rapat bersama My King, kami langsung rapat gabungan tim. Alfred menganalisa akses di inti Rokcs, Iyork menganalisa Timur Edges dan Miss Reina mendapat barat Edges.
Tim Miss Reina adalah tim yang paling banyak anggotanya. Barat Edges yang misterius menjadi tugas tim kami.
Barat Edges tidak susah, jika ada datanya. Masalahnya minim data. Bahkan militer yang bertugas mengambil data di sana, sering tak pulang. Hutannya masih asli, belum banyak kampung disana, jadi penduduknya hanya kelompok kelompok keluarga kecil yang tesebar.
Ada kabar, para suku penyangga zaman awal terbentuk Rocks tinggal di Barat Edges mereka sembunyi karena malu bertemu My King. Mereka tak bisa melindungi keluarga kerajaan.
Kekuatan inner yang tinggi membuat mereka menjadi orang orang kuat di suku pedalaman.
Kurang data, membuat Miss Reina mengajukan tim survey langsung ke barat Edges. Tentu saja dengan pengawalan militer dan pendampingan tim medis.
Semua tim administrasi ikut serta, untuk mempercepat kerja. Jadwal kegiatan padat, pemetaan kampung di Barat Edges gagal karena peristiwa di Tepian.
Hari ini, kami berangkat ke Barat Edges, menggunakan pesawat militer. Langsung berhenti di kampung pertama barat Edges.
Rapat untuk mensurvey kampung pedalaman berjalan sulit, karena banyak kampung yang harus di survey, dan hanya ada tiga tim administrasi.
__ADS_1
Survey dibagi tiga tahap berdasarkan jarak. Ring tiga, enam kampung, dalam satu hari pekerjaannya selesai. Penghuni kampung di ring tiga aktif ke Inti Rocks.
Saat makan malam bersama di kampung pertama barat Edges, semua bergembira karena survey berlangsung sangat lancar. Besok langsung dimasukkan ke data pusat. Survey ke ring dua, dilakukan lusa.
"Hannah, aku tak enak badan, disini cuacanya sangat berangin", Jasmin berselimut tebal.
Baru hari kedua, angin kencang membuat tim administrasi tumbang, dua orang di tim Alfred sakit, Jasmin tumbang. Hanya tersisa sepuluh orang.
Ring kedua, ada sembilan kampung. Sepuluh orang dibagi empat tim. Tim Alfrefd, Miss Reina dan Tang Wei, Tim Iyork, dan aku bersama Andro.
Perjalanan di medan hutan yang cukup berat, membuat kami hanya bisa menyelesaikan satu kampung hari ini. Dari awal perjalanan, aku pergi bersama dengan orang bisu, tak ada percakapan sama sekali. Aku kesal sekali melihat tingkah kekanakkan Andro. Mengapa kita tak bisa berteman seperti dulu?
Sampai di kampung pertama, aku dan Andro langsung menyerahkan data ke Miss Reina.
"Hannah, kau dan Andro yang terkuat disini, bagaimana kalau langsung dua kampung saja, besok?", Ooooh Miss....
"Kampung sembilan jaraknya cukup dekat dengan kampung tujuh yang akan kau kunjungi besok", Miss Reina menjelaskan, aku tak bisa memutuskan.
"Wei, panggil Andro kesini", Tang Wei langsung pergi mencari Andro keluar.
Andro datang ke ruangan dengan santai dan anggun, " Iya, Miss Hannah, kau memanggilku?", Andro bertanya datar.
"Baik, Miss Reina, itu saja Miss? Karena saya ada perlu lain keluar", Andro mengiyakan hanya beberapa detik setelah Miss Reina berbicara.
************************************************
Pagi hari sekali, Andro dan aku sudah bersiap karena kami akan mensurvey dua kampung. Kali ini aku akan membawa The First, tasku kelihatan besar. Mungkin saja dibutuhkan.
Andro seperti biasa, membisu. Tengah hari kami sampai di kampung tujuh, tanpa bicara, Andro dan aku langsung pergi berlawanan arah melakukan survey.
Saatnya di rumah terakhir, " Permisi bu,.....Saya dari Kingdoms, bolehkah saya sedikit bertanya?", Ibu ini rambutnya acak-acakan dan bajunya kumal. Dia menggendong bayi yang terus menangis.
Saat memandangku, dia tak bicara, hanya menatap lalu mendekat dengan kecepatan super, hingga berdiri tepat di depanku.
Lalu dia membaui leherku, dia meletakkan bayinya, lalu memelukku. Kencang sekali pelukannya, "Maaf bu, anda memeluk terlalu erat, Bu maaf ! pelukan anda..!" , dia kuat sekali , dia ingin membunuhku.
"Aaaaarghhh", aku melepaskan diri dari pelukan ibu ini, aku memanggil The First, agar ibu ini tak mendekat lagi.
"The First, apa kabar? Bantu kampung kami, pelindung disini rusak, kau tahu kan kubah pasti ada titik awalnya, ternyata titik awal itu adalah titik lemahnya, kampung di dalam sana kacau balau, mereka tinggal di gua-gua", ibu ini menangis meraung-raung.
Aku tinggalkan dia sendiri, aku berjalan kembali ke titik awal kami sampai di kampung tujuh. Andro sudah menungguku, aku yakin raut wajahnya kesal karena harus menungguku lama, tapi tak terlihat karena half shield. Tapi Andro tetap saja keras kepala, kami tak berbincang menuju kampung sembilan.
__ADS_1
Kampung sembilan adalah batas menuju kampung dalam. Tak ada yang menyambut kami, sepi. Di titik tempat berhenti kami ada lima buah pilar logam, seperti tongkat penyangga listrik berukuran besar.
"Bukankah ini salah satu listrik awal Rocks, mengapa tak ada cahaya ke langit keluar dari pilar-pilar ini?", aku bertanya pada Andro.
Dia tak bicara, hanya diam. Lalu mengelilingi pilar itu dan menengadah ke atas, ke angkasa.
" Lihat Andro, pilarnya longgar, mungkin ini sebabnya tak keluar cahaya dari lima pilar ini" , dia hanya diam.
"Tunggulah disini, aku akan mencari penduduk kampung", akhirnya Andro bicara dan meninggalkan aku sendiri diantara pilar ini.
Saat disinari permata hitam, aku ingat, kakek tua itu berdiri di tengah diantara lima pilar, dan mengarahkan The First, ke langit sana.
"The First keluarlah", aku melakukan gerakan yang sama dengan kakek tua itu, dan HUSSZZZZZ, kemudian ada dengung suara NGUUUUNG!!!, pedang ini bergetar hebat, lalu sinar menjulang ke langit.
Aku lelah sekali, kampung ini sudah terang, aku tertidur duduk di pilar, Andro belum datang.
***********************************************
Koin hologram Andro ada di meja di samping tempat tidurku. Ini dimana? Kenapa aku tidur disini?
Langit atap kamar ini dari bambu hutan, ini di rumah penduduk, apa tadi aku pingsan?
Di sampingku tidur Andro, dia memelukku, tubuhnya keras sekali, hanya tulang. Aku ingin bangun, tapi mataku tak mau terbuka lebar, tubuhku masih lemas. Masih ngantuk....
Aku terbangun sendirian, mungkin tadi malam tidur bersama Andro, hanya mimpi. Di luar kamar, Andro sedang minum di cangkir khas Edges, sambil berbincang dengan lelaki tua.
"Oh, itu dia istrimu sudah bangun", lelaki itu menyebutku istri Andro.
"Kemari Hannah, kita sarapan dulu sebelum kembali ke kampung pertama", Andro memanggilku hanya Hannah.
Aku hanya tersenyum dan tak bisa berkata-kata, Lelaki itu adalah ketua kampung sembilan, masakan istrinya enak khas vegetarian.
Sampai aku keluar kampung sembilan, mulutku tertahan.
" Sudah jauh dari kampung sembilan, Andro! , kau tidur denganku tadi malam?" , aku tak bisa menahan lagi penasaranku.
" Iya, mereka kampung taat beragama, hanya suami istri yang sah bisa keluar berdua, kalau tidak mengaku suami istri, kita akan dilempari batu", Andro menjelaskan.
Dia melakukannya untuk melindungi kami, "Mengapa mereka langsung percaya kita suami istri ?", tanyaku lagi.
"Karena mereka jago inner", jawaban singkat yang aku tak tahu maksudnya
__ADS_1