High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 6. London


__ADS_3

Suasana bising dan ribut terpampang nyata di London Gatwick International Airport. Bandara ini adalah bandar udara terbesar dan tersibuk ke-2 di Kota London, setelah Bandara Heathrow. Ridho turun dari Turkish Airlines yang mengantarnya dari Jakarta sehari sebelumnya. Ia sempat transit di Istanbul selama dua jam sebelum akhirnya pesawat yang mengantarkannya tiba di ibukota Britania Raya.


Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di negeri Ratu Elizabeth. Udara musim gugur begitu dingin, meski langit sangat begitu indah dengan kilauan sinar matahari yang terpancar di pagi hari. Setelah melewati pos pemeriksaan kantor imigrasi dan mengambil barang miliknya, Ridho berjalan di sepanjang koridor menuju terminal kedatangan. Patricia sudah menjemputnya di sana. Jujur, sepanjang perjalanan menuju London, hatinya tidak karuan. Pikirannya berkecamuk ramai. Namun tekadnya sudah bulat untuk bisa berhasil mempersunting Patricia, yang mungkin menjadi cinta pertamanya.


Ridho telah menyetujui kesepakatan yang ditawarkan oleh Damian, Presiden Direktur perusahaan di mana ia bekerja. Ia yakin ia akan bisa mendapatkan Patricia sekaligus hati Sir Antonio. Semenjak pelatihan di Amerika, cara ia berkomunikasi sudah berubah, meskipun sesekali tetap saja muncul logat bahasa daerahnya. Hanya saja ia merasa lebih handal dan percaya diri. Apalagi ia pernah menjabat sebagai manajer untuk tim marketing, beberapa kali ia bisa menggaet klien untuk bekerjasama di perusahaan Winata. Kali ini ia harus membuktikan bahwa ia pun bisa meyakinkan calon mertuanya.


Sambil menarik kopernya, matanya berpendar untuk mencari sosok yang selama ini selalu berkutat di pikirannya. Seorang wanita berhijab merah melambaikan tangannya. Itu dia. Patricia tersenyum lebar, sambil terus melambaikan tangannya ke udara. Ridho tersenyum melihatnya.


“Hai, apa kabar?” tanyanya ramah. Ia tidak melakukan kontak fisik apapun dengan Ridho, karena tetap saja merasa segan. Apalagi kini ia pun sudah menjadi muslimah.


“Kabarku baik, luar biasa. Bagaimana denganmu?” tanya Ridho sambil membetulkan posisi ranselnya.


“Aku juga. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu. Sepertinya papa juga begitu,” jawabnya optimis.


“Ah begitu kah? Senang sekali mendengarnya.”


“Ya! Ayo kita pergi!” ajak Patricia menuju halaman parkir mobil.


Keduanya menaiki sebuah mobil sedan silver dan melenggang langsung menuju jalan. Ridho tampak melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Ia pikir, London adalah kota yang penuh dengan bangunan. Namun itu berbeda dengan apa yang ia lihat saat ini. Padang rumput hijau dan pepohonan tanpa daun menyambutnya di setiap Patricia membelokan kemudinya. Jalanan yang landai dan lurus begitu hening dan sepi. Mereka masih melewati jalan-jalan kecil sebelum akhirnya mobil itu tiba di ruas jalan bebas hambatan yang begitu lebar.


“Sudah berapa lama kau tinggal di London?” tanya Ridho pada wanita yang sedang berada di balik kemudinya.


“Sekitar 4 tahun yang lalu,” ucapnya sambil melirik pria yang berwajah tegang itu.


Mobil-mobil melesat kencang, membelah London Orbital Motorway.. Lagi-lagi pemandangan padang rumput hijau dengan pepohonan tanpa daun, hanya ada batang dan ranting di sana. Musim gugur telah menjatuhkan mereka ke atas tanah dan tertiup angin. Jika ada bangunan di sisi jalan, maka jaraknya sangat jauh sekali. Tidak seperti Chicago, kota yang pernah ia singgahi setahun yang lalu, memiliki pemandangan yang padat dengan gedung-gedung tinggi, berlomba untuk menyentuh langit.

__ADS_1


“Dimana kau tinggal?” tanya Ridho penasaran.


“Barnet.”


“Aku kira kau tinggal di pusat kota,” ucap Ridho.


“Tidak. Papaku tidak menyukai hingar bingar kota, makanya ia membeli sebuah mansion di Barnet, kawasan yang cukup tenang meski tidak jauh dari pusat kota,” terang wanita itu.


Ridho mengangguk saja, meski ia pun baru pertama kali mendengar nama wilayah itu, Ia hanya tahu beberapa kawasan di London, seperti Islington, Watford, Westminster, West Ham, Wembley, dan Tottenham, yang ia tahu tentu dari berbagai klub sepak bola di Liga Inggris.


“Kita akan sarapan dulu, kau pasti lapar!” tebak Patricia tersenyum.


Ridho terkekeh saja. Memang cuaca dingin seperti ini membuat perutnya terasa lebih cepat lapar. Patricia memberhentikan mobilnya di sebuah restoran cepat saji, dengan brand yang sering ditemui juga di Indonesia.


Mereka pun langsung duduk di sebuah kursi setelah memesan menu sarapan.


“Ya?”


“Apa respon papamu terkait dengan rencana pernikahan kita? Aku dengar papamu adalah salah satu orang terkaya di dunia,” ucap Ridho ragu.


Patricia tersenyum tipis, lalu meneguk air putih miliknya.


“Kita harus bisa meyakinkan papa. Ia bukan orang yang mudah mengambil keputusan, apalagi aku telah banyak berbuat ulah. Mungkin ini permintaanku yang terakhir untuknya,” jawab Patricia, Ridho menatapnya dalam, lalu menghela nafas.


“Kira-kira apa yang akan terjadi ketika aku berbicara dengannya?” tanya Ridho lagi.

__ADS_1


“Aku tidak yakin. Kau harus siapkan jawaban terbaikmu dan aku akan membantumu.”


Ridho terlihat sekali sedang menelan ludah ke kerongkongannya.


“Apakah kau yakin ingin hidup bersamaku? Maksudku, lihatlah aku! Aku hanya seorang anak supir, bekerja sebagai pegawai, dan hidupku biasa saja,” ucap Ridho.


Patricia menengadahkan wajahnya ke langit-langit.


“Aku... maksudku, bukankah kita sudah berjanji di depan pusara Namira? Apakah kau masih ragu dengan ini?” sergah Patricia.


“Maaf bukan begitu maksudku. kau ini anak pengusaha kelas dunia. Aku yakin papamu tidak akan sembarang menerima pria untuk menjadi calon suami anaknya.”


“Ya, memang benar. Oleh karena itu, kau harus meyakinkannya. Aku mencintaimu, Ridho!” jawab Patricia tegas.


Ridho menghembuskan nafasnya. Hatinya bergetar ketika Patricia mengucapkan kata-kata itu, karena perasaannya pun sama. Ia tertunduk.


“Baiklah. Aku akan berusaha!”


Patricia tersenyum lebar. Keduanya kembali menghabiskan sisa sarapan mereka, lalu kembali meneruskan perjalanan menuju Barnet, yang akan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam lagi.


\=====


Bersambung....


Jangan lupa LIKE, COMMENT, & VOTE

__ADS_1


Thank you


__ADS_2