Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Berkumpul Kembali


__ADS_3

BERKUMPUL KEMBALI


"Rossy......!!"


Anakku sudah sadar. Aku terbang mendekap punggung Rossy


Dia membuat perisai listrik dan mencekik ayahnya, Andy


"Rossy....,ini ibu. Lihat kesini sayang. Ibu baik-baik saja...."


Aku terus memeluk Rossy dari belakang. Aku tak bisa membalikkan badannya. Tubuhnya sangat kuat. Aku sangat bersyukur kau masih sehat anakku, permataku.....Tapi jangan bunuh ayahmu...


Andy pasrah di cekik lehernya oleh putrinya sendiri. Aku melihat Andy meneteskan air mata, antara kesakitan dan bahagia


Beberapa detik lagi, dengan posisi cekikan di leher, dan perisai listrik sekuat ini, Andy akan menjadi abu


"John....., tolong pecahkan kosentrasi Rossy, berkomunikasilah dengannya, Andy bisa mati...", aku memandang wajah John dan bertelepati dengannya


Aku tak bisa bertelepati dengan Rossy dalam lingkaran perisai listrik sekuat ini, harus orang diluar perisai


Rambut Rossy terbang lurus ke atas, tak ada sayap elektrik dipunggungnya. Dia tadi bertelepati mencariku....


Apakah ingatannya kembali ke masa itu?


"John, Wei long .... siapa saja di luar perisai, nasehati putriku, tolong"!


Aku merasakan energi listriknya menurun. Rossy perlahan ke bawah dan melepaskan cengkramannya pada leher Andy.


"Rossy.......!", aku balikkan badannya. Aku sungguh ingin melihat wajah putriku yang sudah sehat


Dia menatapku tajam, dengan matanya yang bulat. Dia masih sama, hanya nafasnya tersengal marah


Aku sentuh pipinya yang sangat hangat karena mengeluarkan energi sangat besar untuk mencekik ayahnya sendiri.


"Ini ibu....., kau masih ingat sayang?", aku raih kedua tangannya, ku letakkan jemarinya ke pipiku yang sudah basah oleh air mata


Dia masih diam, tapi mata kesalnya sudah mulai mereda. Aku peluk sekuat-kuatnya, buah hatiku yang sudah bertahun-tahun melawan ketakberdayaan. Terima kasih Tuhan


Rossy masih tak bergeming. Aku yakin dia butuh waktu, untuk menyatukan ingatan dan menerima kenyataan sekarang


Aku bawa Rossy masuk ke gedung militer. Aku mendapat kamar di asrama yang paling besar, Rossy masih tak menjawab pertanyaanku


"Andy...., apa Spain baik-baik saja?"


"Dia masih lemah, tapi dia ok, dia juga dicekik oleh putri kita"


"Ha ha...., bahkan sang jendral besar tak bisa menghindar dari permata kecil kita"

__ADS_1


"Bolehkah aku mendekat Hannah?"


"Jangan Andy, aku takut dia belum siap"


"Ooh.....,baiklah, ayah akan sabar menunggu"


Setelah insiden sore ini, aku dan Andy. Tak bicara lagi, kami berdua hanya memandangi Rossy, semalaman, sampai Rossy tertidur


Jam 01.00 akhirnya Rossy tertidur dalam posisi duduk. Aku dan Andy membenarkan posisi tidurnya agar terlentang rapi di kasur


"Aku akan memberitahu Edward, adiknya sudah siuman dan ada disini bersama kita"


"Lakukanlah itu Andy, Edward sangat merindukan Rossy"


Andy terlihat menekan koin liontinnya, berkali kali, tak ada jawaban, mungkin Edward sudah tidur


"Tinggalkan pesan suara saja, apakah bisa dengan koin seperti itu?", tanyaku ragu


"Bisa, tentu bisa, tapi tak bisa lama"


"Edward adikmu bersama ayah dan ibu di gedung militer" , kemudian Andy melepas tekanan nya pada koin itu, sepertinya itu cara membuat pesan


"Kita tunggu saja sampai Edward mendengarnya"


Aku mengangguk, Andy memelukku dari belakang dan mencium rambutku. Dia membuat kedua kakiku beralih naik ke atas sofa, sehingga kepalaku bersandar didadanya yang bidang


Aku balik memeluk Andy, "Rossy sudah sadar, aku bahagia sekali"


Andy membelai-belai rambutku. Kami duduk di depan kasur Rossy, Andy menggeser sofa hingga berada di depan kasur Rossy.


Aku merasa telah pulang ke rumah, memandang Rossy, di pelukan Andy dan aku yakin Edward akan segera kesini. Tidurku akan nyenyak sekali


Pasukan hitam, bergerak cepat sekali. Mereka ada puluhan dan mereka sangat terampil berteleportasi. Aku ada di kampung sebelas. Pemimpin pasukan elit dan pasukannya nampak mengelilingi Abraham. Dia melihat ke segala arah, lalu berbicara rahasia pada Abraham.


Aku tak terlihat, padahal aku jelas ada di belakangnya. Aku lihat pemimpin pasukan elit itu membuka bajunya, ada luka bakar di tubuhnya, dan ada luka di pelipisnya. Baru kali ini aku melihat wajahnya, rambutnya botak, wajahnya mirip dengan Andy...hanya aromanya berbeda


Abraham mengobati lukanya. Lalu dia sepertinya dia pamit pergi, aku tak mendengar suaranya. Kemudian Abraham seolah melihatku, lalu dia mendekat, "Bangun Hannah...sudah pagi!"


Huh......mimpi apa itu. Mengapa aku bermimpi aneh lagi. Aku pikir itu adalah mimpi ketika aku merindukan Andy. Sekarang Andy ada disini bersamaku, mengapa aku malah mimpi Andy bersama Abraham. Benar-benar mimpi yang sangat mengganggu


Hari ini hari pertama Rossy tersadar dan makan bersamaku dan Andy. Dia ketakutan, hanya ingin duduk di pangkuanku, sambil terus memandang ke arah Andy


"Ibu....mengapa dia disini, dia jahat, dia menjaring ibu...", Rossy berbisik padaku


"Kau makan dulu, ini enak sekali sup wortelnya....?!", aku menyuapi mulut imut Rossy


Dia membuka mulutnya, sambil terus memandang ke arah Andy yang nampaknya cuek dan terus saja memakan sarapan. Aku tahu Andy tak bisa memandang balik mata Rossy yang masih curiga padanya

__ADS_1


Andy bahkan tak mengeluarkan suaranya. Piringnya bersih tak ada sisa sedikitpun. Dia sangat tak nyaman mengunyah makanan, nampaknya makanan ini tak dikunyah dengan baik.


Siapa yang bisa makan dengan tenang, bila terus menerus dipelototi mata bundar itu


Aku tertawa dalam hati. Andy harus mencari cara agar Rossy mau dekat lagi dengannya


Selesai makan, Andy membersihkan mulutnya. Lalu berdiri dan menuju ke arahku, mencium keningku, "Aku pergi dulu, ada yang harus ku diskusikan dengan John dan Wei long"


"Hmmm", aku mengangguk sambil tersenyum, lalu melirik ke arah Rossy. Rossy bingung


Andy keluar kamar. Rossy masih kusuapi


"Rossy apakah kau masih ingat caranya memegang sendok?", aku bertanya pelan


"Ibuuuuu......, aku hanya terluka di sayap, bukan jadi tak ingat apapun...!", Rossy kesal


Dia tak mau lagi duduk di pangkuanku. Dia memilih duduk di kursi tersendiri


Aku tak berani berkata apapun lagi. Dia masih Rossy yang suka ngambek. Senangnya melihat dia seperti itu


Dia makan sendiri dengan suapan yang sangat cepat, kemudian tiba-tiba terhenti, "Mana Edward bu...?"


"Ada di rumah teman.."


"Aku ingin bertemu Edward"


Tok tok tok tok


" Rossy, bisakah kau membuka pintunya, ibu mau membereskan makanan ay......, tolong buka pintunya...!


Rossy berdiri dan berjalan pelan mendekati pintu, dia belum bisa sepenuhnya menggunakan kakinya. Terkadang aku melihatnya seperti melayang tanpa menginjakkan kaki. Sepertinya menginjakkan kaki dan melangkahkannya masih sulit buat Rossy. Sayapnya yang rusak, nampaknya berpengaruh pada saraf kakinya


"Mau cari siapa?"


"ROSSY.....! Kau sudah sadar!"


"Apaan sih, kamu siapa, jangan main peluk! Kamu siapa! Ibu ada orang gilaaaa!"


"Ha ha ha ha"


Dia memeluk lalu mengacak-acak rambut Rossy, kemudian dia peluk lagi


"Ibu...tolong! Ada orang gila....", Rossy berteriak lagi


"Kamu siapa, jangan main peluk, sakit tahu!"


Rossy tak tahu, dia adalah orang yang sangat merindukan kesadaran Rossy, menjaganya, bercerita tentang hal apapun setiap hari tanpa lelah, dengan optimis yang tinggi, bahwa suatu hari Rossy akan bermain bersamanya lagi

__ADS_1


Aku memandang mereka dari belakang. Edward senang sekali bisa mengusili adiknya. Dipeluk, diacak-acak rambutnya, dan dicubit pipinya. Dia tertawa tapi air mata juga tumpah mengalir di pipinya. Bahagia


__ADS_2