High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 21. Malam (2)


__ADS_3

Awan kelabu yang tebal menggantung di langit sore ini. Setelah Ridho dan Patricia selesai dengan liburan mereka di Lembang, keduanya kembali ke kediaman orangtua Ridho. Hujan rintik-rintik datang menjadi pengantar hujan di hari itu. Ridho menyalakan wiper mobilnya untuk menyingkirkan hujan yang menghalau kaca mobilnya. Hujan semakin deras saja disertai angin yang bertiup kencang, membuat kaca mobil semakin buram saja. Penglihatan Ridho sedikit terganggu, ia memelankan laju mobilnya, karena khawatir jarak pandangnya yang semakin dekat.


“Apa tidak sebaiknya kita berhenti saja?” tanya Patricia terlihat cemas.


“Tidak apa, kita akan tiba sebentar lagi.”


Tiupan angin menggoncang pepohonan yang berada di pinggir jalan, membuatnya semakin terlihat mengerikan bagai benda yang kerasukan. Ditambah bunyi dengungan angin yang kuat, membuat hati Patricia semakin cemas saja. Ridho masih bergeming masih terus berusaha melaju, mulutnya terlihat merapalkan dzikir, meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Badai datang tak diundang, tak terkira. Ridho berhasil tiba di depan rumahnya yang terlihat berantakan karena dedaunan berjatuhan, ketika angin telah selesai meredakan amarahnya. Mereka berlari menuju teras rumah karena hujan belum berhenti.


“Ayo masuk!” ajak Ridho pada istrinya yang kebasahan.


“Assalamu’alaikum,” sapa keduanya ketika memasuki rumah.


“Wa’alaikumsalam, eh kenapa hujan-hujanan begitu?” tanya Bu Narti.


“Di mobil gak ada payung, Bu!” jawab Ridho.


 


“Ayo cepet ganti bajunya, Neng! Kepalanya basah tuh!” ucap Bu Narti.


Meskipun mereka hanya berlari dari halaman ke teras, tetapi karena hujan yang turun sangat deras, membuat mereka cukup basah juga dibuatnya.


“Kau duluan saja ke kamar mandi!” ucap Ridho pada istrinya. Sementara Patricia berlalu ke kamar mandi sekalian membersihkan dirinya, Ridho mengganti langsung bajunya yang basah.


Pikirannya melayang pada pembicaraan mereka tadi. Ada sesuatu yang membuatnya curiga. Ia berpikir jika Dominic bisa jadi masih mencintai wanita itu, tetapi itu masih sebatas dugaan. Leonardo, entahlah, ia sama sekali tidak bisa menerka pria itu.


Ridho menelepon pimpinannya sore itu, meminta tolong untuk mencarikan kemungkinan Leonardo berada. Damian memang sudah menerima kerjasama dengan Antonio yang berinvestasi pada perusahaannya. Jadi ketika Ridho meminta tolong kepadanya lagi, hal itu tidak dipermasalahkannya.


Patricia kembali dari kamar mandi setelah ia membersihkan tubuhnya. Adzan maghrib seketika berkumandang, membuat Ridho bergegas menuju kamar mandi agar ia bisa mengejar sholat di masjid, seperti kebiasaannya sebelum ini, karena tampaknya di luar hujan sudah mereda.

__ADS_1


\=====


Udara di luar semakin dingin saja, terlebih lagi karena hujan besar tadi. Kini gerimis lembut menyapa, awan tampaknya belum selesai menurunkan semua kekhawatirannya. Ridho baru saja kembali dari masjid setelah shalat isya. Bajunya kembali basah karena rintikan air hujan. Pria itu membuka kemeja kokonya dan menggantinya dengan kaos tidur.


“Kau sudah sholat, Sayang?” tanya Ridho Patricia yang sudah rapi dengan gaun tidurnya.


“Sudah,” jawabnya tersenyum.


Rambut cokelat terangnya tergerai indah menutupi leher jenjang dan tulang selangkanya. Mengenakan gaun berbahan linen tipis beraksen renda kecil dengan lengan terbuka seperti itu semakin membuatnya terlihat cantik. Kulit putihnya terekspos dari ujung bahu sampai jarinya. Ridho tersenyum melihat istrinya yang pandai sekali membuatnya tergoda meski ia sedang menatap layar ponselnya.


Ridho duduk di sebelahnya, menggeser tubuhnya perlahan-lahan lalu menempel dengan lengan Patricia. Wanita itu menoleh lalu tertawa kecil, melihat wajah tanpa ekspresi suaminya yang khas.


“Kau kenapa?” tanya Patricia masih tertawa.


Ridho tidak menjawab meski masih menempelkan lengannya pada istrinya.


“Hei!”


“Aku hanya sedang berkomunikasi dengan papaku!” ucapnya memberitahu.


Ridho mengangguk-angguk masih dengan wajah tanpa ekspresinya.


“Kau kenapa?” tanya Patricia lagi.


“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat.


Patricia menaruh ponselnya di atas meja belajar dan membalikkan tubuhnya pada suaminya, yang ternyata langsung menangkap tubuhnya, dan membantingnya pelan ke atas kasur. Pria itu sudah merangkak di atas tubuhnya yang ramping, dan mulai melancarkan aksinya tanpa diminta.


Patricia mendesah pelan, ketika suaminya itu mulai menaruh wajahnya di ceruk lehernya, sementara tangan lainnya memainkan bagian tubuhnya yang sensitif. Wanita itu mulai hilang kendali, mengerang kecil sambil menutup mulutnya, khawatir erangannya akan terdengar oleh penghuni lain di rumah ini.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, permainan yang sebenarnya baru dimulai itu, terhenti, ketika Ridho menemukan bercak aneh di leher istrinya. Patricia terkejut dengan nafas yang masih menderu. Ridho membawa tubuhnya terduduk dengan rambut yang terlihat berantakan.


“Ada apa?” tanya Patricia terengah-engah.


Ridho menyibakan rambut istrinya, dan memperhatikan sebuah luka aneh yang berbentuk kotak kecil di belakang telinganya, ketika ia menyorotkan lampu senter di sana.


“Apa ini?” tanyanya terheran-heran.


“Apa maksudmu?” tanya Patricia tidak mengerti.


“Ada luka aneh di lehermu, kau tidak pernah melihatnya?”


Patricia menggeleng. Ridho menangkapnya di kamera ponselnya dan menunjukannya pada istrinya. Sebuah luka berbentuk kotak yang terlihat merah.


“Apa terasa sakit?” tanya Ridho ketika ia menekan luka itu.


“Tidak!”


“Apa mungkin itu kerjaan Dominic?”


“Aku tidak tahu, tapi seperti yang aku ceritakan tadi. Leher bagian itu terasa sakit setelah aku tersadar ketika diculik waktu itu.”


Ridho termenung. Pikirannya melayang dan berburuk sangka. Ia pernah melihat hal itu di film action yang sering ditontonnya, apakah memang ada hal itu terjadi?


\=====


Bersambung...


LIKE, COMMENT, & VOTE

__ADS_1


Thank youu


__ADS_2