
KAMPUNG PEDALAMAN
Sampai di kampung pertama , ada yang beda dengan tatapan mata orang-orang, "Bagaimana rasanya jadi istri Andro?", Tang Wei bertanya konyol.
"Apa maksudmu Wei?", aku balik bertanya. Sambil berjalan ke ruang rapat, aku masih menunggu penjelasan Wei.
"Besok adalah hari terakhir, kita semua ke pedalaman. Ada empat kampung disana. Semuanya bisa dimasuki bebas, kecuali kampung sebelas, harus suami istri, Andro dan Hannah kau harus kesana", jadi sandiwara suami istri ini diketahui semua orang kecuali aku.
Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa-apa. Diam adalah terbaik. Andro justru banyak bicara, "Hati-hati Hannah! Awas ada batu tajam! Kau masih kuat Hannah? Kau belum lelah kan! Tenanglah sebentar lagi sampai", dia bicara terus, aku sampai merasa, Andro punya dua kepribadian.
Kampung sebelas diatas kampung sembilan, Sudah sore ketika kami sampai di kampung sebelas. Kami disambut lelaki tua yang wajahnya agak mirip dengan ketua kampung sembilan. Kami duduk berdua, dan dipersilahkan istirahat di satu kamar.
"Nak Hannah, Nak Andro, mari kita makan malam dulu!", ibu tua meminta kami makan malam.
Kalian menikah cara kota ya, nanti jam tujuh malam, ada ritual menikah untuk kalian, kau tahu kan disini taat beragama, kalau masih tak mau dalam hati, pura-pura sajalah agar suamiku lega", ibu tua ini kelihatan sangat pengertian.
"Iya, kami mengerti Bu", jawab Andro cepat.
Semua yang terjadi di barat Edges padaku, tanpa ijinku. Aku hanya patung penurut
Di tempat pertemuan kampung sebelas, aku diminta duduk, dan Andro mengucapkan kalimat-kalimat bahasa agama mereka. Selesai mengatakan itu mereka menyebut kami sah.
Koin hologram aku dan Andro di ambil untuk di masukan data suami istri. Aku sah dalam hukum Rock Collapse sebagai suami istri, kode di retina kami di daftarkan oleh ketua kampung sebelas ke pusat data pernikahan Kingdom dengan koinnya.
Aku bahkan tak minta ijin ayah ibu untuk menikah. Mengapa Andro nampaknya tak masalah dengan semua ini?
Jam 10 malam, kami disuruh masuk kamar, "Nikmatilah malam pengantin kedua kalian, ha ha ha ha", ketua kampung sebelas berbicara sambil mengantar kami ke kamar.
"Kau tidur di kasur, aku akan duduk di sofa ini", Andro menghormati kemauanku
Jam satu malam, aku terbangun, panas sekali kamar ini. Andro tertidur lelap di sofa. Mengapa Andro semakin lama semakin mirip Pak Andy?
Aku tekan half shieldnya, dan terbuka, aku lihat wajah tirus Andro. Kenapa wajah ini sangat ku kenal? Pak Andy!!!
__ADS_1
Ku telusuri dengan jari, bentuk mata, hidung dan bibirnya. Mirip sekali....., apa kau Pak Andy?
Lalu, jika kau Pak Andy, aku bisa apa? Orang tuamu bahkan menghapus seluruh ingatan yang pernah melihat kita.
Kau bahkan tak akan mengingatku
Andro membuka matanya pelan, dia melihatku yang berjarak sejengkal dari wajahnya.
"Hussshh jangan ribut", aku lihat Andro akan bicara banyak.
Dia diam, aku tersenyum padanya. Sepertinya Andro hanya terkejut kusentuh wajahnya. Kupasang lagi half shield nya, dengan kesedihan yang dalam.
Aku merindukan perhatian Pak Andy, otakku hanya menginginkan Pak Andy. Mungkin setiap lelaki yang dekat denganku, akan kupikir mirip dengan Pak Andy.
Kembali tidur, dengan perasaan tercabik-cabik, sistem kampung gila, aku didaftarkan ke sistem menikah dengan Andro. Nanti akan kubatalkan pernikahan gila ini setelah sampai di Kingdoms.
Pagi hari, saatnya melakukan survey. Andro selalu saja bangun lebih pagi dariku. Dia sudah di meja makan berbentuk bundar. Berbincang dengan ketua kampung sebelas.
"Hannah, bagaimana tidurmu nyenyak?", Andro menyapaku yang keluar kamar.
Setelah selesai sarapan, kami pergi untuk melakukan survey, "Ada tetua diatas penjaga pilar, berhati-hatilah jika bertanya padanya!", Aku dan Andro mengangguk mengerti.
Penduduk kampung disini, tak pernah ada yang ke Kingdoms, mereka memiliki akses dari kampung pertama dan kota Tepian. Jumlah warganya lebih banyak dari kampung sembilan, disini lebih hidup.
Sekarang kami mensurvey bersama, Andro menjagaku seolah kami benar-benar suami istri. Aku hanya berbicara dengan warga kampung, tidak dengan Andro.
Sudah sore, kami harus ke atas, menemui tetua. Jalannya cukup berat, mungkin penduduk jarang melewati batuan cadas ini. Andro selalu mengawasi langkahku, "Lewat sini Hannah jalannya tak berbatu, hati-hati ada semak berduri dikananmu, awas ada serangga!", aku senang dengan perhatian Andro, tapi yang ada di otakku hanya membandingkan dia dengan Pak Andy.
Aroma tubuhnya walaupun sama, tapi hanya tercium saat aku sangat dekat dengan tubuhnya. Andro sangat lemah, jam sepuluh malam saja sudah kelelahan karena perjalanan menuju kampung sebelas yang lumayan jauh.
Sampai di rumah tetua, yang mirip dengan rumah manusia jaman bumi, kami mengetuk pintu.
Tak seperti, penduduk yang lain, wajah yang disebut tetua ini, malah seperti seumuran dengan ku, "Mari masuk, silahkan duduk!", kami berdua duduk di ruang tamu yang mungil, kursi disini kayunya terukir, barang di rumah ini sangat tua.
__ADS_1
"Aku Abraham, kalian pasti baru menikah, selamat", Andro berbinar seperti bertemu dengan yang dirindukan.
"Anda, salah satu pemasang listrik Rock Collapse!", Andro sangat senang.
"Kau sakit nak?", kau kehilangan banyak kekuatanmu, tapi sebentar lagi kau akan cepat pulih, cinta mempercepat segalanya!Segalanya...", pandangan Abraham menerawang jauh.
"Maaf Pak Abraham, kami ingin melakukan survey tentang kegiatan ekonomi bapak sehari hari", aku bertanya sesuai dengan modul, dia cukup proaktif tak menyusahkan.
Setelah selesai kami pamit, "Nyonya, anda tahu pedang The First?", aku kaget mendengar pertanyaan nya.
"Iya, Pak, pedang yang membuat kubah elektrik kita", mengapa dia bertanya seperti itu.
"Aku menjaga pilar diatas, aku dibayar warga untuk menjaga pilar itu, untuk memastikan kubah elektrik tetap bersinar, aku mendapat akses dari sana, aku penjaga pilar", dia menjelaskan sumber asli pendapatannya.
"Tapi pilar itu rusak sudah lama, jadi aku tak punya akses cukup, andaikan The First ada, pasti pilarnya kembali normal", dia menerawang lagi.
Apakah ini yang dimaksud inner tinggi, dia bahkan bercerita tentang The First, seolah tahu aku pemiliknya. Pilar-pilar itu rusak. Aku harus kesana malam ini.
Turun ke tempat kami menginap di kampung sebelas cukup jauh dari rumah tetua, jam delapan malam, kami baru sampai.
Andro menghubungi Miss Reina untuk memberi tahu kami sampai di kampung pertama besok siang.
"Miss Reina dan yang lainnya juga sama, tertahan di kampung pedalaman", Andro memberitahuku.
"Tentara dan medis menunda kepulangannya menunggu kita, empat tim administrasi", aku hanya menoleh sebentar ke Andro mendengar penjelasannya.
Makan malam sudah disediakan untuk kami, diluar dan didalam rumah penginapan, ada penjaga, jadi kami harus tidur satu kamar lagi.
Sebelum terpejam, aku memikirkan The First dan pilar-pilar diatas rumah tetua itu. Bagaimana caranya aku kesana, Andro selalu memperhatikan gerak-gerikku.
Jam sepuluh malam, Andro pulas, tapi ketika kubuka half shieldnya matanya terbuka, "Maaf Andro, aku hanya penasaran dengan wajahmu", aku mundur ingin kembali ke kasurku. Bagaimana ini Andro tak bisa kutinggalkan, aku harus pergi ke pilar itu?
Andro dengan cepat berdiri dari duduknya, lalu menarikku dalam pelukannya, "Kau tak bisa bohong Hannah, bahkan tetua dan ketua kampung bisa melihat kita saling mencintai, inner mereka sangat tinggi", Andro mencium keningku lalu memelukku erat. Kau mencintaiku, Hannah, mencintaiku....", Benarkah aku mencintai Andro....
__ADS_1
Malam ini, resmi jadi malam pengantin kami, aku tak bisa mengelak, bisikan kata cinta Andro dan perkataan tetua yang berinner tinggi, bahwa kita saling mencintai membuat aku memasrahkan diriku dalam dekapan keras tulang-tulang Andro.