
Ridho dan Ferdian berlari menaiki tangga mewah dan melingkar di mansion Keluarga Bocchi. Ridho langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Patricia lalu mengetuk pintu. Tetapi tidak ada jawaban di sana, sehingga membuat Ridho cemas. Tanpa pikir panjang lelaki itu menendang keras pintu itu sampai terbuka lebar. Dilihatnya Patricia sedang memegang sebuah pentungan besi bersiap untuk melawan. Tetapi begitu melihat bahwa yang membukanya adalah suaminya sendiri, tangannya itu melentur dan langsung menjatuhkan pentungan itu di atas karpet.
“Kenapa kau tidak bersuara?” tanya Patricia memeluk suaminya lega.
“Aku terlalu cemas. Maafkan aku telah merusak pintu kamarmu!” ucap Ridho lalu mengecup kepala istrinya.
Sementara itu Ferdian dan Ajeng juga tengah berpelukan erat, karena akhirnya rasa cemas mereka sirna setelah memastikan kepergian Dominic. Meskipun masih ada sisa-sisa pengawalnya yang sudah berhasil dilumpuhkan oleh mereka. Hanya saja Ridho sudah meminta para pelayan dan pengawal Bocchi yang membereskan itu. Begitu pula dengan mayat pelayan bernama Elizabeth yang ditembak oleh Dominic, Ridho serahkan semuanya pada para pengawal Bocchi.
“Dho, pastikan ini pernikahan kamu yang terakhir ya?!” ucap Ferdian masih memeluk istrinya yang bergetar.
Ridho menoleh ke arahnya.
“Biar aku gak usah datang lagi ke nikahan kamu!” ucap Ferdian mengelus punggung istrinya.
Ridho dan Patricia jadi tertawa. “Maafkan kami!” ucap Patricia.
“Apa rencana kalian?” tanya Ferdian yang kini merangkul pinggang Ajeng.
“Bulan madu di luar Inggris,” ucap Patricia menatap suaminya.
“Bagaimana dengan Papamu?” tanya Ridho.
Patricia langsung menunduk lesu.
“Bagaimana kalau kalian ajak saja ke Indonesia. Bang Damian punya resort mewah di sebuah pulau dekat Batam, bawa saja Sir Antonio ke sana untuk meredakan pikirannya,” ucap Ferdian.
“Ide bagus!” ucap Patricia.
“Papa bisa meredakan pikirannya, sedangkan kita akan bulan madu, bukan begitu Sayang?” tanya Patricia.
Ridho menatap istrinya dengan tersipu-sipu.
“Beritahu saja Papamu, agar kita bisa berangkat besok dari sini!” ujar Ridho tersenyum.
“Baiklah!”
“Kalian beristirahatlah di sini. Besok kita berangkat bersama-sama!” ucap Patricia pada Ferdian dan Ajeng.
“Terima kasih, Pat!” ucap Ferdian.
\=====
Malam itu, para pengawal Keluarga Bocchi berjaga ketat, meskipun Dominic sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Bukan berarti ia tidak akan datang lagi, pria itu licik dan memiliki siasat tersembunyi yang bisa saja akan menghancurkan Keluarga Bocchi lagi jika ia memang mau.
Para penjaga ditempatkan hampir di sepanjang lorong lantai dua, juga pintu-pintu strategis. Ajeng, Ferdian, dan Damian terpaksa menginap di mansion karena hari terlalu larut untuk keluar. Lagipula cuaca malam ini ternyata buruk, angin berhembus sangat kencang dan dingin. Jadi mereka memilih menerima tawaran dari Keluarga Bocchi. Meskipun mereka tetap merasa cemas dan waspada.
__ADS_1
Sementara itu, Ridho dan Patricia berada di kamar yang kemarin ditempati oleh Ridho, setelah pria itu merusak pintu kamar istrinya. Pengantin baru itu belum tertidur meski malam sudah sangat larut.
Wajah Ridho tampak memar dan terluka, setelah ia mendapat serangan dari para pengawal Dominic tadi. Hal itu membuat Patricia menatapnya dengan cemas. Lalu ia membawa sebuah wadah yang berisi air hangat dan handuk untuk membersihkan luka-luka yang ada di tangan dan wajah suaminya. Ridho menggulung lengan kemeja putihnya yang tampak berantakan.
“Sejak kapan kau belajar bela diri?” tanya Patricia sambil membersihkan luka memar di wajah suaminya.
“Sejak berat badanku berkurang,” jawab Ridho meringis kesakitan.
“Untung saja ini hanya luka ringan, jadi kau masih bisa mengerjakan tugasmu malam ini. Kalau kau mau!” ucap Patricia yang beranjak dari kasurnya, lalu melenggang pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Ia telah selesai membersihkan luka suaminya.
Ridho tersenyum menggeleng-geleng.
Patricia melepas hijabnya di depan sebuah kaca setinggi ¾ tubuhnya. Kemudian, Ridho datang menghampirinya, membantunya untuk melepas kain berwarna maroon itu dari kepalanya. Patricia menggerai rambutnya yang panjang dan lurus.
“Rambutmu masih panjang?” tanya Ridho mengelus rambut istrinya.
“Aku tidak pernah memotong rambutku, kecuali sedikit saja.”
“Aku menyukainya,” ucap Ridho sambil mencium rambut Patricia yang menguarkan aroma strawberry. Aroma yang sama ketika dulu wanita itu mencuri ciuman pertamanya.
“Aku akan membersihkan tubuh dulu!” ucap Patricia mengambil handuknya lalu pergi ke kamar mandi.
“Baiklah.”
Ridho berjalan menuju jendela kamar yang bergaya Perancis itu, lalu membuka tirai dan menatap ke langit. Bulan bersinar dengan bulat sempurna, ditemani jutaan cahaya bintang berkelap-kelip dalam redupnya malam. Kamar ini terasa hangat sekali, meskipun di luar terlihat angin mengganggu pepohonan yang sudah terlelap. Ia menatap sang dewi malam, hatinya berharap bahwa apa yang terjadi hari ini tidak pernah terulang lagi dalam hidupnya. Ia sudah mendapatkan Patricia sebagai istrinya. Jadi ia memohon kepada Sang Pemilik Cinta untuk menjaga pernikahannya bahagia sampai maut memisahkan.
Patricia baru saja keluar dari kamar mandi setelah ia membersihkan tubuhnya. Dilihat suaminya yang tertidur pulas masih mengenakan kemeja bekas resepsinya. Patricia tersenyum kecil.
Wanita yang kini sudah berganti pakaiannya, berjalan menghampiri tubuh pria yang dikaguminya beberapa tahun terakhir ini. Ia duduk di sampingnya sambil melepas satu persatu kancing kemeja suaminya dengan perlahan agar tidak terbangun. Ia hendak mengelap tubuh suaminya itu. Dilihatnya takjub keindahan tubuh pria itu, begitu kokoh dan kekar. Ridho pasti berlatih keras setelah lulus kuliah. Jantung Patricia berdetak kencang selagi ia mengelapkan sebuah lap hangat basah di setiap lekukan tubuh suaminya.
“Aku tidak menyangka kau sudah menjadi suamiku sekarang. Pasti kau sangat lelah malam ini. Tidurlah, Sayang!” ucap Patricia pelan, lalu mengecup bibir tebal suaminya. Ia pun berbaring dan tertidur kemudian di samping Ridho.
\=====
Suara derap langkah kaki begitu kencang mengentak bumi. Nafas bergemuruh berlomba dengan detak jantung yang berpacu. Seorang lelaki berlari menyusuri lorong gelap yang suram dengan aroma pekat debu yang menusuk hidung.
Tiba-tiba keluar seorang pria yang memiliki tubuh tinggi dari lelaki yang berlari itu. Lelaki itu menghentikan langkahnya. Kakinya berusaha menghempaskan tubuh besar pria yang ada di hadapannya. Tetapi, pria di depannya itu seperti bayangan. Ia tidak tersentuh ketika tendangannya itu dilancarkan. Pria besar itu sudah berpindah di tempat lain, membuat satu serangan keras dari atas kepala, tangannya menahan.
“Arrrgh!” teriak Ridho terperanjat bangun dari tidurnya.
Patricia terkejut sehingga ikut terbangun.
“Kau bermimpi buruk, Sayang?” tanya Patricia cemas, ia melihat tubuh dan dahi Ridho berpeluh keringat. Kejadian akhir-akhir ini pasti membuatnya tertekan, sehingga masuk ke alam bawah sadarnya.
Nafas Ridho menderu dengan jantung yang berpacu. Tubuh yang tidak sempat dipakaikan kaos itu terlihat naik dan turun. Ridho memejamkan matanya sebentar lalu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ia menatap tubuhnya sendiri yang bertelanjang dada, lalu menoleh ke arah istrinya, heran.
__ADS_1
“Kau tertidur sebelum mandi, jadi aku mengelap badanmu. Tapi aku tidak bisa memakaikan baju di badanmu,” jawab Patricia gugup.
“Tidak apa, Sayang! Sebaiknya aku mandi dulu! Kau tidurlah lagi!” ucap Ridho menarik kepala istrinya, lalu mengecupnya.
Pria itu kemudian beranjak pergi ke kamar mandi. Mungkin ia harus berendam di air panas, agar tubuhnya bisa terasa fit kembali. Ridho mengisi bathub dengan air panas, lalu memasukan tubuhnya ke dalam bak mandi berbentuk oval itu, sambil menenangkan diri.
Ridho mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan menghampiri ranjang tidurnya. Ditatapnya lekat wajah damai dan cantik milik Patricia. Bibirnya yang merah, hidung kokoh dan lancipnya. Pipinya yang bersemu merah, ia tak pernah membubuhkan apapun di wajahnya. Kecantikannya alami dan sempurna di mata Ridho. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Terdengar hembusan lembut dari nafasnya. Kelopak matanya bergerak tiba-tiba, Patricia membuka matanya.
Perlahan Ridho memundurkan wajahnya karena gugup. Patricia bangkir dari tidurnya.
“Kau belum tidur lagi?” tanya Ridho.
“Umm… aku tidak bisa tidur lagi,” jawabnya menekuk dan memeluk lututnya.
Ridho memutarkan bola matanya, ia tampak kikuk dan grogi duduk di samping istrinya.
“Kau sendiri?” tanya Patricia.
“A-aku juga,” jawabnya singkat.
Aneh, malam pertama bukanlah hal yang asing baginya. Ia pernah mengecapnya bersama Namira satu tahun yang lalu. Tetapi entah mengapa, rasa gugup itu datang lagi malam ini.
Ridho menyandarkan tubuhnya di atas dipan kasur. Wanita di sampingnya itu mengikutinya, lalu menyandarkan kepalanya di atas bahunya.
“Apa kau lelah?” tanya Patricia.
“Hmm… sepertinya sudah hilang. Hanya terasa sakit di bagian lengan saja.”
“Begitu ya?”
“Tapi, tidak terlalu sakit sebenarnya,” ucap Ridho mengoreksi perkataan sebelumnya.
Patricia menarik kepalanya dan menegakan tubuhnya. Baru saja ia memutuskan untuk hendak tidur kembali, karena merasa mungkin Ridho tidak menginginkannya malam ini. Tiba-tiba Ridho menarik lengannya, meraih tengkuk lehernya, dan mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. Ridho menciumnya lekat hingga berulang kali, keduanya hampir sulit bernafas.
“Kau yakin akan melakukan ini?” tanya Patricia di sela-sela ia mengambil udara. Dadanya terasa sesak karena gejolak panas yang naik ke atas tubuhnya.
“Ya, aku menginginkanmu!” ucap Ridho lembut dan membawa istrinya berbaring di atas kasur lalu mengapitnya.
Keduanya bergelut di atas kasur, dengan serangan-serangan lembut membuai keduanya hingga waktu terasa berhenti berputar. Sentuhan-sentuhan mematikan berhasil membuat keduanya mabuk, terlupakanlah segala risau dan rasa sakit yang terasa, terbius oleh sesuatu bernama cinta.
\=====
Bersambung apa udahan? :D
Like, comment, dan votenya dong
__ADS_1
Thank youu