
KEGELAPAN DI LANGIT ROCK COLLAPSE 1
Setelah selesai latihan gila-gilaan bersama Spain, aku dibawa masuk ke tim relawan medis, oleh Miss Brenda. Selain memakai cup rambut rajut, Miss Brenda juga membuatkan masker kain khusus untukku. Katanya wajahku terlalu mencuri perhatian.
Saat ini aku masuk ke tim relawan dokter Emily. Kami di tempatkan di kota Tepian, Edges dan Inti Rocks Collapse, sedang diserang parasit aneh, parasit itu, menempel di rambut, dan membuat inangnya menjadi tak sadar dan gila. Kota Tepian lumayan kacau, persediaan air jeruk hutan sudah mulai menipis, karena sekarang masuk musim salju, jeruk hutan susah berbuah di musim ini.
Seandainya kota Tepian berbatasan dengan timur Edges, pasti aku akan mengunjungi ayah dan ibu. Kota Tepian berbatasan dengan sisi barat Edges, masih jauh dari kampungku.
Sebagai pembantu perawat, aku tak terlalu berguna disini, aku hanya pembantu garda depan sebelum pasien masuk ke UGD. Mungkin fungsiku lebih mirip petugas ambulans, yang mengantarkan pasien ke UGD.
Kemarin cukup melelahkan, aku harus mengambil puluhan tentara dari perbatasan. Kondisi mereka memprihatinkan, lebih mirip zombi ketimbang manusia. Luka di sekujur tubuh mereka terlalu banyak. Mata mereka selalu merah, kelebihan hormon tertentu, sehingga penanganan pertama, adalah menyeimbangkan hormon di tubuhnya.
"Hai Jems, kau mendengarku?", ku berteriak pada salah satu tentara yang sibuk mondar mandir di bawah pohon.
"Kau siapa?, dia meresponku. Matanya tidak merah, dia sedang sadar.
"Jems, maukah kau ikut bersamaku ke Rumah Sakit, luka ditubuhmu harus di rawat...." , semoga dia menyetujuinya.
" Dirawat?, luka apa?!, aku tak merasa sakit, kamu siapa berani menyuruhku?! HAH, SIAPA KAMU????!!!!!!!. Gawat matanya menjadi merah.
Jems menjadi garang, " Hannah, berhati-hatilah, dia mulai menjadi zombi", teriak Sandy dari kejauhan.
Jems berlari ke arahku dengan cepat, aku menghindar dari tebasan pedangnya. Jems bisa memanggil pedangnya dengan cepat. Dia belum terlalu sakit. Kami beradu pedang, dia terlalu semangat, luka ditubuhnya membuat ayunan pedangnya menjadi lemah.The First tak usah mengeluarkan banyak energi, Jems lemah. Hanya kira-kira 2 menit, Jems tersungkur, dia menangis meraung-raung. Titik kritis, saat terlemah ini, Sandy terbang lalu menyuntikan penyeimbang hormon, Jems pingsan.
Aku dan Sandy membawa Jems ke mobil kapsul Rumah Sakit. Ling ling yang jadi supirnya sekarang. Sudah ada 4 pasien di mobil ini. Semuanya pingsan. Kami harus mengantarkan 4 pasien ini dulu ke Rumah Sakit Tepian, sebelum menjemput pasien-pasien lainnya.
Dokter Emily kecapekan, dia tertidur di kursi penunggu di teras UGD. Saat mobil kami datang, dia hanya melirikku. Membalikkan tubuhnya, "Dokter Emily, ini 4 pasien baru lagi kami bawakan untukmu, teriak Ling ling yang ikut turun membawa pasien ke ruangan.
Sampai diruang UGD, semua dokter dan perawat melototi kami, mereka lelah sekali. Tadi pagi kami sudah membawa banyak pasien, "Hannah, bisakah kau istirahat sebentar, shift kami sudah cukup sibuk. Berikan saja tentara-tentara yang sakit lainnya pada giliran jaga besok, ok", pinta dokter Emily yang mulai tak waras karena kelelahan.
"Dok, mau aku bawakan apa dari pasar Edges?, sesuatu yang segar dan manis?", aku mengalihkan fokus dokter Emily.
"Hannah, kau ini....selalu saja bikin orang kesel!, ok....aku minta buah-buah tropis yang seger banget kalo di jus", pinta dokter Emily.
" Deal, aku bawakan itu, setelah satu mobil pasien lagi!", dokter Emily terlihat menggerutu dengan kalimatku yang terakhir.
__ADS_1
Aku tak bisa abaikan tentara yang terkapar dengan luka di sekujur tubuh seperti zombi. Mereka berteriak mondar-mandir di jalanan. Mengganggu warga setempat. Semakin lama mereka dibiarkan, semakin parah kerusakan otaknya, semakin sukar untuk sembuh.
Ada satu panggilan terakhir malam ini. Tepatnya tengah malam, sekarang jam 00.00. "Hannah, kamu pernah gak memikirkan kenapa pasien yang kita angkut selalu tentara. Ga ada warga sipil", Ling ling berbicara sambil mengemudi.
"Sepertinya memang ada percobaan, eksperimen misterius, di hutan barat Edges terhadap tentara-tentara kita", sambung Sandy dengan argumentasi konyol.
"Jangan-jangan bener tentang eksperimen di hutan barat Edges", Ling ling jadi ikutan pikiran Sandy.
"Ah , kalian ini, dibiarin tambah ngaco aja. Mana ada eksperimen konyol. Emang dari dulu, parasit kan dah banyak di Rock Collapse, kita kan alien di tata surya ini, wajar aja, kita diserang sama parasit", mendengarku bicara, Sandy berkerut seperti tak setuju dengan pendapatku.
"Tapi Hannah......mereka semua tentara?, kalau itu alasannya, kenapa yang sipil tidak terkena parasit", argumen Sandy mematahkan teoriku.
"Mungkin memang ada sesuatu di hutan barat Edges Hannah, kita gak bisa menyangkal itu", Ling ling juga curiga.
"Berhenti, lihat di balikpohon itu Ling ling!", Ling ling menghentikan mobilnya.
"Mana Hannah?"
"Itu di sebelah kanan", aku menunjuk di bawah pohon besar di sebelah kanan Ling ling.
Aku dan Sandy turun mendekati pohon besar itu. Jalannya tak rata, berbatu, susah untuk tak berisik. Sekitar dua meter dari pohon, langkahku dan Sandy jadi melambat, barangkali ada sergapan mendadak.
"Hmmm hmmmm halo", Sandy berbisik.
Hening tak ada tanggapan, kami melangkah maju, supaya bisa melihat dibalik pohon besar itu. Sandy memimpin.
"Hannah, lihat disini! Kau benar Hannah, satu tentara lemas, duduk dibawah pohon".
" Cepat periksa rambutnya, ada parasit nya gak?"
Alatnya ada di saku depan Sandy, alat yang dipakai Spain, ketika dulu mengecek rambutku di kafe Bu Mimmi.
"Negatif Hannah", Sandy agak terkejut melihat hasilnya negatif.
"Ayo Sandy, langsung aja kita bawa ke mobil supaya aman, bisa langsung di cek tanda vitalnya.
__ADS_1
Tentara ini, lumayan berat, dia tinggi besar . Kami berdua kewalahan mengangkatnya.
Sampai di mobil, langsung ku periksa tanda vitalnya. Rambutnya hijau. Matanya normal. Tulang punggungnya tak ada sayap. Detak jantung aliran darah, sekujur tubuhnya tak ada luka, dia hanya lemas.
Sandy, semprot saja rambutnya dengan air jeruk hutan.
"Hannah, tapi tadi hasil test nya kan negatif?, Sandy tak mau melaksanakan perintahku.
" Sandy, aku lebih senior, kenapa gak nurut aja sih!?", aku agak menyentak.
Ling ling melirik Sandy agar menuruti perintahku.
Sandy melakukan penyemprotan di rambut tentara ini. Ada kepulan asap, rambutnya berubah menjadi merah.
"Semprot lagi Sandy!, perintahku lagi pada Sandy.
Kali ini Sandy langsung sigap, karena ternyata dugaanku benar.
Setelah semprot yang kedua kali, asap kembali keluar dari rambut tentara ini.
Di bajunya tertera nama Faridl, " Hai Faridl, apa kau sudah sadar?", tanyaku.
Tentara ini membuka matanya perlahan. Kemudian melihat ke kanan kiri.
"Selamatkan teman-temanku mereka masih didalam hutan.....Kam....", dia pingsan lagi.
Ling ling kemarilah, beri infus untuk Faridl, aku dan Sandy akan masuk hutan lagi.
Aku menyinari pohon tempat tentara tadi pingsan. Sandy maju ke depan melihat ke arah sekitar.
" Hannah, Hannah kemarilah....cepat kemari!", suara Sandy agak keras tertahan.
"Soroti dengan lampu mu, disekitar pohon-pohon ini", aku menuruti pinta Sandy.
Mulutku ternganga, ada banyak sekali tentara disini, pingsan lemas. Mobil kami hanya sanggup mengambil sepuluh tentara. Ini terlalu banyak.
__ADS_1
Aku dan Sandy saling bertatapan, kami hanya berdua, UGD rumah sakit Tepian sudah penuh. Rumah Sakit harus membuka ruang lainnya untuk dibuat UGD sementara. Air jeruk hutan tibggal sedikit, kami harus meminta lagi ke Kingdom.