Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Menaklukan Kiehl


__ADS_3

MENAKLUKAN KIEHL


Semenjak menginap di rumah sakit terakhir kali, aku jadi sangat paham medan simulasi pertempuran di Kiehl. Tadinya batuan ini nampak sama, sekarang bentuk dan ukurannya yang solid dan kokoh memberikan pola tersendiri. Aku jadi tau, harus melewati pola batuan yang mana, agar terhindar dari serangan beruntun, yang mengerikan itu.


Ini adalah kali keempat, kami harus berhenti di rintangan keempat, lapangan batuan kerikil yang luas, membuat timku, berencana melewati semua wilayahnya. Joseph yang terlama disini pun, tak pernah mengambil resiko seperti yang aku usulkan.


"Dengarkan aku Andy, kau terlalu mengambil resiko mengambil semua jalan di rintangan keempat, pakai saja jalur yang sudah kita temui, lalu kita cari titik lemahnya", Joseph tak setuju usulku.


"Terus kau ingin bagaimana Joseph, menunggu sampai waktu yang panjang dan terkurung disini. Menang di medan simulasi adalah kartu pintas kita cepat keluar dari sini", aku bersikeras.


" Mungkin sebaiknya kita mencoba usul Andy", Kris mendukungku.


" Kau Nathan, Noah, bagaimana menurut kalian", Joseph sepertinya sudah memahami maksudku.


"Aku ikut suara terbanyak saja", Nathan tak bisa mengambil keputusan.


"Sejujurnya, aku juga ingin kembali bertugas di Rocks, aku selalu ditempatkan di Edges, aku rindu sekali pemandangan disana. Meski aku selalu seperti orang baru, ketika menginjakan lagi kaki ke Rocks", akhirnya Joseph menyetujui usulku.


"Ok, karena semuanya sudah setuju, kau Noah, kau akan ikut usulku bukan?", Noah mengangguk mantap.


"Sejak aku ditembaki, di simulasi kedua, aku tersadar, tak ada manusia yang menembaki kita, mereka hanya mesin. Mereka menembak karena sensor gerak", aku mulai menjelaskan rencanaku.


" Jadi rencananya sederhana, ketika ditembaki, kita harus diam, tiarap, maka tembakan itupun akan berhenti. Kita menunggu sampai waktu habis, lalu kita selamat, tapi kita mempelajari wilayahnya, bagaimana menurut kalian?", rencanaku sepertinya dipahami oleh mereka.


"Kita sebaiknya sudah berpencar di rintangan ketiga, agar bisa langsung mempelajari wilayah rintangan empat", Nathan mulai mengikuti rencanaku.


" Aku setuju, rintangan yang lain jalur bebatuannya mudah dihafal, kita sudah biasa, tak mungkin salah", Joseph mengeluarkan idenya.


"Aku punya ingatan yang baik jalur bebatuan di medan simulasi ini, aku pikir kalian juga punya peta sendiri. Bagaimana kalau kita menggambar berdasarkan ingatan kita, lalu kita cocokan gambarnya", rencana hari ini cukup matang.


Sudah setahun aku disini, dan baru bisa memikirkan ide gila ini. Mungkin aku akan keluar lima tahun lagi bila tak punya rencana pintas keluar dari sini.

__ADS_1


Setiap makan kami bertukar peta, menyesuaikan lalu mendiskusikan lagi jalur yang harus kami lewati berdasarkan ingatan empat kali melalui medan simulasi itu.


***********************************************


Sekarang, kami akan memasuki medan simulasi pertempuran lagi, semua anggota timku sudah mantap, setidaknya kami akan berhasil melewati rintangan keempat.


"Andy, sekarang kita harus mulai berpencar di rintangan kedua, agar mencapai titik berhenti yang berbeda di rintangan ketiga", Joseph mulai mengambil alih pimpinan.


" Kita berpencar sesuai rencana, ayo kita mulai", aku yang pertama bergerak, lalu disusul lainnya.


Pusat perhatian kami adalah Noah, aku tak ingin ia hilang kendali seperti waktu itu. Noah harus mendapat giliran ketiga, agar selalu dalam pengawasan kita.


Aman, kami semua dengan senyap dapat melewati rintangan kedua, sekarang masuk ke rintangan ketiga. Jarak Noah paling dekat denganku, aku menggunakan isyarat tangan, ku tepuk tepuk dadaku agar Noah melihat, aku menyuruh dia bersabar.


Sekarang giliran Kris yang pertama melewati rintangan ketiga. Saat giliran Noah, dia ditembaki, aku dan yang lainnya panik kami semua melihat ke arah Noah dari batu tempat kami sembunyi.


Sebelum memasuki medan simulasi ini, aku dan yang lainnya sering melatih bahasa isyarat, agar kami bisa saling memberi kode.


Saat ada jeda, Noah langsung menempati pos nya, di rintangan ketiga.


Kami semua lolos, melewati rintangan ketiga. Sekarang adalah yang paling mendebarkan, rintangan yang membuat aku di rumah sakit cukup lama. Rintangan keempat.


Aku mulai menyebrangi batuan kerikil ini, seperti dugaan, aku ditembaki, tiarap dan diam, lihat ke seluruh area, hapalkan medan.


Kami semua di tembaki, tapi begitu jeda kami langsung bergerak secepat mungkin sambil menghitung waktu, berteriak agar semangat.


"Joseph, aku berlari dua puluh hitungan, catat itu, teriak Nathan diujung, "Kris aku berlari 30 hitungan, Joseph berteriak ke arah Kris, jarak kami terlalu jauh jadi harus menggunakan pesan berantai agar bisa saling bertukar info, kami berteriak di tengah hujan tembakan. Pesan berantai sampai padaku tepat bersamaan dengan berhentinya serangan tembakan itu. Kami lari bersama-sama ketika jeda, berteriak dengan suara yang lantang.


"SATU !"


"DUA !"

__ADS_1


"TIGA !"


Suara teriakan teman-temanku membuat aku bersemangat ingin segera mengakhiri medan pertempuran simulasi ini. Kami berlima lari sekuat tenaga. Kami berhasil !!.


"Andy, kita berhasil !", teriak Joseph dari kejauhan, Noah tertawa riang sekali, di balik persembunyiannya,


Nathan yang paling dekat denganku, dia menangis tersedu-sedu. Sambil menyilangkan tangannya ke arahku. Aku membalasnya dengan kode yang sama, terima kasih juga Nathan, Noah, Kris dan Joseph, kalian mendukung rencana gilaku.


Setelah rintangan keempat, kami akan memasuki rintangan terakhir. Dan pengurangan waktu masa pendidikan di Kiehl akan menjadi milik kami.


Rintangan kelima, batuannya lebih kecil dan lapangannya lebih luas. Aku akan lari pertama, dan semuanya bergiliran sampai ditembaki, lalu kami akan tiarap sambil menghitung waktu berapa lama kami di tembaki. Kami sudah sampai ditengah rintangan kelima, dengan kode isyarat, aku memberitahu Nathan supaya lebih berhati-hati, karena jedanya sangat sebentar, dan antar waktu tembaknya lebih lama.Tinggal beberapa meter lagi, waktu habis.


Kami gagal lagi, tapi kami sukses melewati rintangan keempat. Saat makan malam, kami bahagia, banyak berbicara, bahkan Noah yang biasanya diam, kali ini banyak tertawa.


"Sepertinya aku akan segera bertemu istri dan anak-anakku tanpa tamparan", Kris tertawa bahagia, "Makasih Andy, kau memberi banyak kemajuan pada kelompok kami", ucap Kris sambil menepuk bahuku.


"Mulai besok kita akan menggunakan cara yang sama untuk menaklukan rintangan kelima", kami bersulang dengan gelas yang berisikan air putih. Suara kebahagiaan meliputi malam ini.


Sebelum tertidur, aku mengingat kembali kejadian tadi, menegangkan sekali, tanpa kekuatan inner, tanpa sayap aku berhasil menaklukan rintangan keempat. Aku akan cepat keluar dari sini, akan kubuktikan pada ayah, apa yang kuputuskan di Tepian adalah demi nyawa para tentara itu, bukan demi.....


Aku tak dapat menemukan kata-kata untuk meneruskan pikiranku sendiri. Aku berbuat itu karena nyawa para tentara yang masuk dalam tahap awal terinfeksi parasit dan ....


Selalu saja seperti ini, apakah aku melupakan sesuatu yang penting? aku tak dapat menemukannya dalam ingatanku, aku hanya merasa hampa, seperti ada yang salah dalam hidupku.


Aku selalu bangun pagi dengan segar, tak pernah aku bermimpi selama di Kiehl, mungkin karena terlalu banyak latihan fisik yang aku jalani selama disini.


"Hai Andy, bagaimana tidurmu, apakah nyenyak? tadi malam adalah tidur ternyenyakku selama di Kiehl", Joseph bertanya tapi dia sepertinya tak butuh jawabanku, dia bertanya untuk dirinya sendiri.


"Kalian sudah mengingat rintangan kelima", Nathan bersemangat mengumpulkan informasi , "Iya, aku mengingatnya", jawab Kris penuh semangat.


Hari-hariku di Kiehl sampai tiga bulan kedepan akan dihiasi dengan semangat teman-temanku untuk cepat pergi dari sini.

__ADS_1


__ADS_2