High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 20. Liburan


__ADS_3

Pagi itu, Ridho mengajak istrinya berlibur menuju kawasan wisata Lembang. Ridho membawa istrinya ke Farm House Lembang, sebuah tempat wisata yang menawarkan beragam tempat yang cantik dan indah dipandang mata. Dengan pergi kesana, wisatawan lokal tidak lagi harus bepergian ke Eropa, karena lokasi itu sudah didesain mirip dengan suasana pedesaan di Eropa.


Ridho memberikan segelas susu segar kepada Patricia, yang sudah ditukar dengan tiket masuknya. Patricia tampak antusias melihat pemandangan yang ada di depannya, ia sangat menyukai udara sejuk yang ada di kawasan ini. Bangunan khas Eropa bernuansa pedesaan tersaji di sana, bangunan itu memang seperti yang pernah dilihat oleh Patricia di kawasan di Perancis, tepatnya di Strasbourg, sebuah kota lama yang menyajikan keindahan tata ruang bangunannya.


“Orang yang membangun ini sangat kreatif, sehingga warga sini pasti tak perlu jauh-jauh pergi ke Strasbourg untuk menikmati suasana kota lama. Aku tidak tahu ada yang seperti itu di sini.” Patricia memuji keelokan pemandangan yang ada di sana.


“Begitulah. Bandung sudah menjadi kota wisata pada hari ini. Dulu udaranya begitu dingin, sekarang sudah tidak lagi, karena mungkin terlalu banyak orang datang dan bangunan yang berdiri di sini, sehingga udaranya tercemari. Kawasan Bandung Utara dan Barat, adalah kawasan yang paling sering menjadi destinasi wisata. Banyak para pengusaha yang menyulap desa ini, menjadi sangat cantik,” terang Ridho.


Patricia mengangguk mendengarkan penjelasan suaminya.


“Lucu sekali, sepertinya aku pernah melihatnya di film!” ujar Patricia ketika dilihatnya sebuah rumah pendek, dengan pintu berbentuk lingkaran, dikelilingi bermacam-macam tanaman hias dan rerumputan hijau yang menjadi atapnya.


“Ya, tentu saja! Kau mungkin melihatnya di film The Lord of the Rings, atau The Hobbit.”


Ridho mengeluarkan ponselnya, ia menyuruh istrinya berpose di depan rumah Hobbit itu. Tetapi Patricia malu-malu, padahal tidak banyak pengunjung di sana, karena mereka datang bukan di hari libur.


“Kenapa kau tidak mau di foto?” tanya Ridho.


“Aku ingin berpose berdua denganmu!” ucapnya jujur.


Ridho jadi tertawa mendengarnya, lalu meminta salah satu pekerja yang sedang ada di sana untuk merekam potret mereka berdua di depan rumah Hobbit itu.


Kaki mereka masih melangkah menyusuri banyak bangunan klasik juga taman-taman yang penuh dengan bunga-bunga. Tiba-tiba banyak anak berseragam berlarian yang datang dari arah belakang mereka. Mungkin itu anak-anak TK yang sedang berwisata. Patricia sampai terkesima, melihat mereka berlarian menuju sebuah tempat yang terdapat domba-domba putih yang cantik, lalu berebut untuk memberi makan domba tersebut.


“Lucu sekali mereka,” ucapnya sambil merangkul lengan suaminya.


“Kau suka anak kecil?” tanya Ridho.


“Suka, tetapi aku tidak mudah akrab dengan mereka.”


“Kenapa?”


“Aku selalu merasa canggung.”

__ADS_1


“Jika nanti kita punya anak, kau pasti tidak akan canggung lagi,” ucap Ridho tersenyum.


“Kau ingin kita punya anak sekarang atau nanti?” tanyanya ketika memperhatikan anak-anak TK itu.


Ridho menatap istrinya, seketika ia teringat pada janin yang pernah dikandung oleh mendiang istrinya. Usia kehamilan Namira saat itu sudah masuk trimester 3, jenis kelamin janinnya sudah bisa terdeteksi yaitu perempuan. Ia jadi khawatir jika Patricia hamil nanti. Ia takut hal yang sama terjadi padanya.


“Aku serahkan pada Allah.”


“Kalau aku ingin sekarang, apa kau setuju?” tanya Patricia yang kini sudah duduk di sebuah kursi taman menghadap pada sebuah bangunan kincir khas Belanda.


Ridho menghela nafasnya, memandangi langit biru.


“Apa kau masih takut dengan kehamilan?” tanya Patricia penasaran.


“Keguguran Namira, hanyalah satu peluang di antara peluang kematian yang menimpanya. Begitu pula dengan kita, peluang menuju kematian manusia pasti banyak. Karena sesuatu yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya maut. Oleh karena itu, kita memang tidak boleh takut akan kematian. Rasulullah saw bahkan bersabda, orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu ingat kematian, dan mempersiapkan kematiannya dengan cara yang baik.”


Patricia tertegun mendengar perkataan suaminya.


“Aku mengerti,” ucap Patricia.


Pasangan suami istri itu meneguk sisa susu segarnya, lalu kembali berjalan menyusuri area lainnya yang tidak kalah uniknya.


Ridho dan Patricia memutuskan untuk memasuki sebuah restoran yang ada di dalam area untuk menikmati makan siang.


“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Patricia pada suaminya yang sedang menyeruput kopi panas.


“Apa kau mau tinggal di sini? Maksudku di Indonesia?” tanya Ridho.


Patricia terdiam. Ia tahu bahwa Ridho pasti akan meminta hal itu.


“Aku akan mengikutimu. Hanya saja aku masih khawatir dengan keadaan Papa. Tanpa Leonardo di sana, aku belum bisa tenang.”


“Aku tidak tahu apa yang membuat kakakmu berpikiran picik, maaf, kemana dia pergi sebenarnya?”

__ADS_1


“Aku juga tidak yakin. Biasanya ia memang seperti itu, jika merasa dirinya bermasalah, ia akan pergi ke sebuah tempat yang sengaja dibangunnya. Bisa dimanapun. Membawa wanita-wanitanya dan berlibur di sana. Tetapi ia akan kembali jika perasaannya sudah membaik.” Patricia mengambil potongan kentang goreng yang baru saja diantar oleh pelayan.


“Apa hubungan kalian dengan Dominic?”


“Dulunya Keluarga Bastille adalah rekan kerja keluarga kami. Hubungan kami sangat erat waktu itu bahkan sudah seperti keluarga, sehingga kami bisa meluncurkan sebuah kendaraan yang diproduksi besar-besaran untuk seluruh Uni Eropa. Hanya saja, ada salah satu anggota keluarga mereka berkhianat sehingga kami semua mengalami kerugian besar. Mereka menyalahkan keluarga kami setelah itu, dan hubungan kami pun renggang. Saat itu, aku dan Dominic sudah bertunangan, pernikahan kami diharapkan bisa membangun kembali kerjasama itu. Hanya saja aku melarikan diri dan pergi berkelana kemanapun aku suka. Hal itu membuat hubungan keluarga kami bertambah buruk. Saat kita pertama kali bertemu di Chicago, kami baru saja putus. Setelah itu, Dominic sudah menyerah tidak mengejarku lagi, dan sebagai gantinya, ia meminta data-data perusahaan kami.”


Ridho tampak serius memperhatikan penjelasan istrinya.


“Apakah pria itu sangat mencintaimu?”


“Dominic?!”


“Ya!”


“Aku tidak yakin. Buktinya dia melepaskanku begitu saja ketika Leonardo memberikan flashdisk itu padanya.”


“Apa yang terjadi ketika kau diculik? Apa kau ingat?” tanya Ridho.


“Aku tidak ingat apapun karena mereka membiusku. Aku hanya ingat ketika aku terbangun dan sudah ditempatkan di sebuah ruangan serba putih seperti di rumah sakit. Saat bangun, leher di belakang telingaku terasa sakit sekali, seperti ada yang mengganjal. Entah apa yang mereka lakukan saat itu.”


Ridho semakin tajam menatap wanitanya. Pelayan datang dan menyajikan menu hidangan makan siang mereka.


“Ayo habiskan! Besok kita akan ke Jakarta menemui Damian.”


Patricia menurut saja, ia tidak tahu apa yang dipikirkan suaminya setelah ia menjelaskan tentang Dominic dan Keluarga Bastille.


\=====


Bersambung...


LIKE, COMMENT & VOTE


Thank youu

__ADS_1


__ADS_2