
Malam sudah larut, tetapi pria bermata sipit itu tidak juga bisa memejamkan matanya. Hatinya gelisah dengan keringat yang keluar dari dahinya, padahal suhu ruangan di kamar itu sudah disesuaikan oleh air conditioner yang menyala. Pria itu mendudukan tubuhnya dan bersandar di dipan kasur.
Sementara itu, wanitanya sepertinya sudah tertidur lelap. Tubuhnya terlilit oleh selimut kain yang tidak terlalu tebal. Dipandangnya lekat wajah wanitanya yang sangat cantik. Pria itu menyibakan rambut cokelat terang wanita itu, memperhatikan kembali bercak merah aneh yang terdapat di bagian belakang lehernya.
Peristiwa penculikan Patricia terhitung sudah dua belas hari sampai hari ini. Bisa jadi dalam beberapa hari ini keberadaan mereka tengah diintai oleh seseorang atau bahkan mungkin beberapa orang. Bagaimana bisa tidur nyenyak, jika keberadaan mereka selalu diintai.
Patricia menggerakkan tubuhnya untuk merubah posisi tidurnya. Kelopak matanya terbuka perlahan. Ia melihat suaminya terduduk dengan melipat tangan di depan dadanya. Matanya terpejam dengan kepala menengadah ke atas. Patricia beranjak dari tidurnya.
Mendengar sesuatu bergerak dari sana, Ridho terperanjat.
“Kenapa bangun?” tanya Ridho pada istrinya.
“Aku terbangun. Kamu sendiri belum tertidur?” Patricia menyelipkan rambutnya di telinga.
“Aku tidak bisa tidur.”
Ridho menarik lengan Patricia, dan membuat tubuh wanita itu bersandar di sampingnya.
“Sedekat apa dirimu dengan Dominic?” tanya Ridho.
Rasa kantuk Patricia tiba-tiba hilang karena pertanyaan suaminya.
“Kamu pernah mencintainya?” tanya Ridho lagi.
Patricia menggumam.
“Kamu ingin mengetahuinya?” Patricia malah bertanya balik.
“Ya, aku ingin mengetahuinya, sedekat apa hubunganmu dengan Dominic?”
__ADS_1
Patricia menghela nafas.
“Awalnya aku kira, dia seorang pria dewasa yang mapan dan bijaksana. Apa kamu tahu, usia kami berbeda cukup jauh? Aku 22 tahun, dan dia 40 tahun. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Aku tidak pernah menaruh rasa cinta padanya, meskipun ia sangat baik padaku. Aku begitu terkejut ketika tahu kalau Papa telah menjodohkanku dengannya. Saat malam itu kami bertunangan, dan saat itu juga dia mengutarakan perasaannya padaku. Aku kira perasaannya tidak serius, jadi aku biasa-biasa saja. Dia selalu mengirimkanku banyak hadiah setelah pertunangan itu, tetapi aku tidak pernah membalasnya atau sekedar mengucapkan terima kasih.”
Patricia menjeda ceritanya. Matanya terlihat tengah menelusuri masa lalunya.
“Sampai suatu hari, dia membawaku ke salah satu apartemen suite miliknya. Dia mabuk setelah pesta yang diadakannya. Di sana dia mengajakku bercinta, tetapi aku menolaknya keras, bahkan aku memecahkan sebotol wine di kepalanya hingga ia pingsan. Aku melarikan diri dan memutuskan hubungan darinya. Lalu aku pergi ke Amerika.”
Ridho menenggak air ludahnya sendiri.
“Apa yang sudah pria itu lakukan padamu?” tanya Ridho.
“Kami pernah berciuman, meskipun aku melakukannya terpaksa karena saat itu kami berada di hadapan banyak orang dan mereka menyuruh kami melakukan itu. Saat itulah dia mulai menggila, membawaku ke kamarnya dan berusaha memaksaku melakukan percintaan itu di sana.”
Ridho menghela nafasnya, ia jadi mengerti mengapa Dominic memasang mikrochip itu di tubuh Patricia. Cinta pria itu bisa jadi masih bergejolak karena tidak tersampaikan. Ridho hanya heran, mengapa pada saat penculikan itu Dominic masih membebaskan Patricia? Apa itu hanya kamuflase atau strategi yang dimainkannya agar ia bisa mendapatkan data perusahaan sekaligus Patricia meski di waktu yang berbeda? Apakah itu cara agar ketika dirinya atau Antonio lengah bisa mendapatkan Patricia kembali karena menganggap masalah dengan Dominic telah selesai? Semua itu bisa diterima logikanya.
“Apa kamu cemburu?” tanya Patricia, pada suaminya yang masih bergeming memikirkan seluruh informasi yang ia dapat.
“Aku penasaran kenapa dia menyimpan microchip itu di lehermu? Mengapa tidak di tempat lain yang mungkin saja lebih tidak terlihat?” tanya Ridho lagi.
“Aku juga tidak tahu.”
Ridho terdiam melihat wajah istrinya. Patricia memilin rambutnya, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Dari sanalah, Ridho sadar dan mengetahui kenapa Dominic menanam mikrochip itu di sana. Ridho menarik tengkuk leher Patricia, menarik dagunya ke atas, dan memeriksa leher wanita itu. Ada bercak merah lain di sana.
“Apa ada luka lain?” tanya Patricia.
“Ya.”
“Apa?!”
__ADS_1
“Itu bukan bercak biasa.” Ridho masih memeriksa bercak merah itu.
“Apa dia menaruh benda asing aneh lainnya?” tanya Patricia mulai cemas kembali.
“Bukan. Hanya saja bercak itu hasil pekerjaanku.” Ridho tertawa kecil.
“Ya ampun, aku kira apa?!”
“Aku jadi mengerti mengapa Dominic menaruhnya di sana. Itu agar aku tidak menyadarinya sama sekali, dan menganggapnya hanya sebuah kissmark.”
Patricia membelalakan matanya.
“Dia cukup pintar, tetapi dia tidak akan mengira kamu lebih pintar darinya, Honey! Lalu mengapa kamu bisa melihatnya saat kita bercinta kemarin?”
“Aku juga tidak tahu, aku hanya curiga kalau Dominic masih mencintai kamu. Tiba-tiba saja aku melihatnya tepat saat itu!”
“Apa dia akan kembali menculikku?” tanya Patricia cemas.
“Dia mungkin akan datang, tapi kita tidak tahu kapan. Kita harus segera mengeluarkan chip ini dari tubuhmu sebelum dia datang. Papamu sudah mengirimkan alamat koleganya untuk kita kunjungi nanti. Kita harus bersiap-siap, besok malam kita berangkat!”
\=====
Bersambung dulu yaa...
like, comment, & vote
__ADS_1
terima kasih