High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 22. Pemeriksaan


__ADS_3

Ridho memacu mobilnya menuju kantor perusahaan Winata di Jakarta. Damian sudah mendatangkan beberapa peneliti dari bidang IT serta kedokteran. Jika firasat Ridho benar, maka luka yang berada di leher Patricia adalah bekas luka implan sesuatu yang ditanam di dalam leher istrinya itu. Bisa saja berupa chip yang akhirnya membuat keberadaan istrinya bisa diketahui dan dipantau dimana saja. Apakah Dominic masih mencintainya? Hingga ia terus memantau keberadaan Patricia. Apa maksud dari itu semua? Banyak pertanyaan menggelayuti pikiran pria itu.


Damian memerintahkan Ridho untuk mendatangi sebuah laboratorium yang terletak di kawasan Kebayoran Lama. Dimana orang-orang yang telah diinstruksikan Damian berada di sana.


Patricia terlihat gugup untuk menjalani pemeriksaannya kali ini. Wanita itu telah mengganti seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam sebuah ruangan putih bersih dan bercahaya. Ridho mengikutinya, ia pun berpakaian seperti paramedis yang akan memeriksa tubuh istrinya itu.


Patricia berbaring di atas sebuah matras tipis, yang kemudian bergerak ke sebuah lorong kecil untuk memindai tubuhnya. Dokter yang memeriksa duduk di hadapan sebuah layar besar, yang memperlihatkan bahwa memang di bagian leher Patricia terdapat benda asing berbentuk seperti kapsul lonjong yang pipih. Dokter itu memperbesar ukuran gambar yang menunjukan benda asing itu, merekamnya dan mengirimkan file itu pada seorang pakar IT dan mikrobiologi.


“Apa itu , Dok?” tanya Ridho ketika dirinya melihat benda kecil itu.


“Saya tidak yakin, tetapi ini mirip seperti microchip buatan Swedia, yang diuji coba tahun lalu pada ribuan warganya,” terang dokter berkacamata itu.


“Memang microchip apa yang ada di sana, Dok?”


“Microchip itu berfungsi sebagai pengganti kartu identitas untuk melakukan banyak transaksi digital, sehingga mereka tidak perlu repot mengurus berkas administrasi. Mereka meng-implan microchip itu di tangannya, dan mereka tinggal memindai tangan mereka untuk bertransaksi. Untuk kasus istri Anda, saya harus menelitinya lebih lanjut. Saya tidak bisa mengeluarkannya sembarangan, khawatir ada jaringan yang bersinggungan langsung sehingga akan merusak sistem imun tubuh istri Anda.”


Jantung Ridho bergetar mendengar penjelasan dokter itu, ia tidak menyangka sama sekali jika di dalam tubuh Patricia ada benda asing kecil itu. Patricia sedang dalam bahaya, ia mungkin saja selalu diintai oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Ridho harus lebih waspada menjaga istrinya. Ia akan menghubungi Antonio segera.


Untuk alasan keamanan, Ridho terpaksa tidak membawa Patricia ke apartemen miliknya. Ia membawanya ke sebuah hotel dan tinggal sementara di sana, sambil mendapat informasi lanjutan dari Damian mengenai microchip itu. Damian memang memiliki banyak akses kepada orang-orang ahli demi kepentingan perusahaannya. Ridho juga telah memberitahu Antonio terkait hal ini. Mertuanya itu tentu sangat terkejut, ia tidak menyangka bahwa Dominic melakukan hal itu pada anaknya.


“Istirahatlah dulu di sini,” ujar Ridho pada istrinya yang terlihat cemas di wajahnya.


Keduanya telah berada di dalam kamar sebuah hotel yang tidak terlalu mewah tetapi tetap nyaman.


“Apakah aku akan diculik lagi?” tanya Patricia bergetar. Ia memeluk lututnya yang tertekuk di atas kasur.


Ridho membuka jas miliknya, lalu merangkul tubuh istrinya itu.


“Kamu akan baik-baik saja, Sayang! Aku janji akan menjagamu.”


“Aku takut sekali!” ucapnya sambil menempelkan kepalanya di dada suaminya.


“Ada aku di sini, tenanglah!” Meskipun Ridho tidak yakin bagaimana hari mereka kedepannya, ia terus berusaha menenangkan istrinya.


Ridho membawa tubuh istrinya berbaring, mendekapnya di atas dadanya yang hangat, dan terus mengelus rambutnya yang tergerai. Hingga akhirnya wanita itu terpejam dan terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Sementara itu Ridho tidak bisa terpejam sama sekali, pikirannya kalut terus berkelana mencari beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Ia berharap tidak akan ada hal yang buruk terjadi pada mereka. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia beranjak dari kasurnya dan mengangkat teleponnya.


“Halo?”


“Coba kamu cek email!” itu suara Damian.


“Sebentar, aku buka laptop dulu.”


“Itu microchip buatan Swedia jenis MX11, jenis baru dari pengembangan sebelumnya. Awalnya memang microchip itu dibuat untuk memudahkan layanan transaksi para warganya. Tetapi perusahaan teknologi itu telah bekerjasama dengan para pengusaha untuk mengembangkannya lebih baik lagi demi kepentingan mereka. Sehingga bisa saja, Patricia dalam bahaya. Posisinya akan sangat mudah terdeteksi satelit ketika ia berada di dalam jangkauan jaringan 4G. Sangat luar biasa, mungkin kamu harus bawa dia ke area yang tidak berada dalam cakupan 4G.”


“Apa tidak ada cara untuk mengeluarkan chip itu?”


“Ada, tapi tidak mudah,” jawab Damian.


“Apa maksudnya?”


“Dokter tidak bisa mengeluarkan chip itu sembarangan tanpa alat khusus, alat yang sama untuk menanamnya. Jika tidak, tubuh Patricia akan kehilangan imunnya, karena chip itu sangat rentan kerusakannya jika benda asing seperti pisau atau pinset besi mengenainya.”


“Maksud Abang, jika ingin mengeluarkan chip itu kita harus mencari alat penanamnya?” tanya Ridho.


Ridho tertegun. Ia kira masalah Patricia telah selesai, ternyata malah semakin rumit saja.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Damian.


“Aku akan pergi mencari alat untuk mengeluarkannya,” jawab Ridho.


“Bagus. Berhati-hatilah, mungkin anak buah Dominic mengincarnya lagi. Tanyakan padanya tentang Dominic, mungkin pria gila itu memang sangat mencintainya, tetapi dia tidak menyadarinya sama sekali.”


“Terima kasih, Bang!”


“Kamu mungkin harus banyak membujuk Antonio, dia pria yang baik. Ia pasti punya kolega di Swedia, karena kebanyakan kendaraannya dipasarkan di sana.”


“Siap, Bang! Aku bakal hubungi papa mertuaku lagi.”


“Semoga kalian selamat!”

__ADS_1


Ridho menghela nafasnya yang terasa berat, jantungnya terus berpacu membuat kepalanya semakin berdenyut.


\=\=\=\=\=


Patricia terbangun dari tidurnya. Melihat suaminya tidak berada di sampingnya, wanita itu terkejut. Ia beranjak dari kasurnya dan langsung memeriksa kamar mandi yang terdengar hening, karena hanya itu satu-satunya kemungkinan suaminya ada di sana.


Seketika pintu itu didorongnya tanpa banyak pikir. Terlihat olehnya tubuh suaminya tanpa sehelai benang pun yang tertutupi oleh balutan busa sabun.


“ARGH!” teriak Ridho terkejut, ia memang tidak mengunci pintu kamar mandi, karena khawatir terjadi apa-apa.


“Ah maaf!” ujar Patricia tersipu-sipu malu.


“Maaf aku juga kaget!”


Patricia kembali menutup pintu kamar mandinya sambil menahan tawanya. Akan tetapi Ridho dengan cepat menahannya, dan menarik lengan wanita itu masuk ke dalamnya dan menutup pintu kamar mandi.


“Kita perlu bicara!” ucap Ridho.


“Apa memang harus di sini?!” Patricia membelalakan matanya sambil melirik ke atas.


“Hanya ini satu-satunya tempat yang kemungkinan kecil tidak bisa terdengar oleh siapapun.”


Wanita itu terkekeh, apa suaminya itu hanya beralasan?


“Aku serius. Ayo cepat kunci pintunya!”


\=\=\=\=\=


Hayooo lho A' Idho mau apa? wkwk


Bersambung...


Jangan lupa like & commentnya


VOTE juga yaa

__ADS_1


__ADS_2