High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 2. Ungkapan Hati


__ADS_3

Ridho baru saja tiba di kediaman rumah orangtuanya di Kota Bandung. Sudah setahun lebih ia ditempatkan oleh Pak Gunawan, seorang pemilik perusahaan multinasional, di Jakarta. Karena peristiwa menyedihkan kehilangan istrinya, Namira, pria itu banyak berubah. Kinerja di perusahaan properti menurun drastis. Walhasil, ia harus rela untuk dipindahtugaskan ke perusahaan lain ke level yang lebih rendah, perusahaan fashion.


Namun, pertemuannya dengan Patricia, seorang bule berdarah Italia yang menjadi teman selama pelatihan bisnisnya di Amerika, membuat kesedihannya sirna. Ia pernah jatuh cinta dengan Patricia sebelum menikahi istrinya, Namira, yang kini sudah tiada. Ia berharap bersama Patricia dirinya akan menjadi lebih baik. Akan tetapi sepertinya, hal itu akan sulit, mengingat keduanya berasal dari dua budaya yang berbeda, juga status keluarga yang sangat jomplang.


Patricia adalah seorang anak dari pemilik perusahaan otomotif di Italia, meski sekarang ia dan ayahnya tinggal di Inggris. Sedangkan Ridho, hanyalah anak dari seorang supir loyal yang bertahun-tahun bekerja dengan Pak Gunawan. Ia hanya kecipratan keberuntungan karena tumbuh besar dan bersahabat dengan Ferdian, anak bungsu dari Pak Gunawan, sehingga bisa dengan mudah bekerja di perusahaan besar milik Pak Gunawan, meski memang skill dan loyalitasnya memang bagus.


“Assalamu’alaikum…” sapanya ketika masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam…” jawab Bu Narti, ibunda Ridho.


Ridho mengecup punggung tangan ibunya.


“Tumben pulang, Nak? Kerjaan udah beres?” tanya ibunya mengelus kepala anak bungsunya itu.


“Ada yang mau Ridho obrolin sama ibu dan bapak,” jawabnya merebahkan tubuh di atas kursi.


“Bapak mah pulangnya malam. Katanya Pak Gunawan ada rapat dulu, jadi nunggu sampai malam nanti,” terang ibunya.


“Ya udah gak apa-apa, Bu! Ridho mau istirahat dulu di kamar ya?”


“Iya, Sayang!”


Ridho memasuki kamar miliknya yang sudah lama tidak ditempati. Suasananya rapi, bersih, dan asri. Ia teringat masa-masa remajanya ketika memasukinya. Tetapi semenjak pernikahannya dengan Namira, bisa terhitung oleh jari kapan mereka pernah tidur di kasur berukuran queen ini. Ada beberapa foto terpajang di temboknya, foto pernikahan dirinya dengan wanita asal Palembang itu yang ia temui di Amerika.


Ridho mengulas senyum ketika memandangi wajah almarhumah istrinya yang cantik ketika mengenakan gaun panjang serba putih dengan hijab menjuntai menutupi hingga dadanya. Jika saja wanita itu masih hidup, mungkin pria itu sedang harap-harap cemas menunggu kelahiran buah hati mereka. Matanya kembali berkaca-kaca, membendung air mata di pelupuknya.


“Apakah aku bisa bahagia dengan Patricia, Mir?” tanyanya ketika memegangi foto istrinya itu.


Ridho mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Tubuhnya terlalu lelah setelah menyetir selama kurang lebih empat jam dari Jakarta ke Bandung. Hingga ia pun tertidur lelap sambil memegangi foto Namira di dalam dekapan dadanya.

__ADS_1


Matahari telah condong ke barat. Bu Narti membuka pintu kamar anaknya yang masih lelap tertidur dengan foto di tangannya. Wanita tua itu tersenyum getir, mengapa bisa nasib anaknya seperti ini. Namun ia tidak akan menyalahkan Tuhan, karena inilah ketentuan-Nya. Bu Narti yakin Ridho adalah anak yang kuat dan tegar.


“Dho, kamu belum sholat ashar ya?” ucap Bu Narti menggoyang tubuh putranya.


Ridho mendesah pelan, lalu mengerjapkan matanya yang sipit.


“Eh iya, Bu!” jawabnya dengan parau.


“Sok sana sekalian mandi, ibu lagi siapin makan buat kamu.”


“Iya Bu, makasih,” jawabnya lagi sambil membangunkan tubuhnya yang masih terasa lelah. Namun dengan sigap ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, lalu sholat kemudian.


Pria dengan mata sipit dan bibir tebal itu kini menduduki kursi di meja makannya. Hidangan makan malam sudah tersaji di atas meja makan. Namun Ridho enggan mengambil, karena ia tengah menunggu kedatangan ayahnya.


“Makan duluan aja, Dho!” ujar ibunya mengambilkan piring untuknya.


“Tapi bapak….”


“Makasih Bu,” jawabnya.


Ridho memainkan sendok dan nasinya, pikirannya berkecamuk sehingga hatinya tidak tenang. Selera makannya tidak muncul. Ia ingin segera memberitahukan kedua orangtuanya perihal lamarannya kepada Patricia.


“Emang ada apa?” tanya ibunya menyelidik.


Ridho menatap wajah ibunya yang sudah semakin tua.


“Ridho mau nikah lagi, Bu!” terangnya, membuat wajah ibunya sedikit terkejut.


“Namira baru pergi empat bulan, Nak! Apa kamu melupakannya?” tanya ibunya itu.

__ADS_1


Ridho menghela nafas.


“Ridho gak akan pernah bisa lupain Namira. Ridho sayang sama Namira. Tapi Ridho gak bisa hidup kaya gini terus, Bu!” terangnya.


Ibunya menatap lekat wajah sang anak yang dicintainya. Rasa duka tergambar jelas di wajah anaknya itu, sehingga membuatnya semakin kurus saja. Padahal dulu Ridho adalah anak yang gemar sekali makan, hingga tubuhnya menjadi overweight. Kini ia berubah, bahkan jauh lebih kurus karena menderita, terjebak dalam dukanya.


“Emang udah ada calonnya?” tanya ibunya kali ini.


“Udah, tapi….”


Seketika ucapan salam terdengar dari pintu depan. Itu Pak Yusuf, bapaknya, yang baru saja tiba. Ridho langsung menyambut kedatangan ayahnya dengan mengecup punggung tangan dan memeluknya.


“Gimana kabar kamu, Dho?” tanya bapaknya itu.


“Alhamdulillah baik, Pak! Bapak jangan terlalu capek, inget usia, Pak!” ujar Ridho ketika bapaknya itu mencuci tangannya.


“Gimana lagi, Dho! Pak Gunawan percaya banget sama Bapakmu ini. Susah cari pengganti yang baru, yang jujur dan setia.”


Bu Narti memberikan piring berisi hidangan makan malam pada suaminya, sehingga mereka kini bisa makan malam sama-sama.


Ridho terdiam. Ia tidak ingin membicarakan perihal yang ia utarakan tadi pada bapaknya yang terlihat letih. Ia mesti bersabar setidaknya sampai besok pagi.


\=====


Bersambung dulu…


Klik Favorite kalau kamu suka cerita ini


LIKE, COMMENT, VOTE, dan TIPS juga yaa

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2