
Pagi itu setelah matahari dirasa cukup naik dan hangat, Patricia mengajak Ridho mengitari taman belakang mansionnya kembali. Mereka akan mengunjungi sebuah rumah kaca yang berisi berbagai macam tanaman unik yang langka di sana.
“Kapan kau ditinggal oleh ibumu?” tanya Ridho ketika Patricia sedang memperhatikan salah satu spesies langka bunga lili, bernama lili mariposa.
“Saat aku sekolah menengah,” jawabnya pelan.
“Apa yang terjadi?”
“Aku hanya ingat ia datang bersama pria lain lalu masuk ke dalam kamar. Aku mencuri dengar mereka saat itu, karena ribut sekali. Sesekali terdengar desahan di sana, apalagi ketika aku mendengar suara mama berkata kalau ia mencintai pria itu. Saat itu aku merasa terkejut sekali. Papa sedang bekerja, dan aku memberitahukannya. Sejak saat itu, aku selalu melihat mereka bertengkar hebat. Beberapa hari kemudian, mama pergi dari rumah dan tidak pernah kembali.”
“Kau pernah bertemu lagi dengannya?”
Patricia menggeleng.
“Aku tidak tahu dimana ia berada. Bahkan aku berharap ia sudah mati saja.”
“Jangan berkata seperti itu. Ia tetap wanita yang melahirkanmu ke dunia. Aku tahu pengkhianatannya akan tetap membuatmu terluka. Apa kau tidak merasa khawatir dengan sebuah pernikahan?”
“Denganmu, aku tidak ragu sama sekali. Apalagi ketika pertama kali kau menjelaskan hal itu di Danau Michigan. Hatiku langsung merasa takjub padamu. Aku yakin kau akan memegang janjimu padaku dan keluargaku.”
Ridho tersenyum.
“Hei, aku lupa, kalau hari ini aku harus ke pusat kota. Kau mau ikut?”
“Kemana?”
“Mayfair. Aku ada janji dengan penjahit langgananku. Ikut ya?” tawar Patricia.
“Baiklah, aku tidak akan menolak!”
\=====
Patricia memacu mobil sedannya di sepanjang High Road, dari kediamannya Hadley Common, Barnet. Jalan yang cukup luas dan terdiri dari dua ruas itu ternyata cukup padat hari itu meskipun tidak rapat dan hanya di titik tertentu saja. Sepanjang High Road memang dipenuhi oleh bermacam-macam toko, pusat perbelanjaan, dan berbagai tempat menarik lainnya, ini membuat banyak mobil berhenti di tempat yang dikehendaki. Jarak dari kawasan Barnet menuju Mayfair sendiri mencapai hampir 13 mil, atau 40 menit waktu perjalanan. Di sepanjang jalan, bus tingkat dua alias double decker khas Inggris bisa ditemui di sana.
Patricia memberhentikan mobilnya di sebuah toko bergaya antik dengan kaca yang berkusen French windows, dengan motif kotak-kotak. Toko itu terletak di Oxford Street, bersanding dengan banyak toko-toko dengan brand terkemuka di dunia, seperti Zara, Victoria’s Secret, dan lain-lain. Di depan toko itu terdapat tiang dengan sebuah plang, Jason co. Itu adalah nama pemilik butik sekaligus penjahit berkelas internasional. Patricia sudah bekerjasama dengan Jason Goodfellow sejak ia memutuskan berbisnis di dunia fashion. Kini ia akan merancang gaun pengantin dan jas untuk calon suaminya di butik ini.
__ADS_1
Patricia dan Ridho pun turun kemudian memasuki butik itu.
“Hai, selamat pagi Patricia!” sambut seorang perempuan berambut ikal pirang.
“Hai, Lucy! Aku ada janji dengan Jason, dia sudah tiba kan?” tanya Patricia.
“Ya, masuklah, dia ada di ruangannya,” ucap Lucy sambil melirik ke arah Ridho yang terlihat tampan dengan setelan kemeja casualnya.
Patricia mengajak Ridho menuju ruangan milik Jason yang terletak di belakang bangunan itu. Pintu berwarna hitam itu terbuka, terlihat ada seorang pria dengan tubuh tidak terlalu tinggi menggunakan kacamata sedang melihat kertas lebar di atas mejanya.
“Selamat pagi Jason!” ucap Patricia memasuki ruangan yang cukup berantakan.
“Hello, Patricia! Apa kabar?” sapa Jason, yang ternyata gerak-geriknya sedikit gemulai.
“Aha, ternyata ini calon suamimu?” ucapnya sambil memperhatikan Ridho dari atas sampai bawah lalu memegang bahunya
“Ya, ini Ridho!” jawab Patricia
“Kalian siap untuk diukur?”
“Baiklah. Aku akan mengukur pria tampanmu ini dulu,” ucap Jason sambil mengambil tali pengukurnya.
Ridho merasa tegang sambil terus melihat gerak-gerik Jason yang membuat dirinya bergidik karena tangannya yang gemulai itu. Namun, Jason bersikap profesional. Tak butuh lama, Jason sudah mencatat ukuran milik Ridho. Ia juga menerima gambar rancangan sebuah gaun pernikahan cantik serba panjang dari Patricia, setelah Patricia menjelaskan bahan kain yang digunakan untuk gaun itu. Patricia juga menyuruh Jason untuk membuatkan outfit untuk ayah dan kakaknya. Waktu satu jam tidak terasa sudah terlewati hanya untuk membahas rancangan pakaian.
Akhirnya Patricia dan Ridho keluar dari toko butik itu dan berdiri di samping mobil, sambil memikirkan akan kemana lagi setelah ini.
“Kau mau jalan-jalan di sekitar pusat kota London?” tanya Patricia.
“Ya kalau kau tidak keberatan. Kapan lagi aku bisa jalan-jalan di sini?” ucap Ridho.
“Kau akan sering berjalan di sini ketika nanti kita sudah menikah.”
“Benarkah? Bagaimana kalau kau kubawa ke Indonesia?”
Patricia tertawa.“Susah bagiku untuk meninggalkan kota yang indah ini. Tapi bagaimana lagi, aku harus ikut dengan suamiku nanti.”
__ADS_1
Kali ini giliran Ridho yang tertawa. Ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pernikahannya dengan Patricia nanti. Apakah ia akan masih kerja di Winata Corp. atau justru tinggal di negara ini? Entahlah.
“Ayo!” ajak Patricia.
Baru saja Patricia hendak berjalan menuju pintu samping kemudinya, tiba-tiba entah dari mana sekumpulan pria bersarung wajah gelap menangkapnya dan membopongnya secara paksa dan membawanya ke dalam sebuah van hitam. Ridho tentu saja terkejut, jantungnya berdebar. Ia langsung berlari mengejar para pria yang masih tertinggal.
Seorang pria bersarung wajah itu menahan lajunya, ia mengepalkan tangan dan membuat gerakan cepat untuk meninju wajah Ridho agar ia terjatuh. Namun Ridho masih bisa mengelak dari pukulan itu beberapa kali. Sebaliknya, Ridho bisa meninju pipi orang tak dikenal itu hingga tersungkur ke atas paving block. Ridho berlari mengejar mobil van yang mulai berjalan. Namun bagaimanapun, ia pasti tidak akan bisa mengejar mobil itu. Lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat pada mobil Patricia. Melihat kunci mobil wanitanya yang terjatuh di atas aspal, ia langsung mengambilnya dan masuk ke dalam mobil untuk berpacu.
Mobil van hitam itu melaju dengan cepat di sepanjang jalan Oxford yang cukup ramai. Melewati berbagai mobil di depannya. sang sopir mengemudi dengan handal menghindari gesekan dan tubrukan dengan kendaraan lainnya. Sementara Ridho yang berjarak beberapa meter di belakang mobil itu, berusaha mengeliminasi jaraknya yang cukup jauh. Nafasnya menderu kencang. Ia tak menyangka Patricia akan diculik oleh sekelompok orang di kota yang tidak dikenalnya ini. Pria itu terus tertuju pada mobil van yang ada di depannya. Meski beberapa sempat menyenggol kendaraan lain, ia tidak peduli yang penting Patricia bisa ia selamatkan. Ridho menginjak pedal kopling, merubah gigi kemudinya, lalu menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan.
Mobil van itu berbelok di sebuah tikungan jalan, untung saja Ridho masih melihatnya karena jarak mereka kini tidak terlalu jauh. Ia mengikuti mobil itu, meski beberapa pengguna jalan sempat terkejut karena ia belok dengan terlalu cepat. Kini ia memasuki kawasan Holloway yang memiliki bangunan-bangunan semi apartemen cukup padat dan jalan yang lebih kecil ukurannya. Ia mesti lebih berhati-hati karena trotoar di jalan ini sangat kecil dan banyak mobil terparkir di pinggir jalan.
Tak menyangka mobil van itu menuntunnya melewati Emirates Stadium, stadion kebanggaan klub sepak bola Arsenal. Sedikit Ridho melirik ke arah stadion yang besar itu, sambil terus memperhatikan mobil van yang kini melewati sebuah terowongan pendek, lalu berbelok ke arah kanan. Jantungnya terus berpacu seiring ia mempercepat laju kemudinya. Hingga tiba ia di kawasan Falconer, ia kehilangan jejak mobil van itu, karena terlalu banyak tikungan di sana. Namun ia mencium gelagat orang-orang di trotoar yang terlihat terkejut. Mereka pasti membelok di sebuah tikungan kecil yang dikelilingi oleh gedung-gedung semi apartemen. Benar saja, ada sebuah tong sampah yang terjatuh mungkin akibat ulah mereka. Ridho memutar kemudinya sambil berharap kalau instingnya tidak salah. Sebuah taman hijau beserta sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah lama tidak terpakai berdiri di sana. Mobil van itu terparkir di sana, di sebuah jalan buntu. Ridho memberhentikan mobilnya lalu turun dari sana, sambil memperhatikan gedung tua bercorak batu bata merah itu. Jantungnya masih terus berpacu, tangannya terasa kaku setelah memegang kemudi dengan tegang. Ia harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang terjadi di dalam gedung ini.
Ridho membuka pintu besi perlahan. Wajahnya terlihat menegang dengan urat leher yang tertarik hingga membuat rahangnya kekar. Tangannya mengepal untuk berjaga-jaga. Untung saja setelah ia lulus kuliah, ia sempat mengikuti taekwondo, sehingga ia bisa sedikit mempraktekkan apa yang sudah ia pelajari. Gedung itu terlihat gelap, ia tidak tahu harus kemana untuk melangkah, apakah menelusuri lorong panjang gelap dan memeriksa setiap ruangan satu-persatu? Atau menaiki tangga besi yang ada di hadapannya itu menuju lantai lainnya?
Ridho memutuskan untuk memeriksa dulu dengan cepat ruangan-ruangan yang ada di lantai bawah. Ia menendang pintu satu persatu, tetapi semua ruangan itu kosong, hanya ada beberapa perabotan lama di sana. Langkah kakinya berderap sambil berlari sambil menaiki tangga, setelah ia pastikan semua ruangan itu kosong.
Setelah tiba di lantai dua, dirinya dikejutkan dengan sebuah hentakan keras di dadanya, hingga membuat tubuhnya terjerembab di tembok. Seorang pria bertubuh tinggi yang sama dengannya mencoba menghalau kedatangan Ridho di lantai itu. Rambut pria itu pirang coklat dengan brewok memenuhi wajahnya, terlihat garang. Ridho menahan nyeri yang terasa di dadanya, nafasnya sesak, tetapi ia harus kuat. Ia mencoba berdiri sambil memegang dadanya yang sakit, lalu memasang kuda-kudanya, bersiap untuk menyerang. Tetapi dirinya akan bertahan dulu sampai pria yang ada di hadapannya itu menyerangnya terlebih dahulu.
Pria berambut pirang itu mulai menyerang cepat dengan tinjunya yang diarahkan pada wajah Ridho. Lagi-lagi Ridho masih bisa menghindar lalu menangkis pukulan itu, dan membalasnya dengan pukulan lainnya di perut pria itu, lalu membanting tubuhnya ke atas lantai dengan keras, sehingga terdengarlah bunyi retak tulang punggungnya. Pria itu sulit bangkit, sehingga Ridho kembali melanjutkan pencariannya pada Patricia.
Tak disangka lagi, kini dua orang pria berbadan tegap yang menghadangnya. Dua pria itu langsung menyerang Ridho tanpa aba-aba, ini akan sangat menyulitkannya. Ia berusaha menghindar sekaligus melakukan serangan cepat pada pria lainnya. Ketika ia baru saja berdiri dan membuat tubuhnya tetap kokoh, tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di pipi kanannya, membuat ujung bibirnya sobek dan berdarah. Ia terjatuh di lantai. Pria lainnya bersiap-siap untuk menginjak tubuhnya, tetapi Ridho dengan cepat memutar tubuhnya dan menghindar. Ridho memundurkan tubuhnya, kemudian berlari, sehingga ia menggunakan tenaga semaksimal mungkin untuk membuat serangan lewat kakinya pada dua pria yang sedang berbaris dengan posisi kuda-kuda. Kedua pria itu terjatuh bersamaan. Di sana Ridho menyerang wajah pria yang berbadan lebih besar, sehingga mukanya menjadi lebam. Ketika kawan lainnya hendak menyerang, Ridho dengan cepat menghindar sehingga malah semakin melukai temannya itu. Itulah kesempatan baik bagi Ridho untuk memberikan tendangan yang cukup keras bagi pria lainnya tepat di wajahnya, sehingga kedua pria itu tak berkutik dan kesakitan.
“CUKUP!” tiba-tiba sebuah suara lantang berteriak di ujung lorong sambil bertepuk tangan.
\=====
Bersambung...
LIKE, COMMENT, & VOTE yaaThank you
__ADS_1