High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 26. Tembakan


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti tepat di depan Larson dan Ridho. Jendelanya terbuka, seketika memperlihatkan sang supir di balik kemudi.


"Cepat masuk!"


Itu Leonardo, yang menjemput mereka menggunakan mobil van hitam besarnya.


Keduanya segera masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Leonardo, Larson duduk di samping kursi kemudi di sebelah Leonardo, sedangkan Ridho membawa tubuh istrinya terduduk di kursi belakang.


“Kau darimana saja selama ini?” tanya Ridho tidak percaya kalau kakak iparnya sekarang ada di sini.


“Aku mengawasi kalian. Aku sudah curiga dengan gelagat Dominic, jadi aku selalu mengikuti kemana kalian pergi,” terangnya memacu kecepatan mobilnya.


Ridho cukup merasa lega, tetapi ternyata rasa leganya tidak bertahan lama.


Jalanan di sekitar hutan itu terlihat sepi. Leonardo berusaha mungkin membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Karena ternyata ada sebuah mobil sedan yang mengikuti mereka dari belakang. Larson melihat ke belakang melalui spion kirinya. Ia hafal betul pengemudi di belakang meski hanya melihat dari siluetnya.


"Dominic mengejar kita!" seru Larson, tangannya memegang handel yang berada di atas sisi pintu mobil.


"Sialan!"


Leonardo menginjak kopling dan merubah dengan cepat gigi mobil. Pedal gas diinjaknya, mobil itu bertambah lagi kecepatannya. Menyusuri jalanan yang dikelilingi hutan ranting yang diselimuti salju tipis.


Terdengar lagi letusan peluru dari belakang mobil. Ranting-ranting pepohonan jatuh menimpa atap mobil. Ketiga pria itu merunduk dan terus mengutuk. Dominic masih terus mengejar mereka, sepertinya ia sendirian di belakang tidak bersama para pengawalnya, yang mungkin tertinggal di gedung laboratorium


DUARRR. Terdengar letusan yang lebih kencang. Tiba-tiba kendaraan yang dikemudikan oleh Leonardo oleng ke samping jalan, dan menabrak markah jalan. Terlempar dan berguling mobil van hitam itu ke tengah hutan. Ridho merangkul tubuh istrinya sebelum itu, berusaha mungkin melindunginya dari goncangan keras yang bertubi-tubi. Mobil van itu berhenti tepat beberapa meter sebelum danau, dengan kondisi penyok di beberapa sisi badannya. Posisi mobil jatuh terbalik, dengan atap menyentuh tanah dan bagian roda berada di atas. Mereka yang ada di dalam tampak masih berada di kursi mereka masing-masing dengan posisi kaki menggantung di atas, kecuali Ridho dan Patricia karena keduanya tidak menggunakan sabuk pengaman.


Ridho merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, kepalanya berdenyut nyeri. Pelipisnya mengucurkan darah, di pipinya tertancap sebuah pecahan kaca, terasa sangat perih. Tetapi ia masih bisa sadarkan diri. Sambil menatap ke sekelilingnya. Ia melihat wajah istrinya yang lecet karena pecahan kaca yang menggoresnya. Matanya masih terpejam, mungkin karena efek obat bius masih belum hilang.


Leonardo dan Larson tidak tersadar. Dahi mereka penuh dengan luka dan darah yang menetes. Mungkin karena posisi mereka berada di depan jadi lukanya lebih parah. Ridho berharap mereka masih hidup dan baik-baik saja.


Ridho menendang pintu ke arah luar, ia harus segera mengeluarkan dirinya dari sana, dan berusaha menolong semuanya. BRAK. Ridho berhasil menghancurkan pintu mobil itu, ia merangkak keluar dengan semua nyeri yang masih terasa di tubuhnya. Lalu mulai mengeluarkan Patricia dari sana. Ridho menyandarkan tubuh Patricia pada sebuah pohon pinus yang letaknya cukup jauh dari mobil mereka yang terbalik. Ia mendengarkan nadi istrinya yang masih berdenyut. Lalu mulai mengeluarkan Leonardo dari mobil yang berasap itu.


Larson sudah sadar, ia keluar dari mobil itu dengan tubuhnya sendiri. Lalu berdiri sambil memegang pelipisnya yang berdarah. Ridho menarik tubuh Leonardo yang belum tersadar dan menaruhnya tepat di samping tubuh Patricia.


“Apa Dominic masih mengejar kita?” tanya Larson pada Ridho yang masih berusaha membuat Leonardo sadar.


“Sepertinya, kita harus berjaga-jaga.”


“Aku akan menelepon polisi!”


Larson mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi kepolisian setempat untuk segera meminta perlindungan dan menangkap Dominic. Pria itu harus segera ditangkap kalau tidak akan berbuat ulah lagi.


“Selamat siang, Tuan-tuan!” seringaian miliknya muncul dari balik semak-semak.


Ridho dan Larson terkejut bersamaan, mereka berdiri menghalangi Leonardo dan Patricia.


“Apa yang kau inginkan, Dom?!” tanya Larson.


“Kau sudah mendapatkan data-data perusahaan milik Bocchi. Sudah seharusnya kau pergi dari kehidupan kami!” ucap Ridho sambil siap-siap mengambil revolver dari balik jasnya.


“Aku tidak mau kehilangan Paty-ku, sudah seharusnya dia menjadi milikku, Tuan Effendi!” ucapnya sambil terus mendekat.


Ridho mundur sambil terus melindungi istrinya.


“Sudah biarkan saja dia hidup dengan Tuan Effendi. Bukankah kau punya banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia?” ucap Larson.


“Jangan ikut campur urusanku!” bentak Dominic.

__ADS_1


“Kau tidak akan pernah mendapatkannya!” ucap Ridho dengan tatapan tajamnya yang menusuk.


Dominic tersenyum penuh intrik. Ridho telah memasang kuda-kudanya bersiap untuk menyerang pria itu. Keduanya maju dan mulai melakukan serangan satu sama lain.


Dominic menyerang wajah Ridho yang sudah memar, dan menahan tubuh pria itu sehingga ia bisa meninju perutnya dengan menggunakan lutut kanannya beberapa kali.


Tubuh Ridho sudah lemas karena kecelakaan yang menimpanya tadi. Ia belum membalas hantaman Dominic yang tidak berhenti menyerangnya. Larson ingin membantu tetapi agak sulit melihat pergerakan keduanya cukup gesit, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ridho terkulai lemah di atas permukaan salju. Dari mulutnya mengeluarkan darah, ia terbatuk-batuk. Lalu mulai berusaha bangkit, meski tubuhnya seperti telah remuk.


Ridho memperhatikan Dominic yang masih terus tersenyum menyeringai dengan kepalan tangannya yang bergerak-gerak. Ia mencoba fokus, mencari celah yang menjadi titik lengah pengusaha wine itu.


Dominic lagi-lagi menyerang wajahnya yang memar, tetapi kali ini Ridho masih bisa menghindar dan justru menyerang balik perutnya yang tidak terlindungi. Ridho menghantam tubuh pria itu dengan tinjunya, lalu mulai melompat menggunakan jurus andalan kakinya, mengenai rahangnya. Membuat darah muncrar keluar dari mulut Dominic. Ia membuangnya sembarangan.


Ridho berusaha bertahan dengan sisa tenaganya, lalu mulai menyerang pria itu lagi, karena ia ingin segera menyelesaikan ini.


"Rasakan ini!"


Ridho menendang dada pria itu, membuat pria itu terdorong mundur, meski tidak membuatnya terjatuh. Lagi-lagi darah muncrat dari mulut Dominic, sehingga ia mengelapnya dulu.


"Kau hebat juga ternyata!" ucap Dominic terkekeh sambil meludah. Ia berdiri di tempatnya dengan nafas tersengal-sengal dan rasa nyeri di dada dan rahangnya akibat tendangan Ridho.


"Jauhi Patricia, pergilah dari sini!" seru Ridho.


"Tidak akan! Aku menyesal telah melepasnya kemarin!"


Dominic berlari maju menyerang Ridho, mendorong tubuh Ridho sehingga tertahan di batang pohon pinus. Pria itu menggila, terus-menerus menghantam Ridho dengan kepalan tangannya, membuat wajah Ridho semakin lebam. Ridho menahan serangannya dengan tangan, memberikan tendangan mematikan pada area sensitif tubuh bawah Dominic. Sehingga pria gila itu bisa melepaskan serangannya.


Ridho lagi-lagi menendang rahangnya, bahkan dengan dua lompatan tendangan yang indah. Dominic berlutut dengan giginya yang bersimbah darah. Ia terdiam sebentar, sambil merogoh sesuatu.


Ridho masih berdiri di depannya, menunggu lelaki itu untuk bangkit.


"Terimalah ini!” ucapnya mengeluarkan senjata apinya dengan cepat dari pinggangnya dan menembakkan peluru di perut Ridho.


BANG.


Larson langsung menghampiri Ridho yang terkulai, ia mencoba menghalangi lajur pendarahan yang keluar dari perutnya. Sambil mengumpulkan gumpalan salju dan menempelkannya di sana.


Dominic tersenyum menyeringai, ia berdiri, dan akan menembakan peluru lainnya. Larson akan berlari menghalaunya tetapi tiba-tiba terdengar letusan peluru lain dari belakang Ridho.


BANG. Darah segar mengucur deras dari dahi pria berambut ikal itu, dengan mata terbelalak, pria itu jatuh terjerembab di atas tanah, wajahnya yang penuh darah menghantam tanah berlapis salju putih yang kini berubah cepat menjadi merah.


Larson menoleh ke arah suara, ternyata Leonardo yang menembakan peluru tepat di kepala Dominic sehingga membuatnya tewas seketika di sana.


“Panggilkan ambulan!” ucap Leonardo lirih dengan luka-luka di wajahnya yang cukup parah.


Patricia terbangun, matanya terbuka perlahan. Ia merasa pusing dengan pandangan di depannya yang masih bias. Seorang pria dengan tubuh yang sangat ia kenal tergeletak di depannya, tubuh pria itu menggigil bergetar.


“Ridho!” teriaknya, wanita itu menangis melihat wajah pucat suaminya yang masih menahan luka di perutnya.


Larson masih membantunya menahan pendarahan dengan gumpalan salju yang dingin.


“Bertahanlah, Honey!” ucap Patricia, tubuhnya pun bergetar karena terkejut dan tidak percaya dengan apa yang terjadi di depannya.


Tak lama, suara sirine polisi datang. Mereka sudah menerima lokasi dari pesan yang dikirimkan oleh Larson, sehingga dengan cepat menemukan keberadaan mereka di pinggir danau.


Polisi segera membawa Ridho, Patricia, dan Leonardo ke rumah sakit, juga mengevakuasi tubuh Dominic. Sementara Larson dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas apa yang terjadi.


Patricia masih terus menangisi Ridho yang kini sudah tidak sadarkan diri. Pria itu dengan segera mendapatkan pertolongan pertama dari pihak rumah sakit dan akan menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru dari dalam perutnya.

__ADS_1


Leonardo yang sudah diobati lukanya, memeluk adik satu-satunya itu.


“Dia akan selamat, percayalah!” ucapnya menguatkan adiknya itu.


“Aku tidak bisa hidup tanpanya,” ucap Patricia menenggelamkan wajahnya pada bahu kakaknya itu.


Leonardo hanya bisa mengelus punggung adiknya untuk menenangkannya. Ia tidak menyangka cinta Patricia untuk pria itu sangat besar. Ia jadi merasa menyesal telah memberikan ujian untuk Ridho saat pertama kali mereka bertemu.


“Keluarga Tuan Effendi?” ucap salah seorang dokter yang baru saja menyelesaikan operasi Ridho.


Leonardo datang menghampirinya.


“Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya. Ia beruntung, es salju membantunya memperlambat pendarahannya, sehingga kondisinya kini perlahan stabil. Tinggal menunggu pemulihan saja,” terang dokter.


“Terima kasih, Dok!” ucap Leonardo.


“Apa kami bisa melihatnya sekarang?” tanya Patricia yang matanya kemerahan.


“Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan intensif, silakan menunggu sesaat lagi.”


Dokter itu pamit dari hadapan keduanya dan kembali menangani pasien lain. Leonardo menepuk pundak adiknya.


“Dia pria yang beruntung!” ucap Leonardo tersenyum pada Patricia yang juga merasa lega.


\=\=\=\=\=


Bersambung...


like, comment, dan votenya yaa


terima kasiiiih


\=\=\=\=\=


[BONUS VISUAL]



Bapak Havard Larson



Dominic Bastille (bye bye babang Dom)



Sir Antonio Bocchi dan Leonardo Bocchi


(mereka aslinya bapak dan anak ya :D)



Damian Winata (Abang Ferdian yang hot abiss, bosnya Ridho)



A' Idho cepet sembuh yaa :*

__ADS_1



Neneng Paty yang selalu buat Idho berdebar-debar


__ADS_2